Beberapa Tesis Tentang Judul Novel

Buku

Jika paragraf pertama novel bisa diibaratkan etalase toko, maka judul novel bisa diibaratkan papan nama toko tersebut. Judul merupakan sejenis “brand”, di mana keseluruhan novel barangkali bisa dicitrakan dalam sebaris judul tersebut. Serupa “Warung Ice” tetanggamu, jika kamu mendengar nama itu disebut, kamu langsung membayangkan apa saja yang dijual di warung itu.

Judul yang asyik memiliki karakter filosofis, puitis, kiasan, tapi juga deskriptif mengenai isi novel, serta mengakomodir tujuan praktis: memancing rasa ingin tahu pembaca. Judul paling asyik yang pernah saya baca, ditulis oleh Milan Kundera: The Unbearable Lightness of Being. Saya pikir judul tersebut merepresentasikan hal yang telah saya maksud di atas.

Dari karya ke karya, para penulis biasanya bergerak di tema-tema yang saling berkaitan. Bisa dikatakan, ada tema besar yang menjadi minat penulis, dan nyaris selalu terulang di karya-karyanya. Pola ini juga bisa terlihat dari cara mereka memilih judul. Judul-judul karya Milan Kundera, dekat dengan tema “lelucon”: The Joke, The Book of Laughter and Forgetting, Laughable Loves; Gunter Grass dekat dengan judul-judul berbau fabel: Dog Years, Cat and Mouse, From the Diary of a Snail, The Flounder; Haruki Murakamid dekat dengan judul-judul berbau kebudayaan barat: Norwegian Wood (dari lagu The Beatless), Kafka on the Shore (dari nama penulis Ceko berbahasa Jerman, Franz Kafka), 1Q84 (dari judul novel George Orwell, 1984), Sputnik Sweetheart (dari nama pesawat luar angkasa Rusia).

Ada judul-judul yang diambil dari nama/julukan tokohnya: Anna Karenina (Tolstoy), The Idiot (Dostoyevski), Madame Bovary (Gustave Flaubert), Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer). Saya pikir, untuk menjadikannya judul, tokoh-tokoh itu mesti berkarakter kuat, dan tentu saja demikian menonjol di novel tersebut, dan barangkali novel itu memang tentang si tokoh. Perkecualian, tentu harus merupakan hasil pemikiran yang matang. Misalnya, saya pikir, novel Bumi Manusia akan menjadi aneh jika diberi judul “Minke” atau “Nyai Ontosoroh”. Meskipun karakter mereka kuat di sana, tapi novel itu tidak spesifik tentang salah satu di antara mereka.

Judul juga bisa tidak berhubungan langsung dengan karya yang diberi judul. Ia bisa merupakan upaya mengaitkannya dengan karya atau referensi lain. Knut Hamsun menulis novel Pan, tidak bercerita tentang Pan — dewi cinta dalam mitologi Skandinavia, tapi memang bercerita tentang cinta. William Faulkner menulis novel Absalom, Absalom, tentu dengan maksud untuk mereferensi ke kisah Al-Kitab mengenai Absalom. James Joyce menulis Ulysses, mau tak mau kita juga mereferensikannya ke kisah Ulysses dalam mitologi Yunani.

Tesis-tesis tentang judul novel ini, saya pikir bisa juga diterapkan untuk judul jenis-jenis karya lainnya.

4 comments on “Beberapa Tesis Tentang Judul Novel

  1. Ranika Ginting says:

    saya tidak tahu banyak tentang cara menulis yang baik da menarik, tapi saya tertarik dengan kuliah yangpernah di bawakan oleh mbak astrid(penulis) ketika mengajar di ugm dalam matkul menulis kreatif dan menyebutkan nama eka kurniawan sebagai salah satu penulis turunan Pramoedya sehingga saya tertarik untuk tahu lebih jauh..sebenarnya saya penikmat sastra, yang tak pernah mengasah kesukaan saya tersebut karena saya seorang moody( tergantung mood)..saya sulit untuk menuliskan sejarah menjadi sebuah karangan fiksi yang tidak baku dalam berkata kata..bisakah memberikan saya saran?? maaf merepotkan:)

    1. ekakurniawan says:

      @Ranika:
      saran apa, ya? saya sendiri orang yg moody. tapi saya mengakalinya dengan membaca buku yang variatif. kalau bosen tema tertentu, saya coba baca buku tema lain. begitu juga dengan menulis. semakin banyak hal-hal yang kita baca, semakin kita bisa menghindari rasa bosan.

      1. Ranika says:

        oo begitu ya mas, saya merasa bingung menemukan cara agar tulisan saya bisa menginspirasi dan menyenangkan bagi pembacanya..mungkin butuh proses kali ya mas..terimakasih atas saran nya mas..mungkin nanti saya akan lebih banyak lagi membaca karya-karya orang:)

  2. Anto says:

    “Tesis-tesis tentang judul novel ini, saya pikir bisa juga diterapkan untuk judul jenis-jenis karya lainnya ”

    Bagaimana dengan judul sinetron, FTV atau film, mas ?

    Misalnya…,mengambil contoh film Dewi Persik… Mr. Bean Kesurupan Hantu Pocong…
    Cenderung deskriptif. Sepertinya judul itu merangkum segala hal mengenai film itu sendiri.. Dan penonton tidak perlu susah mereka-reka tentang apa gerangan film-nya.

    salam…

Comments are closed.