Bagaimana Menulis Novel? (1)

Bulan lalu saya berjanji untuk menyerahkan naskah novel saya ke penerbit. Harus saya akui, saya mengurungkannya: mundur lagi. Ada beberapa hal di dalam novel itu yang harus saya perbaiki dan saya masih mencari-cari cara terbaik. Untuk itu, hari-hari ini saya kembali menggelar karpet di ruang tamu. Buku-buku referensi kembali digelar di sekeliling karpet. Begitu pula naskah yang sudah saya print-out, agar saya bisa mengecek kembali. Komputer sedia setiap saat.

Bagaimanapun, meski saya merasa ada sesuatu yang enggak bener, bukan hal yang gampang untuk melacaknya dimana. Satu-satunya hal yang mungkin saya kerjakan, adalah mengingat-ingat kembali urutan kerja saya. Dalam hal ini disiplin kerja saya cukup memudahkan pelacakan ini. Saya terbiasa bekerja dengan agak metodis. Saya akan menuliskannya di sini, berdasarkan pengalaman saya menulis dua novel sebelumnya. Ini untuk mengingatkan saya, sekaligus barangkali ada yang tertarik mencontek cara kerja saya (hehe):

1. Bab Pertama

Seperti paragraf pertama dalam cerita pendek atau esai, bab pertama dalam sebuah novel selalu saya anggap penting. Bahkan saya tak akan pernah menulis bab kedua jika bab pertama belum yakin. Bab yang lain bisa saya tulis dengan acak, tapi tidak bab pertama. Bab pertama bagaikan resepsionis sebuah hotel, atau percakapan pertama dengan seorang gadis. Jika saya merasa berhasil dengan bab ini, saya bisa merasa yakin dengan keseluruhan novel. Jika bab ini gagal, saya akan merasa sia-sia menyelesaikan sisanya.

Kafka merupakan guru terbaik saya dalam menulis bab pertama. Bagi saya, ia tak hanya terbaik dalam menulis bab pertama, tapi juga yang terbaik dalam menulis paragraf pertama. Perhatikan kutipan dari The Trial: Someone must have traduced Joseph K., for without having done anything wrong he was arrested one fine morning. Atau dari Metamorphosis yang terkenal itu: When Gregor Samsa woke up one morning from unsettling dreams, he found himself changed in his bed into a monstrous vermin. (Terjemahan keduanya bisa berbeda dari satu versi ke versi lain).

Kenapa saya menganggap Kafka istimewa? Dalam karya-karyanya, Kafka selalu langsung masuk ke dalam masalah di kalimat pertama! Tak ada prolog yang bertele-tele. Dan yang terpenting kemudian, ia memberi rasa ingin tahu. Saya tahu ada banyak penulis juga mempergunakan metode ini, tapi saya merasa Kafka merupakan satu yang terbaik.

2. Arsitektur Novel

Mungkin ini tak menyenangkan bagi kebanyakan penulis, tapi saya melakukannya: Sejak awal saya sudah merencanakan berapa bab yang ingin saya tulis. Bahkan lebih dari itu, saya juga merencanakan berapa halaman sebuah novel akan saya tulis. Kalaupun ada perubahan, pasti saya lakukan di akhir, ketika saya mengedit. Sebagai contoh, Lelaki Harimau sejak awal sudah saya bayangkan berisi lima bab, dan Cantik itu Luka sebanyak dua puluh bab (di akhir, saya membuang dua bab, menjadi hanya delapan belas bab).

Kenapa saya demikian ketat soal ini? Pertama-tama, meskipun saya percaya dengan improvisasi, saya juga percaya dengan rancang-bangun sebuah karya. Jika saya merencanakan sebuah novel dalam lima bab, saya bisa merancang-bangun beragam aspek novel tersebut dalam setiap babnya. Di bab berapa saya perkenalkan seorang tokoh? Di bab mana sebuah klimaks harus saya letakkan? Dimana problem baru harus muncul? Mana bab yang mestinya melodrama, dan mana bab yang sebaiknya tragis?

