Kejujuran dari Dinding Toilet

Oleh Widyanuari Eko Putra, Jawa Pos

Di toilet, kebebasan seperti tumbuh, berkembang, dan mekar. Di sana segala yang “jujur” dan murni bisa tampil tanpa malu-malu. Kita bisa membayangkan, dari toilet, imajinasi dan ide berjejalan minta diperhatikan. Maka ketika ada coretan di dinding toilet, itulah sesungguhnya kebenaran dari apa yang manusia rasakan. Ia mewakili kebebasan pikiran dan mewakili apa yang tengah terjadi, merekam kondisi mental dan psikologis si penulisnya.

Coretan di dinding adalah pertanda zaman yang bergerak, menjadi resep membaca kondisi negara, bangsa, psikologi, dan mental masyarakat. Terlebih sebuah dinding toilet di sebuah universitas, tempat manusia terpelajar dipelihara. Eka Kurniawan menangkap sinyal ini dan merangkumnya dalam buku terbarunya Corat-coret di Dinding Toilet (GPU, 2014). Buku ini adalah antologi kritik, ironisme, paradoks, dan satir bermuatan politis-ideologis.

Nafas kritik bercampur sinisme kepada penguasa tercium sejak cerpen pembuka. Cerpen berjudul “Peter Pan”, berkisah tentang aktifis mahasiswa yang menjual bukunya, menjual segalanya, demi mengurusi perjuangan menggulingkan sang diktatur. Meski akhirnya berhasil dilengserkan, kejahatannya tetap saja tak tersentuh. Cerpen bernada sinis, menyengat ingatan pembaca perihal kekuasaan Orde Baru. Akhir-akhir ini kita memang kerap menjumpai wajah mantan presiden tengah tersenyum sambil menyapa, menawarkan memori nostalgia bermuatan politis. ”Senyum yang terkutuk itu bahkan masih tercetak di uang kertas”. Ekspresi tokoh mahasiswa kepada presiden memang seringkali terkesan sarkastik, meski sebenarnya berisi kejujuran. Cerpen ini merekam kegelisahan dan kejengkelan para aktifis pasca-kejatuhan sang diktatur, yang masih saja “tersenyum”, bahkan hingga hari ini.

Eka bagai melanjutkan wasiat Bung Besar untuk tidak sekalipun melupakan sejarah. Sejarah dijadikan ramuan cerita untuk mengingat, mengejek, dan menghibur pembaca. Sejarah Indonesia berisi peperangan dan konflik. Cerpen “Hikayat Orang Gila” mengantarkan imajinasi penuh haru tentang perang, yang bagaimanapun selalu mengorbankan orang tak berdosa, sekalipun itu orang gila. Tragedi di Timor Timur adalah satu contoh. Deskripsi kesemrawutan perang berkelindan dengan perjuangan seorang gila bersama rasa laparnya yang kian tak terobati. Pada akhir cerita, “tanpa makan berhari-hari dan kemudian demam, Si Orang Gila akhirnya mati di situ. Terkapar tak berdaya”. Pembaca bakal termenung haru, mengimajinasikan kematian Si Gila akibat lapar tak terkira.

Melalui penggarapan sejarah, Eka menyajikan kisah beraroma nasionalisme, diselingi humor tragis-politis. Cerpen “Siapa Kirim Aku Bunga?” mengingatkan pembaca pada roman pergerakan ala Mas Marco Kartodikromo. Cerpen ini berkisah tentang Kontrolir Henri, seorang Belanda yang secara tak terduga jatuh cinta pada gadis bumiputera penjual bunga. Percakapan demi percakapan memberi garis demarkasi yang jauh antara kolonial dan bumiputera. Melalui perspektif ala Mas Marco inilah, Eka melawan lewat sejumlah fakta tragis-ironis. Henri hendak menemui orang tua si gadis untuk melamar, namun kedua orang tua si gadis justru tengah berada di Digoel. “Kau sendiri yang kirim mereka ke sana,” tegas si gadis. Pukulan sempurna: merobohkan kesombongan kolonial tanpa angkat senjata. Eka menyajikan kisah berlatar sejarah demi menyadarkan betapa ulah penjajah adalah penyebab atas kesengsaraan bangsanya.

