Pelacur Dibayar Uang, Istri Dibayar Cinta

oleh Raudal Tanjung Banua, Minggu Pagi
Cantik itu Luka
Gramedia Pustaka Utama, 2002, 2004, 2006, 2012, 2015

Membaca novel “Cantik Itu Luka” karya Eka Kurniawan (Aky Press-Jendela, 2003) kita akan bersua cinta membara di antara tokoh-tokohnya. Di tengah ”kegilaan” nilai-nilai seperti pelacuran, perselingkuhan, perang, pembanditan, dan kekuasaan, cinta menjadi sangat esensial, baik bagi ”muatan moral” – kalau memang pertanggungjawaban kepada publik pembaca masih mempertimbangkan unsur ini – maupun bagi jalan cerita secara keseluruhan.

Ya, karena cinta, sebuah ungkapan tanpa tedeng aling-aling mengalir dari kalimat Eka: ”Pelacur dibayar pakai uang, istri dibayar dengan cinta!”

Atau, dengarlah ucapan seorang tabib India ketika mengobati Ma Gedik- yang notabene sakit karena cinta- katanya pasti,” Hanya cinta yang bisa menyembuhkan orang gila!” (hal. 34).

Sementara ”kegilaan” itu terus berpusar di lingkungan para tokoh novel ini, seolah menisbikan nilai-nilai (yang normatif dan konvensional). Bayangkanlah, seorang lelaki, ayah Rosinah, menyerahkan anak gadisnya untuk ditukar hanya supaya dapat tidur dengan pelacur Dewi Ayu. Katanya,” Kau bisa menjadikannya pelacur atau mencincangnya untuk dijual sebagai daging kiloan di pasar,” (sungguh mengerikan, mengingatkan kita pada cerpen-cerpen Joni Ariadinata atau kegilaan Monte Cristo), lalu mereka bercinta, si anak menunggu tenang di luar, dan sebagai bayarannya si Rosinah yang bisu menjadi milik Dewi Ayu— awal ia menjadi pembantu yang patuh.

Mengapa di antara kegilaan semacam ini, sang ayah masih membutuhkan pelacur? Mengapa tidak langsung saja menyalurkannya secara insest kepada si Rosinah, biar kegilaan itu semakin genap-lengkap? Ternyata tak. Cinta menemukan perannya di sini. Demi cinta, seorang ayah masih menghargai anaknya secara seksual, bandingkan dengan banyak peristiwa di luar teks yang justru terjadi di tengah lingkungan sosial yang ”waras”. Memang, ada Raja Pajajaran yang jatuh cinta pada Putri Rengganis, anaknya sendiri, tapi itupun kemudian berakhir ”indah”. si ayah membatalkan niat gilanya.

Karena cinta pula, Ma Gedik yang terpasung — karena kesetiaannya — lantas mencabuli binatang ternak, karena itu ia dianggap gila ”sungguh-sungguh”, justru di tengah ”kegilaan” nilai-nilai — masih bisa menyanyikan kidung-kidung cinta yang indah, yang membuat banyak orang menangis karenanya. Nyanyian itu untuk menyambut kekasihnya, setelah 16 tahun masa penantian — dengan segala kesetiaan dan cinta — dan ia kemudian bertemu Ma Iyang kekasihnya itu, meskipun harus berakhir tragis (35-37).

Cinta juga membuat Maman Gendeng yang brutal, ganas dan menyimpan dendam, luluh ketika bertemu gadis mungil berlesung pipit bernama Nasiah. Seketika ia memutuskan akan menghentikan pengembaraan gilanya, dan bermimpi hidup berumah tangga dengan Naisah (ai, bukankah impian tentang rumah juga melambangkan kuatnya cinta di tengah kegilaan? Seperti juga Shodanco yang takut kehilangan janin bayinya). Bahkan, ketika Maman menghadapi Naisah untuk mengemukakan cinta, Maman Gendeng merasakan jauh lebih mengerikan daripada menghadapi pasukan Belanda. Cinta yang takut dan gemetar, kata orang, adalah perlambang cinta yang sebenar-benarnya. Dan Maman me-ngaku terus terang,” Cinta telah memberiku dorongan yang tak diberikan oleh apapun!” (hal 115).

Akan tetapi, karena cinta pula, Naisah si gadis mungil berani menolak Maman Gendeng si tuan Gerilya, sebab ternyata ia sudah memiliki seorang kekasih, meski seorang lelaki invalid. ”Tuan Gerilya, ijinkanlah kami saling mencintai dan tak ingin dipisahkan…” Maka, Maman Gendeng yang brutal dan mestinya bisa berbuat apa saja itu, luruh kedua kalinya, pergi, karena tak ingin menghancurkan kebahagiaan mereka. (116) Sebuah penghormatan yang indah pada cinta. Dan kesakitan akan cinta, tidak membuat Maman menyerah, justru membangkitkan hasratnya untuk mencari cinta sejati.