Mungkinkah sebuah karya dirancang aspek kuantitasnya sejak awal (jumlah bab, jumlah halaman)? Bagi saya sangat mungkin. Barangkali karena saya terbiasa menulis dengan batasan tertentu untuk media, saya juga menjadi terbiasa menebak, cerita tertentu bisa saya tulis lima puluh halaman atau tiga ratus halaman. Cantik itu Luka tak mungkin saya tulis hanya dua ratus halaman, begitu pula Lelaki Harimau tak akan pernah saya paksakan ditulis lima ratus halaman. Masing-masing memiliki proporsinya masing-masing.

Dalam hal arsitektur novel, Gabriel Garcia Marquez saya pikir yang terbaik. Kita bisa merasakan aliran yag dinamis dari bab ke bab dalam novelnya. Seperti sebuah alur yang sempurna. Ia bukan tipe penulis yang linear, tapi aliran plotnya tak pernah tersendat. Misalnya, ia selalu melakukan flashback di tempat yang tepat, di bab yang mestinya memang flashback. Bayangkan jika bab kedua One Hundred of Solitude bukan kisah mengenai nenek-moyang keluarga Buendia ketika desa mereka diserang bajak laut Francis Drake. Di bab mana lagi bagian itu bisa ditempatkan?

(bersambung)

51 comments on “Bagaimana Menulis Novel? (1)

  1. monsterikan says:

    waw. nice one thx!

  2. roslan says:

    Terima kasih mas Eka. Kerana mengizinkan saya, sebagai pembaca, untuk sama-sama menyelami bagaimana indah atau rumitnya cara kerja mas Eka untuk membina sebuah novel.

    Semoga sukses novel terbaharu itu!

  3. wah, ini informasi yang sangat berguna. Inilah yang ingin saya ketahui dari penulis novel. Sepertinya rumit ya, mungkin ini gara-gara cara kerja saya yang gak pake metode, sehingga bikin satu novel saja gak jadi-jadi. Mestinya saya sudah membaca kedua novelmu. bagaimana merancang jumlah halaman dalam satu bab? Apakah harus merancang pula plot dalam setiap bab?

    aris:
    secara pribadi, saya juga lebih suka merancang plot di setiap bab. cara kerja saya mungkin persis seperti membuat skenario sebelum membuat film. atau membuat gambar arsitek sebelum membuat rumah. atau membuat sketsa sebelum melukis. menurutku, metodenya bisa berbeda dari satu penulis ke penulis lain.
    (ekakurniawan)

  4. panjikristo says:

    di tunggu lanjutannya ya

  5. Kamalia Purbani says:

    Barangkali ada tips/saran bagaimana membuat sebuah biografi. Saya ingin menulis biografi untuk almarhum ayah saya yang sudah hampir 10 thn berpulang. He’s the most special person in my life. Saya ingin membuat biografi dengan tujuan utama untuk mengumpulkan keping-keping kenangan saya bersamanya.

    Kamalia:
    Saya belum pernah membuat biografi, kecuali tulisan singkat mengenai Augustin Sibarani. Tapi saya pikir resep mendasar setiap tulisan selalu sama: cari sesuatu yang sekiranya menarik untuk dibaca orang lain, dan sajikan dengan cara yang juga sama menariknya, sehingga pembaca memperoleh apa yang ingin mereka ketahui.
    (ekakurniawan)

  6. Mas Gini Yah Saya Masih Bingung,Perpindahan Dari satu Bab Ke Bab Lain itu BAgaiman?? And Jumlah Halaman Yang Umumlah Untuk Perbabnya berapa halaman??????

  7. atno says:

    bagaimana caranya menambah perbendaharaan kata….

  8. riska says:

    gmn ci cra’a yar nvel yg kta buwt gmpg d rilis coz dah brp x sya wat nvel tp bingung & blum terlalu ykin cra pnulisan yg bnar & mnarik tu gmn ya?
    mkch…

  9. Agung Zoldiqz says:

    Wah bagus Maz . ..
    Saya salut sama Maz . . .
    Tapi boleh tanya gak ?
    Kalau mau buat noVel harus minimal berapa halaman ya maz ?
    trus harus pake ukuran berapa ?

  10. ekakurniawan says:

    Agung:
    Enggak ada standar berapa halaman sebuah novel, yang penting bisa dicetak jadi satu buku. Tapi paling tidak, cobalah minimal 40.000 kata. Dan enggak ada aturan harus pakai huruf atau ukuran berapa. Tapi biar sopan, pakailah yang standar seperti Times New Roman 12 point. Kalau pakai huruf aneh-aneh, editor di penerbitan mungkin akan menganggapmu enggak serius. Tentu saja kecuali ada maksudnya.

