Bon Voyage, Mr. President

“Sebagaimana sering kita baca di novel dan komik,” katanya, “Penjahat besar yang keji, bengis, kotor dan bau neraka memang susah dikalahkan dan sulit mati.”
– “Peter Pan” (Gelak Sedih, 2005/Corat-coret di Toilet, 2000)

Judul di atas saya kutip dari satu cerpennya Gabriel Garcia Marquez, “Bon Voyage, Mr. President” (Strange Pilgrims), saya ucapkan untuk mengiringi kepergian mantan presiden kita, Soeharto, hari ini (27 Januari 2008 siang). Jujur saja saya terlambat mengetahuinya. Seharian saya duduk di samping televisi, tapi tak memerhatikan apa pun, sampai kemudian saya turun dan pergi ke warung makan jam empat sore. Di warung televisi sedang menayangkan kabar mengenai “tujuh hari berkabung nasional.”

Kalau kemudian saya merasa sore itu agak murung, yah, itu karena saya selalu merasa murung mendengar seseorang yang meninggal. Mengenai kemarian Soeharto, jujur saja saya tidak sedih, juga tidak bahagia. Rasanya agak mati rasa. Dua minggu sebelumnya, ketika sang mantan presiden masuk rumah sakit dan tampaknya “parah”, saya bergumam pada diri sendiri, “Sekarang, ia bakal pergi.” Saya menunggui televisi selama beberapa hari, membaca koran dengan rajin, untuk mengetahui perkembangannya. Ternyata tak semudah itu buatnya pergi. Saya mulai bosan, dan itulah alasannya kenapa saya tak memerhatikan televisi sampai sore.

Entahlah, bagi saya, dalam kenangan purba saya, di Indonesia hanya ada satu presiden: Soeharto. Meskipun suah lama ia turun dan beberapa presiden sudah menggantikannya (lebih banyak dari yang pernah saya bayangkan), bagi saya terasa presiden hanya satu: Soeharto. Jika saya membayangkan pemerintahan, penguasa, yang terbayang oleh saya tetap Soeharto. Itu tetap terjadi meskipun ia sudah jarang keluar rumah dan sakit-sakitan. Saya pikir, mungkin serupa itu yang pernah terpikirkan oleh generasi anak-anak yang lahir tahun 70an.

Ketika pertama kali mengenal bahwa kita hidup memiliki seorang “presiden”, yang waktu itu adalah Soeharto, bisa dikatakan saya tak menaruh perhatian sama sekali. Tidak ada rasa kagum, tidak juga benci. Tidak pernah terpikirkan untuk mengirim surat kepadanya, sebagaimana banyak dilakukan anak-anak lain (salah satunya istriku ketika SMP), tidak pula terpikir untuk membakar fotonya. Kira-kira kalau dalam bahasa Inggris, “indeferent” gitu.

Hingga ketika saya SMA, saya mulai merasa “ada yang salah”. Waktu itu saya jadi anak yang agak “susah”, paling tidak begitu kata ayah, ibu, dan guru-guru saya. Saya mulai malas sekolah, hingga akhirnya mereka memang mengeluarkan saya sebelum saya menyelesaikan kelas satu. Setelah tiga bulan dibujuk, akhirnya saya kembali ke sekolah. Tentu sekolah yang lain, sekolah yang mau menerima saya di kelas dua meski saya tak punya raport kelas satu. Sebuah sekolah yang isinya anak-anak yang bisa dikatakan, tidak diterima di sekolah lain. Satu kelas isinya cuma dua puluh tiga orang. Isinya mulai dari anak gadis yang hamil di luar nikah sampai jagoan teler. Entah kenapa, saya merasa nyaman di sekolah itu dan menemukan mainan baru: menulis. Inilah kenapa saya tiba-tiba ngomongin soal sekolah di sana: hal pertama yang saya tulis adalah mengenai Presiden Soeharto, pemerintahannya, Orde Baru dan ideologi Pancasila.

Saya lupa persis apa yang saya tulis dengan penuh kemarahan itu. Yang saya ingat, saya menempelnya di majalah dinding. Ngomong-ngomong soal majalah dinding, itu kali pertama ada majalah dinding di sekolah itu. Nyatanya anak-anak yang “tak banyak diharapkan” itu, ketika saya mengajak membuat majalah dinding, sangat antusias. Mereka belum pernah menulis, tapi begitu bergairah untuk menulis. Kami mengerjakannya di akhir pekan dengan harapan, hari Senin sudah terpampang dan anak-anak lain akan mulai membacanya.

Antusiasme teman-teman saya hanya bertahan satu edisi. Hari Senin, guru pembimbing menurunkan majalah dinding itu, dan menyobek-nyobek tulisan saya. Sampai saat ini saya masih bertanya-tanya, apa sebenarnya yang saya tulis. Saya menulisnya di Sabtu sore, dan Senin sudah disobek habis. Tak ada yang saya ingat. Tapi sejak saat itu saya memperoleh cap “anak badung” jenis lain di sekolah, dan terus mendapat perhatian semua guru sampai akhir kelas tiga. Mereka terus memperhatikan seandainya saya mempengaruhi teman-teman saya: padahal kenyataannya, teman-teman sayalah yang banyak mempengaruhi saya (paling tidak soal minum minuman keras murahan dan rokok yang dicampur antara ganja dan kecubung). Lupakan soal itu. Yang jelas sejak saat itu saya mulai memikirkan soal “Soeharto” ini.

