Bagaimana Menulis Novel? (2)

Saya terpaksa menulis posting ini sepenggal-sepenggal karena masih di tengah proses “membereskan” novel saya. Dan saya memposting ini, sama seperti semula, juga sebagai catatan untuk mengingat-ingat.

Barangkali saya pernah mengatakannya: novel ketiga saya berlatar masuk dan perkembangan Islam di Nusantara. Ada dua hal yang harus saya perbaiki dalam beberapa hari ini. Pertama, konsistensi menyangkut penanggalan. Saya memutuskan untuk mempergunakan penanggalan Hijriah dalam novel ini. Itu berarti saya harus mengkonversi semua penanggalan Masehi ke Hijriah. Kedua, saya juga harus membereskan beberapa transliterasi Arab ke Bahasa Indonesia agar lebih konsisten. Kalau ada yang tahu sejenis software untuk konversi penanggalan dan rujukan transliterasi yang baku, let me know.

Sekarang kembali ke “Bagaimana Menulis Novel” Bagian 2.

3. Nada dan Irama
Jujur saja, saya tak tahu harus memakai istilah apa. Saya mempergunakan kata “nada” sebagai padanan kata “tone” dalam bahasa Inggris, dan “irama” dari “rhythm“. Sebagaimana dalam lagu, saya percaya dalam novel juga ada yang disebut “nada” dan “irama”. Istilah ini saya rujuk sebagai “cara seseorang menulis”. Berbeda dengan cerita pendek, saya menaruh perhatian yang besar terhadap “nada” dalam novel. Kenapa? Sederhana saja: novel berdurasi panjang, sangat mudah bagi seorang penulis untuk “terpeleset”, atau kalau dalam nyanyian, sangat mudah untuk menjadi fals.

Baiklah, saya akan mencoba membuatnya lebih jelas. Barangkali kita pernah membaca sebuah tulisan yang kita anggap santai, ringan. Di tempat lain, kita membaca sebuah tulisan yang membuat kita nyengir-nyengir kecil. Ada juga tulisan yang membuat kita berpikir, tapi tanpa harus membuat kepala terbakar. Saya percaya, itu sangat tergantung “nada” yang dipakai. Dengan kata lain, kita bisa menulis hal yang sama dengan nada yang berbeda. Seorang penulis harus memilih satu pilihan nada tertentu yang paling cocok untuk novelnya.

Dalam Cantik itu Luka, saya mempergunakan penulisan yang cenderung sederhana, dengan kata-kata sehari-hari. Saya pikir saya tak perlu mengatakan kenapa saya memilih itu. Tapi jika kamu membaca novel saya berikutnya, Lelaki Harimau, pasti bisa menemukan bahwa saya memakai pilihan kata dan cara menulis yang berbeda. Dengan kata lain, saya memakai “nada” yang berbeda. Kurang lebih itulah maksud saya.

Sementara itu, “irama” tidak saya samakan dengan plot. Irama lebih mengacu kepada bagaimana kita mengatur aliran intensitas cerita. Misalnya dimana kita harus meringkas sebuah fragmen, dimana kita berpanjang-panjang.

Problemnya, sekali lagi, novel nyaris tidak mungkin ditulis dalam sekali tulis. Bahkan novel yang ditulis secara spartan pun, saya yakin, pasti membutuhkan waktu beberapa hari. Dan pasti ada jeda istirahat. Dalam kasus saya, jika tak hati-hati, kadang-kadang, kita bisa “terpeleset”. Irama dari satu bab ke bab berantakan. Bab pertama cerita berjalan cepat, bab kedua cepat, bab ketiga cepat, eh, bab keempat tiba-tiba bertele-tele. Di novel yang ditulis selama berbulan-bulan, di mana bab pertama ditulis bulan Januari dan bab kelima ditulis bulan November, dengan mudah keterpelesetan ini bisa terjadi.

Begitu pula dengan nada menulis. Bahkan suasana hati seorang penulis bisa sangat berpengaruh terhadap tulisannya.

Tentu saja saya tak bermaksud bahwa sebuah novel harus ditulis dengan nada dan irama yang sama sepanjang novel. Itu hanya akan menciptakan sebuah novel yang monoton dan datar, kan? Maksud saya lebih tertuju pada, nada dan irama ini harus diperhatikan, jangan sampai turun atau naik, atau berbelok, di tempat yang tak semestinya.

Sekali lagi, dalam kasus saya, karena novel ditulis dalam rentang waktu yang lama, tak mungkin menjaga nada dan irama ini persis sebagaimana yang diinginkan. Cara paling praktis yang sejauh ini sudah dua kali saya lakukan adalah: setelah menyelesaikan sebuah draft, saya menulis ulang semuanya secara berkesinambungan, sehingga nada dan irama tulisan lebih terjaga. Barangkali ada cara yang lebih mudah: melakukan penyuntingan yang ketat di akhir penulisan. Ini yang saya pilih untuk novel ketiga.

Barangkali ada yang bisa mengungkapkan hal ini lebih jelas dari saya? Maklum saya bukan teoritis novel …

(bersambung)

30 comments on “Bagaimana Menulis Novel? (2)

  1. nana says:

    bikin novel itu susah, ya?

