Bagaimana Sebagai Penulis Pemula, Saya Menerbitkan Karya Pertama Kali?

Saya sering membaca keluhan (di media sosial, di obrolan), betapa sulitnya penulis pemula menembus penerbitan (media massa, buku). Mereka selalu berpikir, editor atau redaktur terlalu memberi tempat untuk penulis terkenal. Dalam hal itu ada benarnya. Jika saya seorang editor/redaktur, karya penulis terkenal memberi saya rasa tenang: mereka punya jam terbang, tulisannya hampir pasti rapi, dan tentu saja rata-rata di atas standar layak pemuatan. Mereka mempermudah pekerjaan editor/redaktur. Tapi jika editor/redaktur tak memperhatikan penulis pemula, mereka juga sama saja dengan bunuh diri perlahan-lahan. Setiap industri, termasuk penerbitan, membutuhkan regenerasi. Darimana regenerasi ini dari mana mereka peroleh? Dari para penulis pemula!

Dari asumsi tersebut, banyak penulis pemula merasa bahwa mengenal secara pribadi editor/redaktur seperti menjadi hal penting untuk karyanya diterbitkan. Saya ingin berbagi cerita, mengenai awal-mula saya menulis dan bagaimana karya-karya saya diterbitkan. Percayalah, tak ada yang aneh. Saya melakukan sesuatu yang saya rasa dilakukan sebagian besar penulis di awal karir mereka, dan tentu bisa ditiru oleh penulis pemula lainnya.

Karya saya yang pertama kali diterbitkan adalah sebuah (kemudian beberapa) puisi, yang saya tulis ketika kelas 2 SMP. Umur saya mungkin 11 tahun. Puisi anak-anak dan dimuat di majalah anak-anak. Kenapa saya sampai terpikir mengirimkan puisi ke majalah tersebut? Gampang saja. Saya memang membaca majalah tersebut (ayah saya berlangganan untuk kami). Di salah satu halaman, tertera tulisan kecil: redaksi menerima kiriman cerita pendek atau puisi, dikirimkan ke alamat redaksi …. Saya rasa anak kelas 2 SMP bisa dengan cepat paham arti pengumuman kecil tersebut tanpa harus bertanya kepada orang dewasa, atau penulis besar, bagaimana mengirimkan karya ke media.

Maka saya pun mengambil mesin tik, menulis beberapa puisi, dan mengirimkannya ke alamat yang tertera. Saya tak kenal redakturnya, tak pernah korespondensi sebelumnya, tak kenal penulis lain yang pernah melakukan hal itu sebelumnya. Saya hanya melakukan hal sederhana yang saya ketahui dari satu pengumuman kecil yang biasanya ada di bagian bawah boks redaksi. Beberapa edisi kemudian, puisi saya dimuat. Memang saya tak memperoleh honor, tapi saya memperoleh kiriman majalah gratis. Dan sedikit kepopuleran yang saya peloreh di sekolah. Itu sudah membuat saya senang.

Cara tersebut saya lakukan juga ke majalah lain. Ketika remaja saya mengirim naskah ke Majalah Hai, juga dengan cara yang sama. Demikian juga ketika saya mengirimkannya ke surat kabar. Di semua media, selalu tercantum alamat redaksi. Dan ke alamat tersebutlah semua naskah memang seharusnya dikirimkan. Di boks masthead media massa, biasanya memang ada beberapa alamat. Ada alamat tata usaha, alamat redaksi, alamat sirkulasi. Jangan salah, naskah harus dikirim ke alamat redaksi. Bukan alamat yang lain.

Zaman itu, saya masih mengirimkan naskah dalam bentuk hasil ketikan. Tentu saja dikirim via pos, kadang disisipin prangko untuk pengembalian jika memang tak layak dimuat. Tahun 2000an, keadaan menjadi jauh lebih mudah dengan terbiasanya media massa menerima naskah dalam bentuk email. Alamat email redaksi media massa pun mudah ditemukan di boks redaksi. Jujur saya suka bingung jika ada yang bertanya, “Kalau mau mengirimkan cerpen ke Kompas atau ke Koran Tempo, emailnya apa ya?” Saya rasa, jika seseorang serius ingin menulis dan menerbitkan cerpen, orang tersebut harus membeli dan membaca koran-koran itu. Bukan hanya untuk mengetahui selera koran tersebut, tapi lebih panting lagi: untuk tahu alamat email mereka. Alamat email redaksi ada di sana!

