Abdullah Harahap, “Misteri Perawan Kubur”

Penerbit Gramedia, melalui imprint-nya Paradoks, akhirnya menerbitkan kembali novel-novel lama (dan baru) Abdullah Harahap. Seperti kita tahu, Abdullah Harahap merupakan penulis cerita misteri papan atas kita. Dikenal terutama di era tahun 70-80-an. Namanya memang menyurut di sekitar tahun 90-an hingga tahun-tahun belakangan. Penerbit-penerbit yang biasa menerbitkan karya-karyanya sebagian besar tutup, saya pikir karena tak siap dengan arus modernisasi di industri perbukuan. Pak Abdullah sendiri belakangan lebih sering menulis cerita untuk televisi.

Kita tahu, di kesusastraan luar, betapa mereka menghormati pencapaian-pencapaian anak bangsanya, tak peduli genre apa pun yang ditulis. Kesusastraan kita boleh dikatakan masih muda (kita baru merdeka tahun 1945, dan kesusastraan Indonesia mungkin bisa dilacak hanya sejauh tahun 1908 atau 1928 ketika Bahasa Indonesia diproklamasikan). Tapi dengan umur yang singkat ini, kita boleh bangga memiliki beragam genre, meskipun sering luput dari upaya-upaya kritikus atau dokumentator. Salah satunya adalah roman-roman misteri (demikian penulisnya lebih suka menyebut, tapi mungkin kamu akan mengatakannya roman horor, gothic, atau sejenisnya) yang salah satunya dipopulerkan oleh Abdullah Harahap.

Kesusastraan berbahasa Inggris memiliki Edgar Allan Poe, Bram Stoker, Mary Shelley. Dalam kesusastraan Indonesia, kita tak hanya memiliki Abdullah Harahap, tapi juga SB Chandra (terkenal dengan seri “Manusia Harimau”) yang merupakan atasan Pak Abdullah di majalah misteri tempatnya dulu bekerja. Juga ada Motinggo Busye (penulis beragam genre, tapi juga dikenal dengan novel “Tujuh Manusia Harimau”), serta bisa disebut pula Riyono Pratikto (kumpulan cerpen horornya, “Si Rangka”, tulisan menarikn tentangnya bisa dibaca di sini). Tapi di antara semuanya, Abdullah Harahap bisa dibilang yang paling produktif.

Dengan perubahan peta industri perbukuan di akhir 90-an, buku-buku Abdullah Harahap seolah menghilang dari peredaran. Bersamaan dengan itu, turun juga pamor kisah-kisah misteri/horor/gothic ini. Beberapa penulis belakangan mencoba menghidupkan kembali genre ini. Sebut saja, di lapak-lapak bisa ditemukan novel-novel karya Tara Zagita (saya tak tahu siapa dia, tak banyak informasi mengenainya). Upaya lebih serius dilakukan oleh Intan Paramaditha dengan kumpulan cerpen “Sihir Perempuan”, meskipun Intan mengaku buku itu lebih banyak terinspirasi oleh kesusastraan gothic barat. Sekar Ayu Asmara dengan novel-novelnya bisa disebut juga berada di arus genre ini.

Tapi kehadiran kembali novel-novel Abdullah Harahap mungkin merupakan titik balik yang menyenangkan ini. Bagaimanapun, di luar kuantitas dan produktifitasnya yang luar biasa sehingga menyebut genre horor di Indonesia orang pasti langsung berpikir kepadanya, novel-novel Abdullah Harahap menawarkan sesuatu yang saya pikir khas. Mungkin ada benarnya kenapa Abdullah Harahap lebih suka menyebutnya roman misteri. Jika kita membaca novel-novelnya, kita menemukan perpaduan antara cita-rasa gothic (dengan makhluk jadi-jadian, setan gentayangan) dan pelacakan ala detektif (biasanya diperankan oleh wartawan atau polisi atau gabungan keduanya).

“Misteri Perawan Kubur” merupakan contoh yang tepat untuk mewakili gambaran itu. Seorang penulis cerita bersambung, dibantu temannya yang seorang penyelidik kepolisian, melacak seorang perempuan misterius (yang tampaknya setan, lebih tepatnya perawan yang lahir dari kuburan).

Novel ini juga menawarkan permainan penulisan yang asyik. Dikisahkan sang penulis cerita bersambung baru saja menyelesaikan novel yang ditulisnya. Di novel itu ia menceritakan seorang penyihir yang dibunuh oleh orang-orang kampung dan dikubur. Yang tidak diketahui oleh penduduk kampung, nenek penyihir itu sedang hamil. Di kehidupan nyata, penulis tersebut suatu hari bertemu dengan seorang gadis yang mengaku anak dari nenek penyihir itu. Dan demikianlah cerita berawal: penulis bertemu dengan tokoh dalam ciptaannya sendiri!

Mudah-mudahan dengan penerbitan perdana novel ini, yang akan diikuti beberapa novel-novel terbaik Abdullah Harahap lainnya dari penerbit Paradoks, akan menyelamatkan karya-karyanya demi kesusastraan Indonesia. Dan kita tak hanya memperoleh kembali katalog karya-karya Abdullah Harahap, tapi jauh dari itu, menyuburkan kembagi genre ini. Sekali lagi, kesusastraan Indonesia yang masih belia ini sungguhlah kaya. Tapi kesusastraan Indonesia hanya kaya jika genre-genre ini memang ditumbuh-kembangkan, dan bukan dibiarkan lapuk di lapak-lapak buku bekas.

One comment on “Abdullah Harahap, “Misteri Perawan Kubur”

  1. prayogo says:

    Salam kenal,
    mungkinini juga bisa hanya dianggap testimoni
    ketika saya SMP dan SMA (1985 sd 1990) dan masih saat sekarang saya mempunyai lebih dari 40 lebih judul karangan abdullah harahap, sekarang tersimpan dilemari kayu tua. Ketika itu harga satu buku saya beli mulai dari 300 rupiah sampai dengan 1.500 rupiah dengan menyisihkan uang saku. Saat sekarang sangat susah mendapatkan buku karangan abdullah harahap bahkan tidak ada yang menjualnya.
    Setelah berkeluarga, ditunjang istri tak hobi membaca, mempunyai putra umur 8 tahun belum hobi membaca dan puti umur 9 bulan, tidak bisa berkutat lagi di hobi lama sehingga beralih ke tanaman sanseviera.

Comments are closed.