Siasat Membangun Cerita di Atas Cerita

oleh Damhuri Muhammad, Lampung Post
Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya
Gramedia Pustaka Utama, 2005

Disadari atau tidak, setiap “tukang” cerita meneladani kecerdasan Syahrazad. Permaisuri pendongeng dalam kisah Seribu Satu Malam yang mesti “berjuang” menyelesaikan sepenggal kisah demi tertundanya ancaman maut satu malam lagi. Bilamana sang permaisuri itu masih ingin bertahan hidup, ia harus merangkai sepenggal kisah lagi untuk mengulur waktu kematiannya satu malam lagi.

Begitu seterusnya, hingga tak terasa ia sudah menghabiskan 1001 malam untuk merajut kisah-kisahnya. Begitu juga kesan saya setelah membaca cerpen “Dongeng Sebelum Bercinta” dalam antologi Gelak Sedih (Gramedia, Jakarta, 2005) karya Eka Kurniawan. Alamanda, perempuan yang tak berdaya menolak pernikahannya dengan lelaki sepupu sendiri, mencoba bersiasat agar suaminya tak beroleh kesempatan menjamah tubuhnya, “bercinta”layaknya hubungan suami-istri.

Siasat Alamanda tidak lain adalah siasat Syharazad. Perempuan itu tidak bersedia berhubungan badan kecuali suaminya berkenan mendengarkan dongeng-dongengnya. “Percintaan” hanya akan terjadi jika dongeng Alamanda sudah “khatam”. Padahal,dongeng Alamanda tak akan pernah tamat. Maka, mengalirlah dongeng “Petualangan Alice di Negeri Ajaib” dari mulut Alamanda.

Semula saya menduga kepiawaian berdalih yang digambarkan pengarang adalah siasat Alamanda membatalkan pernikahan dan sekaligus percintaan “terlarang” itu. Sama halnya dengan siasat dongeng-dongeng Syharazad mengulur kematiannya. Tetapi,setelah menyelami lekuk-lekuk kisahnya, ternyata “kelicikan” Alamanda sekadar menutupi rasa malu pada sang suami. Sebab, ia sudah tidak perawan lagi.

Tujuan yang remeh jika dibandingkan nasib Syharazad yang sedangdi ujung tanduk. Saya merasa “tertipu” style pengisahan Eka yang semula sudah terasa “matang”, tapi pada bagian akhir Eka membuatnya “mentah” kembali. Ibarat memeras kandungan gula dari sebatang tebu, (setelah saya jilat) bagian pangkal tebu itu luar biasa manis, tapi makin keujung terasa makin hambar.

Saya tidak kecewa. Sebab, justru di titik inilah letak keunikan proses kreatif Eka. Ia seperti pemburu yang menggebu-gebu hendak mencabik-cabik buruan, tapi setelah berhasil melumpuhkan mangsa, sang pemburu tak hendak memakan dagingnya. Agaknya, pemburu tidak sedang lapar. Maka, hasil buruan pun dibuang percuma di tengah hutan. Sayang sekali! Sebagai pemburu, Eka sudah menguras energi, tapi kenapa hasil buruannya disia-siakan begitu saja?

Agaknya, logika pencapaian estetika Eka bukan pada mentah-matang, ketat-longgar atau kuat-lemahnya substansi cerita,melainkan pada seberapa bersenyawanya unsur-unsur “estetik”di dalam kisahnya. Sebab itu, Alamanda tak perlu menjelma Syharazad. Cukup menjadi perempuan yang masih punya malu setelah kelaminnya tak lagi terlindungi selaput dara.

***

Ada yang bilang, cerpen koran semata-mata bersandar pada cerita dan memperlakukan bahasa hanya sebagai “kendaraan” bercerita (Nirwan Dewanto). Lalu, muncul pula penilaian kebanyakan cerpen koran hanya bergerak di permukaan, dangkal karena isi dancara pengungkapan dikondisikan media massa (Budi Darma). Tersebab “kepentingan” koran meresap “tubuh” cerpen, sulit memilah mana cerita, mana berita.

Demikian sekelumit perihal gugatan pada geliat “cerpen koran” yang mewabah sejak sepuluh tahun terakhir. Cerpen dianggap terjerumus “realitas koran”, sehingga menjadi sangat “topikal” dan gagal menjadi sebuah kisah yang berdiri sendiri (Goenawan Mohamad). Apakah hipotesis di atas terbukti setelah membaca cerpen-cerpen Eka?

Dari segi ketergantungan pada cerita, barangkali jawabannya, ya. Di samping sebagai pencerita yang “genius”, Eka adalah (lagi-lagi) sosok “pemburu” sekaligus kolektor cerita yang tekun. Cerita-cerita yang menggugah selera estetiknya sering menjadi embrio cerita-cerita yang dia tulis. Ia membangun cerita di atas konstruksi cerita-cerita yang pernah dibacanya (seperti terlihat pada “Bercinta dengan Barbie”, “Lelaki Sakit”, “Assurancetourix”, “Peter Pan”, “Dongeng Sebelum Bercinta”, “Si Cantik yang tak Boleh Keluar Malam”, “Siapa Kirim Aku Bunga?”, dan”Kisah”), bahkan sesekali “terjerembap” mendaur ulang cerita-cerita lama (demi) melahirkan kisah-kisah baru.

