Interupsi Horor Budak Abdullah Harahap

oleh Sica Harum, Media Indonesia
Kumpulan Budak Setan (Eka Kurniawan, Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad). Gramedia Pustaka Utama, 2010 · Baca resensi lainnya · Beli Sekarang ·

Mungkin Anda tak tahu Abdullah Harahap, pun tak merasa penting mengetahuinya atau tidak. Abdullah cuma menulis cerita horor picisan seputar balas dendam, pembunuhan, motif-motif cerita setan, dan arwah penasaranyang dibumbui seks pada era 70-80-an. Simak saja judul-judulnya, antara lain Penunggu Jenazah, Babi Ngepet, sampai Perawan Tumbal Setan.

Tapi, bagi Eka Kurniawan, Intan Paramadhita dan Ugoran Prasad, nama Abdullah tidak begitu saja hilang. Pada masanya, Abdullah merupakan penulis produktif. Remaja era itu-ter utama yang besar di kota kecil–biasanya tahu betul, kisah-kisah Abdullah bisa membuat perbincangan jadi seru. Eka membaca karya Abdullah saat bertumbuh di Pangandaran, Jawa Barat. Katanya, besar di kota kecil membuatnya sulit mengakses karya sastra serius. Begitu juga Ugo-panggilan Ugoran Prasad–yang besar di Tanjung Karang, Lampung.
Continue reading Interupsi Horor Budak Abdullah Harahap



Melankoli Marquez

Sepuluh tahun lalu, dalam cerita pendek berjudul “Sleeping Beauty and the Airplane”, Gabriel Garcia Marquez membayangkan naratornya sebagai seorang feodal Jepang yang keranjingan melihat perempuan cantik sedang tidur. Seketika saya menyadari rujukan yang dimaksudnya adalah tokoh-tokoh dalam kebanyakan novel Yasunari Kawabata. Dan melihat gaya lirisisme di cerita pendek itu, serta cara pandang atas tubuh perempuan, saya juga mulai merasa ia terobsesi kepada gaya neosensualisme penulis besar Jepang tersebut. Puncak obsesinya, saya pikir bisa dilihat di novel terbarunya, Memories of My Melancholy Whores.

Obsesi itu mungkin sudah terasa sejak Love in the Time of Cholera, meski di sana ia masih memperlihatkan kecenderungan dari masa sebelumnya.
Continue reading Melankoli Marquez



Kosmologi Borges

Jorge Luis Borges

Bagian 1

“Bertahun lampau aku mencoba membebaskan diri darinya, serta melampah dari mite perkumuhan dan pinggiran kota ke permainan waktu dan ketakterhinggaan, namun permainan tersebut kini milik Borges, dan aku mesti merenungkan hal lainnya. Demikianlah hidupku merupakan suatu diri dan bayangan, sejenis fuga, serta sesuatu yang tertinggalkan – dan segalanya berakhir lenyap dariku, dan segalanya jadi terlupakan, atau hengkang ke genggaman si orang lain. Aku tak tahu siapa di antara kami tengah menulis halaman ini.”

Continue reading Kosmologi Borges



Sikap Lirik

Sikap lirik dari aku narator barangkali lazim dalam satu pembacaan puisi, dan jarang dilakukan dalam pembacaan prosa. Tapi saya ingin melakukannya untuk pembacaan atas tiga kumpulan cerpen Puthut EA, Sebuah Kitab yang Tak Suci (2001), Dua Tangisan pada Satu Malam (2003), dan Sarapan Pagi Penuh Dusta (2004). Tentu bukan lantaran cerpen-cerpen ini gagal sebagai “cerita”, namun lebih didorong oleh asumsi, yang semoga tidak sembrono, bahwa setiap prosa mestinya juga suatu puisi yang menggantikan kata-kata dengan deretan peristiwa-peristiwa. Begitu seringnya penulis ini mempergunakan protagonis orang pertama semakin menyiratkan bahwa cerpen-cerpen ini serupa puisi yang menemukan bentuknya dalam “sejenis” prosa cerita pendek.

Istilah itu sendiri saya pinjam dari bagian postscript novel Life is Elsewhere Milan Kundera. “Sikap lirik,” tulisnya, “merupakan sikap terpendam manusia. Puisi lirik sebagai sebuah genre sastra telah hidup lama, sebab selama itu pula manusia telah mampu bersikap lirik. Penyair merupakan personifikasi dari sikap lirik itu sendiri.” Jika sikap lirik bisa ditemukan dalam puisi, mestinya dapat pula ditemukan dalam prosa. Sikap lirik itu barangkali sejenis pelampahan dalam Cervantes, keriuhan dalam Dostoevsky, sistem kebingungan dalam Borges, atau kegelandangan dalam Iwan Simatupang, untuk menyebut seorang penulis lokal.
Continue reading Sikap Lirik



Denting Gelas Copycat, Membaca Lelaki Harimau

oleh Nuruddin Asyhadie, Media Indonesia
Lelaki Harimau
Gramedia Pustaka Utama, 2004, 2014

Kehidupan sastra adalah kehidupan tiruan, denting gelas para copycat. Sejarah sastra sendiri tersaji sebagai sejarah mutasi tak bertepi. Adakah kisah lain di luar Ramayana dan Mahabaratha? Karya seagung Illiad Homerus pun lahir dan menyusu pada dua maha epos tersebut; Alenka adalah purwarupa Troya, demikian pula relasi Shinta dengan Helena, Atalas (Syiwa) dengan Atlas, pertarungan Indra vs Writa dengan pergulatan Zeus vs Typhon atau Herkules vs Kakkus. Siapa pula yang bisa menjamin bahwa Mahabaratha dan Ramayana bukan sebuah salinan dari kisah-kisah lain yang muncul sebelum 600 tahun SM?