  11. awan says:

    terima kasih atas explainnya

  12. Abduh says:

    malas kirim ke penerbit, novel saya tulis di blog. Baik atau buruk, saya tak ambil pusing. Yang penting nulisss

  13. Des says:

    Pak, maaf saya mau curhat. Saya menulis novel di blog. Tapi, saya selalu ditonjok rasa malu. Pasalnya, novel saya itu bertema cinta. Saya merasa dunia nertawain saya, “Hari gini menulis novel masih tentang cinta, basi tau!”
    Yah, saya menulis sesuatu yang klise karena saya kurang wawasan. Saya nggak pernah baca buku bagus, karena kalo saya beli buku bagus, berarti saya nggak makan. Saya cuma lulusan SMP. Saya menghabiskan separuh waktu usia saya di hutan sebagai penyadap karet. Bagaimana mungkin saya bisa menulis novel yang hebat?
    Tapi, saya ingin tetap menulis, betapapun kampungannya tulisan saya.
    Mohon komentarnya untuk novel saya. Bad comment pun nggak apa-apa.
    Terima kasih, Pak.

    1. ekakurniawan says:

      @Des:
      tema cinta pun bisa hebat, kok. dan orang yang punya banyak wawasan pun bisa, bahkan sering, menulis basi. btw, jika kamu enggak bisa beli buku karena kalau kamu melakukan itu kamu enggak bisa makan, kenapa kamu menulis? menulis menghabiskan waktu, dan barangkali waktunya lebih berharga untuk mengerjakan hal lain yang menghasilkan uang, sehingga kamu bisa makan. pada akhirnya, itu merupakan sebuah pilihan, kan?

  14. sarastia says:

    kak eka kok jahat banget sih sekarang?.
    baca lagi deh kak komentar kakak tu pada Des..duhhhh…seremnya….

    Buat Des, menulislah terus ya…sebab ada beda antara menulis dan memuplikasikan tulisan. bagi sastrawan besar, seperti EKA KURNIAWAN, mungkin dah lupa rasanya diserang demam karna cuma pingin nulis. sebab, rasa itu mungkin dah diganti dengan nikmatnya popularitas dan dikejar2 penerbit.

    lebih dari itu, kenikmatan mudahnya dicap intelektual di negeri kita inilah yang bikin seseorang mudah jumawa. padahal, emang gak ada yang bener2 intelektual kok des. semuanya sok2an aja lah tu. butuh banyak hal untuk menjadi baik di tengah habitat yang buruk.
    salam!!!
    aku keqi ma kak eka!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    .

  15. ekakurniawan says:

    @sarastia, @Des:
    maaf jika terkesan kasar. saya cuma mau bilang, pada akhirnya, menulis dan membaca adalah sebuah pilihan. kamu bisa mengorbankan sesuatu demi sebuah pilihan, itu maksud saya. komentar “kasar” itu terutama ditujukan untuk kalimat “Saya nggak pernah baca buku bagus, karena kalo saya beli buku bagus, berarti saya nggak makan.” Itu konteks, saya: pada akhirnya semua pilihan. Saya punya banyak teman yang memilih kelaparan demi menjadi penulis. Saya menghargai pilihan teman seperti itu, sebagaimana saya juga akan menghargai pilihan yang lain. terakhir, semoga komentarku yang jahat memberimu motivasi, sebab saya tidak pandai memotivasi dengan cara yang lebih bagus :)

  16. des says:

    @Mas Eka, makasih banyak. Kata2 saya itu cuma mau nunjukin kalo saya memang bodoh. Sudah bodoh, miskin pula.

    Namanya juga curhat, Mas!

    Oya, nggak karena saya menulis lantas saya meninggalkan pekerjaan. Saya menulis justru di saat saya hampir ambruk kelelahan, yaitu ketika saya nggak bisa berbuat apa2 lagi selain nulis. Yah, daripada mengeluh, yg akhirnya malah tambah terasa capek, kan lebih baik nulis to!