Delapan belas cerpen yang terhimpun dalam antologi Gelak Sedih, sebagian besar dirangkai berdasarkan “pengalaman baca” pengarang. Pada cerpen “Bercinta dengan Barbie”,dengan jujur Eka mengaku terinsprasi karakter-karakter boneka produksi Mattel Corporation (hlm. 183). Pada bagian awal, Eka mencantumkan kutipan “Betapa menggelikan aku ketika masihmenjadi boneka!” (Carlo Collodi, Pinocchio).

Apa tujuan penulisan kutipan itu? Mungkin hendak bersikap jujur atau sekedar memberitahu pembaca perihal pentingnya cerita pinocchio dalam konteks lahirnya cerpen “Bercinta dengan Barbie”. Padahal, tidak akan ada keculasan jika kutipan yang mengganggu dan tak perlu itu ditiadakan. Toh, cerpen Eka tetap utuh sebagai kisah (tanpa kurang satu apa pun jua).

Justru, bilamana setiap cerpen Eka selalu “di-mukadimah-i”pelbagai referensi yang tak perlu, pembaca bisa saja meragukan Eka sebagai pencerita yang “mandiri”. Cerpen bukan makalah ilmiah, Bung! Jadi, tak perlu kejujuran akademik!

Lalu, apakah ekspresi literer Eka masih berkutat di tataran permukaan? Tentu saja tidak. Sebagai pengisah, refleksi dan perenungan Eka sudah “sampai”. Ia bukan hanya telaten, tetapi juga lihai mengasah, mengolah, mengelola dan meng-“eksekusi” hingga kisah-kisahnya berdiri kokoh di maqam yang patut. Eka mampu menangkap gerak dalam objek.

Seperti pernah diungkapkan Jacques Maritain, dalam proses kreatif ada hubungan misterius antara jiwa dalam diri seniman dan jiwa dalam objek yang digarapnya. Eka tidak lagi menangkap objek atau peristiwa dalam wadah kasarnya, tapi langsung menukik keceruk jiwa dan esensi objek. Dengan begitu, ia berkompetensi menulis apa saja dengan gemilang.

Sepasang suami-istri yang meskipun sudah berniat membuang bayi mereka di pinggir jalan (cerpen “Gelak Sedih”), masih memendam harap agar bayi itu ada yang memungut, beritanya munculdi koran, lalu ada orang kaya yang berkenan mengambilnya. Ini adalah jiwa dalam objek garapan pengarang. Bahwa kemudian harapannya pupus ketika berita yang terpampang di koran, “Mayatorok ditemukan di pinggir jalan, diduga dimakan anjing” itu adalah ekspresi imajiner yang harus dilakukan pengarang agar kisahnya sampai pada kulminasi konflik.

Puncaknya adalah sedih. Dan, sedih yang melampaui ambang batas bakal memuncak menjadi gelak. Begitupun sebaliknya. Inilah latar filosofis pilihan judul “Gelak Sedih”. Sejatinya, gelak mustahil dikombinasikan dengan sedih. Tapi bagi Eka, gelak dan sedih tak hanya “tak bertentangan” tetapi malah bersenyawa, membaur, dan berkelit kelindan.

Keberhadiran cerpen-cerpen Eka, seolah hendak “menjungkirbalikkan” stigma yang melekat pada cerpen koran (dangkal, topikal, dan bias berita). Cerpenis muda ini memperlihatkan “jati diri” cerpen yang bukan hanya mandiri sebagai kisah, tapi juga mandiri sebagai genre sastra, makin “dewasa” dan tegak berdiri di atas kaki sendiri (tidak bergantung intervensi “kepentingan” koran).

Akan lebih “dewasa” lagi bilamana Eka sanggup me-merdeka-kan imajinasi dari kebergantungan koleksi cerita-ceritanya. Ya, membangun cerita di atas layar “tabularasa” estetik yang masih putih bersih, belum tercorat-coret barang senoktah pun. Nah!

Tulisan ini pernah dimuat di Lampung Post, 17-7-2005.


2 thoughts on “Siasat Membangun Cerita di Atas Cerita”

  1. selain menyenangi karya eka, paolo coelho jg keren
    skripsi novel cantik itu luka
    wawa uswatun hasanah, teman yang baik

    aku lebih suka perempuan dari pada wanita

  2. hEM….

    Cerita di atas cerita…?
    Judul yang mengesankan,
    Ketika Orang membaca nya Pasti Ingin tau Seperti apa isi cErpen itu…

    Ternyata aku beNar2 terkesaN dengan cerita itu….^_^

Comments are closed.