  2. fatih says:

    jangan lupa dilanjutin lagi, ya mas ……..

  3. ANAK FIKSI says:

    mas, nulis cerpen bagaimana strateginya?
    tambah kolom untuk “bagaimana menulis cerpen” donk mas………saya penikmat cerpen-cerpen mas eka. saya penasaran, kok bisa orang nulis cerpen kayak gelak sedih dan cinta tak ada mati itu mas……….

    mohon pengertiannya

  4. ekakurniawan says:

    cerpen? habis ini aja, ya? hehehe … salam kenal.

  5. iwan says:

    bagaimana dalam membuat karakter tokoh menjadi kuat, karena kalau saya menulis cerita teman sy kurang dalam penokohannya.
    trims

    iwan:
    saya bukan teoritikus, tapi mungkin bisa berbagi pengalaman. bagi saya, karakter seseorang (bahkan dalam kehidupan sehari2), hanya mungkin muncul ketika ia menghadapi sesuatu. begitu juga dalam fiksi: konflik, drama, twist, dan sebagainyalah yang membuat sebuah karakter menjadi kuat. sebab tanpa melakukan sesuatu, atau menghadapi sesuatu, ia tak akan menjadi “tokoh”. artinya: karakter tidak diciptakan, ia muncul karena situasi. itu pendapat saya, lho.
    (eka)

  6. bagio says:

    mas.sepenting apakah budaya (waktu dan tempat tertentu) dalam sebuah novel.apa perlu mengetahui riset yang mengacu pada masa dan tempat itu.

    bagio:
    sepenting membuat pembaca yakin :)
    (ekakurniawan)

  7. diponegoro says:

    salam kenal.mas,cara menghidupkan karakter pada tiap tokoh gimana?…

    diponegoro:
    beri tokoh itu cerita, dengan sendirinya ia hidup.
    (ekakurniawan)

  8. Ari har says:

    siip juga tips-tipsnya, mudah2an sukses terus ya. tapi bagaimanapun saya masih bertanya-tanya apakah ada cara untuk memberi kesan menarik terhadap satu tokoh didalam sebuah novel bukan dua tokoh seperti yang mas utarakan???

  9. justin says:

    novel harus bisa menyentuh perasaan si pembacanya,…tgl, dan tempat harus dapat menimbulkan imajinasi si pembaca,…silakan beli buku karya Putri Wong Kam Fu, di bukunya terdapat tgl masehi, imleks, hijirah, kejawen dari tahun 1900-2025, dan saya memiliki sebuah alat yg juga dapat melihat waktu dan tgl masa lampau, jika mas berminat saya dapat memberikan pada mas secara gratis. semoga dapat membantu mas,..salam….Justin Vieri

    justin:
    trims atas tawarannya. saya sudah memperoleh software untuk convert penanggalan tersebut dan berfungsi sebagaimana saya menginginkannya. Bagaimanapun terima kasih, ya.
    (ekakurniawan)

  10. rosmina zuchri says:

    terima kasih artikel nya , bagus untuk dibaca dan menambah wawasan. saya igin menulis…………. apakah mas mau membaca apakah ada waktu.

    thanks

    Rossy

  11. ekakurniawan says:

    @rosmina:
    (juga untuk yang lain)
    karena berbagai kesibukan, sejujurnya aku hampir enggak pernah baca kiriman naskah orang, terutama aku sangat enggak biasa membaca file (tulisanku sendiri sering harus ku-print untuk dibaca ulang). kalau kamu punya blog dan tulisanmu ada di blog, kamu bisa kasih tahu aku. aku suka baca blog dan sering mampir ke blog orang. jika ada sesuatu yang menarik untuk diperbincangkan, tentu aku akan meninggalkan pesan. sangat mudah bikin blog, bisa pakai blogspot atau wordpress. kupikir sekarang sangat penting setiap penulis atau calon penulis menyimpan tulisannya di blog :)

  12. Dewayani Diah Savitri says:

    apakah kita musti membuat kerangka atau outline dulu sebelum mulai nulis novel atau apakah bisa mulai menuangkan ide2 dalam bentuk misalnya dialog2? aku pengin bisa nulis nih, bisa bantu? mudah2an dg nulis aku jadi nggak ngomong sendirian terus dalam hati..

    1. ekakurniawan says:

      @Dewayani
      buat saya pribadi, kerangka itu penting. Itu semacam peta, meskipun pada akhirnya tak selalu harus diikuti dan seringkali saya keluar dari rencana. kerangka semacam ini bisa ditulis (agar tak lupa), tapi bisa juga hanya berupa konsep di pikiran. menulis tanpa kerangka, semacam jalan-jalan tanpa peta, sebenarnya bisa mengasyikkan juga.