Memang akan lebih mudah jika kamu mengetahui email pribadi editornya. Naskahmu tak akan terlalu berputar-putar dari sekretaris redaksi, ke desk kebudayan, ke redaktur penjaga rubrik. Tapi mengirimkan email ke redaksi tetap merupakan cara yang formal, dan tak akan menghalangi naskahmu dimuat jika memang layak. Pengalaman saya, cerpen-cerpen saya dimuat di Media Indonesia sebelum saya mengenal editornya. Begitu pula dengan Kompas.

Tentu saja masih ada kemungkinan kamu berhadapan dengan redaktur pemalas. Redaktur yang hanya melirik karya-karya penulis terkenal. Jika naskahmu layak muat tapi diabaikan redaktur karena namamu belum dikenal, coba saja ke tempat lain. Saya percaya banyak redaktur yang memahami pentingnya penulis pemula untuk kelangsungan hidup bisnis mereka. Saya bukan pengamat cerpen-cerpen setiap minggu di koran atau majalah. Tapi sekilas saja saya bisa tahu, dari tahun ke tahun penulis pemula selalu bermunculan. Itu fakta sederhana, bahwa tak mungkin satu industri menutup pintu untuk para pemula.

Bagaimana dengan buku? Saya rasa sama saja. Di setiap buku yang saya baca, terutama buku dalam negeri, dengan mudah saya menemukan alamat penerbit. Biasanya ada di sampul belakang, atau di halaman hak cipta. Kirimkan naskahmu ke alamat itu, dan tunggu. Percayalah, editor di penerbitan juga tak mungkin menutup diri kepada penulis pemula. Mereka sangat haus dengan bakat-bakat baru. Saya sering mendengar teman saya yang editor, menjerit-jerit histeris, jika ia menemukan penulis baru yang menjanjikan. Ingat, semua penulis terkenal dan tua, berawal dari penulis muda dan pemula.

Memang pengalaman saya menerbitkan buku tidak seratus persen seperti itu. Buku pertama saya, sebuah karya non-fiksi berjudul Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. Sebenarnya itu skripsi saya di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Ketika naskah itu masih dalam bentuk draft, seorang teman membacanya dan membawanya ke teman lain yang memiliki penerbitan. Pemilik penerbitan tertarik menerbitkannya. Demikianlah, buku pertama saya akhirnya terbit. Ada sejenis faktor kebetulan, karena saya tak menawarkannya. Lha, niat awalnya memang untuk skripsi. Bahkan saya sempat mewanti-wanti, bukunya jangan terbit sebelum saya lulus ujian. Kalau terbit duluan, bisa-bisa saya tidak lulus karena mengajukan karya yang sudah terbit duluan.

Di masa-masa itu, kebetulan saya sudah mulai banyak menulis cerpen di koran dan majalah. Saya pun sudah kenal dekat dengan pemilik penerbitan yang menerbitkan buku pertama saya. Dia mengusulkan cerpen-cerpen saya diterbitkan saja jadi buku. Demikianlah Corat-coret di Toiet terbit sebagai buku fiksi pertama saya. Agak-agak gampang karena dibantu oleh buku pertama saya.

Tapi bukan berarti saya tak pernah mengirimkan naskah buku dengan cara tradisional, mengirimkannya ke alamat penerbit. Ketika saya menulis novel pertama saya (waktu itu judulnya masih O Anjing), saya mengirimkannya ke beberapa penerbit. Meskipun mereka tak menerbitkannya, mereka cukup baik hari meresponsnya: menolak. Satu penerbit bilang, naskah saya terlalu sastra. Penerbit lain bilang, naskah saya terlalu tebal, mereka tak mau ambil risiko secara bisnis (mungkin dengan pertimbangan saya masih pemula juga). Eh, ada juga sih yang sama sekali tak memberi jawaban apa-apa.

Dengan cara yang berbelit-belit, novel itu akhirnya terbit juga. Waktu itu Insist mendirikan Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY), dengan cita-cita membantu para penulis muda untuk berkarya. Saya bergabung dengan lembaga itu dengan membawa naskah O Anjing. Dengan bantuan pembiayaan dari AKY, sebuah penerbit akhirnya menerbitkan novel itu. Judulnya menjadi Cantik itu Luka. Naskah yang sempat ditolak beberapa penerbit itu, sekarang menjalani nasibnya sendiri yang baik. Diterbitkan ulang oleh penerbit besar (ya, Gramedia Pustaka Utama), diterjemahkan ke Bahasa Jepang, Malaysia, dan sedang dalam proses ke Bahasa Inggris.

