Cantik itu Dilukai

oleh Muhidin M. Dahlan, Media Indonesia
Cantik itu Luka
Gramedia Pustaka Utama, 2002, 2004, 2006, 2012, 2015

Dewi Ayu, si pelacur cantik di era kulit kuning mata sipit, terluka oleh lahirnya tiga anak haram yang cantik-cantik. Kecantikannya dan juga kecantikan tiga orang anaknya telah membawa malapetaka bagi generasinya. Karena itu, ia mengutuknya. Ia berdoa –tepatnya memaksa yang ada di langit sana– agar anak keempat yang ada dalam rahimnya buruk rupa. Dan doa itu terkabulkan. Wajah bayi itu buruk rupa. Ironisnya –atau penuh kebanggaan– Dewi Ayu memberinya nama Cantik.

Tetapi, Cantik Itu kini dilukai, bukan oleh kecantikan tiga dara, melainkan oleh sebuah artikel Maman S Mahayana di MIM (2/03/2003) yang bertitel: “Air Bah ‘Cantik Itu Luka'”. Ia dilukai karena tidak manut terhadap hukum sejarah (formal), inovasi yang hanya sekadar berbeda, tak memiliki landasan estetika yang kukuh karena itu jatuh pada kubangan main-main yang ngawur.

Sepintas, apa yang dikatakan Maman itu tampak benar dan memberi semacam justifikasi bahwa novel ini adalah novel gagal dari seorang “pemula” bernama Eka Kurniawan. Maman menjustifikasinya dengan memakai hukum estetika formal-strukturalistik. Dengan memakai hukum itu, novel ini memang tampak kedodoran dan hanya sekadar sampah yang kebetulan sangat gemuk untuk sebuah keranjang aliran yang sudah ada. Tetapi, cuma itukah arsip hukum untuk membaca sebuah novel, tepatnya novel ini?

Sesungguhnya masih banyak cara. Dan ketika saya menyelesaikan bacaan kedua kalinya, saya menemukan bahwa Cantik Itu lahir untuk merayakan chaos.

Chaos, ditilik dari genealoginya, lahir dari rahim Thermodinamika Kedua yang menyatakan bahwa kosmos ini bergerak menuju kekacauan dan akhirnya hancur. Sudah lama pertanyaan ini mengusik para ilmuwan dan filsuf. Evolusi kehidupan yang menuju pada kebaikan sama sekali bertentangan dengan hukum thermodinamika.

Ilya Prigogine lalu berusaha menjawab pertanyaan ini dan maraih Nobel. Dengan bukti-bukti matematik yang kukuh, Ilya Prigogine, sebagaimana dikutip Fritjof Capra, mendaraskan bahwa keteraturan justru muncul dari ketakteraturan, kehidupan justru lahir dari entropi.

Inilah yang Prigogine sebut dengan “dissapative structure“. Ketika ada empat macam bahan kimia dicampurkan pada piring percobaan pada suhu dan kondisi tertentu, lalu diguncangkan, maka dengan sangat cepat, campuran itu menata diri menjadi struktur gelombang yang konsentrik dan spiral, menyebar dan berbaur pusing dengan keteraturan seperti jam, dan terjadi perubahan warna pada interval yang tepat. Jika sistem itu bisa bertahan, maka dari titik kehancuran ini (Prigogine mengistilahkannya “the bifurcation point”) akan menghasilkan pola-pola baru. Dari chaos muncul sistem yang baru. Pola dissipative structure tersebut sesungguhnya bisa diterapkan pada pelbagai sistem; sejak sistem konkret seperti otak manusia, organisme, atau ekosistem, sampai sistem abstrak seperti agama, ideologi, filsafat.

Juga, tentu saja untuk novel ini.

Cantik Itu merupakan campuran dari pelbagai gaya pemikiran yang memang menjadi minat penulisnya selama ini: surealisme-sejarah-filsafat. Maka kita bisa mencium bau aroma Franz Kafka–juga Gabriel Garcia Marquez–dalam novel ini. Bahkan, sejak paragraf pertama: Sore hari di akhir pekan bulan Maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematian. (Bandingkan dengan paragraf pertama Metamorfosis-nya Kafka: Kala Gregor Samsa terjaga di suatu pagi dari mimpi-mimpi buruknya, dia menemukan dirinya berubah menjadi seekor kecoa yang menakutkan).

Aroma penulis roman sejarah, Pramoedya Ananta Toer, juga tercium tajam, khususnya ketika novel ini melakukan kilas balik sejarah menjelang dan pascakemerdekaan RI di sebuah kota kecil bernama Halimunda.

