Bacaan dan Percik Ingatan

Queen-loana

Saya belum membaca novel Umberto Eco yang lain. Saya pernah menonton film “The Name of the Rose”, dan gara-gara film itu, saya kehilangan minat membaca novel aslinya. Meskipun begitu, barangkali didorong bacaan saya atas esai-esainya, saya tertarik membaca novel-novelnya yang lain. “The Mysterious Flame of Queen Loana” jadi korban pertama saya. Saya juga menemukan “Faucault’s Pendulum” dan “Baudolino” dari toko buku bekas, tapi setelah ini barangkali saya ingin membaca dulu “The Island of the Day Before”.

Sementara judul-judul itu masih dalam rencana baca, mari kita ngobrol soal “The Mysterious Flame of Queen Loana”. Sejujurnya, kesan awal pembukaan cerita novel ini agak mengingatkan saya pada sinetron: seorang lelaki tua terbangun dari koma, dan ia lupa ingatan. Lupa siapa istrinya, siapa anak-anaknya, teman-temannya, bahkan tak ingat namanya! Tapi tak ada hal baru di bawah langit, yang unik tentu saja bagaimana penulis mengolah bahan yang basi seperti itu menjadi menarik.

Dengan latar belakang sebagai profesor semiotika, Umberto Eco tahu betul bagaimana bermain-main dengan ceritanya. Si lelaki tua, Yambo, memang hilang ingatan. Tapi ada satu bagian yang dia tak lupa: apa-apa yang pernah dibacanya. Demikianlah ia mencoba menyibak tabir masa lalunya, siapa dirinya, dengan cara berkelana melalui buku-buku yang pernah dibacanya, dengan harapan memercikan “mysterious flame” di ingatannya. Petualangan membaca buku-buku masa kecil dan masa remajanya inilah, yang membuat novel ini tak sekadar cerita, tapi sekaligus menjadi sejenis kajian atas roman-roman dan komik-komik populer sebagai penanda zaman.

Meskipun tentu saja beda maksud dan tujuan, bagian-bagian tertentu novel ini mengingatkan saya pada film “Cinema Paradiso”. Ganti film di “Cinema Paradiso” dengan buku dan komik, maka akan jadi “The Mysterious Flame of Queen Loana”. Tentu saja tidak persis seperti itu. Barangkali saya teringat hal itu karena novel dan film sama-sama berlatar Italia, dengan kisah mengenai lelaki tua yang mengenang kembali masa lalunya. Ingatan semacam itu tentu sah, sebab kenangan tak lebih merupakan “sejarah personal”. Setiap benda selalu memercikan api sejarah, tapi sejarah yang terkuak barangkali berbeda dari satu orang ke orang lain. Itulah teman novel ini secara umum.

Untuk pembaca yang semata-mata menginginkan cerita dan petualangan, drama maupun roman, bagian kedua novel ini (yang merupakan bagian paling panjang), mungkin akan terasa membosankan. Isinya melulu bercerita tentang buku, komik, majalah, dan sesekali musik, dengan referensi ke sana-kemari. Tapi sebagaimana melalui esai-esainya, Eco mencacah bacaan-bacaan itu menjadi percik-percik, tak hanya sejarah kehidupan masa kecil dan masa remaja Yambo, tapi juga sejarah Italia dan Fasisme yang diingat Yambo.

Melalui bacaan semacam Micky Tikus dan Donal Bebek, kita diajak berkelana pada sejarah industri buku, budaya penerjemaan, proses adaptasi budaya, bahkan politik yang pasang-surut antara Italia dan Amerika. Beberapa buku yang dibahas barangkali kita kenal karena merupakan “bacaan dunia”, tapi beberapa barangkali asing dan hanya dimengerti oleh pembaca Italia (atau paling tidak Eropa).

Sepanjang membaca novel ini, jujur saya malah berkelana sendiri membayangkan saya dalam posisi Yambo. Bacaan saya tentu jauh berbeda dengan Yambo, tapi menarik juga melacak masa lalu sendiri (dan negeri kita) melalui bacaan. Pertama barangkali saya akan membaca ulang novel-novel serial Wiro Sableng yang saya baca pada umur belasan, dan mencoba mencari tahu, “percik ingatan” macam apa yang saya peroleh dari sana. Mungkin saya akan membaca kembali majalah Bobo dari tahun 80an awal, membaca Paman Kikuk, Husin dan Asta. Membaca Si Janggut. Semakin besar saya membaca komik-komik silat, membaca cersil Kho Ping Hoo, kisah-kisah misteri Abdullah Harahap. Zaman jatuh cinta pertama kali kepada seorang gadis, saya sedang membaca serial “Lupus”.

Apakah kita bisa membaca politik negeri ini melalui bacaan-bacaan populer semacam itu? Saya yakin, sebagaimana Umberto Eco melakukannya melalui novel ini, bisa dilakukan. Tapi tentu saja membutuhkan ketekunan, dan kejelian “membaca” dan menafsir.

Melalui penjelajahan bacaan-bacaan masa kecilnya pula, Yambo mengenang kembali sejarah negerinya di bawah fasisme. Ini bagian paling menarik di bagian kedua buku itu. Kita tahu, fasisme memiliki kecenderungan untuk menyeragamkan makna. Tapi mungkinkah tafsir orang atas sesuatu sama? Tentu saja mungkin, jika pikiran kita terpenjara. Tapi Yambo, yang baru bangun dari koma, dan sebagian ingatannya bermasalah, menunjukkan bahwa pikiran yang bebas bisa membawanya kemana pun. Dan “percik misterius” di dalam ingatan, seperti mesin waktu yang akan melemparkan kita entah ke mana.

One comment on “Bacaan dan Percik Ingatan

  1. Ini antara novel Eco yang saya suka, tapi bagi saya novel terbaiknya ialah Name of the Rose. Membaca Eco, esei atau novel, selalu ingatkan saya pada Borges. Tapi Borges itu sudah tentu penulis lebih original dari Eco sendiri.

Comments are closed.