Bila Novel Ditulis di Blog (“Club Camilan”)

Sudah menjadi rahasia umum gaya penulisan blog memiliki karakteristik yang mulai menjadi tipikal. Di satu sisi, ia seringkali bersifat personal seperti catatan harian. Tapi di sisi lain, ia juga bersifat publik sebagaimana media massa umumnya. Begitulah, blog berada di antara keduanya: personal sekaligus publik.

Pendekatan seperti itu pula yang dilakukan kebanyakan media massa arus utama ketika mendelegasikan jurnalisnya agar menulis blog. Koran-koran seperti The Washington Post hingga Kompas, tak hanya menyediakan konten beritanya dalam versi daring, tapi juga menyediakan ruang bagi jurnalisnya menulis secara personal melalui blog yang difasilitasi oleh media induknya. Blog-blog semacam ini, tak hanya tetap patuh pada kaidah-kaidah jurnalistik dalam penanganan fakta, tapi juga menyisipkan sentuhan personal. Mereka membiarkan opini penulisnya menyusup dan orang tetap memakluminya. Sebab itulah blog.

Itulah daya tarik blog: ada daya tarik antara yang personal dan yang publik. Jurnalisme dan layanan konsumen sudah banyak memanfaatkannya. Bagaimana dengan kesusastraan? Bagaimana jika sebuah novel ditulis dalam bentuk blog?

Club Camilan

Belum lama ini terbit sebuah novel berjudul Club Camilan, karya tiga penulis Donna Talitha, Bella Widjaja dan Brigitta NS (Gramedia Pustaka Utama, 2009). Sebagaimana ditulis di pengantar editor, novel ini awalnya muncul di blog “Sepoci Kopi”. “Sepoci Kopi” merupakan blog lesbian dalam Bahasa Indonesia, selain berisi segala informasi mengenai LGBT, mereka juga kerap menampilkan cerita pendek bertema serupa. Club Camilan barangkali proyek novel pertama mereka.

Tantangan utama menulis novel di ruang blog tentu saja adalah fakta sederhana: rasanya tak mungkin seseorang betah membaca puluhan ribu, bahkan mungkin ratusan ribu, kata di layar komputer. Tak terbayangkan jika mereka membacanya di layar telepon genggam sebagaimana kecenderungan terkini.

Para penulis di Jepang, China dan Korea melakukannya dengan tindakan brilian: memecah novel dalam posting-posting pendek sebanyak 140 karakter. Itu jumlah maksimal satu halaman pesan pendek di telepon genggam, atau satu posting di layanan mikroblog seperti Twitter dan Identica. Tentu saja para penulis Jepang, China dan Korea diuntungkan oleh karakter huruf mereka, yang memungkinkan 140 karakter bicara lebih banyak daripada 140 karakter huruf latin. Meskipun begitu, dalam bahasa kita, 140 karakter bahkan masih memungkinkan untuk menulis satu atau dua kalimat. Apalagi jika kita bisa mempergunakan singkatan.

Pada prakteknya, tentu tak perlu seekstrem ini. Pembaca masih memungkinkan membaca teks di layar komputer, atau telepon genggam, lebih banyak dari itu. 7000 karakter seperti tulisan di koran masih memungkinkan untuk dibaca dalam keadaan nyaman. Dan itulah yang dilakukan ketiga blogger di balik novel Club Camilan: mereka membagi novel mereka dalam posting-posting pendek yang ketika dicetak menjadi buku, tampaknya menjadi bab-bab.

Tantangan kedua, di antara jutaan blog di internet, cara menulis seperti apa sehingga orang mau membaca novel di blog?

Kembali ke isu awal, tentu ada alasan kenapa blog menjadi semakin personal dalam keadaannya yang bersifat publik? Jawaban paling sederhana, di antara jutaan blog yang ada di internet, dengan pendekatan personal, setiap blog bisa menjadi unik. Keunikan mengundang pembaca setia, tak sekadar para blogwalkers yang tersesat.

