Cantik itu Luka: Sebuah Catatan Perjalanan #2

oleh Nenie Muhidin, On/Off
Cantik itu Luka
Gramedia Pustaka Utama, 2002, 2004, 2006, 2012, 2015

+ Baca bagian sebelumnya: “Cantik itu Luka: Sebuah Catatan Perjalanan #1

Senin, 13 Januari 2003

Dari stasiun Kiaracondong, aku langsung mampir ke rumah pacarku dan segera melanjutkan tidur-tidur ayamku setelah selama semalam aku kering di kereta sayur kangkung. Siangnya aku berencana untuk pulang ke rumah kontrakan dan mungkin malam aku bisa lebih segar bertemu dengan CIL, dengan Dewi Ayu atau teman senasibnya, Ola yang saat itu akan jadi pelacur tentara-tentara Jepang di rumah yang diasuh Mama Kalong.

Kubuka kembali CIL. Masih sama, tema besar yang hegemonik buatku itu; kelamin dan tai, seputar selangkangan (Halaman 123; kedatangan pertama Maman Gendeng di Halimunda, Bahkan taipun selalu cantik disini). Ada yang sedikit bergerak dominan menjadi sub dari dua tema besar itu. Tapi masih serumpun; prostitusi (Halaman 128; Dewi Ayu berkata, Pelacur itu penjaja seks komersial, sementara seorang istri menjajakan seks secara sukarela. Masalahnya aku tak suka bercinta tanpa dibayar. Halaman 135; masih Dewi Ayu ketika bernegosiasi dengan Maman Gendeng, Semua perempuan itu pelacur, sebab seorang istri baik-baik pun menjual kemaluannya demi mas kawin dan uang belanja atau cinta jika itu ada). Rosinah, pembantu yang aku tunggu sebagai teman dialog Dewi Ayu di 100 pertama halaman CIL dia tinggalkan. Diakhir 100 yang kedua halaman-halaman CIL, ada yang bergerak perlahan-lahan muncul sebagai latar baru yang memberi kekuatan dengan sedikit bau-bau ideologis, kamerad Kliwon dan pacarnya Alamanda, gadis yang kayaknya akan menjadi cikal-bakal yang juga berpotensi membuat seperti ada sesuatu yang di dalam celanaku juga ikut-ikut bergerak seperti yang dibuat mamanya, Dewi Ayu di awal-awal kedekatanku dengan CIL.

Besok aku harus membawa eksemplar-eksemplar ON/OFF ke toko buku kecil dan mungkin beberapa lain sisanya di distro-distro yang tersebar banyak di Bandung dan sesegera mungkin mengabari via e-mail redaksi ON/OFF soal distribusi useletter mereka itu. Seperti malam ini, aku akan mengunjungi CIL di 100 ketiga halaman-halamannya.

Rabu, 15 Januari 2003

Tak ada CIL hari Selasa kemarin. Aku terlalu lelah bercinta seharian dengan pacarku setelah kutinggalkan ia selama seminggu di Jogja. Pikirku, aku tidak harus seperti kamerad Kliwon yang kutahu setelah 100 ketiga halaman CIL sebagai komunis, sebagai yang disiplin, sebagai yang bukan revisionis kata dia di CIL. Aku tak harus selalu setiap hari disiplin dengan 100 halaman CIL dan juga CIL tidak harus menyita hari-hariku segalanya. Ada dunia lain selain CIL yang juga bergerak. Ada pintu lain yang harus aku ketuk selain pintu gerbang dunia CIL; pintu rumah pacarku tentu saja. Aku harusnya tak terlalu berdisiplin dengan pembagian cara baca yang 100, lalu 100, dan lalu 100 selanjutnya itu. Aku seharusnya lebih bisa menceritakan Maya Dewi atau Adinda yang cantik-cantik serupa Dewi Ayu mama mereka, Shodancho, pemerkosa Alamanda, istri yang urung juga membuka celana dalam besinya dengan mantra sebagai kuncinya dan aku ingin sekali bertemu dengannya dan selanjutnya ikut-ikutan berlaku dingin seperti suatu ketika Kamerad Kliwon bersamanya berhari-hari di tengah laut. Tentang Halimunda dan tempat-tempat yang lainnya di CIL itu dengan aku menerangkannya dengan lebih bebas tanpa dibatasi oleh halaman demi halaman yang kubagi-bagi itu. Ini karena mungkin beginilah caraku membaca, bukan menceritakan kembali isi bacaan yang aku baca dalam bentuk tulisan seperti yang kalian baca sekarang ini.

