Adonis

Hujan lebat pada Senin sore kemarin, tak menghalangi niat saya untuk menempuh setengah jam perjalanan ke Komunitas Salihara. Saya sudah meniatkan kunjungan ini sejak dua minggu sebelumnya. Acara malam itu adalah ceramah umum yang akan dibawakan oleh Adonis, dengan tema “Kebenaran Puisi dan Kebenaran Agama“.

Siapakah Adonis, sehingga saya rela meninggalkan meja kerja saya yang selama berminggu-minggu ini menjadi sarang bagi berlembar-lembar draft akhir novel saya? Adonis bisa dibilang penyair Arab paling penting sekarang ini. Bahkan boleh dibilang, ia penyair paling kuat sebagai kandidat peraih Nobel Kesusastraan di tahun-tahun terakhir sekaligus tahun-tahun ke depan.

Sejujurnya saya tak tahu banyak perihal Adonis. Lebih tepatnya, saya tak akrab dengan puisi-puisi Arab. Justru karena itu saya ingin sekali datang dan mendengarkan ceramahnya. Saya bahkan menyiapkan bolpen untuk mencatat hal-hal menarik, persis sebagaimana saya lakukan dulu ketika masih masuk ke ruang kuliah dan mendengarkan ceramah dosen saya. Di luar dugaan, meskipun hujan deras yang seringkali menghalangi orang Jakarta keluar rumah, gedung teater Salihara dijejali orang. Tempat duduk penuh dan sebagian orang terpaksa berdiri demi mendengar ceramahnya. Untung saya masuk lebih awal sehingga memperoleh tempat duduk.

Di samping kiri saya ada Hakim, sutradara film yang segera merilis film debutnya Desember ini, suami dari sutradara Nan Achnas. Di samping kanan ada Zaim Rofiqi, penyair. Di belakang tempat duduk saya ada Seno Joko, kakak kelas saya di UGM sekaligus wartawan Tempo. Di depan ada Bagus Takwin, dosen filsafat UI. Itu sekadar untuk memperlihatkan beragam latar-belakang pengunjung yang datang untuk mendengar ceramah Adonis.

Setelah Anya Rompas dan Sitok Srengenge membacakan dua puisi Adonis yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia (buku terjemahan ini akan segera terbit), Adonis langsung memulai ceramahnya. Ia berceramah dalam bahasa Arab. Tentu saja hanya anak-anak yang pernah mengenyam pendidikan pesantren (dan itu pasti enggak semuanya) yang bisa mengerti. Untung saja bagi sebagian besar orang yang tak mengerti bahasa Arab, disediakan slide terjemahannya sehingga kita bisa mengikuti ceramah tersebut.

(Hal ini dengan sedih mengingatkan saya kepada fakta bahwa sebagian besar orang Indonesia, paling tidak saya, bisa membaca huruf Arab. Bahkan sampai sekarang, meskipun tidak saya lakukan tiap hari, saya masih bisa membaca Al Quran tanpa kesulitan. Tapi sialnya, saya tak tahu apa pun arti bacaan tersebut. Sejak jaman kuliah, saya mulai “hanya” membuka Al Quran yang ada terjemahannya, sebab saya tak lagi mau membaca sesuatu yang saya tak tahu apa artinya. Saya tak mengerti, kenapa anak kecil disuruh mengaji, bukannya disuruh membaca buku terjemahan dulu baru setelah itu diajar mengaji? Ah, pusing!)

Dan ceramah Adonis, saya senang tidak melewatkannya (sebab belum tentu hari lain ia mampir ke Indonesia, kan?), sangat inspiratif sekaligus cerdas. Kesan saya, selain orang kreatif, Adonis juga seorang intelektual yang berkelas. Ceramahnya bisa dibilang provokatif. Bahkan Zaim sempat berbisik, “Kalo dia ceramah begini di negaranya, barangkali dia bisa ditembak mati.” Seperti inilah kalimat pembuka ceramahnya:

“Seperti anda ketahui, wahyu Islam merendahkan puisi – sebagaimana Plato memandangnya sebagai kesesatan.” Dan dalam acara tanya jawab, ia sempat mengutip pendapat bahwa di dunia ini hanya ada dua jenis manusia: “Pertama, manusia berakal yang tidak beragama, dan kedua, manusia beragama yang tidak berakal.” Saya sendiri menganggapnya lelucon. Adonis mengaku ia tidak menyesal dilahirkan sebagai Muslim. Jika ia banyak mengkritik Islam, itu ia lakukan, “Karena saya mencintai Islam. Kalau saya tidak mencintainya, buat apa saya memikirkannya? Saya memikirkannya karena saya menganggap Islam penting buat hidup saya.” Ia juga berpendapat, atheisme merupakan “agama” paling tua.

