Umberto Eco (1932-2016): “Saya Takut Mati Kehilangan Rasa Humor”

Dua penulis favoritnya merupakan penulis-penulis yang gemar “bermain-main”: James Joyce dan Jorge Luis Borges. Jika yang pertama bermain-main dengan elemen penting dalam kesusastraan, yakni bahasa; yang kedua bermain-main dengan elemen yang tak kalah pentingnya juga, yakni gagasan. Umberto Eco melangkah lebih jauh dari keduanya, bermain-main dengan bentuk (atau nama) lain dari bahasa dan gagasan: simbol.

Novel pertamanya, The Name of the Rose, merupakan misteri Abad Pertengahan. Novel bergaya detektif di mana untuk memecahkan teka-tekinya, mempergunakan perangkat analisis semiotik simbol-simbol, pengetahuan kitab suci, dan bahkan teori sastra. Tak ada pembahasan mengenai “mawar” di novel tersebut, dan untuk itu, sekali lagi, Eco bermain-main dengan simbol.
Aslinya, ia memang seorang filsuf. Profesor semiotik di Universitas Bologna (juga beberapa universitas lain). Sebelum terkenal sebagai novelis, ia menulis begitu banyak naskah akademik, juga esai-esai kritik sastra, serta spekulasi-spekulasi filsafat.

Meskipun dalam naskah-naskah akademiknya ia terbiasa mempergunakan cara naratif, Eco baru benar-benar menulis novel ketika berumur empat puluh delapan tahun. Bahkan sampai akhir khayatnya (19 Februari 2016), ia masih menganggap menulis novel sebagai “kerja sampingan”, yang hanya dilakukannya di akhir pekan dan terutama di musim panas (ketika libur mengajar).

Umberto Eco lahir 5 Januari 1932 di kota Alessandria, Italia. Kota yang sebagaimana kata-katanya, kembali merujuk kepada sesuatu yang simbolis, “Terkenal karena topi Borsalino-nya.” Seperti sebagian besar penulis, semuanya berawal dari kegemarannya membaca. Ketika ia kecil, ia sering disuruh mengambil sesuatu ke loteng rumah, dan ketika ia menemukan peti penuh buku peninggalan kakeknya, ia menjadi lebih sering pergi ke loteng tanpa diminta, menghabiskan waktu dengan membaca.

Membaca novel-novelnya, bahkan mungkin tanpa perlu membaca kajian-kajian akademisnya mengenai semiotika, kita akan merasakan betapa kuatnya pengaruh simbol-simbol dalam kehidupan manusia. Manusia adalah makhluk yang hidup dengan simbol-simbol. Dengan simbol, mereka tak hanya mencoba mengekalkan peristiwa atau ingatan, tapi juga, seperti pernah diungkapkan Eco dalam satu wawancara, membuat manusia berbohong.

Kita menyaksikannya dalam kehidupan sehari-hari. Agama tampil dalam bentuk simbol. Masyarakat ribut karena menemukan terompet tahun baru terbuat dari kertas bekas sampul Al-Quran, juga ribut menemukan motif alas sepatu yang menyerupai lafal Allah. Pada saat yang bersamaan, orang berkomunikasi tak lagi mempergunakan kalimat lengkap yang bisa dimengerti dengan mudah, tapi berbentuk stiker atau emoticon, juga dengan peluang untuk diinterpretasi.

Segala hasil kebudayaan manusia pada dasarnya bisa disederhanakan sebagai sekumpulan simbol-simbol yang bisa dibaca oleh siapa pun, baik dari lingkungan kebudayaan tersebut berasal maupun bukan, atau dari generasi simbol-simbol itu diciptakan, atau jauh setelahnya. Di sinilah benturan-benturan bisa terjadi: ada yang membaca simbol-simbol sebagaimana apa adanya, tapi juga ada yang menginterpretasikannya sesuai dengan keadaan yang berbeda-beda.

Dalam salah satu novelnya, The Mysterious Flame of Queen Loana, kita bisa melihat bahwa artefak budaya (dalam hal ini komik, majalah, buku, rekaman, dan koran), meskipun itu memiliki sifat sosial dan dalam tingkat tertentu menggambarkan suatu generasi, pada saat yang sama juga bersifat personal. Apa pun, ketika “dibaca”, pada akhirnya menjadi sesuatu yang subyektif.

