“Bi wa Kizu” di Kinokuniya Plasa Senayan

Kapan seseorang merasa telah menjadi seorang penulis? Bagi saya, itu ketika saya melihat apa yang saya tulis sudah dicetak. Jujur saja, saya barangkali termasuk pengidap grafomania, itu istilah Milan Kundera untuk mengatakan, orang yang senang mencetak apa pun yang ditulisnya. Tentu saja saya tidak mencetak apa pun yang saya tulis. Tapi, ya, saya senang jika apa yang saya tulis sudah dicetak. Mungkin penulis lain juga melakukannya: jika tulisan saya muncul di koran, saya suka memandanginya beberapa lama. Kadang tidak untuk membacanya, tapi hanya untuk melihatnya secara visual. Melihat tata-letaknya, melihat jenis hurufnya, kualitas cetaknya. Melihat bagaimana apa yang sudah saya tulis (termasuk nama saya) muncul di permukaan kertas. Entahlah, mungkin ada hubungannya juga dengan latar belakang saya sebagai desainer grafis (sekarang partikelir).
 
Tapi pengalaman melihat buku sendiri di toko buku, memberi efek yang sedikit berbeda. Bagi saya, sering menjadi semacam kerawanan. Ya, saya masih melihatnya sebagai sebuah efek visual. Buku saya dipajang di rak tertentu, berdampingan dengan buku lain. Saat itulah kerawanan pertama kadang-kadang muncul: mengapa sampul bukunya begitu, atau mengapa harus dijejer di samping buku dengan sampul seperti itu. Lain kali merasa sebal dengan posisi buku yang miring, hanya memperlihatkan punggung buku. Belum lagi memikirkan pertanyaan-pertanyaan sederhana, kenapa hanya ada tiga kopi buku di situ? Dimana yang lain, apakah disembunyikan di gudang? Atau sudah laku? Atau toko buku hanya memesan tiga kopi.

Tentu saja semua itu konyol. Orang bisa saja mengatakan, tugas penulis hanyalah menulis. Itu benar dan saya sangat menikmati proses menulis. Ketika saya menulis, relatif saya tak terganggu hal-hal semacam itu. Saya bisa menulis cerita pendek, atau bahkan novel, dalam bentuk tulisan tangan yang nyaris tak terbaca, dan tak peduli apakah kelak bisa ditulis ulang dalam bentuk yang sama persis atau tidak. Orang bisa saja juga berkata, setiap karya mesti dibiarkan hidup mencari jalannya sendiri. Itu juga saya percaya. Tapi bagaimanapun, sejarah tak bisa memisahkan saya dan karya-karya tersebut. Jika saya ke toko buku kecil dan secara tak sengaja menemukan edisi pertama Corat-coret di Toilet, bagaimanapun saya merasa itu milik saya. Dan saya tak bisa membebaskan diri dari semacam hasrat untuk mengetahui, seandainya ia memiliki kehidupan, kehidupan macam apa yang sedang dijalaninya di rak buku.

Kemarin, 11 Nov, untuk pertama kali saya melihat Bi wa Kizu, edisi Jepang untuk novel Cantik itu Luka, di rak depan Kinokuniya Plasa Senayan. Satu tahun nyaris berlalu dan buku itu baru masuk Indonesia. Meskipun buku itu seluruh penampilan visualnya mengacu ke bahasa Jepang, dan jelas apa yang dicetak di sana bukan sesuatu yang saya tulis langsung, tetap saja saya merasa memiliki buku tersebut. Bayangkanlah, barangkali, seorang lelaki yang pergi merantau ke luar negeri (katakanlah Jepang) dan di sana bertemu perempuan setempat. Mereka jatuh cinta dan berhubungan. Namun karena satu dan lain hal, cinta mereka harus terpisah. Si lelaki pulang ke Indonesia. Suatu hari, barangkali tujuh belas tahun kemudian, muncul seorang gadis yang mengaku anak lelaki itu dari perempuan Jepang tadi. Lelaki itu pasti akan merasa asing melihat anak perempuannya, namun di sisi lain ia merasa ada dirinya di gadis itu. Ia merasa memiliki, namun juga dengan sifat yang rawan.

Barangkali seperti itulah. Sebuah pertemuan antara penulis dan bukunya di toko buku, yang telah terpisahkan oleh rantai distribusi produksi, apalagi jika buku itu merupakan terjemahan, selalu meninggalkan sejenis kerawanan. Sebuah pertemuan yang mengandaikan perjumpaan seorang ayah dan anak yang belum pernah dilihatnya … Ugh, semoga itu perumpamaan yang tak berlebihan, ya!

