Bebek Hijau dan Pelajaran Mendongeng dari Bayi yang Hendak Tidur

Bebek-hijau

Sekali waktu, seorang teman bertanya, apakah setelah punya bayi saya masih punya waktu untuk menulis dan mengarang cerita? Jawaban saya: masih. Bahkan saya seringkali memperoleh ide justru saat terpaksa harus menidurkan Kidung Kinanti, anak saya yang sekarang berumur 7 bulan. Sejak Kinan (begitu nama panggilan anak saya) masih umur sebulan, saya beberapa kali memperoleh kesempatan untuk menidurkannya. Terutama jika Kinan sedang rewel, dan ibunya sedang capek, pada akhirnya saya harus membopongnya. Dan Kinan hanya akan diam kalau saya (seolah-olah) bicara dengannya.

Nah, daripada saya ngobrol ngalor-ngidul tak jelas hanya agar tetap bersuara dan Kinan terbuai sampai tertidur di pundak saya, saya memutuskan untuk mengarang-ngarang cerita. Di sinilah saya kembali belajar hal mendasar dari mendongeng. Persis seperti bagaimana Syahrazad melakukannya: tugas saya adalah terus mendongeng sampai anak tertidur. Jika belum tertidur, saya harus menemukan berbagai cara agar dongeng terus berlanjut. Begitulah, sambil menidurkan anak, saya terus melatih teknik-teknik tertentu untuk mendongeng.

Saya kutipkan dongeng yang tadi malam saya dongengkan ke Kinan. Tak terlalu panjang, sebab ternyata Kinan kali ini lebih mudah dibikin tidur. Mari kita kasih judul “Bebek Hijau” saja:

***

Ada seekor Mak Bebek berwarna kuning yang punya anak tiga ekor. Seperti dia, ketiga anaknya juga berwarna kuning. Sayang, anaknya yang paling bungsu, satu ketika tercebur ke kuah cincau, dan warna tubuhnya menjadi hijau. Si bebek hijau sedih sekali, karena badannya tiba-tiba berbeda dengan kakak-kakaknya. Ia merasa malu, dan hidupnya jadi murung. Ia ingin kembali menjadi bebek warna kuning.

Ibunya bilang, ia bisa kembali berwarna kuning asal ia mau makan umbi kunir. Senang sekali bebek hijau mendengarnya. Tapi, kata ibunya, kunir hanya tumbuh di atas bukit jauh di sana. Bebek hijau tak peduli, ia ingin kembali berwarna kuning. Maka satu pagi, sendirian, bebek hijau pun pergi menaiki bukit, demi menemukan kunir.

Di perjalanan, ia bertemu kucing liar yang jahat. Kucing liar sangat lapar dan hendak menyantapnya. Bebek hijau berlari dan bersembunyi di balik daun talas. Kucing mendekat, mengitari gerumbul daun talas, bahkan mengorek-ngoreknya. Untunglah, karena daun talas dan bulu bebek sama berwarna hijau, kucing liar tak melihatnya. Kucing liar pun pergi dan si bebek hujau selamat.

Setelah memastikan kucing tak ada, bebek hijau pun melanjutkan perjalanan menaiki bukit. Ia harus melintasi satu sungai. Sungainya tidak deras, dengan pelajaran berenang yang pernah diajarkan ibunya, bebek hijau pun berenang perlahan. Namun tiba-tiba muncul seekor ular yang juga tengah lapar. Ular itu melihat bebek hijau dan menuju ke arahnya. Bebek hijau buru-buru berenang menghindar. Di tengah sungai tak ada apa pun untuk bersembunyi. Hanya ada untaian-untaian lumut yang seperti rambut meliuk-liuk di permukaan air. Bebek hijau mendekat ke arah lumut, berenang di antaranya. Itu membuak ular kebingungan, karena warna bulu bebek dan lumut sama-sama hijau, ular tak melihatnya. Ular akhirnya pergi mencari mangsa lain, dan bebek hijau berhasil melintasi sungai.

Setelah setengah hari berjalan, bebek hijau sudah hampir mencapai puncak bukit. Tapi di depannya, tampak segerombolan serigala. Mereka memang tak makan bebek kecil, tapi mereka suka menjadikan bebek kecil mainan, dan cakar mereka bisa juga membuat luka atau kematian. Gerombolan serigala melihatnya, dan dengan riang berlarian ke arahnya. Bebek hijau panik dan buru-buru berlari. Ia menemukan buah mangga mentah yang jatuh dari pohonnya, dan buru-buru meringkuk di sampingnya. Kembali, karena warna buang mangga mentah dan bulu si bebek sama hijau, gerombolan serigala terkecoh dan pergi meninggalkannya.

