Apresiasi Cerpen “Pengantar Tidur Panjang”

oleh Dyah Prabaningrum, Pelangi di Mata Merpati

Di sini saya akan membagikan hasil apresiasi cerpen karya eka kurniawan yang berjudul Pengantar Tidur Panjang.

Eka Kurniawan melalui cerpennya “Pengantar Tidur Panjang” bercerita tentang aku, seorang anak sulung yang menengok Bapaknya yang sedang kritis. Ia secara tersirat mengagumi kedemokratisan, kebaikan, toleransi dan kebijaksanaan Bapaknya. Dan akhirnya Bapak “si aku “ ini meninggal dunia di malam kedua keberadaannya di rumah.

Akhirnya Bapak meninggal, di malam kedua keberadaanku di rumah.

Tetapi hal yang paling mengejutkannya adalah walaupun Bapaknya telah meninggal, Bapaknya seolah – olah masih mampu memberinya uang saku.

***

Judul cerita “Pengantar Tidur Panjang“ membuat bayangan pertama pada pembaca akan disuguhkan dengan dongeng pengantar tidur. Mungkin pembaca akan enggan bila saja penulis cerpen tidak mengawalinya dengan awalan yang cukup mampu membuat seorang yang membaca penasaran

Aku muncul di rumah menjelang subuh. Tak berapa lama kemudian adik perempuanku juga muncul. Ia membuka pintu sambil menangis,” Bapak sudah meninggal?” kataku “belum”. Namun dokter menyatakan Bapak sudah meninggal.

Dari ungkapan di atas akan muncul sebuah pertanyaan, apakah Bapak dalam cerita ini sudah meninggal ataukah belum? Kenapa dokter mengatakan sudah, sementara “aku” menyatakan tidak? Apakah aku hanya ingin menenangkan adiknya saja. Ternyata kepiawaian penulis untuk membuat pembaca semakin penasaran terlihat lagi dalam paragraph ke-2 

Setelah melihat Bapak masih hidup, meski hanya berbaring tanpa bisa bergerak, tangisnya reda.

Tulisannya yang mengalir dan tidak berbunga – bunga tetapi tetap membuat penasaran pembaca menambah nilai tersendiri. Terlepas dari tulisan – tulisan yang terus membuat penasaran pembaca, sebenarnya ada fenomena yang nampaknya layak untuk dikaji. Fenomena yang layak dikaji dalam cerpen ini tak lepas dari aspek kemasyarakatan seperti yang memang pernah disinggung oleh A. Teeuw dalam bukunya “Pengantar Teori Sastra”:

Sastra tidak dapat diteliti dan dipahami secara ilmiah tanpa mengikutsertakan aspek kemasyarakatan, yaitu tanpa memandanginya sebagai aspek komunikasi.

Nampaknya penulis cerpen ingin menyampaikan suatu realitas sosial dimana Islam masih mempersoalkan masalah aliran, mari kita perhatikan apa yang diucapkan penulis :

Karena masjid itu milik itu milik Muhammadiyah, banyak orang berfikir Bapak orang Muhammadiyah. Ia tak keberatan dengan anggapan itu, toh ia selalu puasa maupun lebaran mengikuti kalender Muhammadiyah. Termasuk shalat tarawih sebelas rakaat, meskipun jika terpaksa ia mau mengikuti tarawih bersama orang – orang NU (misalnya, bersama kakekku, yang selalu ngotot shalat tarawih dua puluh tiga rakaat).