9 comments on ““Bi wa Kizu” di Kinokuniya Plasa Senayan

  1. eghy says:

    beda dg yg saya alami tiap saya ke toko buku: eh, itu buku si anu. hey, si anu bukuna udah rilis lagi. dan berujung pada satu pertanyaan: GW KAPAN?!? *sigh*

    OOT: pa kbr, mas? rumah merahnya mbak henny pindah LA, ya? pernah lewat tp blm s4 mampir. gmn rencana workshopnya?

  2. panda says:

    ya, mungkin juga penulis lain. aku curi ilmu dulu ya, dengan membaca-baca ini.

  3. Aziz Abd says:

    Moshi2.

    Salam kenal Pak Eka. aku seorang calon penulis yang menghadapi perang mengalahkan diri sendiri. Gini… aku mo nulis tapi kok susaaah… banget kalo dah setengah jam. Puyeng…. gimana supaya terbebas ya Pak?

    Aku baru aja baca buku Cantik Itu Luka bulan Januari lalu. Itu pas suntuk karena menjelang ujian UAS kuliahan. Saat aku bareng temen2 ke perpustakaan dan mereka pada minjem buku buat mata kuliah aku malah mencari novel, dan takdir menemukanku pada buku bapak. Di sela-sela belajar aku membaca buku bapak. Tapi jadi malah kebanyakan baca dari belajarnya.

    Keren dan hebat. Novel itu fantastik banget. Aku selalu kagum sama penulis novel yang bisa hubungkan dari depan ke belakang. Dari bab awal ke bab akhir. Cool…. hebat banget….

    aku juga nyuruh temen2ku buat baca juga. Dan sekarang aku lagi baca Lelaki Harimau.

    Oh ya, aku bukan mahasiswa sastra lho. Aku seorang calon Insyinyur Teknik Industri. Hehehe,…. aku memang anak teknik yang aneh. Pas kumpul2 bareng temen2, pas nongkrong di lorong2 gedung kuliah aku malah baca buku.
    Karena aku suka baca dan nulis. aku juga pengen nerbitin buku.
    Kasi saran donk Pak buat aku…..

    Selamat ya pak bukunya diterbitkan di jepang juga. Cool.

    Keren…..

    Salam kenal Pak, doakan aku bisa nulis novel, nyelesainnya dan terkena serangan kagum karena buku sendiri ada di toko2 buku.

    Arigatou Gozaimasu.

  4. clara says:

    Akhir2 ini saya agak (saya tulis agak karena saya tidak mau terlalu terjerumus) tertarik dengan sastra. Bagi saya, sastra sedikit banyak punya banyak kesamaan dengan musik klasik, seperti sesuatu yang tidak lekang oleh waktu. Bukan kesamaa ‘nyeni’ yang saya maksud, tetapi lebih kepada proses mencari nilai seni nya. Penyair menyihir dengan kata2nya, pemusik menyihir dengan suara…

    Salam

  5. Evron says:

    Salam kenal,
    saya mau tahu toko buku kinokuniya di jakarta ada dimana saja ya?oya, ada no telp kinokuniya ga ya?
    maaf ya malah banyak nanya.
    terimakasih atas bantuannya.

    evron:
    kinokuniya ada di plaza senayan, plaza indonesia, grand indonesia, pondok indah mall. tapi aku gak tahu nomor telepon mereka.
    (eka)

  6. willy says:

    mau tanya alamat detail toko buku kinokuniya di jkt dan apa dia jual buku anak primary school terbitan eph &epb singapore ?

    1. ekakurniawan says:

      @willy
      Kino ada di plasa senayan, plaza indonesia, pondok indah mall, grand indonesia … mungkin ada di beberapa tempat lain lagi. soal daftar katalog mereka, sayangnya saya kurang tahu.

  7. Icha says:

    Kepada YTH. Pengurus TB. Kinokuniya
    Saya ingin membeli buku “baby touch noisy book” secara online
    mengingat saya berdomisili jauh dr jakarta, dan buku itu sangat bermanfaat untuk
    anak saya.
    Mohon konfirmasi nya..
    Trimakasih bnyak atas kerjasama nya

    1. ekakurniawan says:

      @icha, saya enggak ada hubungannya sama Kinokuniya. Tapi mudah-mudahan pengurus Kinokuniya membaca pesan ini.

Comments are closed.