Humor Politis dan Perlawanan

Pada akhirnya humor satir berbau politis mencapai puncaknya pada “Corat-coret di Toilet”. Gubahan cerita pendek dengan serangkaian satir, humor cerdas, hingga ungkapan politis-ideologis seolah mewakili pilihan sikap si pengarang. Penggarapan tema reformasi 1998 jadi isu sensitif. Pergulatan pelbagai pikiran mahasiswa tampil di dinding toilet, mengejawantahkan ironisme demokrasi. Dinding toilet jadi buku harian milik bersama, semua berhak menulis dan berkata jujur. Maman S. Mahayana menganggap cerpen ini cerdas “mengangkat hal kecil yang remeh-temeh menjadi problem kemanusiaan.” Bernada pesimis-sarkastik Eka menulis:”Aku tak percaya bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya pada dinding toilet”. Coretan di dinding menjelaskan ketidakpercayaan mahasiswa kepada para anggota dewan. Nah!

Keseluruhan cerita dalam buku ini memiliki satu nyawa: perlawanan. Perlawanan itu menyasar tema-tema kediktaturan, tradisi, penjajahan, kesewenang-wenangan, dan kekerasan, yang mengacu pada satu pusat: kemanusiaan. Cerpen yang keseluruhannya ditulis pada periode 1999-2000 ini tak sekadar kisah, namun semacam jejak sejarah. Jejak semangat reformasi, sekaligus gairah mempertanyakan ulang keberhasilan reformasi, mengalir deras dalam beberapa cerpen Eka. Cerpen yang lahir di saat penulis masih berusia 20-an, usia ketika idealisme dan jiwa perlawanan mencapai titik didihnya. Apalagi beberapa cerpen mengambil penokohan mahasiswa, ikon penting gerakan reformasi. Tokoh mahasiswa memang kerap identik dengan aktifitas pergerakan, reformasi, dan intelektualisme.

Lebih dari itu, kumpulan cerpen ini mengingatkan pembaca di negeri ini, tentang sejarah yang tidak boleh disepelekan. Juga tentang penguasa yang mesti terus diingatkan, meski lewat sekadar “corat-coret di dinding toilet”.

Diterbitkan di Jawa Pos, 4 Mei 2014. Sumber: widyanuariekoputra.blogspot.com.


Ulasan Corat-coret di Toilet

Ini beberapa tautan berisi ulasan mengenai buku Corat-coret di Toilet:



Perjuangan Terbelenggu, Kecemasan Alamanda

Perjuangan Terbelenngu Kecemasan Alamanda

Makalah ini judul aslinya adalah “Sebuah Analisis Psikologi Sastra: Perjuangan Terbelenggu, Kecemasan Alamanda dalam Cerpen Dongeng Sebelum Bercinta Karya Eka Kurniawan“. Ditulis oleh Avesina Wisda Burhana, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta. Makalah ditulis pada 2 Januari 2012.

Makahal bisa juga diunduh di arsip Scribd saya.



Interupsi Horor Budak Abdullah Harahap

oleh Sica Harum, Media Indonesia
Kumpulan Budak Setan (Eka Kurniawan, Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad). Gramedia Pustaka Utama, 2010 · Baca resensi lainnya · Beli Sekarang ·

Mungkin Anda tak tahu Abdullah Harahap, pun tak merasa penting mengetahuinya atau tidak. Abdullah cuma menulis cerita horor picisan seputar balas dendam, pembunuhan, motif-motif cerita setan, dan arwah penasaranyang dibumbui seks pada era 70-80-an. Simak saja judul-judulnya, antara lain Penunggu Jenazah, Babi Ngepet, sampai Perawan Tumbal Setan.

