Kenangan Getir Korban Tragedi Mei 1998

oleh Berto Tukan, Kecoa Merah

Pembukaan

Sastra bersama ilmu filsafat merupakan mother of science. Sebagai ibu dari ilmu pengetahuan, di masa lampau sastra adalah milik kolektif rakyat. Rakyat mengkreasinya, memproduksinya dan dinikmati bersama-sama. Maka tak heran, karya-karya sastra lama tak memiliki pengarangnya yang jelas dan hanya dituliskan N.N. Hal ini berbeda dengan sekarang, di mana sastra terkesan sedikit jauh dengan masyarakat kebanyakan.

Dalam perjalanannya, sastra (baca karya sastra) mengalami banyak perubahan dan perkembangannya, sehingga kita mengenal banyak sekali aliran dan jenis karya sastra. Untuk sekadar contoh, fiksi sains, fiksi detektif, fiksi sejarah dan masih banyak lagi, mewarnai dunia sastra. Ini merupakan konsekuensi dari semakin kompleksnya kehidupan manusia dari hari ke hari. Maka, sastra yang dipercayai sebagai sebuah bentuk refleksi sastrawan terhadap kehidupan pun ikut menjadi kompleks, sekompleks kehidupan yang menjadi sumur inspirasi utamanya.
Continue reading Kenangan Getir Korban Tragedi Mei 1998

Kembali ke Realisme yang Lebih Menyentuh

oleh Roslan Jomel, roslanjomel.blogspot.com

Salam Hormat.
Kebetulan sahaja, saya mula jatuh cinta kepada gaya penulisan Eka Kurniawan. Makanya, saya ingin sahaja tahu perkembangan terkininya dengan menembusi jaringan maya. Bagaimana saya boleh terserempak dengan laman sriti.com, pun juga suatu kebetulan. Tetapi, alam ini sebegitu cantik dan berseni, bukan diciptakan secara kebetulan. Tuhan telah mengatur dengan secanggih-canggihnya kehidupan di atas muka bumi buat manusia (yang berfikir). Tidak seperti yang disangka oleh saintis barat. Dunia ini bukan bola kimia yang terapung. Maka itu, mimpi pun terasa indah.
Continue reading Kembali ke Realisme yang Lebih Menyentuh

Asrul Sani: Puisi Gigantis dan Cerpen Rumah

Melalui kajian puisi dan cerpen Asrul Sani yang nisbiah jarang jumlahnya dibandingkan dengan esainya, terlihat bahwa cerpen-cerpen Asrul adalah cerpen ide, puisi-puisinya sarat dengan beban ide.

Dalam sepucuk esainya mengenai puisi Angkatan 45, atau dengan ungkapannya disebut sebagai generasi saya sendiri, Asrul Sani menulis: “Kita harus sampai pada puisi ’gigantis’ yang menyeluruh—sebagai imbangan dari robekan-robekan sepintas lalu yang diberikan emosi—yang mempunyai sumber pada serba manusia, serba hidup yang tak terbatas pada dunia. Dalam puisi ini emosi hanya pendorong ’perasaan’ yang dialami penyair untuk dirasakan penikmat.”
Continue reading Asrul Sani: Puisi Gigantis dan Cerpen Rumah

Sejarah dalam Cerita Silat Kho Ping Hoo

“Raja yang memerintah di kerajaan Pajajaran (Pasundan) yang beribukota di Pakuan adalah Sri Baduga Maharaja yang disebut juga Ratu Dewata. Ratu Dewata memunyai seorang puteri yang terkenal sekali karena kecantikannya. Puteri ini bernama Diah Pitaloka Citraresmi …” Begitulah gaya khas Asmaraman S Kho Ping Hoo memberi latar sejarah dalam kisah fiksinya, Satria Gunung Kidul.

Sudah menjadi kecenderungan novel silat untuk mendasari kisahnya pada kurun peristiwa sejarah tertentu. Nagasasra Sabuk Inten SH Mintaraja dan Senopati Pamungkas Arswendo Atmowiloto mengambil latar Mataram. Tutur Tinular S Tidjah berbayang puncak kejayaan Singasari.
Continue reading Sejarah dalam Cerita Silat Kho Ping Hoo

Merayakan Pembacaan

”Aku menemukanmu dalam pelarian,” tulis Intan Paramaditha dalam pembukaan cerita pendek “Mak Ipah dan Bunga-Bunga”, (Sihir Perempuan, Kata Kita, 2005).

