backspacer

Jujur saja saya tidak mengikuti semua album Pearl Jam. Saya bahkan tak ingat berapa album yang sudah mereka hasilkan (oh tentu, bisa buka Wikipedia kalau mau, tapi saya malas melakukannya). Di antara beberapa album yang saya ingat, praktis hanya satu album yang sering saya dengar: “Ten”. Saya suka lagu si “Jeremy”, anak yang bunuh diri di depan teman-teman sekelasnya, saya suka “Even Flow”, dan terutama suka cara nyanyi vokalisnya. Serak sekaligus sengau.

Mungkin karena itu album pertama mereka. Mungkin karena itu album perkenalan pertama saya dengan mereka. Maklum, saat itu saya masih ABG (albumnya masih dalam bentuk kaset, yang sekarang pasti susah setengah mati untuk memutarnya, tapi beruntunglah sekarang ada mp3 yang bisa diputar di handphone tanpa merek sekalipun), dan terpesona dengan segala yang berbau rock. Ketika semua teman sekolah saya tergila-gila dengan Nirvana (oh, saya juga!), mendengarkan Pearl Jam bisa terlihat “berbeda”. Terlihat lebih “cool”. Bahkan terlihat lebih intelek (kalau mau terlihat lebih intelek lagi, dengarkan Soundgarden – kata si ABG), meskipun sumpah mati tak bikin lebih keren di depan gadis-gadis cantik. Mungkin juga karena album itu sampai sekarang tetap merupakan album terbaik mereka?

Di luar album itu, saya hanya mendengar beberapa potong lagu dari album-album yang berbeda: “Daughter” (lagu favorit saya setelah “Jeremy”), cover version “Last Kiss” (dulu awal-awal nongkrong di Jalan Jaksa saya suka menyanyikannya, diiringi home band sebuah kafe, sambil agak mabok, diseling lagu “Dead Flowers” dari The Rolling Stones). Saya juga menyukai lagu “Better Man” dan “Wishlists”.

Lalu beberapa hari terakhir ini saya melihat video klip “Just Breathe” di MTV (kecuali bagian musiknya, saya benci saluran ini, kelewat banyak reality show yang enggak penting). Eddie Vedder bukan lagi pemuda zaman tahun 90an. Di sudut matanya sudah tampak garis lipatan kulit. Rambutnya memang masih gondrong (apakah dia sudah punya anak? Apakah dia mengantar anaknya pergi sekolah seperti bapak-bapak lain setiap pagi?). Saya merasa punya teman yang sama-sama beranjak tua (tentu saja saya masih jauh lebih muda daripada dia). Saya memutuskan untuk mendengarkan seluruh lagu di album terbaru mereka.

Seorang teman sempat heran melihat selera musik saya dan bertanya, “Masih suka nge-metal?” Mungkin dalam bayangannya, saya masih berambut gondrong, kurus kerempeng, jeans ketat, dan mendengarkan musik rock kenceng-kenceng. Enggak lah. Enam tahun lagi saya 40 (katanya hidup berawal di umur 40, jadi hidup saya sebenarnya belum juga mulai. Masih pemanasan. Tapi tetap saja saya lebih tua daripada dua puluh tahun lalu). Lagipula saya tak pernah membayangkan Pearl Jam sebagai “heavy metal”. “Grunge” aja enggak (silakan protes).

Di tengah gempuran Black Eyed Peas (tapi sungguh, saya suka melihat penampilan Fergie), Kanye West, Katy Perry (oke, sih), bahkan Lady Ga Ga (apalagi -OMG- Rihana) di tv, ditambah band-band lokal yang musik maupun liriknya Masya Allah (ya, kecuali beberapa band boleh dibilang oke), mendengarkan lagu-lagu di “Backspacer” terasa sebagai pengalaman yang menghibur (benar-benar terima kasih kepada beberapa teman yang merekomendasikannya, yang meyakinkan saya bahwa enggak rugi mengeluarkan 75 ribu rupiah). Dunia masih membutuhkan musik rock, percayalah! Dan di antara banyak lagu rock yang hanya kencang dan bising terdengar, masih bisa kita temukan lagu-lagu bagus yang diaransemen juga dengan baik. Ah, jadi merasa berumur 18 tahun lagi (enggak perlu dibayangkan, Tuan mungkin bakal sirik!)

Saya enggak tahu kenapa album ini dikasih nama “Backspacer”. Saya tak menemukan frasa itu di judul lagu maupun lirik. Mungkin bisa dicari info di Wikipedia atau tempat lain, tapi lagi-lagi saya malas. Masa dengar lagu saja harus bolak-balik cari referensi ke internet. Emangnya baca cerita pendek? (Haha, ada penulis-penulis cerita pendek yang suka memasukkan nama-nama dan frasa-frasa hebat dan asing, membuat pembaca yang rajin harus bolak-balik ke halaman Google).

Satu-satunya ingatan hanya membawa ke papan kunci komputer. Di sebelah kanan, biasanya ada tombol “Backspace” (di komputer Windows. Enggak tahu kenapa, komputer Mac tidak menyukai tombol itu dan menggantinya dengan “Delete” yang berbeda dengan “Del” di komputer Windows). Sebagai seorang penulis, saya sering menggunakan tombol itu. Alasannya sederhana: saya peragu, setiap kali menulis, lebih banyak kata/kalimat yang di-“backspace” daripada yang akhirnya dipakai.

