10 Tahun “Corat-coret di Toilet”

 

Saya pernah menulis cerita pendek sebelumnya, tapi jika ada yang bertanya cerita pendek saya yang pertama, saya akan menunjuk cerpen berjudul “Hikayat Si Orang Gila”. Kenapa? Sebab itulah cerpen pertama yang saya tulis ketika saya benar-benar memutuskan untuk menjadi seorang penulis.

Pada satu hari, saya pikir tahun 1997, saya membaca novel Knut Hamsun berjudul Lapar. Itu novel tentang perjuangan seorang penulis muda. Novel itu entah bagaimana membuat saya merasa ingin menjadi penulis, padahal tokoh di novel itu sendiri ujungnya malah pergi berlayar dan melupakan sejenak cita-citanya jadi penulis.

Meskipun saya sudah memutuskan akan menjadi penulis, saat itu saya masih belum mengetahui apa yang akan saya tulis. Saya pernah menulis cerpen-cerpen remaja, bahkan pernah mencoba menulis novel (dalam beberapa genre: silat, horor, remaja), tapi saya merasa apa yang sudah saya tulis tidak lagi memenuhi bayangan saya mengenai karya yang seharusnya saya tulis.

Untuk sementara saya mencoba mencari tahu kemana arah tulisan saya dengan cara membaca sebanyak-banyaknya novel. Itu masa-masa saya sering mampir ke perpustakaan pusat UGM, membaca banyak novel (dunia!): Knut Hamsun, William Faulkner, Gabriel Garcia Marquez, John Steinbeck, Yasunari Kawabata, Toni Morrison. Saya juga mencoba membaca novel-novel klasik, kadang sampai berminggu-minggu karena tebal: Don Quixote Cervantes, The Idiot Dostoevsky. Saya membaca hampir semua buku yang datang ke tangan saya.

Hingga saya berkenalan dengan novel-novel Pramoedya Ananta Toer. Saya memutuskan untuk menulis skripsi berdasarkan novel-novelnya, yang kemudian terbit tak lama setelah saya lulus kuliah, 1999: Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis.

Dua tahun berlalu dengan hari nyaris tanpa tidak membaca novel, serta satu buku telaah filsafat tentang Pramoedya Ananta Toer, memberi saya keyakinan bahwa inilah saatnya saya menulis. Lagipula saat itu saya sudah lulus kuliah. Saya harus melakukan sesuatu!

Alih-alih menulis lamaran kerja dan mengirimkannya ke perusahaan atau lembaga-lembaga, dari Juli tahun 1999 itu saya malah menghabiskan waktu menulis cerita pendek dan mengirimkannya ke koran. Saya bertaruh dengan diri sendiri: menulis cerpen dan dimuat di koran, atau saya sama sekali tak punya karir apa pun untuk dibanggakan.

Dan cerpen pertama yang saya tulis saat itu adalah “Hikayat Si Orang Gila”. Jujur saja, teknik dan stylenya rada-rada terpengaruh oleh cerpen-cerpen Maxim Gorki. Dan karena saya belum punya kepercayaan diri yang cukup, saya mengirimkannya ke Bernas, koran lokal di Yogya. Dimuat! Honornya Rp. 50.000.

Dengan penuh rasa percaya diri, saya menulis lebih banyak cerpen lagi, percaya jika saya tidak menulis, saya akan miskin dan mati kelaparan (mungkin agak berlebihan, sebab ayah saya masih sering menelepon untuk bertanya apakah saya punya uang, tapi pikiran semacam itu cukup membantu memberi tambahan motivasi). Saya menulis beberapa cerpen yang kemudian saya fotokopi dan perlihatkan kepada beberapa teman dekat. Terima kasih untuk mereka, mereka merekomendasikan untuk mengirim satu atau dua cerpen itu kembali ke koran.

Bolehlah saya sedikit pongah: saya ingin cerpen saya dimuat di koran Jakarta. Tapi untuk itu saya rupanya masih harus mengumpulkan keberanian dulu. Seperti saya bilang, sebelum ini sebenarnya saya sudah pernah nulis cerpen remaja di majalah remaja. Kemudian saya membayangkan, bagaimana jika saya menulis cerpen di majalah remaja (pikiran saya ketika itu adalah HAI), tapi dengan tema yang lebih serius. Itu akan menjadi cara saya mengukur diri sebelum punya keberanian mengirim ke koran nasional.

Saat itulah saya menulis cerpen berjudul “Teman Kencan”. Sebenarnya itu cerita cinta remaja juga: tapi saya balut dengan setting kejatuhan Presiden Soeharto, serta komentar-komentar politik alakadarnya. Saya deg-degan menunggu, apakah cerpen macam begitu bisa dimuat di majalah HAI? Ternyata dimuat juga. Saya semakin yakin, bahwa saya telah menempuh jalan yang benar.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengirimkan cerpen ke koran nasional. Yang pertama saya kirimi adalah Media Indonesia (saya masih keder kirim ke Kompas saat itu). Cerpen ketiga yang saya tulis dan kemudian dimuat pertama kali di Media Indonesia, berjudul “Corat-coret di Toilet”.