Dengan napas tersengal-sengal, bebek hijau akhirnya sampai di puncak bukit dan menemukan pohon kunir. Ia segera memakan umbinya, lalu seketika warna bulunya kembali menjadi kuning. Kuning cemerlang seperti bulu saudara-saudaranya.

Dari atas, seekor elang melihat ke bawah. Di hamparan rumput yang hijau, ia melihat benda kuning bergerak-gerak. Semakin ia menajamkan pandangannya, tahulah bahwa itu seekor anak bebek kuning. Elang yang sangat lapar, menukik dan langsung mencengkeram si bebek kuning. Hari itu elang memperoleh makan siang yang lezat …

***

Kinan sudah tertidur ketika cerita itu berakhir. Saya masih sempat bercanda kepadanya sebelum meletakkan Kinan ke boks bayi: “Jadi moral ceritanya, Nak, bersyukurlah dengan apa yang kamu miliki.”

Ceritanya memang sedih, dan saya tak tahu apakah itu cocok untuk anak yang sudah mengerti. Tapi untuk Kinan, yang terpenting adalah saya terus bicara. Dan bagi saya, yang terpenting saya bisa menceritakan sesuatu sebaik-baiknya. Ketika harus menenangkan bayi yang menangis karena ngantuk, saya terpaksa menceritakan sesuatu dengan gagasan cerita saya ambil sembarangan dari sekitarnya. Cerita keluarga bebek kuning tiba-tiba muncul karena kebetulan Kinan punya boneka bebek kuning empat ekor (satu ibu dan tiga anak). Ini mengajari saya kembali: gagasan bisa diambil dari mana saja. Pernah saya bocara tentang cicak setelah melihat seekor cicak melintas. Pernah juga menceritakan kisah tentang seekor nyamuk setelah melihat luka kecil di kulit Kinan karena digigit nyamuk. Apa pun bisa menjadi cerita. Yang terpenting: bagaimana memberi bobot kepada cerita itu.

Tentu saja cerita awalnya mengingatkan kita pada dongeng “Itik Buruk Rupa”. Saya pikir sangat lumrah ketika terpikir menceritakan induk bebek kuning dan ketiga anaknya, referensi awal saya lari ke dongeng itik buruk rupa. Saya hanya perlu memodifikasinya. Tentu saja jika Kinan lebih susah dibikin tidur (bisasanya dia diam saja selama saya bicara, tapi akan menangis kalau saya berhenti bicara), saya harus lebih pintar membuat cerita lebih panjang. Mungkin saya bisa ngarang cerita secara asal-asalan, hanya agar terus bicara. Tapi itu hanya akan membuat pendongengnya (saya sendiri) merasa bosan. Cara terbaik, tentu saja membuat asumsi anak saya yang baru tujuh bulan itu mengerti apa yang saya dongengkan, dan saya harus mendongeng dengan baik, dengan jalinan cerita yang berliku, suspens yang bermutu, dan akhir yang menarik.

Sebagai seorang penulis, saya memiliki utang besar terhadap keluarga saya yang mendongengi saya ketika masih kecil. Di antara mereka: ibu, ayah, paman, dan nenek saya, serta seorang pendongeng kampung bernama Ma Muah. Dongeng-dongeng mereka seringkali tak pernah saya dengar dari orang lain, membuat saya mengasumsikan mereka mengarang-ngarang sendiri dongeng itu untuk saya dan adik-adik saya. Kini saya memiliki kesempatan membayar utang luar biasa itu: mendongeng untuk anak saya.

2 comments on “Bebek Hijau dan Pelajaran Mendongeng dari Bayi yang Hendak Tidur

  1. gandhi says:

    terimakasih atas tulisannya. bisa jadi pendorong saya untuk mendongeng pada anak saya.

  2. dwi rachman says:

    aq dan suami jg sering ngoceh kalo menina bobokkan anak…. tp ya paling hanya menceritakan sesuatu yang simple dan yang nyata tidak mendongeng seperti kisah di atas…kurang bisa mengarang dongeng sih….kalo mendongeng ya berarti menceritakan dongeng2 yang pernah di baca….dapat 1 referensi 1 lagi dongengnya “bebek hijau”

Comments are closed.