Saya mulai belajar politik dari teman-teman kuliah saya di Yogya. Saya ikut kurpol, kursus politik. Saya ikut turun ke jalan. Meskipun begitu, hasrat terbesar saya tetaplah menjadi penulis (saya menyerah untuk menjadi politikus …). Karena awalnya saya berhasrat menjadi penyair (yah, semua penulis saya pikir awalnya berhasrat menjadi penyair), saya mulai menulis puisi-puisi politik. Tak satu pun pernah saya publikasikan. Tapi saya ingat satu puisi, saya lupa judulnya, yang saya tulis ketika Presiden Soeharto datang ke kampus saya, Universitas Gadjah Mada:

presiden datang,
saya tak bisa pergi sekolah

Saya masih ingat karena puisi itu memang cuma dua baris. Saya tulis setelah saya mengendarai motor hendak kuliah, tapi seluruh jalan masuk ke kampus dijaga polisi. Saya pulang dan menulis beberapa puisi. Itu tahun 1994. Saya merasa punya “personalisasi” kemarahan saya. Tapi puncaknya, tentu saja tahun 1997.

Saat itu menjelang pemilihan umum. Para aktivis kebanyakan menghilang. Kebanyakan dikejar-kejar sejak tahun 1996. Sebagian di antara mereka memilih untuk menyembunyikan diri. Sebagian yang lain benar-benar tertangkap. Sebagian lagi, kita tahu hilang. Benar-benar hilang sampai hari ini! Mati pun tak ada yang tahu dimana mayatnya terbujur. Oh ya, kita masih punya banyak alasan untuk marah, jika mau membuat daftar lebih panjang. Kembali ke tahun 1997, ketika suasana hening dan penuh rasa takut, kami (beberapa mahasiswa saja …) memutuskan untuk pertama kali sejak pertengahan 1996 yang heboh itu untuk kembali turun ke jalan. Menjelang pemilu.

Tuntutan kami saat itu: menolak pemilu. Tapi intinya adalah: “Kami tak mau lagi Presiden Soeharto.” Aksi turun ke jalan itu hanya beberapa puluh menit saja. Begitu kami tiba di jalan depan Fakultas Hukum UGM, orang-orang yang tadinya kami kira penonton, tiba-tiba menyerbu dan menangkapi kami. Tak lama tentara datang. Saya dilemparkan dua orang tak dikenal ke atas truk bersama beberapa orang lain, dibawa ke Kodim. Besoknya satu gerombolan mahasiswa juga ditangkap dan dibawa ke tempat yang sama.

Sejak itu saya tak lagi peduli dengan kuliah (lagipula skripsi saya mengenai Pramoedya Ananta Toer ditolak oleh fakultas), dan yang saya inginkan saat itu cuma satu: turunkan Presiden Soeharto.

Kita tahu itu baru terjadi setahun kemudian: 1998. Selepas itu, kita semua tahu apa yang terjadi. Bagi saya: serasa tak ada yang terjadi … Sampai saat ketika di warung melihat kematiannya, saya merasa presiden Indonesia masih yang itu: Soeharto. Sepuluh tahun berlalu, tak banyak yang berubah …

Bon Voyage, Mr. President!

6 comments on “Bon Voyage, Mr. President

  1. roslan jomel says:

    Akhirnya, saya sudah memiliki dua buah buku tulisan kamu! Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lain dan Cantik Itu Luka.

  2. ekakurniawan says:

    Terima kasih, salam kenal dan selamat membaca.

  3. roslan jomel says:

    Tentu sahaja saya (Malaysia) agak berhadapan sedikit masalah dari segi perbezaan bahasa tulisan kamu di dalam novel yang amat luar biasa itu.

    Apa-apa pun, oleh kerana saya kerap menonton drama bersiri dari Indonesia di televisyen, misalannya, Kiamat Sudah Dekat mahu pun berulang-ulang menghayati filem Pasir Berbisik (yang amat simbolik itu), makanya, keasyikanlah yang berada di atasnya.

    Wah! Sungguh luar biasa kamu. Saya fikir, Gabriel Garcia Marquez akan mencemburui fiksyen yang datang dari tangan kamu.

  4. ekakurniawan says:

    aduh … marquez cemburu? ah, itu pasti berlebihan sekali …

  5. lia says:

    waktu pertama baca tulisan mas eka saya masie kelas 2 smp…
    waktu itu..saya baca corat coret d toilet dan jatuh cinta dengan cerpen “si cantik yang tak boleh keluar malam” karna waktu itu saya juga tak boleh keluar malam …mau pacaran saja susah…
    tapi sejak itu saya nge fans ma tulisan eka kurniawan…
    saya suka cara penulisanna…keren euy…
    trus nulis yaa mas eka…saya tunggu buku” na yg lain..

    1. ekakurniawan says:

      @lia: trims dorongan semangatnya :-)

Comments are closed.