Tapi, bagi Eka Kurniawan, Intan Paramadhita dan Ugoran Prasad, nama Abdullah tidak begitu saja hilang. Pada masanya, Abdullah merupakan penulis produktif. Remaja era itu-ter utama yang besar di kota kecil–biasanya tahu betul, kisah-kisah Abdullah bisa membuat perbincangan jadi seru. Eka membaca karya Abdullah saat bertumbuh di Pangandaran, Jawa Barat. Katanya, besar di kota kecil membuatnya sulit mengakses karya sastra serius. Begitu juga Ugo-panggilan Ugoran Prasad–yang besar di Tanjung Karang, Lampung.
Continue reading Interupsi Horor Budak Abdullah Harahap



Budak Setan Menafsir Horor

oleh Ismi Wahid, Tempo Interaktif
Kumpulan Budak Setan (Eka Kurniawan, Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad). Gramedia Pustaka Utama, 2010 · Baca resensi lainnya · Beli Sekarang ·

Kupejamkan kembali mataku dan kubayangkan apa yang dilakukannya di balik punggungku. Mungkin ia berbaring telentang? Mungkin ia sedang memandangiku? Aku merasakan sehembus napas menerpa punggungku. Akhirnya aku berbisik pelan, hingga kupingku pun nyaris tak mendengar: “Ina Mia?”

(“Riwayat Kesendirian”, Eka Kurniawan)

Jilbabnya putih kusam, membingkai wajahnya yang tertutup bedak putih murahan–lebih mirip terigu menggumpal tersapu air–dan gincu merah tak rata serupa darah yang baru dihapus. Orang kampung tak yakin apakah mereka sedang melihat bibir yang tersenyum atau meringis kesakitan.

(“Goyang Penasaran”, Intan Paramaditha)

“Duluan mana ayam sama telur,” gumam Moko pelan. Intonasinya datar sehingga kalimat itu tak menjadi kalimat tanya. Laki-laki yang ia cekal tak tahu harus bilang apa, tengadah dan menatap ngeri pada pisau berkilat di tangannya. Moko tak menunggu laki-laki itu bersuara, menancapkan pisaunya cepat ke arah leher mangsanya. Sekali. Sekali lagi. Lagi. Darah di mana-mana.

(“Hidung Iblis”, Ugoran Prasad)

Continue reading Budak Setan Menafsir Horor



Abdullah Harahap Memperkaya Diskusi Horor

Wawancara dengan Intan Paramaditha

oleh Ismi Wahid, Tempo Interaktif
Kumpulan Budak Setan (Eka Kurniawan, Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad). Gramedia Pustaka Utama, 2010 · Baca resensi lainnya · Beli Sekarang ·

Buku kumpulan cerita horor Kumpulan Budak Setan akan diluncurkan malam ini di Komunitas Salihara, Jalan Salihara Nomor 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Buku itu berisi 12 cerpen karya Intan Paramaditha, Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad.

Cerita-cerita pendek itu dihasilkan setelah mereka membaca dan menafsir ulang cerita-cerita horor popular karya Abdullah Harahap dari masa 1970-1980-an. Pada masanya, Abdullah adalah penulis paling produktif di antara penulis horor lainnya, seperti S.B Chandra dan Fredy S.

Meski karya Abdullah sangat popular dan cenderung picisan, tetapi ketiga penulis ini sangat berminat untuk menafsirnya. Berikut ini wawancara Tempo dengan Intan Paramaditha, salah satu penulis di buku tersebut.
Continue reading Abdullah Harahap Memperkaya Diskusi Horor



Melacak Jejak Horor Abdullah Harahap

oleh Akhmad Sekhu, Suara Merdeka
Kumpulan Budak Setan (Eka Kurniawan, Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad). Gramedia Pustaka Utama, 2010 · Baca resensi lainnya · Beli Sekarang ·