Bolehlah saya membayangkan Eddie Vedder, ketika menulis lirik pake komputer (bukannya lebih enak tulis tangan, lebih eksotis?), ia pasti sering menekan tombol “backspace”. Maka jadilah ia seorang “backspacer”. Haha. Buat saya pun, analisa ini memang terdengar agak digampangkan. Jadi, maaf, kalau analisanya kurang filosofis. Tapi lebih baik begini, kan, daripada nyomot kalimat-kalimat Umberto Eco atau Jacques Derrida tapi enggak nyambung, hanya agar terlihat filosofis dan berteori, seperti yang sering dilakukan para analis-pemikir-aktivis “pop culture”? (kalau boleh jujur, mereka ini sebenarnya philosopher-wanna-be yang pengin kelihat gaul aja dengan ngomongin hal-hal populer, bener enggak?)

Perhatian: tulisan ini barangkali mengandung “adult content”, kata-kata kasar dan sinis, jadi bacalah di bawah panduan orang tua, kakek-nenek, atau teman yang lebih pintar. Jika Tuan merasa tersindir atau sakit hati, seratus persen bukan tanggung jawab saya. (Tapi maaf, pengumumannya agak telat).

Kembali ke album “Backspacer”. Saya merekomendasikan lagu “Just Breathe” dan “The End” untuk orang-orang mellow nan melankolis (seperti saya, ehm). Untuk yang lebih serius, cobalah mendengar “Johnny Guitar”. Jika Tuan pernah duduk di bar atau kafe, lalu muncul perempuan seksi nan cantik mencari seseorang (jelas bukan Tuan), dan Tuan berpikir, kenapa perempuan cantik nan seksi itu tak mencari aku saja? Kapan aku menjadi satu-satunya lelaki yang dicari perempuan cantik nan seksi di bar? Jika benar Tuan berpikiran demikian, memang Tuan harus mendengar dan bakal menyukai lagu “Johnny Guitar”. Kenapa? Sebab lagu itu “elo banget”. Percaya, deh.

Tapi mending dengerin semua lagu di album itu, seperti yang saya lakukan. Bisa didengerin sambil tiduran, sambil lihat hujan yang mulai sering turun di bulan Desember ini (paling tidak di Jakarta).

Backspace! Backspace!

10 comments on “backspacer

  1. pritameani says:

    Eka, membaca tulisanmu jadi teringat masa-masa SD akhir-SMP ketika aku baru-barunya mengenal musik alternative. Nirvana, Pear Jam, dan Soundgarden! Aku punya semua album mereka ketika itu.

    Bener, Om …. Musik paling “ringan” itu Nirvana, lalu Pearl Jam, dan terakhir Soundgarden. Aku bahkan bisa mencari nada lagu2 Nirvana dalam hitungan menit dan lancar memainkan lagu2nya dengan gitar beberapa jam kemudian ketika klas 1 SMP. Hahaha …. Kalau Pearl Jam agak susah ketika itu.

    Gara-gara tulisanmu ini, aku jadi kepingin dengar Pearl Jam lagi!

    1. ekakurniawan says:

      @pritameani
      “Backspacer” sangat kurekomen! Rentang musiknya sangat kaya, gak cuma grunge, tapi juga rock and roll bahkan new wave. selamat menikmati.

  2. arief says:

    Saya jadi inget dengan situasi di SD, Saya tumbuh dengan latar musik 90’an, tapi makin menua membuat kemampuan pendengaran saya terbatas untuk mendengarkan musik yang sepertinya tak bisa didengar berlama-lama.

  3. deni oktora says:

    wah…saya masih lebih suka Nirvana ketimbang pearl jam..

    :)

  4. irwan bajang says:

    saya cari deh albumnya nanti…kita liat, keren mana sama Queen??
    hehehehe

  5. remi says:

    dan ketika itu aku sedang gaul-gaulnya nonton konser dangdut depan rumah, pake sepatu dan joged…. juga nyolong2 merokok sama si budi. NDESO….

  6. Hayde Asmarasastra says:

    aku pun generasi 90-an. dan amat menyukai pearl jam selain radiohead.
    salam dari thehide loveart…

  7. ochan says:

    PJ gak ada matinya! :-) btw, salam kenal, Mas Eka. Baru ngeh, Mba Ratih itu istrinya Mas Eka toh :-) Di Trans TV kan ya?

  8. Donny says:

    Hallo Mas Eka..salam kenal….saaya juga doyan pearl jam songs….terutama album ten dan versus……oh ya btw cari Cantik Itu Luka versi kertas HVS dimana ya? saya punya yang kertas koran and udah agak lusuh, saya jual aja di blog saya ini…heheheh…novel yang luar biasa…pengaruh abdullah harahap nya kental juga ya mas….terkesan gelap,suram,ganjil,dunia mimpi,antah berantah,…sorry ya kalo ngawur…byeee

    1. ekakurniawan says:

      @donny
      “Cantik itu Luka” versi HVS udah out-of-print, itu cetakan sblm kertas koran. Tp mudah2an tahun ini akan keluar reprint baru dg kertas yg lebih baik. Kemungkinan besar dg sampul baru jg. Tunggu aja :-)

Comments are closed.