Saya ingat, sebagai penulis pemula, saya tak pernah punya pikiran industri ini hanya milik penulis mapan dan papan atas. Saya hanya perlu memastikan diri bahwa saya percaya pada kemampuan diri sendiri, dan percaya pada karya saya.

Tiga belas tahun telah berlalu sejak saya menerbitkan buku pertama. Saya masih memegang keyakinan: bahwa selalu ada tempat untuk penulis pemula, dan selalu ada jalan untuk karya yang baik diterbitkan. Saya bahkan, di hari-hari ini, sering merindukan mental penulis pemula yang saya miliki bertahun-tahun itu. Merindukan keadaan ketika saya merasa tulisan saya gagal dan saya harus menuliskannya lagi berulang-ulang, menulis hal yang sama berhari-hari, agar hasilnya sesuai yang saya inginkan. Merindukan hari-hari ketika saya merasa sangat bodoh, dan membawa saya untuk berhenti menulis, dan menggantinya dengan membaca sebanyak-banyaknya. Jika menjadi penulis mapan berarti merasa selalu bisa menulis karya yang bagus, merasa mengetahui banyak hal, saya sih lebih suka terus-terusan menjadi penulis pemula.

Dan jika kamu merasa sebagai penulis pemula, berjuang untuk menghasilkan karya yang baik dan menerbitkannya, kamu punya teman seperjuangan. Saya.

13 comments on “Bagaimana Sebagai Penulis Pemula, Saya Menerbitkan Karya Pertama Kali?

  1. vcla says:

    Kalau sekarang ada faktor lain yg jg dipertimbangkan, berapa jumlah follower kamu? :))

    1. ekakurniawan says:

      @vcla
      Saya nggak punya follower, udah enggak ngetwit :-)

  2. razorleeb says:

    Uh, saya pembaca dari Malaysia yang baru cuba-cuba menulis (penulis pemula kononnya). Poin anda tepat dan bernas sekali!

  3. F. Daus AR says:

    Inspiratif dan tidak menggurui, terima kasih atas catatan ini. Jarang ada penulis andal seperti Eka Kurniawan yang mau berbagi semangat…

  4. Adie Riyanto says:

    terima kasih sharingnya mas. Akan saya coba, semoga buku pertama saya segera bisa diterbitkan. Bukan fiksi sih, tapi berupa catatan perjalanan keliling Indonesia. :)

  5. ori arifin says:

    Tulisan ini membuat saya semangat untuk menulis.

  6. vi io says:

    kenapa ya, biasanya penulis penulis terkenal itu udah tua tua…???
    apakah memang yang muda tidak diberi kesempatan…??

    atau memang yang tua sudah punya berjuta pengalaman dalam menerbitkan buku …??

    1. ekakurniawan says:

      @vi io:
      di tulisan saya kan sudah saya sebut, penulis pemula pada dasarnya selalu ada kesempatan, kok. Setiap tahun, selalu ada buku karya penulis pemula. Percaya, deh :-)

  7. akbar kasmiati says:

    Sungguh, tulisan ini memberiku semangat untuk lebih giat mengarang lagi. Terimakasih Pak Eka.

  8. TONGKONANKU says:

    Saya sih pengen jadi penulis blog saja. :)

  9. D. Setiawan says:

    Semangat sudah terbagi sampai ke saya, Mas.

    Matur nuwun.

    1. selebvi says:

      whoaaa akang eka top pisan! aku jadi semakin semangat menulis dan nggak akan pernah berhenti mencoba. tulisan kak eka adalah bukti nyata bahwa penulis muda bisa!
      kalau boleh tahu, sekarang kenapa nggak ngetwit lagi?
      aku bikin satu thread khusus di salah satu forum komunitas baca buku, fan based eka kurniawan lho

      1. ekakurniawan says:

        @selebvi:
        nggak ngetwit supaya punya lebih banyak waktu buat nulis dan baca, dan ngisi blog :-)
        terima kasih untuk thread-nya ya :p

Comments are closed.