Bersihar Lubis dan Interogator yang Dungu

Mas Bambang Bujono (mantan Pemimpin Redaksi majalah D&R), biasanya ia dipanggil kebanyakan rekannya dengan panggilan Mas Bambu, mengingatkan hari ini Bersihar Lubis akan divonis oleh Pengadilan Negeri Depok. Ini perkara terbaru menyangkut kebebasan menulis. Lebih jelasnya, Bersihar Lubis dikriminalkan oleh kejaksaan hanya karena ia menulis! Selamat datang di rezim anti tulisan, selamat datang di negeri yang tidak intelek!

Semuanya berawal dari kolom Bersihar Lubis di Koran Tempo, 17 Maret 2007 berjudul “Kisah Interogator yang Dungu” (website Koran Tempo butuh password untuk bisa membaca artikel tersebut).

Kolom itu diawali oleh sebuah kisah mengenai Joesoef Ishak. Joesoef Ishak adalah seorang jurnalis, ia pernah bergabung dengan Harian Merdeka, dan selepas keluar dari penjara (1965, 1966, 1967) di tahun 80an terutama dikenal sebagai editor. Bersama Pramoedya Ananta Toer, ia mendirikan penerbit Hasta Mitra. Karena keberaniannya menerbitkan karya-karya Pramoedya inilah, Joesoef Ishak dipanggil dan diinterogasi Kejaksaan Agung.

Waktu itu, Joesoef sebenarnya memberi saran kepada Kejaksaan Agung untuk menggelar simposium yang obyektif dalam menilai karya Pramoedya. Tapi dengan sok tahu, menurut kisah Joesoef di kolom tersebut, Kejaksaan Agung menolak simposium dengan alasan, mereka “lebih paham dengan siapa pun bahwa Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa adalah karya sastra Marxis” (saya kutip dari kolom Bersihar Lubis).


Banner dukukang untuk Bersihar Lubis

Eh, waktu Joesoef diinterogasi, si interogator malah meminta Joesoef menunjukkan baris mana saja yang menunjukkan adanya teori Marxis dalam buku Pram. (Lha, Bapak-bapak, katanya lebih paham dari siapa pun?)

Kembali saya ingin mengutip pernyataan Joesoef yang dikutip Bersihar Lubis: “Saya telah disiksa oleh kedunguan interogator, dan interogator telah disiksa oleh atasan mereka yang lebih tinggi tingkat kedunguannya.”

Bersihar Lubis mengulang kisah Joesoef itu untuk mempertanyakan langkah Kejaksaan Agung menerbitkan surat keputusan pada 5 Maret 2007, mengenai pelarangan buku teks pelajaran SMP dan SMU. Buku-buku tersebut dilarang karena tidak mencantumkan pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun. Gerakan 30-September disinggung, tapi tak menyebutkan keterlibatan PKI. Jaksa Agung Muda Intelijen Muchtar Arifin beralasan, “Itu memutarbalikkan fakta sejarah.”

Intinya, kolom Bersihar Lubis mempertanyakan keputusan Kejaksaan Agung, dan mengkritik tentang monopoli kebenaran sejarah (yang menurutnya absurd).

Lalu apa yang terjadi? Hanya karena mengutip pernyataan Joesoef Ishak bahwa “kejaksaan dungu”, ia diadili pada 21 November 2007.

Saya berpendapat, orang yang anti terhadap hak-hak setiap individu untuk mengemukakan pendapat (termasuk menulis, kolom maupun sekadar blog seperti saya), “memang dungu”.

Untuk mengetahui siapa Bersihar Lubis, klik di sini. Untuk mendukung Bersihar Lubis, sila klik di sini. Sila juga meninggalkan pesan di blog saya. Sekecil apa pun, suara kita semua sangat berarti untuk kebebasan berpendapat.

Up-date (19:06 WIB)

Hari ini, 20 Februari 2008, Bersihar Lubis divonis hukuman percobaan 1 bulan oleh Pengadilan Negeri Depok. Sekali lagi, selamat datang di negeri yang tidak intelek!

3 comments on “Bersihar Lubis dan Interogator yang Dungu

  1. mufti says:

    Mungkin jaksanya produk rejim Soeharto, jadinya ya sensitip sama hal-hal yang dianggap mendukung PKI. Apa jaksa itu lebih tau tentang sejarah daripada penulis buku sejarah?

  2. harfianto says:

    maafkan ktidak tahuan saya.. ternyata masih ada ya..pemenjaraan terhadap orang-orang yang berfikir dan menulis…
    kacau..
    sepakat mas..
    negeri ini memang dipenuhi orang-orang yang tidak intelek..

  3. ikhvan says:

    tulisan kritik yang tidak berbau sara adalah kitab ke 2 bagi saya.
    jadi saya akan membela krtik sebab kritik adalah pencegah dari pemungkaran

Comments are closed.