Hm. Menurut Adonis, wahyu agama (dalam hal ini Islam) telah membatalkan wahyu puisi justru dengan bahasa puisi sendiri. Wahyu agama diturunkan dengan bahasa Arab, padahal bahasa itu telah menjadi milik para penyair dan puisi, jauh sebelum Islam diturunkan. Jika puisi pada awalnya dianggap sebagai sumber pengetahuan dalam menemukan “yang benar” atau “kebenaran”, dengan kedatangan wahyu agama, puisi direndahkan menjadi sekadar perkakas. Mengapa? Sebab hakekat kebenaran dalam puisi adalah “perubahan”. Sementara wahyu agama datang dengan ide “firman Tuhan yang terakhir”, dan “penutup para nabi”. Artinya? Wahyu agama menyiratkan “kebenaran” sudah final, sudah selesai. Tak ada tempat bagi puisi!

Saya tak akan membahas semua isi ceramahnya di sini. Barangkali cepat-atau lambat ceramah tersebut (yang sudah ada terjemahannya) mungkin akan diterbitkan atau disebarkan. Silakan cari sendiri makalah tersebut selengkapnya (makalahnya panjang, hingga mencapai 15 halaman). Kesan saya secara umum, sebagai penyair, Adonis memang “berkelas”. Sepulang dari Salihara, di dalam taksi, saya terus-menerus berpikir, adakah penyair Indonesia yang “berkelas” semacam itu?

Sekali lagi, sebagai penyair, Adonis tak hanya luar biasa pencapaian puisi-puisinya, tapi juga memiliki pergulatan “akademis” dengan puisi dan lingkungannya. Ia melakukan riset mengenai sejarah puisi Arab. Dan jangan lupa desertasinya yang empat jilid tebal itu, mengenai Arab dan Islam. Di Indonesia? Banyak penyair bagus dan hebat. Tapi adakah yang bisa berceramah mengenai puisi pra-Indonesia? Adakah yang menulis desertasi tentang Negarakrtagama? Sampai titik ini, saya jadi kuatir jangan-jangan kita memang masih jauh dari memperoleh penyair “kelas dunia” dalam arti kapasitasnya yang melebihi sebagai “sekadar” pengrajin puisi.

Mudah-mudahan kekuatiran saya tak beralasan.

10 comments on “Adonis

  1. sarastia says:

    Yang langsung terbaca oleh saya kak eka :
    Adakah manfaat dari melakukan perbandingan antara Adonis dengan realitas penyair Indonesia?. Tentu saja ada. Jawaban bisa berlembarlembar. Tapi yang pasti sebelum melakukan kerja membandingkan itu, toh sudah jelas (dengan miris) hipotesa dan kesimpulannya : penyair kita kalah jauh.
    Artinya, kejelasan jawaban sesungguhnya tidak memerlukan pertanyaan yang diulang. Sebab, akan jadi stereotip. (berbeda jika pengulangannya terjadi di laboratorium)
    Kita bisa cermati dari jutaan tulisan yang dibuat tiap hari, cemooh dari hasil perbandingan pencapaian luaran dengan dalam negeri, jadi godaan yang kelewat besar untuk dibubuhkan dalam tiap tulisan itu. Dalam setiap bidang : dari pengelolaan sampah, birokrasi, sepakbola, sastra, bahkan pemakaman umum. Hal yang terakhir saya baca dari tulisan dewanto di blognya. Jauhjauh ke buenos aires pun sampai tidak lupa untuk berkoar tentang buruknya pemakaman kita.
    Janganjangan ini jadi keahlian reflek kita, ‘seperangkat doksa yang dibikin makin ahli tiap harinya’?. Maka jangan heran jika, Syubah Ali-pun (liat tulisannya di kumpulan bentara tahun 2000) ketika menulis tentang rendra, dengan mudahnya bilang “orang prancis” pun dalam salah satu pertunjukan rendra terangterangan mengungkapkan kegagumannya. Hah?. “orang prancis” menjadi jaminan kwalitas apresiasi, sama persis dengan euphoria ‘impor’ sebagai jaminan mutu untuk garmen dan consumer good.(kita toh pastinya punya banyak temen orang rancis yang TOLOL minta ampun, kan?.he3)
    Saya kira, sastrawan adalah makhluk pertama yang harus menyadari “bahasa” buruk dalam percakapan sehari-hari. Sebab mereka sadar : dalam bahasalah seluruh pandangan hidup sebuah bangsa disimpan sekaligus bisa dipermainkan.
    Dan hari ini, kita punya Obama, symbol untuk perubahan. Khususnya semua yang bertalian dengan stereotipstereotip. Dan padamulanya adalah kata, bukan?.