Bisa dibilang novel tersebut memperlihatkan “main-main” Eco yang paling nakal mengenai simbol dan kebudayaan. Bercerita tentang lelaki tua yang terkena stroke dan kehilangan sebagian ingatannya (tepatnya: ingatan episodik, kenangan-kenangan peristiwa yang bersifat personal). Untuk menyembuhkan ingatannya, ia kembali ke masa kecilnya melalui komik yang pernah dibacanya, rekaman yang pernah didengarnya, majalah dan koran yang pernah dilihatnya. Dalam rangka itulah, si tokoh utama kembali harus menjelajahi dunia pembacaan.

“Dalam rangka memahami pesan misterius yang terdapat di dalam buku, kita perlu mencari ilham di luar apa yang dikatakan manusia,” kata si tokoh. Dan dalam hal ini, sudah jelas bagaimana dia membaca karya-karya itu di masa lalu, telah berbeda dengan saat ia membacanya bertahun-tahun kemudian, bahkan meskipun benda yang dihadapinya (artefak kebudayaan, simbol) merupakan benda yang sama.

Kita bersitegang tentang bagaimana hidup ini harus dijalani, dan bersitegang mengenai tafsir apa yang akan terjadi setelah kita mati. Semuanya berawal dari simbol-simbol yang diciptakan, baik simbol-simbol agama, ras, seksualitas, maupun lainnya.

“Satu-satunya yang saya takuti jika mati adalah, takut kehilangan rasa humor,” kata Eco dalam satu wawancara. Dunia yang tegang ini barangkali telah kehilangan rasa humor, tapi setidaknya Umberto Eco meninggalkan dunia ini dengan warisan-warisan karya yang, jika kita mau terbuka melihatnya, sangat jenaka.

Obituari ini diterbitkan di Jawa Pos, edisi Selasa, 23 Februari 2016.

Patrick Modiano, Lebih Jauh dari Terlupakan

“Suasana dan keadaan tidaklah penting. Suatu hari perasaan kosong dan sesal menenggelamkanmu,” tulis peraih Nobel Kesusastraan 2014, Patrick Modiano dalam salah satu novelnya, Honeymoon.

Ketika Modiano pertama kali muncul dalam kesusastraan Prancis, 1968, Paris sedang bergejolak. Para mahasiswa turun ke jalan. Nilai-nilai tradisional mulai goyah, gerakan kesusastraan baru sedang menggeliat. Nama-nama yang diidentikkan sebagai masa lalu mulai kehilangan legitimasinya, bahkan Sartre pun hanya menjadi olok-olok mahasiswa. Novel pertama Modiano memperoleh sambutan yang hangat dari generasi ini, meskipun ada yang aneh. Berbeda dengan kecenderungan generasinya yang tengah mencoba memandang jauh ke masa depan, Modiano melalui novel pertamanya (dan novel-novel berikutnya), justru lebih banyak berpaling ke masa lalu.

Salah satu aspek yang menonjol dari karya-karyanya (setidaknya melalui beberapa novelnya yang tersedia dalam bahasa Inggris) adalah sisi lain dari kegaduhan dan hiruk-pikuk perang: kesunyian dan pelarian. Senyap yang mengungkung tak hanya di jalan-jalan, dalam hal ini jalanan Paris misalnya, ruang-ruang café, hotel, atau bar yang ditinggal manusia-manusia yang menghidupi mereka, tapi terutama jauh di dalam diri manusia-manusia ini sendiri.

Lahir tahun 1947, Modiano tentu saja tak mengalami langsung salah satu masa paling gelap dalam sejarah Eropa: Perang Dunia Kedua, yang menjadi lanskap jauh maupun dekat karya-karyanya. Perang telah usai dan ia masih terlalu kecil. Meskipun begitu, melalui novel-novelnya ia mampu menembus jantung kekelaman perang, lengkap dengan tragedi dan komedi gelapnya. Pendekatannya pada tragedi dan kekonyolan manusia sangat kental berbau Shakespearean, di mana bahkan manusia tak pernah mampu menjadi tuan atas dirinya sendiri, boro-boro menentukan nasibnya.

Dalam novelnya yang getir namun sekaligus menggelikan, Night Rounds, kita menemukan sejenis puncak komedi gelap ini. Diterbitkan pertama kali tahun 1969, membaca novel ini awalnya terasa membingungkan. Kita seolah-olah diceburkan ke sebuah ruangan (café? rumah?) dengan begitu banyak orang yang bicara satu-sama lain, tapi sesekali mereka bicara kepada seseorang yang hanya dipanggil “boy” atau “son”, yang tentu saja ada di antara mereka. Bocah ini, yang mereka panggil “boy” atau “son”, tak pernah menyahut, dan tak pernah ada penjelasan apa pun yang dilakukannya di ruangan tersebut. Nama-nama bermunculan, awalnya tanpa menjelaskan siapa mereka, seperti apa karakteristik mereka, dan apa hubungan mereka, kecuali nama si “boy” atau “son” ini.