Continue reading Denting Gelas Copycat, Membaca Lelaki Harimau



Cantik itu Dilukai

oleh Muhidin M. Dahlan, Media Indonesia
Cantik itu Luka
Gramedia Pustaka Utama, 2002, 2004, 2006, 2012, 2015

Dewi Ayu, si pelacur cantik di era kulit kuning mata sipit, terluka oleh lahirnya tiga anak haram yang cantik-cantik. Kecantikannya dan juga kecantikan tiga orang anaknya telah membawa malapetaka bagi generasinya. Karena itu, ia mengutuknya. Ia berdoa –tepatnya memaksa yang ada di langit sana– agar anak keempat yang ada dalam rahimnya buruk rupa. Dan doa itu terkabulkan. Wajah bayi itu buruk rupa. Ironisnya –atau penuh kebanggaan– Dewi Ayu memberinya nama Cantik.

Tetapi, Cantik Itu kini dilukai, bukan oleh kecantikan tiga dara, melainkan oleh sebuah artikel Maman S Mahayana di MIM (2/03/2003) yang bertitel: “Air Bah ‘Cantik Itu Luka'”. Ia dilukai karena tidak manut terhadap hukum sejarah (formal), inovasi yang hanya sekadar berbeda, tak memiliki landasan estetika yang kukuh karena itu jatuh pada kubangan main-main yang ngawur.
Continue reading Cantik itu Dilukai



Air Bah dalam Novel “Cantik itu Luka”

oleh Maman S. Mahayana, Media Indonesia
Cantik itu Luka
Gramedia Pustaka Utama, 2002, 2004, 2006, 2012, 2015

Sebuah amplop tak terlalu besar, tergeletak di meja kerja. Kiriman buku. Antologi cerpen, Corat-Coret di Toilet (CCDT) (2000) karya Eka Kurniawan.

Nama itu jarang dijumpa di koran minggu. Satu-dua sempat kubaca. Cerpen-cerpennya tampak masih mencari bentuk. Ada napas surealis dan coba menyamarkan beberapa tokohnya. Kadang juga agak realis, meski ia acapkali lalai menyembunyikan suara dirinya sebagai dalang. Nada komedi-satirenya cukup kuat dalam CCDT. Cerdas juga usahanya mengangkat hal kecil yang remeh-temeh menjadi problem kemanusiaan. Di sana ada dendam mendalam pada penguasa. Beberapa catatan kutulis dalam buku itu. Kupikir, meski bahasanya lincah dengan narasi mengalir, ia tetap akan berada di garis belakang deretan nama Joni Ariadinata, Agus Noor, Dorothea Rosa Herliany, Indra Tranggono, dan komunitas cerpenis Yogya lainnya.
Continue reading Air Bah dalam Novel “Cantik itu Luka”



Katak dalam Matryoshka

“Sesungguhnya, setiap di antara kita para katak menciptakan tempurungnya sendiri.”

Bahkan seandainya kita para katak terbebas dari dunia tempurung, bukankah kita akan menemukan diri di tempurung yang lain, semisal batok kelapa lain, atau sesuatu yang lebih besar yang menjadi tempurung bagi katak dan batok kelapa?

Demikianlah saya bertanya-tanya apakah sejarah sastra nasional merupakan tempurung bagi para katak yang bersibuk menyebut diri pekerja sastra nasional? Apakah jika seseorang terbebas dari tempurung bernama puncak-puncak pencapaian Idrus, Pramoedya Ananta Toer, dan Iwan Simatupang serta mencoba ‘keluar batas’ lantas terbebas pula dari tempurung lain? Tempurung itu barangkali el-boom Amerika Latin: Octavio Paz, Jorge Luis Borges, Gabriel Garcia Marquez, Julio Cortazar? Tempurung itu barangkali suara baru Asia: Mo Yan, Haruki Murakami, Arundhati Roy? Atau sastra klasik Rusia: Gogol, Tolstoy, Dostoevsky? Bahkan tempurung itu bisa jadi sebuah wadah yang mengurung mereka semua dan bernama ‘sastra dunia’?
Continue reading Katak dalam Matryoshka



Hidup untuk Berkisah

Ibu memintaku pergi bersamanya untuk menjual rumah. Ia datang pagi itu dari sebuah kota di mana keluarga kami tinggal, dan tak tahu bagaimana menemukanku. Ia bertanya pada beberapa kenalan dan diberitahu untuk mencariku ke Libreria Mundo, atau di kafe-kafe sekitar, tempat aku ke sana dua kali sehari untuk ngobrol dengan teman-teman penulis. Seseorang yang memberitahunya mewanti-wanti: “Hati-hati, sebab mereka semua tak punya otak.” Ia datang tepat pukul dua belas. Dengan langkah ringannya ia berjalan di antara meja tempat buku dipajang, berhenti di depanku memandang ke mataku dengan senyum nakal masa-masa bahagianya, dan sebelum aku bisa menanggapi ia berkata:

“Aku ibumu.”

Continue reading Hidup untuk Berkisah