Bila dicermati dengan teliti akan adanya dua pandangan dengan kata – kata “terpaksa” terpaksa yang berarti Bapak menjaga jarak dengan aliran lain atau “ terpaksa” karena keyakinan yang mendasari dalam diri Bapak itu, dirujuk dari Al-Qur’an dan hadis :

Allah berfirman dalam surat Ali – Imron ayat :31 
Katakanlah (Muhammad):” Jika kamu benar – benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa – dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan bila diruntut segala tindakan nabi yang perlu kita contoh terekam dalam hadisnya :

Diriwayatkan dari Abu Salamah bin Abdurrahman ra, dia bertanya kepada Aisyah ra mengenai shalat sunah Nabi SAW pada bulan Ramadhan. Aisyah menjawab, Rasulullah SAW tidak pernah melaksanakan shalat malam hari lebih dari 11 raka’at, baik di bulan Ramadhan maupun bulan lain. ( HR. BUKHARI)

Dan seandainyapun si Bapak terpaksa shalat 23 raka’at bersama jamaah NU maka bukan berarti bapak bertoleransi dengan akidah, karena dalam akidah tidak diperbolehkan toleransi. Tetapi merujuk pada tindakan sahabat nabi yaitu Ummar Bin Khatab yang telah mendapat jaminan masuk surga oleh Allah. Atas dasar itulah, sepertinya bapak bertoleransi dengan warga NU.

Dalam cerpen tersebut terdapat kompleksitas, tidak hanya masalah agama yang diangkatan tapi masalah demokrasi dalam ranah yang kecil, yaitu keluarga. Keluarga adalah miniatur negara yang sangat sederhana. Di dalamnya terdapat seorang bapak sebagai simbol pemimpin yang menguasi miniatur sederhana tersebut. Seorang pemimpin dapat memilih kekuasaan tirani ataupun demokrasi. Dan dalam cerita ini sang Bapak menjatuhkan pilihannya pada demokrasi, ia tidak pernah menyuruh anaknya untuk menjadi kyai sepertinya dan dia memberi kebebasan berfikir bagi anaknya. Nampaknya ia sadar bahwa “kesempurnaan” berfikir akan tercipta bila adanya kekomplekan dan diferensiasi ( Herbert Spencer 1820 – 1903).

Maka ia tak pernah marah, ketika anaknya memakai kaos bergambar Lenin ataupun anaknya mengamini teori Darwin bahwa nenek moyang manusia adalah monyet. Saat si istri berseru anaknya jadi komunis dalam pandangan istrinya karena memakai kaos bergambar Lenin, si Bapak hanya tertawa.

“Lihat anakmu jadi kuminis.”kata ibuku. Bapak, seperti biasa, hanya tertawa. Bapak juga membiarkan adik lelakiku kuliah di jurusan peternakan, dan setelah penelitian dengan berbagai ayam ras, adikku mengamini Charles Darwin, percaya nenek moyang manusia dan monyet (juga ayam) memang sama. Tidak ada Adam dan Hawa. Bapak tak peduli dan memberinya modal untuk membuat peternakan ayam.

“Satu lagi anakmu jadi kuminis.” Kembali Bapak hanya tertawa. (saat anaknya mencoblos Partai Rakyat Demokratik)

Seolah di dalam keluarga itu terjadi keragaman dari sang Bapak, Ibu, dan kakek yang agamis dan didalamnya ada dua aliran NU dan Muhammadiyah, si aku dan adiknya yang condong ke haluan kiri. Dan ada sang adik lagi yang sekolah di IAIN Yogyakarta, dan semua itu adalah bukti kedemokratisan sang Bapak.

Meskipun begitu, salah satu adik perempuanku yang kini membaca Yassin bersama Ibu, akhirnya kuliah ke Institut Agama Islam Negri Yogyakarta.

Agaknya tokoh si Bapak ini juga menganut prinsip demokrasi yang bertanggung jawab, dengan diterangkan karakter Bapaknya oleh si aku

… Aku tahu ia lebih risau jika anaknya mencuri ikan di kolam tetangga dari pada melihat anak yang memakai kaos Lenin atau mencoblos PRD.

Dalam tulisan itu tersirat bahwa ia memberi kebebasan pada anaknya, sepanjang tidak mengganggu hak milik orang lain. 