Saya merasa sudah menjadi seorang penulis saat itu juga. Kisah selanjutnya mungkin dialami juga oleh kebanyakan penulis: saya semakin banyak menulis, beberapa cerpen ditolak, tapi kemudian saya lempar ke media lain dan dimuat, atau saya perbaiki kembali dan dikirim kembali.

Hingga akhirnya pertengahan tahun 2000, teman saya pemilik Aksara Indonesia yang menerbitkan skripsi saya jadi buku, menawari saya untuk menerbitkan kumpulan cerpen saya. Karir penulisan saya baru setahun. Saya pikir itu terlalu cepat, tapi kesempatan mungkin tak akan datang dua kali. Saya nekat dan maju untuk menerbitkan buku kumpulan cerpen tersebut.

Namun menimbang-nimbang kemampuan diri sendiri, saya membayangkan kalau saya pemusik, mungkin yang akan saya terbitkan bukanlah sebuah “album”, tapi “mini album”. Saya hanya menginginkan sebuah buku tipis, dengan harga yang murah. Katakanlah sebagai sebuah perkenalan. Lagipula saya tak punya cerpen banyak. Maka kemudian, saya pilih sepuluh cerpen saja. Bukunya tidak sampai 100 halaman bahkan.

Begitulah buku cerpen pertama saya lahir, judulnya Corat-coret di Toilet (2000). Seperti saya bayangkan, buku ini tak menimbulkan kehebohan apa pun. Barangkali lebih banyak yang mengejeknya daripada memujinya. Tak ada review satu pun, kecuali yang ditulis oleh Kurniawan di situs Detik (well, mungkin ada hubungannya: penulisnya adalah kakak kelas saya di kampus).

Tapi bagi saya penerbitan Corat-coret di Toilet sangatlah penting: saat itulah saya menyadari bahwa saya harus berhenti dulu menulis cerpen. Penerbitan Corat-coret di Toilet bagaikan sebuah pos singgah sebelum saya mencoba mendaki kembali. Begitulah, dengan modal belasan cerpen, satu buku non fiksi dan satu “mini album” kumpulan cerpen, saya mulai proyek ambisius saya: menulis novel.

Novel tersebut terbit dua tahun kemudian: Cantik itu Luka. Dua tahun lagi setelah itu, saya menulis novel lain: Lelaki Harimau.

Di tengah-tengah itu, saya mencoba mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan lain dalam menulis cerpen. Ya, saya masih menulis cerpen. Bahkan semakin banyak, dengan tema yang lebih beragam. Serta eksperimen-eksperimen bentuk yang semakin (saya pikir) menantang.

Akhirnya, tahun 2005, saya menerbitkan kembali Corat-coret di Toilet, tapi tidak lagi dalam format “mini album”. Kali ini format “album” lengkap berisi 18 cerpen. Saya ambil 9 cerpen dari Corat-coret di Toilet edisi 2000 (dengan beberapa perbaikan), dan ditambahi 9 cerpen baru. Kumpulan ini saya terbitkan dengan judul Gelak Sedih. Pada saat yang bersamaan, saya menerbitkan pula 13 cerita pendek dengan judul Cinta Tak Ada Mati.

Pada tahun 2008, cerpen “Corat-coret di Toilet” diterjemahkan oleh Benedict R.O’G Anderson menjadi “Graffiti in the Toilet“, dan diterbitkan di Jurnal Indonesia, terbitan Cornell University.

Sepuluh tahun kini sudah berlalu sejak buku “mini album” Corat-coret di Toilet terbit pertama kali. Saya masih menulis cerita pendek, tapi mungkin apa yang saya pikir tentang cerita pendek sudah jauh berubah (dan pasti akan terus berkembang). Masih banyak yang ingin saya tulis dan terbitkan. Tapi satu hal saya pikir masih: dalam menulis, saya masih terus mencari, masih mencoba menaklukkan sesuatu yang saya sendiri tak bisa mengatakannya apa.

Tapi begitulah menulis: jika kita sudah merasa berhasil, kita mungkin akan berhenti menulis. Saya? Saya tak ingin berhenti, sampai benar-benar ada yang berhasil menghentikan saya.

4 comments on “10 Tahun “Corat-coret di Toilet”

  1. hujanreda says:

    Corat-coret di Toilet itu mengesankan waktu saya baca pertama kali. Ia bikin saya geli, sedikit jijik, dan terbahak. Haha. Saya beruntung menemukan buku itu di Shopping sekitar tahun 2006, harganya miring pula. Buku ini wajib dimiliki pembaca setia EK.

    1. Rozi Kembara says:

      A’ Eka udah pernah nonton Hunger versi filmnya?

      1. ekakurniawan says:

        @Rozi Kembara
        Belummm :'(

Comments are closed.