Masih ingatkah Anda pada Abdullah Harahap? Bagi Anda yang menyukai cerita-cerita horor sekitar tahun 70-80-an tentu ingat betul Abdullah Harahap yang selalu bercerita seputar balas dendam, seks, pembunuhan, serta motif-motif cerita setan, arwah penasaran, obyek gaib (jimat, topeng, susuk), dan manusia jadi-jadian. Tapi bagi Anda yang tidak ingat karena tidak tahu, jangan khawatir karena Anda sekarang akan diajak tiga penulis muda berbakat; Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad untuk melacak jejak cerita-cerita horor yang diusung Abdullah Harahap dalam sebuah buku berjudul “Kumpulan Budak Setan”
Continue reading Melacak Jejak Horor Abdullah Harahap



Obituari (Proses Kreatif)

Tempat Kejadian Perkara

Lanskap pertama yang menarik perhatian saya, dan tak dipungkiri berangkali generasi pembaca seperti saya, adalah kota imajiner Macondo dalam One Hundred Years of Solitude Gabriel Garcia Marquez. Kota itu juga muncul di dua novela sebelumnya, Leaf Storm dan In the Evil Hours. Sebuah kota yang bisa segera dikenal dengan kebun pisangnya, gereja tempat tujuh anak Aureliano Buendia diberi tanda dari abu di kening mereka, dan rumah-rumah yang bercat putih serupa merpati.

Saya belajar mengenali Macondo lebih dulu daripada apapun yang ada di novel itu. Macondo boleh jadi merupakan tipikal kota kecil di Kolombia, modelnya mungkin Aracataca, tempat kelahiran Marquez. Tapi sejarah Macondo, bagi saya bukan semata-mata sejarah mengenai Kolombia, tetap juga sejarah sastra. Membaca Macondo akan membawa kita ke kota lain: Yoknapatawpha Coutry, Mississipi, Amerika bagian selatan. Penting untuk disebutkan: selatan, sebab
Yoknapatawpha County merupakan lanskap yang membedakan dirinya dengan kota-kota di bagian utara.

Yoknapatawpha adalah kota dengan perkebunan kapas yang terbengkalai, negro-negro, veteran perang saudara. Yoknapatawpha County merupakan kota imajiner dalam kebanyakan novel William Faulkner. Sejak saat itu saya selalu membaca banyak kota di banyak karya, imajiner maupun tidak. Ulysses James Joyce tak hanya merupakan kisah mengenai Bloom, tapi juga Dublin. The Hunchback of Notredame tak hanya tentang Si Bongkok, namun juga tentang Paris di masanya.

Saya membaca Praha di pertengahan abad lalu dalam novel-novel Milan Kundera, mencoba mengenalinya, dan coba membayangkan apa yang terjadi di sana dan memengaruhi hidup orang-orang yang mendiaminya. Saya mulai melihat bagaimana Yoknapatawpha dan Macondo melahirkan Gaoma County dalam novel Mo Yan Red Sorghum. Kita juga menemukan Cristantia (Sekarang Oslo, Norwegia) dalam Knut Hamsun, Hunger.

Saya bisa membuat daftar lumayan panjang. Dalam sastra kita, juga ditemukan Blora dalam Cerita dari Blora atau Perburuan Pramoedya Ananta Toer, sebagaiamana Surabaya di awal abad kedua puluh, dalam novelnya yang lain Bumi Manusia.

Sejak saat itu, saya menyadari bagi penulis-penulis agung ini, tempat dalam karya mereka jelas bukan sesuatu yang tidak penting. Tempat adalah dasar bagi mengapa peristiwa-peristiwa di dalamnya terjadi, dan alas bagi mengapa tokoh-tokoh di dalamnya bertindak. Dengan kata lain, kota berbeda akan memaparkan peristiwa yang lain dan menghasilkan tindakan berbeda dari para penghuninya.

Saya mulai berpikir, novel yang baik selalu perpaduan yang khas antara wadah dan isinya. Antara tempat dan para penghuninya.

Demikianlah saya mulai berpikir tentang tempat bagi tokoh-tokoh saya. Sebuah tempat dengan anatomi tertentu, dengan riwayat hidupnya sendiri, luka-lukanya, karnaval-karnavalnya. Sebuah tempat yang layak dan patut bagi peristiwa-peristiwa yang saya kisahkan bakal terjadi. Seperti Kyoto dalam novel The Old Capital Yasunari Kawabata.