Perhatikan dengan saksama kalimat pembuka itu. Siapa yang sedang dalam pelarian? Aku atau kamu, atau keduanya? Kalimat yang tak memberi kepastian apa pun seperti itu dengan mudah kita temukan dalam hampir setiap buku kumpulan cerpen atau novel yang datang dari para penulis generasi paling mutakhir.

Perhatikan pula satu cuplikan kalimat dari cerpen “Cakra Punarbhawa” Wayan Sunarta (Cakra Punarbhawa, Gramedia Pustaka Utama, 2005) ini: ”Suka bercengkerama dengan ikan, ombak, rasi biduk dan perahu.” Siapa yang suka bercengkerama dengan ikan, ombak, rasi biduk dan perahu? Guru bahasa kita yang baik di sekolah pasti akan mencoret kalimat seperti itu, sebagaimana mungkin akan dilakukan oleh editor-editor terbaik kita. Kalimat tanpa subyek dianggap bukan kalimat yang baik. Tapi, benarkah kalimat-kalimat tak lengkap seperti itu tak termaafkan sama sekali?
Continue reading Merayakan Pembacaan

Lelaki Harimau (Review)

oleh Katrin Bandel, Kompas
Lelaki Harimau
Gramedia Pustaka Utama, 2004, 2014

Dengan novelnya yang pertama, Cantik Itu Luka (2002), Eka Kurniawan menimbulkan kontroversi yang cukup seru. Mungkin penerbitan ulang novel tersebut oleh Gramedia dapat dipahami sebagai tanda bahwa novel yang banyak dikritik itu akhirnya bisa diterima. Pada waktu yang sama, Gramedia juga menerbitkan novel Eka yang kedua, Lelaki Harimau (2004).

Lelaki Harimau cukup jauh berbeda dari Cantik Itu Luka. Kalau Cantik Itu Luka saya sebut novel realis-magis (lihat: “Pascakolonialitas dalam Novel Cantik itu Luka”, mejabudaya September 2003), Lelaki Harimau tak dapat dikategorikan demikian. Meskipun dalam Lelaki Harimau ada unsur “magis”, yaitu adanya makhluk berupa harimau jadi-jadian dalam tubuh Margio, sang tokoh utama, novel ini menggunakan gaya realis, mungkin bahkan dapat disebut novel psikologis. Kekuatan novel ini terletak terutama pada kekayaan dan ketepatan deskripsi pengalaman, pikiran, dan perasaan para tokoh utama yang membuat tingkah laku mereka menjadi meyakinkan secara psikologis. Kalau novel pertamanya dianggap aneh dan “tak bermakna” oleh Maman S Mahayana, antara lain karena alur cerita dan kelakuan tokoh-tokohnya “tidak masuk akal”, dengan terbitnya Lelaki Harimau terbukti secara gamblang bahwa Eka bukannya tidak mampu mengarang dengan alur yang realis dan masuk akal secara psikologis. Hanya, dalam Cantik Itu Luka memang bukan gaya penulisan ini yang menjadi pilihannya.
Continue reading Lelaki Harimau (Review)

Menulis Sejarah, Membangkitkan Tokoh dari Kubur

Realisme Magis dalam Novel ‘Cantik itu Luka’

oleh Alex Supartono, Kompas
Cantik itu Luka
Gramedia Pustaka Utama, 2002, 2004, 2006, 2012, 2015

Dengan judul Cantik Itu Luka (CIL) dan desain sampul yang tidak memadai, kesan pertama yang muncul pada novel karya Eka Kurniawan ini adalah murahan. Namun demikian, kesan ini dengan cepat akan terbantah bila melihat ketebalannya. Novel debutan ini bahkan disebut-sebut sebagai yang terpanjang yang pernah ditulis dalam bahasa Indonesia, mengalahkan Arus Balik (1995) karya Pramoedya Ananta Toer. Sedangkan dari usianya, Eka Kurniawan (1974- ) juga menggetarkan nyali para penulis kawakan yang hanya sibuk mengais karya lama untuk dijadikan antologi. Ketebalan memang tidak berbanding lurus dengan kualitas, namun kerja keras bagaimanapun juga layak mendapat penghargaan yang memadai.

Continue reading Menulis Sejarah, Membangkitkan Tokoh dari Kubur