Meskipun begitu, kita tak bisa tidak menangkap suasana dan keadaannya: di puncak masa perang, di antara sekelompok “bandit” yang mencari keuntungan di tengah kekacauan. Si bocah bagian dari kelompok ini.

Kelompok tersebut awalnya, sebelum perang, hanyalah sebuah biro detektif milik seorang polisi. Si bocah direkrut untuk memata-matai, mengumpulkan informasi, dan terutama untuk memeras. Dengan cara itulah biro detektif ini mencari uang. Ketika perang pecah, kelompok ini berkembang menjadi pemasok informasi untuk penguasa perang, sekaligus pemasok pasar gelap dan pencoleng barang-barang berharga dari rumah-rumah penduduk yang ditinggalkan penghuninya.

Di bagian tengah novel, kita menemukan kecemerlangan penulis ini. Jika awalnya kita bertanya-tanya siapa bocah yang terus dirujuk sebagai “boy” atau “son” ini, kita menemukannya bicara secara langsung, kepada pembaca. Sejak awal sebenarnya novel ini ditulis dengan sudut pandang pertama, si bocah, tapi tersamar. Hanya di bagian tengah kita menemukannya dengan lebih jelas, ketika akhirnya si bocah menceritakan dirinya dan siapa-siapa orang di sekitarnya.

Di masa perang itu, dari seorang pemeras untuk biro deketktif, si bocah dikirim untuk masuk ke gerakan perlawanan bawah tanah. Kini sebagai agen. Karena tampangnya yang polos, ia diterima di gerakan perlawanan, dan sialnya mereka merekrutnya untuk memata-matai sebuah kantor komersial yang dicurigai berhubungan dengan penguasa perang dan perbanditan. Memata-matai tuannya sendiri. Si bocah menemukan dirinya menjadi agen ganda.

Seperti dikutip di bagian awal, suasana dan keadaan tidaklah penting. Yang terpenting adalah, bagaimana perang telah mencerabut segala hal dari bocah ini. Ia tak hanya kehilangan Paris yang dicintainya, Mamanya yang mengungsi, teman-temannya yang menghilang, tapi juga seluruh orang yang dekat dengannya. Bahkan kini ia harus mengkhianati siapa pun yang memercayainya. Ia bukan penjahat, tapi juga bukan pahlawan. Ia sesederhana pengkhianat yang terjebak oleh sejarah. Ia tak memiliki masa lalu, lebih tepatnya lari dari masa lalu yang entah, dan tak ada masa depan membentang. Tak ada nasib yang lebih tragis daripada itu, bukan?

Membaca novelnya yang lain, Out of the Dark (judul Prancisnya lebih indah, Du plus loin de l’oubli, kira-kira “yang lebih jauh dari terlupakan”), kita kembali menemukan tema yang berulang ini: pelarian dan dunia yang senyap. Berbeda dengan novelnya yang lain, novel ini tak bercerita tentang perang, dan terjadi jauh setelah itu, bahkan hingga tahun 1990an. Tapi bukan tanpa singgungan sama sekali tentu saja: si tokoh lahir di tahun 1945, dan tokoh yang lain Peter Rachman merupakan seorang penyintas dari masa perang.

Novel ini bisa dibilang sebagai kisah cinta yang lucu di antara si tokoh aku dengan seorang perempuan bernama Jacqueline. Tokohnya tipikal: 20an, masa lalu yang tak jelas dan hendak dilupakan, masa depan yang juga tak jelas. Ia bertemu dengan Jacqueline yang saat itu bersama “pacarnya”, Van Bever. Ini sama persis dengan tokoh aku di Honeymoon yang satu ketika bertemu dengan pasangan Ingrid dan Rigaud, dan kemudian hidup bersama mereka.