Itu pula yang bakal ditemui di novel Club Camilan ini. Di blog, masing-masing penulis menulis setiap tiga kali sehari, berselingan. Di buku, editor memutuskan untuk memformatnya menjadi tiga novela dalam sebuah buku. Hal pertama yang mudah ditemui sebagai karakter blog yang personal adalah bahwa novel ini ditulis dari sudut pandang orang pertama. Tentu saja ini bisa dibilang trik. Teknik ini bukan barang baru dalam kesusastraan. Tapi dalam blog, bisa jadi pendekatan ini menjadi penting.

Bayangkan jika kita melihat posting Twitter berbungi: “Pada suatu pagi, Gregor Samsa terbangun dari mimpi buruk dan menemukan dirinya menjadi kecoa.” Percayalah, barangkali efeknya tak akan sebaik ketika membacanya di sebuah buku. Di Twitter dan kebanyakan blog, orang barangkali lebih tertarik membaca posting semacam ini: “Pagi ini saya terbangun karena digigit kecoa.” Kenapa? Posting kedua tampak lebih personal, meskipun boleh jadi sama fiksinya dengan posting pertama.

Demikianlah, teknik “jadul” ini bagaikan menemukan habitatnya yang utama di internet, utamanya di ruang blog.

Logika blog

Tentu saja sentuhan personal seringkali tak cukup hanya dengan mempergunakan kalimat dari sudut pandang orang pertama. Seringkali pembaca blog harus yakin bahwa penulis blog tertentu memang “seseorang” dan “di bidangnya”. Bahkan di blog-blog yang anonim pun, orang tetap harus diyakinkan dengan cara tertentu bahwa penulis blog itu ada dan memiliki alasan yang masuk akal untuk anonim.

Memang bukan tidak mungkin menyembunyikan diri di balik tulisan blog, atau menulis sesuatu yang dianggap orang “bukan bidangnya”. Yang terpenting adalah, pembaca yakin dengan personalitas penulis blog dan bahwa ada unsur personal dalam tulisannya, meskipun mungkin kenyataannya itu rekaan belaka. Jika di dalam fiksi ada “logika fiksi” (orang tetap percaya Harry Potter bisa terbang dengan sapu sihir), barangkali ini bisa disebut “logika blog”.

Rupanya dengan kesadaran semacam itu pula novel Club Camilan ditulis. Tak hanya ditulis dengan sudut pandang orang pertama, novel ini juga berisi mengenai isu-isu yang dihadapi oleh para penulisnya: hidup sebagai perempuan dengan kecenderungan seksual sebagai lesbian. Apakah yang mereka tulis merupakan kisah nyata sebagaimana mereka alami, itu persoalan yang barangkali hanya mereka yang tahu. Yang terpenting blog ini telah mengikuti “logika blog”: ditulis oleh lesbian tentang lesbian, dengan pendekatan pengalaman personal.

Jika akhirnya novel blog ini berakhir menjadi novel dalam bentuk buku, itu adalah anomali yang memang harus dihadapi saat ini. Kita tahu kesusastraan, sebagaimana bidang lainnya, tampaknya tengah berubah dengan kehadiran internet. Di Amerika, koran-koran sudah bertumbangan. Kita belum tahu apa yang akan terjadi dengan buku, sebagaimana kita belum tahu kemana internet akan membawa kesusastraan. Dalam keadaan gamang seperti itu, menulis novel di blog dan mengembalikannya ke dalam bentuk buku, menjadi sesuatu yang tampaknya (masih) lumrah.

Meskipun begitu, ini merupakan rintik-rintik kecil dari kesusastraan saiber. Daripada membicarakannya, tentu lebih baik mencobanya dalam berbagai kemungkinan. Tak masalah jika itu masih merupakan langkah kecil. Masih sekadar memindahkan teks tercetak ke layar komputer. Sekecil apa pun, barangkali akan ada sesuatu yang berbeda dari sana. Sebab satu hal jelas: sastra saiber merupakan keniscayaan di masa mendatang.

One comment on “Bila Novel Ditulis di Blog (“Club Camilan”)

  1. irwan bajang says:

    menarik2..
    saya jadi pengen mempublikasi draf novel saya sebelum diterbitkan..hehehehe
    setidaknya beberapa penggalanlah, biar bisa dinikmati dan dikritisi.
    Ulasan yang keren, bung.
    :D

Comments are closed.