Asrul Sani: Puisi Gigantis dan Cerpen Rumah

Melalui kajian puisi dan cerpen Asrul Sani yang nisbiah jarang jumlahnya dibandingkan dengan esainya, terlihat bahwa cerpen-cerpen Asrul adalah cerpen ide, puisi-puisinya sarat dengan beban ide.

Dalam sepucuk esainya mengenai puisi Angkatan 45, atau dengan ungkapannya disebut sebagai generasi saya sendiri, Asrul Sani menulis: “Kita harus sampai pada puisi ’gigantis’ yang menyeluruh—sebagai imbangan dari robekan-robekan sepintas lalu yang diberikan emosi—yang mempunyai sumber pada serba manusia, serba hidup yang tak terbatas pada dunia. Dalam puisi ini emosi hanya pendorong ’perasaan’ yang dialami penyair untuk dirasakan penikmat.”
Continue reading Asrul Sani: Puisi Gigantis dan Cerpen Rumah

Datang Satu-Satu, Pergi Satu-Satu

“Mengapa orang-orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti pasarmalam.” Demikian tulis Pramoedya dalam novelnya yang paling mengesankan, Bukan Pasarmalam. Ada daya hidup dalam tekanan kalimat seperti itu, namun sekaligus rasa tak berdaya. Demikian pula kesan ketika mendengar namanya, terutama dua hari terakhir ketika stasiun televisi menayangkan sang Maestro berbaring di ranjang Rumah Sakit St. Carolus dalam keadaan koma.

Tapi paling tidak ia tak akan seperti sang ayah dalam novel tersebut yang, “Kasihan [..] waktu dia sehat, selalu kita cari-cari dia untuk melengkapi perjudian. Waktu dia sakit, tak seorang pun di antara kita datang menengok.” Tidak. Kerabat dan sahabatnya berjubel. Dan ketika tubuhnya kembali ke rumahkata (demikian Joko Pinurbo memberi nama dalam puisi yang ditulisnya sesaat setelah Pramoedya tutup usia), di tanah permakaman Karet, seluruh daya hidup yang ditinggal dalam anak-anak rohaninya akan tetap abadi. Apa yang tertulis, tetap tertulis, demikian bunyi satu ayat Alkitab. Kita tahu itu selalu benar, sebagaimana telah terjadi atas kebanyakan karyanya. Karya-karya itu, kita tahu, sekali waktu pernah dilahirkan, kemudian dibunuh dengan berbagai dalih, namun kita juga tahu, mereka senantiasa terus hidup.
Continue reading Datang Satu-Satu, Pergi Satu-Satu