“Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya” dan “Print-on-Demand”

Beberapa waktu lalu, di Facebook saya melihat sejenis pemberitahuan: Gunawan Maryanto menerbitkan kumpulan puisi (pertamanya) berjudul “Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya”. Di woro-woro itu diberitahu, buku dicetak dalam format POD (Print on Demand) dan hanya bisa dipesan lewat web penerbitnya omahsore.web.id (artinya, mungkin enggak akan ada di toko). Saya langsung memesannya dan beberapa hari kemudian, buku sudah datang.

Wow. Pertama-tama, saya kagun karena model bisnis dan penerbitan semacam ini ternyata bekerja dengan baik. Saya pesan, dan beberapa hari kemudian kurir datang mengantarkan pesanan. Sebenarnya saya ingin mengomentari, sistem kurir ini mungkin tidak terlalu efisien dan saya barangkali lebih menyarankan sistem paket atau pos. Waktu itu saya tak berkomentar banyak, masih mengagumi sistem yang hebat ini. Bagaimana tidak? Saya tidak ke toko buku, saya bahkan tidak ke ATM, tapi saya langsung memperoleh buku yang saya inginkan!

Saya langsung mengirim pesan ke penerbitnya bahwa buku sudah sampai. Balasan penerbit adalah menanyakan kesan-kesan saya atas usaha pertama mereka itu, serta sekiranya saya punya ide-ide tertentu untuk model penerbitan semacam ini. Saya langsung pula membalas.

POD sebenarnya merupakan teknologi yang sudah ada sejak beberapa tahun terakhir di Amerika. Di Indonesia, beberapa percetakan besar mulai melirik teknologi ini, meskipun pemanfaatannya jauh dari maksimal. Kendala utama, tentu saja karena bahkan bisnis buku konvensional pun masih terbatas pada jumlah 1000-3000 eksemplar. Di Amerika, jumlah sebesar itu mungkin sudah dilakukan oleh POD dan tidak dengan mesin cetak biasa, meskipun pada dasarnya, kita bisa mencetak “hanya” satu eksemplar buku dengan teknologi ini.

Saya bertemu Chindil (panggilan Gunawan Maryanto) sekitar beberapa minggu sebelum buku itu terbit dan ia sudah mengatakan rencananya menerbitkan buku itu secara POD. Kami sepakat bahwa, terutama, buku puisi sangatlah sulit untuk menembus penerbitan konvensional. Meskipun saya tidak percaya penulis sekelas dia kesulitan memperoleh penerbit konvensional, saya antusias dengan rencananya. Paling tidak, teknologi itu harus dipergunakan. Kedua, mungkin usahanya akan merangsang penyair lain (yang lebih kesulitan memperoleh penerbit hanya karena buku puisi “tidak laku” padahal bukunya layak untuk diapresiasi) untuk melakukan hal yang sama.

Maka, tentu saja usul saya kepada penerbit omahsore itu adalah, tentu saja untuk memfokuskan diri pada pasar yang spesifik. Pilihan mereka pada buku puisi sudah tepat, tapi bisa tidak terbatas dengan itu. Buku-buku kajian, tesis-tesis doktoral, karya-karya eksperimen, jelas memiliki problem yang sama dengan buku puisi menghadapi penerbit besar. Buku-buku semacam ini barangkali akan memperoleh tempat yang tepat dengan sistem POD. Dan jangan lupa, buku-buku “out of print“. Ini buku-buku penting yang pernah diterbitkan massal, sudah hilang dari pasaran, tapi jika dicetak ulang barangkali tak akan memperoleh pembeli yang signifikan. Kenapa tidak dilayani pula dengan sistem POD?

omahsore langsung membalas: kami sudah menyusun daftar buku “out-of-print” yang menjadi incaran untuk diterbitkan ulang dengan sistem POD. Hehehe …

Sebenarnya, apa itu POD? Secara sederhana, ini adalah sistem cetak digital. Dengan sistem ini, kita bisa mencetak buku satu eksemplar, keluar dari mesin benar-benar sudah berbentuk buku! Investasi dengan sistem ini juga relatif sederhana: kita hanya perlu mendesain buku (biasanya memakai software semacam InDesign dari Adobe untuk layout dan Photoshop atau Illustrator untuk sampul), dan simpan dalam bentuk PDF dengan resolusi tinggi. Dengan file itu, kita tinggal mencetak setiap buku yang dipesan pembeli. Tak ada yang pesan, ya tak perlu dicetak. Ini menghemat banyak investasi cetak dan tentu saja gudang.