Ada yang aku tunggu-tunggu dari telah beberapa hari ini kuketuk pintu gerbang dunia CIL: Cantik! Aku tak tahu dibagian mana dia menampilkan Cantik yang kumaksud. Aku sudah lagi tak sabar. Aku akan masuk paksa tanpa ketukan pintu ke halaman-halaman CIL dan melompat-lompat di halamannya menginjak-injak tamannya tanpa merusak konstruksi bunga-bunga dia atas CIL. Tak ada lagi potongan kecil karton hijau pembatas buku yang harus aku taruh di misalnya halaman 400 atau 500, seharusnya.

Sudah lebih setengah halaman CIL kudatangi. Telah kulewati pula kemasan rusak yang Faiz bilang waktu ia memberikan CIL itu dengan gratis padaku. Salah di percetakan? Hampir lupa, salah cetak atau editing ataukah salah penulis waktu aku hampir begitu lama terhenti membaca dan menyimak garis tinta hitam pulpen di sebuah kalimat, “Keempat anakku”. Mungkin Faiz yang menggaris tanda itu sebelumnya. (Halaman 14; percakapan Dewi Ayu dengan laki-laki yang menitipkan Rosinah anaknya pada Dewi Ayu untuk dipelihara sebelum mati saat ejakulasi di atas tubuh Dewi Ayu). Kutahu belakangan bahwa saat itu Dewi Ayu belum lagi melahirkan Cantik. Juga ketika di sebuah akhir dari percakapan mengangguku. (Halaman 392; pernyataan yang seharusnya milik kamerad Kliwon ketika Shodancho harus menangkapnya atas desakan para Jenderal). Mudah-mudahan bukan salah dia.

Sudah semakin kukenal pula karakter tokoh-tokoh utama yang diporsikan dia dalam CIL ini. Kadang aku jadi Shodancho, kadang jadi Maman Gendeng, suatu kali merasa jadi Kamerad Kliwon. Yang terakhir ini aku jadi ingat Salim dalam Atheisnya Achdiat Kartamihardja, seorang komunis cerdas yang tampil sebagai sosok laki-laki gagah, tenang, kharismatik sebagaimana halnya tokoh-tokoh heroik yang sering kukenal. Perbedaannya mungkin di CIL bahwa Kamerad Kliwon adalah komunis kaku yang digambarkan dia karena disiplin partai dengan ideologinya. Beda dengan Salim di Atheis yang lebih terkesan santai. Persamaan dari keduanya kupikir mungkin semacam selubung ideologis. Keduanya aktivis komunis. Tokoh lainnya yang kusebut barusan di atas seringkali lebih terasa mewakili perilaku seksualku ketika aku meleburkan diri sebagai mereka dalam babak-babak ranjang, sebagai konsekuensi tema besar yang salah satunya kuanggap, kucurigai sebagai hegemoni; kelamin. Ataukah gambaran itu memang representasi general perilaku seksual laki-laki umumnya?

Aku melihat Kamerad Kliwon akhirnya dekat dengan Adinda, adik Alamanda yang sempat dekat pula dengannya. Sampai di suatu ketika perjalanan di taman-taman CIL aku juga melihat tokoh pembantu macam Kamino penjaga kubur yang kehadirannya di awal seperti penambal CIL juga akhirnya berpacaran. Peran Kamino terasa menjadi yang bukan sebagai tambalan ketika kehadirannya relevan dengan pembantaian massal orang-orang komunis oleh orang-orang anti komunis pasca 30 September.