Begitulah, bertahun-tahun kemudian, setelah menjadi orang penting di kelompoknya, bagai Che Guevara yang tak mau hidup di tengah kemapanan, ia kembali bersampan, mengembara (kali ini bukan lagi pengembaraan tanpa arah, seperti sebelumnya, melainkan pengembaraan yang punya orientasi: cinta sejati). Cinta sejati itu, diinterprestasikan dengan Putri Rengganis yang bagi saya tidak hanya berarti sosok fisik, namun juga metafisik, sekaligus bayang-bayang idealisasi.

Masih soal cinta, Dewi Ayu yang melacur, masih cukup meyakinkan ketika menghadapi permintaan kliennya si Maman Gendeng tadi. Katanya,” Aku bukannya tak percaya bahwa cinta itu ada dan sebaliknya aku melakukan semua ini dengan penuh cinta, bukan berarti aku kehilangan cinta.” (135). Dengan cinta, seorang pelacur membangun bargaining dan eksistensinya. Sebaliknya, atas dorongan cinta pula (bukan seksual belaka) Maman Gendeng tetap bertahan dan berupaya untuk mendapatkan Dewi Ayu, sampai akhirnya tercapai satu kesepakatan yang cukup sportif dan lugas: menjadi klien tunggal Dewi Ayu. Saya katakan bahwa kesepakatan itu bukan karena dorongan seksual, toh anak-anak Dewi Ayu yang lain tak kalah cantiknya, dan Maman bisa mendapatkannya kalau memang ibunya tidak mau— karena Maman memang berkuasa saat itu. Akan tetapi kegilaan itu tidak terjadi lantaran cinta mampu mengontrolnya.

Di sisi yang lain, Alamanda, anak Dewi Ayu juga tengah menunggu kekasihnya dengan kesetian yang penuh: Kamerad Kliwon. Ia bergeming menghadapi godaan Shodanco, sampai laki-laki berkuasa itu jatuh dan mengeluh, ”Adakah strategi gerilya untuk mengalahkan cinta?” (167) katanya lemah, padahal ia seorang mantan gerilya yang ulung bikin strategi. Begitulah, Alamanda yang binal dan sering membuat patah hati lelaki, justru sangat bersetia pada Kliwon, sementara Shodanco yang ulung menyerah pada ajaibnya cinta.

Persoalannya sekarang, adakah cinta di sini hakiki atau masih sebatas nafsu belaka? Adakah sebatas fisik, bukan menyentuh kedalaman? Tampaknya, ”cinta bergelora” lebih dominan ketimbang ” cinta yang mempesona”. Artinya, ungkapan cinta tokoh-tokoh di atas masih saja dibayang-bayangi ”urusan perkelaminan”, penuh nafsu, bergelora, berapi-api, membakar. Satu-satunya percintaan yang teramat menyentuh dan menggetarkan, yang tidak terburu-buru masuk dalam urusan ”perkelaminan” adalah percintaan Maman Gendeng dengan Maya Dewi — anak Dewi Ayu. Tidak saja karena Maya Dewi dinikahinya secara baik-baik, penuh restu dari ibu mertua, tetapi juga kesabaran Maman menunggu malam pertama — karena Maya Dewi masih sekolah. Dan ia tahan terhadap yang berbau umbar nafsu.

Seandainya percintaan dalam ”Cantik Itu Luka” sedikit steril dari ”cinta membara”, tetapi sedikit condong pada jenis ”cinta yang mempesona” maka ”cerita cinta” akan menjadi lebih merasuk dan sunyata, dan itu akan menjadi oase yang meyakinkan. Setidaknya akan tercapai hal-hal seperti ini: pertama, ”cerita cinta” menjadi sesuatu yang benar-benar disuguhkan secara sadar oleh pengarang sebagai sindiran atas tatanan masyarakat yang gila akan nilai dan norma-norma, tapi busuk dalam pelaksanaannya. Jadi, ada misi pencerahan dan penyadaran untuk melihat ke dalam, kepada tatanan.

Kedua, bagi pembaca fanatik (akan tatanan), novel ini boleh jadi dianggap sangat keterlaluan, lancang dan mengada-ada, karena penuh ”kegilaan”, sehingga ”cinta membawa” bakal menambah sengkarut itu. Sementara ”cinta mempesona” tidak saja mampu menetralisir suasana, namun sekaligus meyakinkan bahwa cinta mampu berperan besar dalam membentuk tatanan. Bukan sekadar meradang, setelah itu padam.

Cinta dengan demikian, tidak sekadar hiasan, tidak sekadar tempelan, tidak sekadar ”urusan perkelaminan”. Tapi ia menjadi lebih esensial: menjadi misi, menjadi soliloqui, bahkan ideologi. Namun, semuanya tentu berpulang pada pengarang, meski sebagai pembaca kita pun berhak pasang ancang-ancang.

Tulisan ini pernah diterbitkan di Minggu Pagi, 28/6/2003.


2 thoughts on “Pelacur Dibayar Uang, Istri Dibayar Cinta”

Comments are closed.