28 November

Apa istimewanya tanggal 28 November? Buat saya, paling tidak, saya tahu hari itu ibu saya masak nasi kuning. Ada saya atau tidak di rumah, ia hampir selalu melakukannya. Mudah-mudahan hari ini juga, soalnya seperti tahun yang sudah-sudah, lagi-lagi saya tidak di rumah orang tua saat saya berulang tahun.

Faktanya, saya sendiri agak tak terlalu peduli dengan hari itu. Toh setiap hari umur saya bertambah tanpa harus mengingat hari lahir. Kalaupun saya mengingatnya, itu karena setiap kali mengisi formulir (membuat KTP, paspor, membuka rekening bank, bahkan sekadar membuat akun Facebook), saya harus menulis tanggal kelahiran saya. Tentu saja saya bisa menulis tanggal kelahiran palsu untuk sekadar akun Facebook atau email gratis. Tapi pertanyaannya, untuk apa? Tanggal kelahiran saya bukan suatu rahasia besar: sudah tercatat di arsip kependudukan, kan? (Ya, dengan asumsi arsip kependudukan Negara ini diurus dengan benar).

Bahkan meskipun mati-matian mencoba melupakannya, toh selalu saja ada orang-orang baik hati di sekitar kita (ibu, istri, adik, teman) yang akan mengingatkannya. Ah, akhirnya, apa salahnya mengingat tanggal lahir sendiri? Bayangkan, satu generasi ke belakang, kita masih sering menemukan orang tua yang tak tahu kapan ia lahir. Tak ada akta kelahiran, tak ada arsip kependudukan. Di dunia modern (yang aneh) ini, itu seperti “tanpa identitas”, alias “tak pernah dilahirkan” alias “tidak mengada”. Aneh, kan?

Karena saya punya tanggal lahir, akta juga punya, bolehlah saya merasa “mengada”. Bolehlah merasa beruntung, kalau diperlukan.

Jadi, bolehlah hari ini dan setiap hari yang sama di tahun yang berbeda, merupakan hari yang istimewa. Paling tidak buat saya. Atau barangkali buat penduduk Timor Timur. Eh, apa hubungannya dengan Timor Timur? Saya mengetahuinya waktu kuliah. Di hari-hari ketika mahasiswa turun ke jalan untuk mengakhiri kekuasaan politik Orde Baru, saya bertemu beberapa aktivis Timor Timur (atau Timor Leste). Dari mereka saya tertarik membaca sejarah Timor Timur. Saya membaca beberapa buku (dan sampai hari ini, saya masih juga tertarik dengan sejarah mereka).

Dari sana saya tahu, pada tanggal 28 November 1975, di hari saya dilahirkan di sebuah desa di Jawa Barat, Fretilin memerdekakan Timor Timur dari penjajahan Portugis. Sayang sekali setahun kemudian, tentara Indonesia mendudukinya. Indonesia mencaplok wilayah kecil itu dan menjadikannya provinsi bungsu. Baru tahun 1999 mereka memperoleh kembali kemerdekaan. Semoga Tuhan memberi umur panjang untuk mereka!

Belakangan saya juga tahu, filsuf Jerman Friedrich Engels, juga lahir pada 28 November (1820). Tentu saja kalau mau cari-cari, banyak yang lahir di tanggal itu. Saya ambil seorang filsuf, karena kebetulan waktu kuliah saya mengambil studi Filsafat. Sekadar mengingatkan, Engels merupakan teman Karl Marx dimana mereka berdua menulis pamflet Manifesto Partai Komunis (atau sering disingkat sebagai Manifesto Komunis saja) yang terkenal itu.