Kamis, 16 Januari 2003

Perubahan-perubahan di CIL terasa buatku begitu cepat. Masih ada tai. Juga masih ada kelamin disana. Tidak ada lagi 100 halaman pembagian. Juga belum ada bunyi-bunyian waktu CIL kugenggam. Kamerad Kliwon bunuh diri setelah sehari sebelumnya selingkuh dengan Alamanda. Tapi dia punya anak dan jadi tokoh sentral hingga akhir cerita, Krisan, anak yang bikin aku sempat menghardik sendiri dan untung tak ada orang lain di sebelahku. “Anjrit”. Dia mencintai untuk kasih sayang dan tubuh atas dua perempuan cantik Ai dan Rengganis sepupunya, anak bibinya, cucu perempuan Dewi Ayu. Rengganis si Cantik, putri Maman Gendeng dan Maya Dewi-pun dibunuhnya setelah diperkosa di toilet sekolah. Padahal aku ingin ikut memberitahukan ke ayahnya meski aku tak tahu siapa pemerkosa anaknya dan terkejut dengan kata ‘anjrit’ setelahnya. Itu agar aku ikut bersaing dengan Kinkin anak Kamino penjaga kubur yang juga mencintai Rengganis si Cantik. Ini ditambah lagi ketika ternyata pangeran yang menyetubuhi Cantik anak perempuan Dewi Ayu yang terakhir lahir dan buruk rupa itu tak lain adalah Krisan. “Anjrit”.

Luka adalah permissivitas dia dari gambaran sebuah pemahaman chaos, kekacauan hubungan badan (Inses) dan kerusuhan-kerusuhan di Halimunda sepanjang masa penjajahan kolonial hingga pasca 1965 ketika komunis dibinasakan, Hantu-hantu yang dicitrakan sebagai komunis menjadi punya makna ganda, hantu betulan dan hantu propaganda. Sense of humor dia boleh juga pikirku. Juga termasuk terakhir ketika anjing-anjing dibinasakan Maman Gendeng dan preman-preman yang menyangka Rengganis si Cantik diperkosa anjing betulan dan Halimunda kembali dilanda kekacauan.

Cantik. Kehadirannya terasa mengobati rasa penasaranku setelah sudah seperempat tebal CIL kujamah, mengetuk pintu dan lalu mengucapkan salam dan belum saja ia kukenal. Dia sengaja untuk mengkahiri dunia CIL ini pikirku untuk pemahaman yang lebih dalam meski konsekuensi kehadiran Cantik di CIL terlalu kecil porsinya. Cantik itu nama, sekaligus keadaan.

Ini soal pengakuan terakhir Krisan karena pertanyaan Cantik padanya; kenapa ia mau menyetubuhinya yang buruk rupa. Pengakuan itu terasa sebagai penegas inti dari keseluruhan isi cerita. Penegas bagi CIL yang taman-tamannya olehku terlihat gagah tapi yang bukan berarti selalu harus dikonotasikan sebagai sebuah keindahan.

Berarti sudah lima hari dengan hari ini aku mengunjungi dunia CIL. Kututup pintu belakangnya dan setelah itu menerbitkan bunyi-bunyi yang tak lagi pernah kudengar lama-lama karena kunjunganku ke CIL. Tarik napas dalam-dalam dan berkata dalam hati; aku selamat. Soal hegemonik-nya kelamin dan tai yang kupatri di kepala dari awal cerita memang tak bisa dengan begitu saja hilang dari sana. Aku lantas memaklumkannya setelah kubuka-buka folder komputer dan ada nama dia disana dengan sebuah judul; Sastra Itu Tai!

Aku ingat dia dalam sebuah perdebatan di milis dan aku masih menyimpan komentarnya yang aku copy dari milis itu. Tapi aku lupa tanggal posting e-mail itu. Perdebatan tentang penulis (saat itu melibatkan Saut Situmorang) dan orisinalitas karya yang sering diacak-acak oleh biasanya editor sebuah penerbitan. Perdebatan soal The Author is Dead. Berikut kutipannya;

Benarkah karya sastra seperti fiksi, puisi, atau esai punya otonomi sehingga gak boleh diubah?

Bung Saut, kalau kau mau silahkan acak-acak seluruh tulisanku. Aku gak bakalan marah. Peduli aja nggak. Paling bertanya-tanya, apa kau tak punya kerjaan lain?

Bagiku semua tulisan tak lebih dari tai (tulisanku maupun tulisanmu). Dipikir-pikir kau lebih mengerikan dari Islam fundamentalis yang takut kitab sucinya berubah. Selamat, mungkin sebentar lagi kau jadi Nabi dan orang-orang berkelahi memperebutkan,”Mana tulisan Saut yang paling asli?”

Sekali lagi, selamat atas pengangkatan sastra menjadi sesuatu yang suci! Sebentar lagi sastra bakalan jadi agama, mungkin. Huah, padahal yang sudah ada saja bikin jengkel belaka.

Bagiku tetap: sastra itu tai. Aku menulis seperti aku beol. (tau nggak, kadang-kadang tai juga bisa dijual?).

Cemara, Januari 2003