Tetapi, pengarang tidak mencomot begitu saja pola yang menjadi minatnya itu. Namun, pola-pola yang ada itu diguncangkan menjadi sebuah chaos. Sejak bagian pertama hingga bagian lima belas, kita disuguhi oleh semangat chaos ini. Logika formal kita ditapis sedemikian rupa. Kehidupan sehari-hari dan segala citra yang mengikutinya diteror tanpa ampun. Sejarah positif anutan para akademisi direduksi habis-habisan dan diguncangkan.

Dewi Ayu dalam novel ini miriplah sosok turbulens–meminjam istilah James Gleick dalam Chaos: Making a New Science–menarik benda-benda yang dipengaruhinya dan kemudian melepasnya atau mengaduk-aduknya secara acak.

Lewat tokoh Dewi Ayu, tokoh-tokoh “dipaksa” mengumpul dan diaduk-aduk. Lewat tokoh sentral ini, citra tentara yang hero, gagah, dan hampir tanpa cacat–sebagaimana tokoh Shondancho–ditelanjangi habis-habisan dan dipaksa tunduk di bawah selangkangan seorang dara cantik (Dewi Ayu dan anaknya, Alamanda). Begitu pula preman yang mangkal di terminal kota yang tak terkalahkan yang bernama Maman Gendeng (maaf, ini bukan Maman Mahayana yang melukai Cantik), bolak-balik hidup di antara situasi obskuran dan terang hanya gara-gara pesona paras dan lubang yang dimiliki dara cantik Maya Dewi. Bahkan, tokoh komunis karismatik, Kamerad Kliwon, juga tertawan oleh pesonanya Adinda, sang dara.

Cantik Itu ingin memperlihatkan sebuah bentangan chaos budaya: suatu situasi terjadinya fluktuasi yang ekstrem, terjadinya pertentangan nilai-nilai yang tidak dapat diselesaikan (sampai hari ini baik-buruk profesi seorang pelacur masih menggantung dalam sawala), terjadinya tumpang tindih makna yang tidak bisa dipahami (cantik itu buruk rupa), terjadi pemutarbalikkan tanda (bahwa susu beruang, tukang foto keliling, mi bakso…, mengikuti imajinasi pengarangnya, memang sudah ada sejak dahulu), terjadi distorsi-distorsi (sejarah kemerdekaan dan sesudahnya bukan lagi sejarah yang tertata secara formal, melainkan telah meloncat dalam distorsi (metahistoris); yang menjadi catatan di sini adalah bahwa Eka Kurniawan bukan sosok sejarawan, melainkan sastrawan, karena itu ia tidak melakukan dosa akademik ketika, misalnya, mengatakan bahwa Hari Kemerdekaan bukan 17 Agustus, melainkan 23 September).

Tetapi, chaos bukan destruksi, sebagaimana yang dikatakan Prigogine. Yang lahir setelah chaos adalah orderitas. Setelah revolusi sosial, lahir sebuah tatanan baru. Kehidupan yang terang selalu lahir dari goncangan.

Begitu pula Cantik Itu Luka. Toh, kondisi chaos itu hanya terentang pada lima belas bab pertama. Tetapi, tiga bab terakhir, setelah bab pengakuan Krisan, kita kembali masuk ke dunia real ke tatanan baru. Setelah bab pengakuan, teror nalar dan perontokan sejarah formal yang menggebu-gebu kembali lagi ke orderitas.

Lalu hikmah apa yang bisa kita kais dari chaos kompleks yang ditampilkan novel gemuk ini? Setidaknya dua: (1) agar kita, para pembaca, selalu berada dalam wilayah kewaspadaan dan rasa awas yang tegar, sehingga tidak terpanggang begitu saja oleh kebenaran yang dilahirkan citra; dan (2) kekalahan semua tokohnya dalam memperebutkan hak moral dan hak sejarah yang pantas, mengajarkan arti sebuah kerendahan hati untuk sadar akan kekuatan diri dalam gelombang besar masyarakat.

Maka, saya bertanya kembali kepada Maman Mahayana, apanya yang ngawur dari novel gemuk yang memesona ini? Thermodinamika Klasik memang tidak salah, sebagaimana pandangan Maman tidak keliru. Tetapi, mungkin agak tertutup karena membaca novel dengan kacamata yang agak seragam dan memaksakan mengikuti hukum analisis dan kotak aliran (sastra) yang sudah (di)ba(ng)ku(kan) di ruang akademis. Padahal, masing-masing novel punya kekhasan dan cara baca tersendiri.

Ternyata, Cantik Itu tak hanya luka, tapi juga dilukai oleh kacamata baca kita yang kelihatannya benar-benar tepat, tapi sebenarnya belum tentu demikian.

Tulisan ini pernah diterbitkan di Media Indonesia, 16 Maret 2003.