    @sarastia, makasih atas motivasinya.

  17. ekakurniawan says:

    @des:
    sama-sama.
    sekalian mau nambahin: membaca buku mungkin penting buat penulis, tapi jelas bukan segala-galanya. saya pernah tinggal di sekitar perkebunan karet, dan di kedua novel saya, jelas lingkungan itu sangat berpengaruh buat saya. tapi jika kamu yang menulis ttg perkebunan karet, karena kamu sehari-hari tinggal di situ, pasti akan jauh lebih baik. percayalah, tulisan hebat bisa dihasilkan dari mana saja, oleh siapa saja. (ada seorang perempuan pemulung yang hidup di tumpukan sampah metropolitan di Brasil. ia meluangkan sedikit waktu setiap malam menulis catatan harian. Catatan itu kini merupakan salah satu karya sastra klasik kontemporer di Brasil … sekadar contoh).

  18. des says:

    Menulis tentang karet? Apakah itu berarti menulis tentang pengalaman saya sebagai penyadap karet?

    Seperti cerita saya ini: Di Jalan Setapak Menuju Kebun 2. Ah, iya, mungkin juga ada manfaat buat orang yg mau membacanya.

    Makasih, Mas. Saya bertekad akan menulis seluruh cerita hidup saya dari mulai awal jadi penyadap karet sampai sekarang. Dukung, ya!

  19. Beibee says:

    menurut saya Bab pertama sangat penting karena tanpa bab pertama awal cerita itu akan hancur atau coba pikirkan pakah mungkin awal novel tiba-tiba menceritakan tentang ” akhirnya mereka hidup bahagia” kan tidak logis jadi bab pertama adalah salah satu bab yang menceritakan tentang awal permasalahan dalam suatu cerita yang lama-kelamaan akan menjadi novel yang tebal karena awal yang baik akan menjadi akhir yang baik sedangkan awal yang buruk akan menjadi akhir yang buruk. sekian komentar saya tentang bab pertama!

  20. eko sw says:

    nah, cara kontak ma penerbit gmn mbak?

    1. ekakurniawan says:

      @eko sw:
      saya bukan mbak :)
      penerbit, hubungi saja email/telepon mereka. saya juga berhubungan dengan penerbit melalui email dan telepon. alamat mereka biasanya ada di buku terbitan mereka.

  21. Rossy says:

    salam kenal lagi. sy Rossy sering dapat email ekakurniawanproject.
    Bab I dan arsitektur novel.

    bagus sekali ya?. pantes mas sdh banyak menulis novel. kalo kau kalo da lima bab. aku tulis bab yg no. 4. no 5. baru no 3. 2.1. krn no. i atu ba i. menceritakan masa kecilku. jd mau diingat2 dulu.
    terus kalo aku sedih br bisa menulis. contohnya email2ku ndak dibalas oleh mas Eka. aku sedih terus aku nulis2 dapet cerpen. tapi untuk konsumsi pribadi saja ya/
    atau aku harus jatuh cinta dulu sama orangnya. terus aku patah hati. ngalir dech. cerita dan aku tulis 20 halaman dalam satu jam. tulis tangan krn aku males duduk depan computer saat itu. besok br aku ketik. (kerja jd dua kali ya/). aku bukan penulis tapi suka menulis. tangapi donk. tulisan ku khan ada 2 yg sudah aku kirm. walau belum selesai tulisanku itu.
    ok thanks mas. semoga selalu sucses. jadi aku bisa menjadi sucses juga krn ada panutan

    Wssalam

    Rossy

  22. nina says:

    waw..
    terimakasih tips menulisnya..
    sangat membantu :D
    ternyata selama ini saya kurang teliti tentang pembagian bab, di mana saya menjabarkan karakter, dan di mana letak klimaks dan antiklimaksnya..
    terimakasih sekali lagi..