Tersangka Pelaku

Don Quixote, bagi saya, tampak serupa pembunuh sejati. Siapa hari-hari ini yang masih mengenal Miguel de Carvantes Saavedra? barangkali hanya satu dari sembilan ribu orang yang mengenal Don Quixote mengenal Carvantes.

Penulis ideal, bagi saya, adalah yang mampu menciptakan pembunuh bagi dirinya sendiri. Lebih jauh, mengapa saya tertarik dengan tokoh serupa Don Quixote, sebab ia merupakan model bagi sastra modern secara umum: olok-olok mengenai yang nyata dan tidak, mengenai pengalaman dan ide, fakta dan fiksi. Dalam sastra modern, dialah yang berhasil mengocok semua itu dalam dirinya. Saya tak bisa membayangkan sosok yang lebih ideal itu.

Tapi selalu lebih rumit daripada yang dibayangkan para penulis. Setiap masa dan tempat memberikan karakter tertentu untuk tokoh-tokohnya. Kita bisa membayangkan awal modernitas melalui Don Quixote, tapi kita juga bisa mengenali absurditas hidup di jaman modern melalui tokoh-tokoh di novel Franz Kafka, yuppi, yang selalu diidentikkan dengan penulisnya. Barangkali karena tokoh-tokoh itu, yang saya maksud adalah karakter di The Trial dan The Castle yang memiliki inisial Josef K. dan K. Tapi jarang sekali kita mendengar Don Quixote disebuat sebagai orang Spanyol, atau K sebagai penduduk Praha, meskipun kenyataannya demikian.

Barangkali karena mereka melampaui tempat kaki-kakinya berpijak. Mereka terlalu bersar untuk wilayah-wilayah terpencil serupa itu, dan ini membuat saya kadang merindukan seseorang yang benar-benar berbaring di rumput, orang-orang yang tampak sepele.

Saya melihatnya antara lain di novel-novel Yasunawi kawabata. Lelaki Jepang yang pergi ke daerah salju untuk menamui seseorang geisha, seorang gadis Kyoto yang mendatangi perayaan musim semi dengan kimono, atau seorang penari dari Izu. Mereka adalah orang kebayakan, dengan nama-nama kebanyakan (Dan saya paling benci nama-nama tokoh di novel yang tak make sense). Akhir-akhir in saya juga menyukai mereka yang hadir di novel-novel Cina yang ditulis Mo Yan atau Su Tong. Saya membayangkan petani-petani sederhana, sosok biasa yang sama sekali tak istimewa, dalam The Garlic Ballads atau Rice.

Kesederhanaan mereka, dengan pakaian dan makanan, serta mungkin malah merupakan bagian-bagiana yang membuat kita mengubur hidup-hidup para penulis yang menciptakannya.

Di antara semuanya, Thomas Sutpen merupakan sosok yang tak pernah bisa saya lupakan. Ia muncul di Abslom, Absalom! William Faulkner. Sakit jiwanya merupakan gerusan sebuah masa yang busuk. Kesehariannya merupakan gambaran yang buruk, namun saya selalu akan mengenangnya sebagai memang begitulah, pembenci Yankee dari Selatan, tuan tanah dengan kejayaan yang mulai ambruk.

Dalam dirinya kita bisa membaca sebuah dunia secara lengkap. Dunia dalam dirinya dan dunia di luar dirinya. Sejenis karakter ideal yang barangkali dibayangkan Iwan Simatupang sebagai Tokoh Kita dalam novel-novelnya (tapi tak pernah berhasil) sebagai tokoh yang bisa mewakili seluruh umat dan ras manusia. Yang kita butuhkan adalah sosok serupa Sutpen, yang di wajahnya kita bisa membaca semesta.

