3 Novel (Buku) yang Aku Berharap Aku yang Menuliskannya

1. Don Quixote (Cervantes)

Jika aku yang menuliskan novel keren ini, Don Quixote (mungkin namanya akan berubah), akan berada di Tanah Jawa di sekitar abad 16. Menjelang atau di masa-masa para pendatang Eropa datang ke sini. Ia seorang bangsawan dari satu keraton kecil, tentu saja, dan ia merasa dirinya seorang pendekar. Ia hanya mempelajari hal-ihwal kependekaran dari lontara-lontara keraton, juga dari dongeng-dongeng yang didengarnya. Tapi ia merasa dirinya pendekar. Dalam situasi dunia yang tak menentu (kerajaan-kerajaan besar rontok dan kerajaan-kerajaan kecil berperang satu sama lain), ia merasa terpanggil untuk mengembalikan tatanan. Sebagai seorang pendekar, ia memutuskan untuk keluar dari keraton dan berkelana. Ia ditemani seorang abdi dalem kepercayaannya, tentu. Dan mereka menunggang kuda dan keledai, benar. Mereka akan menemukan petualangan seru. Mereka akan bertemu jin-jin jahat, perempuan penyihir, kapal laut tanpa penumpang, dugong yang mengajak bercinta, dan segala yang ajaib dan tak masuk akal. Kisahnya kuharap sangat quixotic.

2. Hikayat Seribu Satu Malam (Anonim)

Kisahnya akan berupa cerita-cerita menakjubkan dari beberapa tempat di Nusantara. Ya, aku akan memindahkan tempat ceritanya dari negeri-negeri Arab dan Persia ke tanah-tanah di Nusantara. Tentu saja cerita-ceritanya juga akan berubah, meskipun beberapa mungkin mirip. Akan ada cerita tentang anak yang ingin mengawini ibunya, atau perempuan yang ingin mengawini anjing. Akan ada kisah mengenai raja yang bermimpi dirinya di satu tempat merupakan seorang gembel, dan seorang gembel di satu tempat bermimpi dirinya seorang raja (aku suka ide tentang mimpi ini, sangat khas kisah seribu satu malam, dan tentu saja sangat Borgesian). Mengenai Syahrazad versi Nusantara, mungkin ia seorang gadis pintar yang mendongeng di depan raja yang mengawininanya. Ia melakukan ini bukan karena sang raja akan membunuhnya (maka ia harus terus bercerita agar terus mengulur waktu pembunuhan), tapi karena si gadis tak ingin bercinta dengan si raja. Katakanlah raja ini memang kejam, dan punya sejenis penyakit kelamin. Ia gemar meniduri gadis-gadis perawan di kerajaannya. Si gadis berhasil selamat dari persetubuhan karena kisah-kisah yang diceritakannya. Hmmm, keren kan?

3. The Trial (Kafka)

Kubayangkan Joseph K adalah seorang pemuda biasa, karyawan kantor yang biasa-biasa, di satu perushaan biasa-biasa di satu sudut Jakarta (tentu saja, kenapa aku harus menuliskan kisah di Praha?). Satu hari, tanpa ia tahu kenapa, Densus 88 menangkapnya. Tuduhannya tak main-main: ia terlibat terorisme. Ia diduga ingin mendirikan Negara Islam, terlibat pemboman di beberapa tempat, pernah membunuh seorang turis Australia. Si pemuda biasa-biasa tak merasa pernah melakukan itu semua. Ia berkata, bahwa ia bukan orang yang religius. Ia hanya bisa membaca Quran dengan terbata-bata, sering bolong salat dan sering tidak ikut Jumatan. Hampir tak pernah membayar zakat dan tak punya cita-cita pergi ke Mekah untuk naik haji. Tentu saja ia percaya Allah merupakan Tuhannya, dan Muhammad merupakan utusan Allah, tapi apakah itu bisa menjadi alasan bagi Densus 88 menangkap dan menuduhnya teroris? Semua pembelaannya sia-sia. Semua jalur telah ia pergunakan untuk membebaskan dirinya dari tuduhan tak masuk akal tersebut. Mereka sendiri tak bisa membuktikan semua tuduhan, tapi ia tetap ditahan, sebab mereka menganggap ia berbahaya jika dilepaskan di luar. Satu-satunya hal yang bisa menyelesaikan masalah ini, tentu saja dengan membawa si pemuda biasa-biasa ke satu parit kosong dan menggorok lehernya. Cukup Kafkaque dengan sentuhan Eka Kurniawan?

NB. Sementara tiga buku dulu. Jika lain kali ada novel-novel (atau buku-buku) lain yang aku berharap aku yang menuliskannya, akan kulanjutkan kembali.