Bagi saya, Engels bukan hanya penulis pamflet tersebut, tapi bahkan bisa dianggap sebagai bapak pendiri Marxisme. Banyak ahli percaya itu, dan saya juga (he, bukan berarti saya ahli). Memang benar, Marxisme mengacu kepada pemikiran-pemikiran Karl Marx. Tapi orang pertama yang menafsirkan karya-karya Marx adalah Engels, dan dari pembacaan inilah pertama-tama lahir Marxisme. Bagi saya, selain penafsir Marx, Engels sendiri pemikir dan penulis yang brilian. Bukunya The Origin of the Family, Private Property, and the State merupakan salah satu sumber penting Marxisme.

Pemikir lain, tepatnya seorang antropolog Prancis yang pemikirannya juga merambah wilayah Filsafat, Claude LĂ©vi-Strauss, juga lahir pada 28 November (1908). Ia salah seorang figur sentral dalam mazhab strukturalisme. Jika ia masih hidup, mestinya ia berumur 101 tahun hari ini. Sayang ia meninggal sebulan lalu, tepatnya 30 Oktober lalu. Seperti Engels, Levi-Strauss juga dipengaruhi oleh filsafat Hegel. Meskipun pasti bukan pemikir sekelas mereka, bahkan boleh dibilang saya malas berpikir, saya juga tak bisa melepaskan diri dari filsafat Hegel. Saya percaya pola pikiran manusia bersifat biner: pertentangan dan penyatuan. Tentu di luar itu kita bisa mengajukan keberatan-keberatan dari filsafat Hegel.

Wow, tampaknya tanggal 28 November tidak terlalu buruk untuk diingat. Juga tidak terlalu “biasa-biasa” untuk sekadar dirayakan. Paling tidak, tentu saja di antara semuanya, tak akan dilupakan bagi penduduk sebuah kota di Argentina yang bernama “28 November”.

Dalam bahasa setempat, kota itu disebut “Veintiocho de Noviembre”. Terletak di Provinsi Santa Cruz, tak jauh dari perbatasan Chili. Kota itu diberi nama demikian karena memang didirikan pada tanggal 28 November (1959). Senang rasanya mengetahui bahwa di dunia ini ada kota dengan nama diambil dari tanggal pendiriannya, yang sama dengan tanggal kelahiran saya. Tidak semua kota diberi nama dengan cara itu, kan?

Setelah selama bertahun-tahun saya tak terlalu memikirkan apa makna ulang tahun, apalagi memikirkan keinginan-keinginan (bukan berarti saya tak punya keinginan, keinginan saya faktanya banyak, tapi tak spesifik berhubungan dengan ulang tahun saya), kini bolehlah saya memiliki “harapan ulang tahun”: suatu hari nanti, jika memungkinkan, saya ingin pergi ke kota Veintiocho de Noviembre itu. Jika mungkin lagi, saya ingin berada di sana pada suatu hari tanggal 28 November. Pasti menyenangkan berada di satu tempat dimana penduduknya merayakan hari ulang tahun kita.

Hebat, kan? Semoga memang hebat.

2 comments on “28 November

  1. Irwan Bajang says:

    Saya jadi bingnung, apakah saya harus mengucapkan selamat ulang tahun, atau tidak sama mas Eka..hehhee
    mengetahui tanggal lahir kita banyak sama dengan kelahiran para orang besar tentu menyenangkan :D
    Tapi toh seperti yang mas Eka bilang, semua sama saja, setiap hari usia kita bertambah…
    hehehe

  2. remi says:

    kata orang aku pelupa, tapi tanggal 28 nov yg lalu, sore hari, aku main ke rumah mamah, mi… kamu, istri dan anakmu lupa ya ngucapin ultah ama kakakmu?!!!” (dalam bhs. sunda mestinya), “he eh, lupa, lho biasanya bikin nasi kuning?” jawabku, “iya sih, tapi mamah kecapean ngurusin bagi2bagi daging sapi qurban hari ini” timpalnya lagi. “ya udah ntar kalo pulang remi telpon bareng si meli, hp nya ketinggalan di rumah”, stelah sampe rumah aku tetap lupa nelpon kakakku…. MET ULTAH…..SUKSES DAN SERING2 KE PANGANDARAN…

Comments are closed.