  23. akholily says:

    mas, Eka. thank’s, tidak saja menulis novel, Anda malah memberikan lebih dari itu…berbagi pengetahuan, kemauan dan pengalaman ttg menulis novel. smga Anda akan tambah sukses….aku patut belajar pada Anda….sebab kini sedang tertatih untuk menyelesaikan tulisan saya….yang sebetulnya sudah 436 halaman….dan satunya lagi sudah 87 halaman (yang ini kesulitan antara memilih sudut padang pertama dan ketiga)…jujur dalam soal ini masih belum pede untuk memilih antara keduanya…mungkin ada komentar?

    thank,s
    akholily

    1. ekakurniawan says:

      @akholily:
      penggunaan sudut pandang orang pertama memberi kesan subyektif, bahkan mungkin intim, tapi sempit. sudut pandang orang ketiga memberi kesan obyektif dan berjarak, tapi luas (bisa serba tahu). kedua pendekatan itu bisa dipilih disesuaikan keinginan penulis dan tuntutan cerita, tentu saja. dalam novel “The Tin Drum”, Gunter Grass dengan berani mempergunakan keduanya secara bersama-sama. Pada dasarnya novel itu ditulis dengan gaya narator orang pertama (Oskar), tapi kadang-kadang narator ini menyebut dirinya sendiri sebagai Oskar (menyebut nama) dan “ia”, tapi kadang juga “aku”. Efeknya sangat luar biasa menarik. Dalam sastra, intinya, berani saja bermain-main.

  24. Shofiarani says:

    Mas Eka.. Mgkin aku orang yang ketinggalan informasi,soalnya baru saja kenal internet..
    Tapi bole nggak mas aku mintak rangkuman dari pertama hingga cara menulis yang ketiga.
    Please..Ya maass..
    Soalnya aku butuh pengalaman dan motivasi untuk bisa menulis.
    Tanks sebelumnya..

  25. Arman says:

    Salam.trima kasih atas tulisan2 di atas baik artikel maupun komentar balasan sangat membantu bagi yg ingin belajar menulis…saya lg belajar menulis…skarang lg cari buku dgn judul ; Plot, Penulis: Ansen Dibell, dah lama carix tp blom dapat…ada nga yg bisa bantu beri info d mana dapatx baik berupa buku/ebook/kopian aja…trima ksh atas perhatianx

  26. tommy says:

    mas eka… saya mau menulis sebuah novel yg berdasarkan kisah hidup saya yg bagi sy sangat berwarna.. tp saya tidak tau dari mana mulainya, saya dr dulu sangat berminat menulis tp saya bingung bgmn cara menggali semua ide cerita, semuanya ada didlm kepala saya dan bagaimana menuangkannya dlm bentuk tulisan, baik itu kejdian yg msh saya alami ataupun dimasa lampau… trima kasih sebelumnya mas…

  27. ayough says:

    akan saya coba..
    moga saya bisa membuat novel yang bagus…

  28. Martiez says:

    inspired…!. saya adalah tipe orang senang menonton film, bisa bioskop atau dvd. saya memiliki imajinasi cukup hebat. kadang apa yang ada skitar saya, dpat dibayangkan sangat jauh situasi kedepannya. saya pemimpi. saya dapt membuat banyak rencana. lebih banyak tertunda. saya memiliki banyak ide cerita, dari hal kecil misalkan “polisi”, dapat menjadi sebuah cerita yg menarik. cerita itu muncul setiap kali, memiliki perasaan kurang nyaman dan sanagat bahagia atau merasakan sesuatu yg kurang hangat. tapi, cerita-cerita yg keluar lebih banayk dari suntikan film2x yg saya tonton. saya senag drama. tapi, semua itu akan menjadi sekedar dongeng tanpa kertas, karena saya cukup malas untuk menulis, padahal saya memiliki segudang cerita yg hapal dimana awal dan akhirnya. saya suka menulis dibeberapa paruh waktu. sya tidak tahu bagaiman tekinik menulis. saya cukup kesulitan menulis denagn membayangkan suatu adegan yg ada dipikiran saya. ini sungguh inspiratif. saya coba. bisa ditemukan solusinya..?

  29. wian says:

    thanks mas eka, saya adalah pemula dalam menulis sebuah novel, saya ingin sekali menulis sebuah novel dan rencana ciriteranya akan saya angkat dari pengalam cinta saya semasa di kampus….saya butuh dukungan mas eka…semoga sukses

  30. inez says:

    saya mulai tertarik akn dunia jurnalis… tpi saya binun mesti mulai dari mna??? seberna’y bacaan seperti ap sec yang bnykk d minati pembaca ckrg???