Demikianlah, jika saya ingin menulis novel, saya ingin menghadirkan sosok-sosok dengan kepala yang menerawang, kaki yang melangkah di tanah, dan dada yang bergemuruh.

Metode

Seseorang mengatakan bahwa sebuah cerita adalah sebuah cerita. Cerita yang bagus, akan tetap bagus dengan cara apapun. Barangkali itu benar. Seperti sebuah rumah, dibikin seperti apapun, asal ia tetap memenuhi persyaratan sebuah rumah sebagai tempat berteduh dan berlindung, tetap sebuah rumah. Tapi saya pecinta arsitektur, sebuah seni yang tak memungkinkan sebuah rumah dibuat begitu saja. Seorang arsitek tak akan datang tiba-tiba dengan semen, pasir dan batu lalu membuat rumah. Mungkin ada yang begitu, tapi bagi saya tak menarik. Kalaupun menarik, barangkali rumahnya yang pertama. Rumah selanjutnya, berdasarkan pengalaman, jadi terasa membosankan.

Demikianlah saya tak tertarik menenteng alat tulis lalu tiba-tiba menulis sebuah kisah. Banyak penulis melakukannya, tapi saya tetap tak tertarik. Jack Keroac melakukannya, tapi hanya On the Road yang menarik perhatian saya. Sebab saya menyukai pekerjaan arsitektur, duduk berlam-lama memikirkan alasan-alasan mengapa sebuah jendela harus berdaun ganda, mengapa pilarnya dibuat dari kayu dan bukan beton, mengapa dapurnya dekat pintu depan. Sebab juru masak yang paling baik juga menggunakan resep.

Tentu saja saya tak akan melarang, dan tatap menaruh hormat, untuk juru masak yang akan memasukan bumbu mereka ke wajan, jika merka suka. Tapi sekali lagi, saya lebih tertarik memikirkan alasan mengapa harus memasukkan garam dan bukan merica, sebelum memasak.

Ulysses James Joyce barangkali merupakan arsitektur yang paling istimewa di abad kedua puluh yang baru lalu. Tapi kemegahannya, bagi saya, seringkali membuat tersesat di lorong-lorongnya. Yang bisa dilakukan hanyalah, masuk ke salah satu ruangan dan menikmati ruangan tersebut. Di hari lain kita duduk di sudutnya yang lain, dan hidup di sana. Untuk hidup serentak di seluruh ruangan, paling tidak bagi saya, menjadi sesuatu yang nyaris mustahil.

Demikianlah mengapa saya lebih menyukai ruangan kecil yang diciptakan oleh Jorge Luis Borges. Meskipun kisah-kisahnya relatif pendek, hanya beberapa yang panjang, membacanya segera kita tahu itu dibangun dalam sebuah sistem cara berpikir. Setiap bagian-bagiannya diletakkan dengan maksud tertentu, demi sebuah bangunan cerita dan ide. Dalam kisah “The Plot”, ia hanya menjejer dua paragraf. Yang pertama mengenai pembunuhan Julius Cesar oleh Brutus. Yang kedua kisah pembunuhan gaucho oleh seorang kepercayaannya.

Sebuah kisah adalah sebuah pola. Sebuah ide. Cerita “The Plot” mungkin sangat biasa, atau orang sudah mengetahui kisah tersebut. Tapi meletakkan dua kisah berdampingan, tentu itu pekerjaan seorang pemikir. Sebuah ide, sebuah seni bercerita sesungguhnya.

Novel-novel yang saya kagumi, sepengatahun saya, jelas bukan merupakan karya-karya kebetulan. Penciptaannya merupakan pekerjaan orang-orang metodis. Dalam novel- novel Gabriel Garcia Marquez, kita melihat bab-bab yang relatif sama satu sama lain. Dalam novel-novel Milan Kundera, kita menemukan pengulangan angka tujuh. Tujuh bab misalnya. Ia juga seorang yang sadar mengambil arsitektur musik dalam novelnya. Mengerti bagaimana membuat intro yang baik, memahami bagaimana irama yang menentukan kualitas ceritanya, dan tahu harus menutup novelnya dengan sejenis coda.