Jika di Honeymoon, bertahun-tahun kemudian si narator mencoba melacak masa lalu Ingrid dan Rigaud yang terhapus oleh kenangan (bahkan meskipun mereka sempat bersama, masa lalu masing-masing tetaplah gelap), di Out of the Dark, si narator terjebak dalam perebutan cinta untuk memperoleh Jacqueline. Tak hanya dengan Van Bever, tapi dengan banyak lelaki yang diam-diam menginginkan gadis itu. Yang tak diketahui para lelaki ini, Jacqueline tak hanya menyembunyikan masa lalunya, tapi juga menyembunyikan apa yang hendak dilakukannya di masa depan, meskipun ia berkali-kali menyebut kota Majorca.

Barangkali di sinilah uniknya Modiano dan karya-karyanya. Karir sastranya lahir di tengah keriuhan revolusioner Paris tahun 1968, meskipun sekilas tampak menyimpang dari kecenderungan generasinya, ia sejatinya memperlihatkan paradoks zamannya. Dua puluh tahun lebih setelah perang usai, Paris dan Eropa secara umum belum juga berhasil keluar dari kutukan masa kelam perang. Kaum revolusioner menghendaki mereka menyongsong masa depan dengan segera, tapi masa lalu tak pernah benar-benar membebaskan mereka dari cengkeraman.

Tokoh-tokohnya menjadi sejenis gambaran psikologi Eropa selepas perang. Ada masa yang tak begitu jauh, yang ingin dilupakan. Tapi semakin tokoh-tokoh itu mencoba melupakan masa lalu, semakin ia sering hadir dalam mimpi, dalam kenangan kelam, dalam gambaran yang kelabu tentang jalan-jalan dan ruangan yang gersang dari manusia. Di sisi lain, jika mereka mencoba mengingatnya, segala hal yang ingin dikenang menjadi hilang.

Jika benar bahwa seorang penulis pada dasarnya hanya menulis satu novel dengan berbagai cara seumur hidupnya, maka saya kira novelnya yang terbit tahun 1996 menjelaskan novel tunggalnya: sebuah usaha untuk mencapai titik terjauh dari upaya melupakan. “Di atas segalanya, adalah kebutuhan untuk melarikan diri,” tulis Modiano di Honeymoon.

Dari apa? Dari kekonyolan perang yang telah mempermalukan Eropa.

Pertama kali diterbitkan oleh Jawa Pos, 7 Desember 2014

Nobel Sastra dan Kutukan Tiga Persen

Nobel Kesusastraan 2014 dianugerahkan kepada penulis Prancis Patrick Modiano. Kabar itu ditanggapi banyak pembaca, tak hanya di Indonesia, tapi juga di mana-mana (tentu saja kecuali di Prancis dan negara-negara berbahasa itu), dengan gumaman, “Siapa dia?”

Kasus yang sama terjadi pada 2009 ketika Herta Muller, penulis Rumania berbahasa Jerman, memperoleh penghargaan tersebut. Juga tahun 2008 untuk J.M.G. Le Clezio (Prancis) dan 2004 untuk Elfriede Jelinek (Austria).

Apakah mereka sedemikian “aneh”-nya sehingga tak banyak yang mengetahui? Tidak juga. Perhatikan, empat penulis itu menulis dalam bahasa yang bisa dibilang “salah dua” yang terbesar dalam tradisi kesusastraan: Prancis dan Jerman. Dan bisa dibilang mereka sangat popular di teritori berbahasa Prancis dan Jerman, bahkan bisa dibilang populer juga di negara-negara Eropa berbahasa lain. Problemnya, mereka tak populer di negara-negara berbahasa Inggris (anglophone) dan akibatnya, mereka seolah-olah menjadi tidak populer juga “di dunia”.

Harus diakui, dewasa ini bahasa Inggris merupakan lingua franca, tak hanya dalam kehidupan sehari-hari, politik, media, tapi juga ke bidang-bidang spesifik seperti kesusastraan. Ada semacam rumus, jika ingin mendunia, sebuah karya harus dialihbahasakan ke Inggris. Dalam hal ini tentu akan lebih spesifik lagi, yakni diterbitkan penerbit di dua negara yang menjadi kiblat bahasa tersebut: Inggris dan Amerika. (Secara umum, dengan sistem sublisensi maupun karena penerbitnya menancapkan kaki di kedua negara, termasuk di negara-negara persemakmuran, jika diterbitkan di Amerika, sebuah karya sangat mungkin juga akan terbit di Inggris dan demikian pula sebaliknya).