  31. dian anggraini says:

    makasi ya mas,saya tertarik sekali dengan dunia penulisan…namun masih belum bisa mendreskripsikan tulisan dengan baik….mohon bantuannya ya..

  32. aji says:

    Trim atas tips yang bagus.

  33. Terima Kasih, infonya mantab….

  34. afif says:

    mksih ea,ats infoy..
    bwt tambah wawasan

  35. ridwan says:

    , tips na ap she mas , spaya novel na bGus n mNarik?????

    1. ekakurniawan says:

      @ridwan
      pertama2, mungkin cobalah pakai bahasa yang baik :-)

  36. lisa says:

    thaks atas sarannya

    1. lisa says:

      gimn sh memulai menulis sebuah novel yang baik

  37. husna says:

    terima kasih kerana telah memberikan maklumat atau panduan kepada saya…semoga anda akan sukses

  38. una says:

    mas eka…salam kenal
    saya una seorang pemula dalam menulis, saya sudah menulis beberapa tulisan yang akhirnya gantung karena memang terkesan seperti cerita picisan saja dan apakah cerita itu layak untuk dinikmati publik atau tidak,.
    mungkin semua itu juga dirasakan oleh para pemula lainnya, tapi akan tetap saya teruskan…dengan semangat yang ada.
    tapi yang saya ingin tanyakan, apakah penerbit ada klasifikasi buku yang diterbitkannya???kemudian apakah kita mengirimkan tulisan kita lewat e-mail atau datang langsung dan dalam bentuk apa?kira-kira mas punya referensi ga beberapa nama penerbit yang mau menerima tulisan pemula???dan biasanya proses kita tau cerita kita ditolak atau diterima berapa lama sejak dikirmkan???

    1. ekakurniawan says:

      @una
      Kalo klasifikasi penerbit maksudnya standar mutu: tentu saja setiap penerbit memiliki standar mutu masing2 untuk memilih setiap naskah yg diterbitkan. Setahu saya, semua penerbit menerima penulis pemula kok. Yg penting bagus dan sesuai kriteria mereka. Waktu tunggu setiap naskah agak relatif, tapi kisarannya 3-6 bulan.

      1. nova mauliddiyah says:

        halo mas eka kurniawan,
        saya ingin bertanya.
        saya sangat senang sekali menulis.
        saya ingi menulis sebuah novel fantasi.semua setting,tokoh,dan terutama ceritanya semua adalah hayalan saya.tapi saya ada sedikit ketakutan untuk mengirim novel tersebut karena saya belum punya nama dalam dunia menulis.
        kalau boleh tau,untuk penulis yang masih awal seperti saya,ke penerbit mana ya saya harus mengirimkan naskah novel saya?
        terimakasih,mohon di jawab ya…

  39. pandu says:

    des_ seorang penulis sejati rela berkorban utk apapun demi karyanya…
    banyak penulis yg karya2nya terkenal justru hidupnya tidak brgelimang harta,rata2 penulis adalah orang yg hidupnya dipenuhi benyak masalah,krn itulah sumber inspirasi mereka.
    eka_ gmn caranya mau kirim tulisan ke penerbit….?

    1. ekakurniawan says:

      @Pandu
      Kirim karya ke penerbit gampang kok. Tinggal print karyamu, terus jilid, terus anterin ke kantor penerbitnya. Lewat pos boleh juga, bbrp terima lewat email. Tapi datang sendiri juga asyik.

  40. Dini says:

    terima kasih infonya berguna untuk saya :)

  41. Yusuf Aldiansyah says:

    mas Eka salam kenal ya…begini mas tiap kali aku membuat sebuah novel slalu saja kembali dengan alasan belum memenuhi standar penerbitan, saya berulang kali perbaiki tentu dengan judul dan cerita yg berbeda pula namun slalu saja gagal. akhirnya semua naskah hanya teronggok diam baik yg pernah dikirimkan ataupun yg belum…gimana ya mas bantu aku dong…

  42. nova mauliddiyah says:

    mas eka saya mau tanya
    untuk penulis yang masih awal dan belum punya nama dalam dunia tulis menulis,
    lebih baik saya harus mengirim novel saya ke penerbit yang mana ya?
    tolong di jawab ya…

    terimakasih…

Comments are closed.