Di antara yang lainnya, Jose Samarago jelas merupakan yang paling keranjingan. Saya tak bisa membayangkan seandainya novel-novelnya ditulis dengan cara lain, akan menjadi seindah yang saya baca sekarang.

Barangkali begitulah sudut pandang saya mengenai bentuk dan isi. Mengenai kisah dan bagiamana kisah disampaikan. Saya tak akan pernah berani menyatakan kisah lebih penting daripada cara menyampaikannya, demikian pula sebaliknya.

Saya bukan seorang pembunuh yang peduli menghilangkan nyawa seseorang, tapi juga harus menyadari pembunuhannya. Seorang penulis, bagi saya, bukan seseorang yang membunuh karena terpaksa atau kebetulan. Ia mesti seorang yang memang dilahirkan untuk menikmati seni membunuh. Sorang penulis harus maniak. Ia mesti mencintai cara kerjanya, untuk menghasilkan akhir yang paling gemilang.

Bukti-bukti

Saya paling benci membaca kalimat serupa ini: ia lari ke sebuah lorong jalan yang di kiri-kanannya dipenuhi pepohonan. Saya selalu bertanya jalan apa? Pohon apa? Sama bencinya dengan membaca kalimat, bangun tidur ayam jantun berkokok. Apakah pengalaman semua orang di dunia bangun pagi selalu sama? Tak adakah yang bisa mengambarkan bangun tidur yang lebih personal? Detail tidak menuntut orang untuk bertele-tele dengan hal remeh. Novel sendiri, jelas merupakan novel yang buruk. Tapi sebuah kalimat yang mengatakan: ia berbelok ke Jalan Merdeka dan bersembunyi di bawah pohon-pohon mahoni, jelas memberi nilai kepercayaan lebih daripada sekadar lorong jalan dan pepohonan, tanpa harus membuatnya jadi larut dalam detail tak perlu.

Dalam Song of Solomon, Toni Morrison tidak asal memberi nama sebuah jalan sebabagi Not Doctor Street. Kisahnya berawal dari sebuah ruas jalan dimana seorang dokter negro tinggal di sana. Komunitas orang-orang negro di sekitar jalan itu kemudian menamai jalan tersebut sebagai Doctor Street, untuk mengingat si dokter, meski jalan tersebut sesungguhnya memiliki nama sendiri.

Masalah kemudian muncul ketika mulai banyak orang tinggal di sana dan menyebut Doctor Street sebagai alamat korespondensi mereka, yang ternyata membuat bingung pihak kantor pos. Pemerintah kota, yang didominiasi orang putih tentu saja, tak menyukai keadaan tersebut. Ia melarang orang menyebut jalan tersebut sebagai Doctor Street dan menempelkan pengumuman panjang di sepanjang loromg jalan bahwa This Is Not Doctor Street. Demikialah, komunitas orang negro, patuh pada perintah walikota sekaligus ngeyel, mulai menyebut jalan tersebut sebagai Not Doctor Street.

Sebuah detail kecil, tapi bisa memberikan sebuah wajah manusia-manusia. Ah, jangan berharap bisa menemukannya di novel-novel buruk yan ditulis penulis-penulis amatir (seperti saya ini, barangkali).

Sebuah fiksi adalah sebuah fiksi, kita mengetahui kebohongannya. Tapi dusta dalam fiksi, segila apapun, harus menyentuh kepercayaan pembaca. Sebab hanya dengan cara itu seseorang akan terus membaca dan terlibat secara emosional. Jika ada sebuah kalimat lima ratus ekor gajah melintas di Jalan Thamrin, barangkali tak seorang pun percaya dengan begitu mudahnya. Bandingkan dengan kalimat in: seratus dua puluh empat ekor gajah melintas di Jalan Thamrin. Separuh pembaca mungkin memercayainya, hanya karena angka yang tak terlalu genap cenderung lebih dipercaya untuk kasus serupa itu. Tapi perhatikan kalimat ini: seratus dua puluh empat ekor gajah melintas di Thamrin, Presiden SBY membuka sendiri acara karnaval bersama perwakilan dari WWF untuk Indonesia, saya yakin seluruh pembaca akan percaya, tak peduli peristiwa itu sungguh terjadi atau tidak.