    sarastia:
    pokok soalnya bukan di situ, bukan soal perbandingan sebenarnya, tapi soal mengingatkan (terutama untuk diri saya sendiri) bahwa banyak pekerjaan yang belum kita kerjakan. semisal, sebagaimana saya sudah singgung, sejauh mana usaha kita mengkaji puisi-puisi pra-indonesia? juga negarakrtagama, pernahkah kita melakukan kajian sastra, tidak semata-mata sejarah? saya pikir ini salah satu tugas lain penyair (dan penulis), bukan demi siapa-siapa, tapi terutama demi dirinya sendiri. (ekakurniawan)

  2. zen says:

    Mas Eka, sayang sekali saya gak bisa datang ke Salihara kemarin. Saya sudah membaca jilid pertama dari bukunya yang diterbitkan LKiS. Itu karya yang mengesankan, memang. Adonis mengkaji ribuan puisi Arab untuk menemukan kecenderungan untuk berubah dan kecenderungan untuk tetap mengabadikan masa lalu sbg standar segalanya. Tapi di bukunya itu, saya gak banyak menemukan kajian Adonis ttg puisi-puisi para sufi (saya blm baca jilid keduanya).

    Mas, Adonis di ceramahnya menyinggung naskah-naskah para sufi? Saya kira itu penting. Setelah selama hampir 3-4 abad menjauh dari puisi (krn ada ayat yg menyebut penyair sbg tukang sihir), para sufi-lah yang –sedikit banyak– cukup berhasil memulihkan kembali kedudukan puisi dalam masyarakat Arab. Sebelum itu, para penyair memang berada dalam posisi rawan. Boleh sih nulis puisi, tp jangan pernah berani menulis tema-tema transendental atau spiritual, karena dg mudah didakwa bid’ah atau bahkan disangka hendak memalsukan Qur’an.

    Bahwa Qur’an sendiri lantas menjadi standar dalam puisi Arab (seperti dikupas dg gemilang oleh Adonis di bukunya), itu menjadi ironi, lebih-lebih krn standar itu jg banyak memakan korban. Qur’an sendiri sebenarnya membawa kode-kode penulisan yang revolusioner dalam standar kesusastraan Arab sebelumnya yang sudah mapan berabad-abad.

    Ironinya terletak di situ: apa yang sebelumnya revolusioner, justru menjadi standar kemapanan!

    zen:
    ya, dalam ceramahnya adonis membicarakan puisi sufi. terutama Rumi.
    (eka kurniawan)

  3. sarastia says:

    tu sih setuju. hehehe..saya gak pernah bosan ke blog kak eka. favorit blog dah.ne lagi cemas nungguin malam seribu bulan. mana cerpennya?. lama gak beredar. saya tunggu yang petualangan kak.

  4. Makki says:

    Saya menangkap kesan dari cerita Mas Eka bahwa melakukan tapak tilas akar budaya kita mestinya hal yang inheren dalam diri penyair kita. Saya setuju itu.
    Lalu bagaimana pandangan Mas Eka dalam kehidupan bernegara pada umumnya, pentingkah penelusuran budaya kita dilakukan? Apa pentingnya untuk kita? Terima kasih.

    makki,
    untuk saya paling tidak, dengan mengetahui apa-apa yang sudah dicapai (dan belum), bisa menjadi ukuran bagi apa yang saya kerjakan hari ini. misalnya, saya tak akan menganggap diri saya mengerti politik, jika wawasan saya belum melampaui soekarno, hatta, syahrir, tan malaka … :)
    (eka)

  5. Makki says:

    Hahahaha. Sulit sekali ya.

    Mas setuju kalau ada yang bilang bahwa bangsa kita telah tercerabut dari akar? Saya sedikit membaca Lombard, gara-gara Mas Eka sempat menyebutnya. Saya melihat gambaran kebesaran bangsa kita di sana.

    Bukan hendak berromantisme dengan masa lalu, tapi inspirasi juga penting kan.

  6. iqbal dawami says:

    Ada hal terlewatkan oleh Adonis, ia tidak menyinggung tradisi puisi ‘mu’allaqot’ di mekkah dan kritik Thaha Husain atas sastra (baca:puisi) arab jahili yang katanya banyak palsunya. saya lihat data-data Thaha Husain lumayan logis, dia memakai teori projecting back.
    salam kenal mas eka
    Trims

  7. boz… keren kalipun wacana yang diangkat dalam hastakaryamu ini. dan, saya setuju dengan tanggapanmu pada sarastia n makki.

    semoga, pemikiran saya bisa turut tercerahkan pula. agar tidak hidup bagai zombie, percuma jadi sarjana. haha!

  8. andi says:

    pak.Eka! aku ingin anda jadi Adonisnya Indonesia

    1. ekakurniawan says:

      @andi:
      saya pilih yang paling sulit saja: jadi eka kurniawan :)

Comments are closed.