Sikap Lirik

Sikap lirik dari aku narator barangkali lazim dalam satu pembacaan puisi, dan jarang dilakukan dalam pembacaan prosa. Tapi saya ingin melakukannya untuk pembacaan atas tiga kumpulan cerpen Puthut EA, Sebuah Kitab yang Tak Suci (2001), Dua Tangisan pada Satu Malam (2003), dan Sarapan Pagi Penuh Dusta (2004). Tentu bukan lantaran cerpen-cerpen ini gagal sebagai “cerita”, namun lebih didorong oleh asumsi, yang semoga tidak sembrono, bahwa setiap prosa mestinya juga suatu puisi yang menggantikan kata-kata dengan deretan peristiwa-peristiwa. Begitu seringnya penulis ini mempergunakan protagonis orang pertama semakin menyiratkan bahwa cerpen-cerpen ini serupa puisi yang menemukan bentuknya dalam “sejenis” prosa cerita pendek.

Istilah itu sendiri saya pinjam dari bagian postscript novel Life is Elsewhere Milan Kundera. “Sikap lirik,” tulisnya, “merupakan sikap terpendam manusia. Puisi lirik sebagai sebuah genre sastra telah hidup lama, sebab selama itu pula manusia telah mampu bersikap lirik. Penyair merupakan personifikasi dari sikap lirik itu sendiri.” Jika sikap lirik bisa ditemukan dalam puisi, mestinya dapat pula ditemukan dalam prosa. Sikap lirik itu barangkali sejenis pelampahan dalam Cervantes, keriuhan dalam Dostoevsky, sistem kebingungan dalam Borges, atau kegelandangan dalam Iwan Simatupang, untuk menyebut seorang penulis lokal.
Continue reading Sikap Lirik