Membaca Pose

Di pembukaan film Tropical Maladies Apichatpong Weerasethakul, ada adegan beberapa prajurit membunuh seseorang di padang rumput. Sambil mengerumuni mayat tersebut, para prajurit itu kemudian berpose, dan seseorang mengambil gambar mereka dengan kamera. Yang menarik dari pose mereka adalah, para prajurit itu tak memperlihatkan ekspresi teror apa pun setelah membunuh dan menghadapi mayat. Mereka bahkan terkesan sedang memamerkan suvenir yang diperoleh dari satu perjalanan. Dan itu terekam melalui pose mereka. Dengan kata lain, kita membaca apa yang ingin dikatakan orang di selembar foto, terutama melalui posenya di foto tersebut.

Satu hari, di linimasa twitter, saya melihat foto seorang gadis remaja dengan posisi lidah sedikit terjulur dan mulut sengaja dibikin cemberut, dan wajah mendongak ke atas. Segera saja saya sadar, pose semacam itu banyak bertebaran dimana-mana: di album foto facebook, di blog, bahkan di halaman majalah remaja. Kita tak tahu siapa yang memulai gaya seperti itu, barangkali hanya dalam waktu singkat, semua remaja melakukannya.

“Masa depan milik kerumunan,” kata Don DeLillo dalam novel Mao II. Saya pikir ini ada benarnya. Bahkan dalam kesendirian seseorang berpose di selembar foto, ia barangkali telah menjadi bagian dari sebuah kerumunan yang besar. Kerumunan orang-orang yang berpose sama. Continue reading Membaca Pose