  13. martiez says:

    aq sering banget nulis, setiap ada kejadian pasti sempetin wat nulis.
    pernah sih wat bikin satu cerita full tapi, kadang2x nulisnya tergantung mood. misalkan mau nulis crita yang ini, tp yg muncul wat nulis crita yang lain..jdnya g selesai2x..gmana caranya numbuhin mood dengan crita yg sama pada hari yang berbeda..
    thanks y…

    1. ekakurniawan says:

      @martiez:
      hemingway punya resep untuk hal seperti ini: berhentilah menulis hanya kalau kamu tahu apa yang akan ditulis besok. artinya, kalau kamu punya rencana menulis 10 halaman hari ini, tulis 8 halaman saja. sehingga besok pagi, paling tidak kamu sudah tahu 2 halaman pertama untuk ditulis. tips ini layak dicoba.

  14. mikhail says:

    mas saya mempunyai ketertarikan untuk membuat novel yang bagus. saya serius mas. bisa dibantu karena saya benar2 serius ingin bekerja sebagai penulis yang handal. mungkin selayak el khariman yang menulis cerita dari hati dan banyak membuat orang2 menangis, tertawa bahkan menjadi bahagia karena tulisannya pokoknya penulis yang prima.tolong diajari mas….

  15. ilham says:

    wah pas bgt artikelny. sya jg lg frustasi. sudah 3x gagal mmulai bab pertama. pdhl plotny uda disusun smpai akhir crita, mgunkan rumus 9 babak. sya nyaris merasa sya tdk ditakdirkn utk jd pnulis. hu.. hu.. mhon bntuanny.

  16. bagaimana dong nulis cerpen or novel yang manjur end mujarab? cos aq gagal mulu…help me plisss??

  17. solikin says:

    owh mas saya suka banget nulis puisi,cerpen,dan belajar nulis novel. tp aku gak prnah buat kerangka karangan.aku cuma nulis dan nuli7.

  18. desy says:

    yang membingungkan saat bikin novel tu, gimana kata-katanya? maksudku perkataan si orang itu? kan biasanya ada logat jawa gitu, n logat laen-laen, bisa ngga pake logat aku kamu aja untuk dialegnya, padahal ni novel indonesia bukan terjemahan bhasa asing? jawab na.

    1. ekakurniawan says:

      @desy
      kamu bisa memilih dua pendekatan “tunjukan” atau “jelaskan”. kalau kamu ingin “tunjukan”, biarkan tokoh-tokoh bicara dengan dialek mereka. kalau kamu mau “jelaskan”, tokoh bicara dengan bahasa narator, tapi kamu menjelaskan: “ia bicara dengan dialek madura”, dll. gampang, kan? yang penting kamu memilih dan berupaya untuk konsisten dengan pilihan itu.

  19. yuan says:

    mas Eka, apa kbr?:)
    salam kenal. aq pengen bikin novel yang ada intrik hukum dan medisnya,tapi aq lebih ngebayangin kayak film bukannya novel.apa tipsnya supaya jadi ceritaqu jadi novel, bukannya film. trims

    1. ekakurniawan says:

      @yuan
      banyak novel ditulis dengan pendekatan film. tulis saja dengan pendekatan scene by scene, memberi tekanan pada setting (dimana adegan terjadi di scene tersebut), diperkaya dengan detil2 seperti aksesoris apa yang dipergunakan tokoh, apa yang dilakukan tokoh, dan biarkan dialognya mengalir mengikuti dialek tokoh. realisme seperti hemingway sangat mirip dengan pendekatan ini, juga sebagian besar novel populer, sehingga membaca novel begini tak jauh beda serasa melihat adegan2 film.

  20. Shofi says:

    Makasih bgt mas atas info2nya…Jgn lupa di sambung lg ya mas..
    Biar Bisa beri inspirasi.
    Sukses buat mas eka…

  21. Ratih says:

    Ass…

    Salam kNal… Q pngen Nulis noVel….

    Nulis novel tu susah gag s???
    Gma sich biar novel Qt tuh Hidup….

    ide udah ada tinggal Gmn cRa nuliZx….???

    trimz….

  22. mispa says:

    saya pingin bangetbisa menulis nove sendiri, susah ga ya?

  23. ndp says:

    jangan ketawa
    q akan bikin novel yang akan dicetak
    satu juta exemplar

  24. nana says:

    Mas eka ini nana…masih ingat gak yang dulu aku pernah nanya gmn cara bikin cerpen?Ini aku coba buat cerpen .Mhn komentarnya dan tolong diberitahu letak kesalahannya juga dari segi ejaannya [… CROP …]

    1. ekakurniawan says:

      @nana,
      Maaf komentarmu aku potong. Cerpennya aku simpen aja. Aku bikin blog ini untuk berbagi pengalaman penulisan. Tapi untuk membaca naskah, mengingat terbatasnya waktu, rasanya sulit buatku baca naskah orang satu-persatu, apalagi sengaja mengkritisi dan mengomentarinya.Silakan baca disclaimerku.

  25. eka d. nuranggraini says:

    mas, saya kok ya mau nulis susah, ide-ide kadang-kadang muncul dengan tiba-tiba, kadang-kadang sudah ada gambaran di otak tapi susah banget kalo sudah mau dituangkan dalam tulisan, terus bagaimana cara mbuat irama yang bagus, dari tokoh, konflik, klimaks sampai anti klimaks?
    terima kasih….

Comments are closed.