Di sinilah terletak problemnya, jika kita tak bisa menyebutnya sebagai paradox menyedihkan. Dengan posisinya sebagai lingua franca, tradisi perbukuan berbahasa Inggris bisa dibilang sangat pelit dalam tradisi pengalihbahasaan karya-karya sastra asing ke bahasa Inggris. Bahasa Inggris bisa dibilang “kiblat” dalam referensi kesusastraan dunia, tapi sialnya, juga bisa dibilang tertinggal, jika tak disebut terbelakang.

Separah apakah masalah langkanya penerjemahan dari bahasa lain ke inggris ini sebenarnya? Riset yang dilakukan Universitas Rochester, yang kemudian merilis proyek bernama Three Percent pada 2007, menunjukkan bahwa dalam dunia perbukuan berbahasa Inggris, karya terjemahan hanya mencakup 3 persen. Harap dicatat, angka tersebut berlaku untuk semua jenis buku. Jika kita membatasi diri hanya pada karya-karya sastra (novel, puisi, drama, dan kritik sastra), angka itu hanya sekitar 0,7 persen. Angka yang tentu saja tak bisa diandalkan untuk menjadikan bahasa Inggris sebagai rujukan kesusastraan dunia.

Penelitian terbaru yang dilakukan Literature Across Frontiers (meskipun hanya membatasai pada penerbitan di Inggris dan Irlandia) pada 2012 menunjukkan sedikit perubahan ke angka 4,5 persen. Tetap saja angka itu masih jauh dari memadai.

Perkara tersebut tentu menimbulkan keprihatinan banyak pihak, dan tak terelakkan, juga ejekan. Pada 2008 Horace Engdahl, sekretaris permanen Akademi Swedia, berkomentar tentang kecilnya kemungkinan penulis Amerika memperoleh Nobel Kesusastraan dengan mengatakan, “Amerika terlalu terisolasi, terlalu picik. Mereka tak cukup banyak menerjemahkan dan tidak sungguh-sungguh ikut serta dalam dialog besar kesusastraan. Ketidakpedulian ini memenjarakan.”

Komentarnya dengan cepat menuai tanggapan dan kemarahan publik sastra Amerika. Kenyataannya, sejak Toni Morrison memperoleh Nobel Kesusastraan 1993, tak ada satu pun penulis Amerika yang meraih penghargaan tersebut. Meskipun begitu, tahun lalu penulis Kanada Alice Munro memperolehnya.

Tahun ini Engdahl kembali menyampaikan komentar pedas yang kurang lebih masih di urusan yang sama, sebelum pengumuman Nobel Kesusastraan beberapa minggu lalu. Dia bilang kursus menulis kreatif telah membunuh kesusastraan Barat. Meskipun secara umum dia mengatakan “kesusastraan Barat”, serangan tampaknya kembali ke kesusastraan Amerika (dan Inggris), di mana kursus penulisan kreatif menjamur.

Perkara penerjemahan yang minim dan kursus penulisan kreatif sekilas tak tampak berhubungan, tapi sebenarnya itu membentuk kondisi penerbitan di sana. Kursus penulisan kreatif dicurigai sebagai salah satu biang (konyolnya) ketiadaan penulisan kreatif: menulis menjadi perkara kurikulum. Karya-karya yang dilahirkan menjadi terformula dan formula penulisan menghasilkan keseragaman selera. Keseragaman selera menciptakan efek buruk: keengganan atau kesulitan mencerna kesusastraan liyan. Akibat dari rangkaian ini kembali ke permasalahan sedikitnya karya asing yang diterjemahkan (karena tak banyak yang membaca), dan karena tak banyak karya diterjemahkan, selera pembaca juga tak berkembang. Ini menciptakan lingkaran setan, tentu saja.

Banyak pihak tidak tinggal diam dengan kutukan 3 persen ini. Banyak penerbit independen dan garis keras konsisten dan terus-menerus mempromosikan karya-karya terjemahan di dunia anglophone. Di Amerika ada penerbit semacam New Directions, NYRB, dan Open Letter. Di Inggris ada penerbit semacam Pushkin Press, Pen American Center dan World Literature Today juga merupakan pendukung gerakan mengatasi kutukan 3 persen itu.