Detail ini adalah pembuka menuju sebuah kepercayaan, dan kepercayaan akan menjadi kebenaran. Serupa itulah, dalam bayangan saya, bagaimana fiksi-fiksi yang baik selalu bekerja.

Kurban

Sekarang, izinkan saya mengisahkan diri sendiri. Saya dilahirkan dari banyak ibu, dan banyak ayah. Tapi satu orang yang pelu saya sebut pertama kali adalah penulis Norwegia, Knut Hamsun. Terima kasih kepadanya, yang telah memberi contoh untuk menjadi seorang tumbal dunia fiksi yang baik. Ketika pertama kali membaca Hunger, saya tahu saya akan menulis seolah tak ada hal lain yang saya ingin lakukan di dunia. Ia memberi pelajaran pertama pada saya untuk hidup: bernapas! Hunger merupakan napas saya. Saya selalu merasa sebagai seseorang yang tak bernama, berjalan di trotoar pelan-pelan Christania, memikirkan apa yang ingin saya tulis, dengan rasa lapar yang menyayat.

Pendidikan pertama saya adalah komik silat, yang saya baca diam-diam karena ayah saya dan sekolah melarang kami membacanya. Tokoh favorit saya adalah Pendekar Mabuk. Barangkali adaptasi novel dari Drunken Master. Saya membaca novel-novel silat dari Asmaraman S. Kho Ping Ho dan Bastian Tito. Saya juga, ya benar, penggemar novel-novel horor, yang ditulis Abdullah Harap. Tujuh Manusia Harimau (Motinggo Busye) saya baca di suatu masa yang sudah saya lupa, dan saya melihat filmnya di pertunjukan layar tancap, jika tak salah. Barangkali karena novel-novel semacam itu relatif mudah ditemukan di kota kecil serupa tempat saya tinggal.

Oh ya, saya menemukan Agatha Christie. Saya rasa sudah membaca seluruh edisi bukunya, dan percayalah tampaknya bisa membedakan bagaimana cara Mr Poirot dan Miss Marple dalam menyelesaikan kasus-kasus.

Menjelang umur dua puluhan, saya mulai belajar filsafat. Saya membaca Nietsche dan terkagum-kagum dengan gaya prosanya. Lihatlah cara ia menulis, selalu dalam bentuk aforisma-aforisma pendek yang indah. Saya belum pernah menemukan filsuf menulis dengan penuh gaya sepertinya. Tapi seperti kebanyakan borjuis kecil yang tak memperoleh kenyamanan hidup, saya mulai jatuh cinta dengan Hegel, dan setelah dari Hegel seseorang sangat mudah jatuh ke Marx dan Engels. Karena saya menyukai sastra, saya membaca George Lukacs. Dengan cara itulah saya dibesarkan.

Dan di bawah pengasuh-pengasuh seperti itulah saya menulis. Saya sendiri tak bisa membayangkan bagaimana akan jadinya seorang banyi yang diasuh Lukacs dan Kho Ping Ho, tapi saya membayangkan sesuatu telah terjadi pada diri saya.

Hingga datang waktu saya harus menyapih diri dari para pengasuh, bahkan dari para orang tua, dan mencari sendiri teman, kekasih, dan sekaligus musuh. Saya membaca buku apa pun yang bisa saya peroleh. Buku pengobatan maupun manual mengoperasikan telepon genggam. Lalu saya mulai menulis, dan dengan cara itulah, seoarang pengarang menemui ajalnya.

Solo-Jakarta, 2005-2006

Esai ini saya tulis untuk edisi proses kreatif jurnal On/Off, 2006. Terima kasih untuk Dedik Priyanto, yang meluangkan waktu mengetiknya ulang untuk blognya.