Karena sistem cetaknya bisa dibilang digital (biasanya tinta laser), barangkali kita juga harus memperlakukan buku dengan sistem ini dengan sedikit berbeda. Setelah saya memperoleh dan melirik-lirik buku tersebut, ini adalah beberapa catatan lain yang saya kirim ke penerbit:

Pertama, ukuran huruf terlalu kecil. Tentu saja itu bukan masalah digital atau tidak, tapi lebih pada masalah desain. Kedua, kertasnya terlalu terang (HVS), dan saya menyarankan kertas yang lebih redup untuk membuat mata nyaman. Ketiga, sampul yang dilaminasi glossy menurut saya tidak cocok untuk sistem cetak ini. Kenapa? Tekstur cetak digital sampai hari ini masih lebih kasar daripada cetak offset, dan dengan laminasi glossy, itu malah semakin kelihatan. Saya menyarankan untuk mempergunakan kertas yang sedikit bertekstur, dan jangan pakai laminasi apa pun, untuk membuatnya lebih redup dan menyatu dengan kertas.

Dan inilah kelebihan POD! omahsore tampaknya menerima beberapa usul saya tersebut dan mereka menghadiahi saya buku tersebut dalam edisi yang telah diperbaiki. Ya, hanya dengan POD Anda bisa memperbaiki cetakan dengan cepat. Saya memperoleh kiriman buku kedua hari ini, dan, well, saya suka sekali dengan tampilannya yang baru. Huruf lebih besar, kertas kecoklatan, dan sampul tanpa laminasi. Terutama saya menyukai sampulnya (desainnya tetap). Selain tanpa laminasi sehingga desain tampak lebih menyatu dengan permukaan kertas, saya menyukai sedikit trik (saya tak tahu siapa yang menginginkannya, penerbit atau percetakan) yang dipergunakan. Trik ini barangkali hanya akan disadari oleh orang yang ngerti cetak-mencetak dan desain: sampul itu mempergunakan jenis kertas (Ivory?) satu muka. Itu istilah untuk menyebut kertas yang di satu sisi lebih licin (seperti ada lapisan lilin), sementara sisi lain kasar . Biasanya, permukaan licin yang akan ditimpa oleh tinta cetak. Buku ini mempergunakannya justru dengan terbalik, dan hasilnya … lihat sendiri, deh! Hehe …

Selamat buat Chindil dan terima kasih buat omahsore untuk kiriman buku keduanya! Sukses selalu. Maaf, malah belum sempat ngomongin puisinya. Hehehe ….

5 comments on ““Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya” dan “Print-on-Demand”

  1. kat says:

    Menarik nih infonya tentang POD. Di Surabaya saya menemukan “percetakan” serupa di kompleks TB Togamas yang bisa mencetak 1 eksemplar dengan harga cukup ramah. Penulis tinggal datang ke mereka, menyerahkan naskah PDF, pilih2 kertas dll., buku langsung jadi dalam 2-3 jam atau besoknya. Opsi menarik buat penulis…

    Mereka bilang di Jogja Kanisius juga melakukan POD sih…

    Salam kenal dari penggemar di Sby… :-)

  2. Faisol says:

    POD di surabaya bisa lebih dijelaskan lokasinya. TB Togamas yang mana?

  3. Cerita yang menarik, Mas Eka Kurniawan. Untuk “kat,” memang betul, Kanisius Media juga melayani POD, pernah diiklankan di Kompas Jateng. Saya pernah meminta infonya, dan dibalas, termasuk dikirimi brosur pdf. Sayang, bahasannya terlalu teknis, percetakan sentris, sehingga awam sulit mencerna. Ketika beberapa waktu kemudian saya mengajukan lagi pertanyaan via email, tak ada balasannya.

    Saya berusaha kontak via SMS (yang harus mendaftar dulu, termasuk mengisi kolom agama), juga nihil. Sayangnya pula, di situsnya pun sama sekali tak ada info panduan seputar seluk-beluk POD itu. Salah satu misi saya untuk menulis layanan POD-nya untuk blog saya, PODPower Syndrome, belum mendapatkan dukungan yang memadai. Mungkin bisa saya coba lain kali.

Comments are closed.