Tunggu, bukankah ini problem Amerika (dan Inggris)? Kenapa harus menjadi problem kita atau problem dunia? Saya tak punya catatan statistik berapa persen karya terjemahan dalam penerbitan karya sastra di Indonesia, tapi saya yakin angkanya lebih baik dari Inggris. Bukan karena kita banyak menerjemahkan karya asing tapi karena jumlah karya lokal kita jauh lebih sedikit. Meskipun begitu, secara langsung kita terimbas oleh masalah ini. Jika menilik iklim perbukuan dan kesusastraan Indonesia, kita tak bisa menutup mata bahwa kita sangat bergantung kepada karya sastra dalam bahasa Inggris (asli maupun terjemahan) untuk mengakses kesusastraan dunia. Hanya segelintir orang yang membaca sastra dalam bahasa Prancis, Jerman, Arab, atau lainnya.

Banyak karya sastra yang harus diterjemahkan melalui bahasa Inggris (meskipun aslinya tidak). Dengan kata lain, pembaca Indonesia pun bisa dibilang menerima kutukan 3 persen ini (atau lebih buruk). Wajar ketika Patrick Modiano memperoleh Nobel Kesusastraan, serupa pembaca sastra di New York, pembaca paling kutu buku di Jakarta pun akan menggumamkan hal yang sama, “Siapa dia?”

Selain usaha-usaha menanggulangi kutukan 3 persen, demi terciptanya dialog besar tradisi kesusastraan dunia, saya rasa kesusastraan Indonesia harus mengatasi masalah ini dengan caranya sendiri. Beberapa waktu lalu saya bertemu seorang editor dari penerbit Italia yang mengkhususkan diri pada karya-karya sastra dari Asia. Komentarnya sangat mengejutkan saya. “Sementara kami terus menerbitkan karya-karya sastra Asia, saya jarang melihat penerbit-penerbit Asia saling menerjemahkan karya dari sesame negara Asia.”

Plak! Itu benar. Tak usah bicara tentang sastra Afrika atau negara-negara Eropa, kita bahkan tak tahu apa-apa tentang sastra Malaysia, sastra Filipina, Vietnam, atau Thailand; dan kita juga tak dikenal di sana. Jika penulis berbahasa Prancis saja menimbulkan reaksi “siapa dia?” publik dunia pasti akan jauh lebih melongo jika mendengar nama Danarto atau Joko Pinurbo: “siapa mereka?”

Seperti dunia bisnis mulai gerah karena semua transaksi melulu mempergunakan dolar Amerika, dunia kesusastraan saya rasa sebaiknya juga mulai gerah jika bacaan dan referensi kesusastraan melulu melalui penerbitan dalam bahasa Inggris. Tiga persen sangatlah tidak memadai. Mungkin sudah waktunya penerbit Indonesia menerjemahkan karya sastra dari, katakanlah, bahasa Sawali? Setidaknya cobalah menerjemahkan karya penulis muda Korea yang sedang naik daun, Han Yujoo, langsung dari bahasa aslinya. Menerjemahkan, karya dari mana pun, tanpa menunggu mereka dikenal dulu di dunia anglophone.

Pertama kali diterbitkan oleh Jawa Pos, 26 Oktober 2014

Kisah Si Cantik yang Buruk Muka

oleh Nur Mursidi, Jawa Pos
Cantik itu Luka
Gramedia Pustaka Utama, 2002, 2004, 2006, 2012, 2015

Eka Kurniawan, tampaknya sungguh-sungguh ingin menjadi seorang sastrawan. Setelah menerbitkan kumpulan cerpen dalam antologi Corat-coret di Toilet (1999), alumnus Fakultas Filsafat UGM ini tampaknya tak mau kepalang tanggung dengan merilis sebuah novel. Meski namanya belum begitu “terdengar” dalam belantara sastra, namun novel Cantik Itu Luka ini, begitu diluncurkan ke pasaran, tak berlebihan kalau membuat kalangan sastra sempat tercengang, kagum, dan bahkan hampir tak percaya.

Bagaimana tidak? Novel Cantik Itu Luka dengan tebal 517 halaman bisa dikatakan telah mencatat rekor baru dalam sejarah perjalanan novel Indonesia sebagai novel paling tebal yang dihasilkan sebagai karya perdana. Selain itu, lewat novel ini pengarang juga telah melakukan inovasi baru berkaitan dengan model estetika serta gaya penceritaan sebagai satu bentuk pemberontakan atas mainstream umum. Meski tak dipungkiri masih tampak kuatnya pengaruh dari realisme sosialis yang dikembangkan Pramoedya –sosok yang dikagumi dan sempat diangkat pengarang untuk sebuah skripsinya; Realisme Sosialis Pramoedya Ananta Toer, Suatu Tinjauan Filsafat Seni.
Continue reading Kisah Si Cantik yang Buruk Muka