Di dalamnya juga terjadi kritik terhadap keberanian seseorang yang hanya tampak di luarnya saja, lewat penokohan aku, Eka Kurniawan menceritakan bahwa seseorang yang terlihat berani belum tentu ia sebenarnya berani.

“Kamu memang pintar, tapi tak akan seberani itu. Kamu penakut, dan itulah mengapa kamu tak pergi ke Afganistan. Kamu selalu takut pada polisi dan tentara, meskipun kamu tampaknya tak pernah takut pada neraka.”

Dalam penokohan aku , ia juga mencerminkan kondisi masyarakat yang suka menghubung – hubungkan sesuatu. Si aku lewat penokohannya menghubungkan nasib Bapak dengan nasib negeri ini.

Misalnya, pada tanggal 28 November 1975 aku dilahirkan. Pada saat yang sama Fretelin memerdekakan Timor – Timor dan Republik Indonesia mencaploknya. Mereka berdua (Bapak dan Republik Indonesia) sama – sama memiliki anggota keluarga yang baru. Sejak itu usaha Bapak macam – macam menuai keberhasilan. Bapak bangkrut di tahun 1998. Ha, bukankah seperti itu juga Republik Indonesia, (dst).

Dalam kehidupan nyata memang tak jarang beberapa orang menghubung – hubungkan suatu kejadian dengan kejadian lain. Itulah yang di sebut oleh ahli folklor modern dengan sebutan folk belief.
Menurut ahli sosial Antropologi, Koentjaraningrat, Hal itu dapat terjadi berdasarkan hubungan sebab – akibat menurut hubungan asosiasi. Hubungan yang menyebabkan suatu asosiasi, misalnya : persamaan waktu, persamaan wujud, totalitas dan bagian, persamaan bunyi sebutan. 

Kejadian tersebut nampaknya karena persamaan waktu. Satu hal lagi, Eka Kurniawan nampaknya ingin mengomunikasikan suatu hal pada pembaca yaitu sebuah kebaikan akan terus dikenang sampai mati dan mungkin dapat bermanfaat untuk sesama di lain waktu. Dia mencoba menyampaikan pada pembaca lewat ceritanya, ia tidak perlu membayar bus karena ternyata kondektur bus itu pernah di tolong ayahnya.

Lalu ia (kondektur) bus itu bercerita, beberapa tahun yang lalu ia sempat sakit gigi, tak sembuh oleh obat. Dokter tak berani mencabut giginya sebelum sakitnya hilang. Hingga seorang menyarankan menemui kyai. Sang kiai memberinya minum. […] sakitnya mendadak hilang dan dokter kemudian mencabut giginya.
“Kiai itu bapakmu,” kata kondektur.

Kecerdikan penulis dalam mencoba mengakhiri dan benar – benar mengakhiri ceritanya muncul lagi.

Bahkan, pikirku, setelah meninggal Bapak masih memberiku ongkos […] Kupasang earphone dan kupejamkan mata,”Goodbye, Papa, it’s hard to die….dan segera aku terlelap.

Cipta sastra selain menyajikan nilai – nilai keindahan serta paparan peristiwa yang mampu menyajikan kepuasan batin pembacanya, juga mengandung pandangan yang berhubungan dengan renungan atau kontemplasi batin, baik berhubungan dengan masalah keagamaan, filsafat, politik maupun berbagai macam problema yang berhubungan dengan kompleksitas kehidupan ini. (Boulton)

DAFTAR PUSTAKA
Aminudin. 2009. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo
Basrowi. 2005. Pengantar Sosiologi. Bogor: Ghalia Indonesia
Danandjaja, James. 2002. Flolklor Indonesia. Jakarta: Grafiti
Hariono, Anwar. 2009. “Bukti Cinta Kepada Allah” dalam Handout Kajian Ahad Pagi, Minggu, 27 Agustus 2009. Semarang 
Kurniawan, Eka. 2009.” Pengantar Tidur Panjang” dalam Kompas edisi Minggu, 1 November 2009. Jakarta: Kompas
Teeuw, A. 1988. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya