Novel Cantik, Namun Menyisakan Luka

oleh Nur Mursidi, Suara Pembaruan
Cantik itu Luka
Gramedia Pustaka Utama, 2002, 2004, 2006, 2012, 2015

Cantik Itu Luka, demikianlah Eka Kurniawan, sang pengarang, memberi judul pada novel pertamanya yang telah diterbitkan Desember tahun lalu atas kerja sama AKY (Akademi Kebudayaan Yogyakarta) dan penerbit Jendela. Sungguh satu judul yang bisa dikata cukup melankolis dan manis. Selain itu, ditulis oleh seorang pengarang yang namanya hampir tak pernah nongol di lembaran sastra koran minggu. Tampaknya tak berlebihan kalau kehadiran Cantik Itu Luka ini kemudian sempat membuat dunia sastra mutakhir Indonesia seperti dikagetkan saja.


Adanya kekagetan itu bukanlah tanpa alasan. Pertama, novel Cantik Itu Luka ternyata cukup tebal (517 halaman), apalagi jika kita menengok profil dari sang pengarang sebagai novelis pemula. Memang, alumnus Filsafat Universitas Gajah Mada ini, sebelumnya telah memulai debutnya menerbitkan antologi cerpen Corat-coret di Toilet (Aksara Indonesia; 2000) dan karya skripsinya dengan judul Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis (Aksara Indonesia; 1999). Tetapi, dua karya sebelumnya itu tetap tak bisa dijadikan tolok ukur untuk kategori novel, bukan? Kedua, Eka Kurniawan dalam novel Cantik Itu Luka ini, sepertinya sengaja melakukan pemberontakan dalam hal konvensi dan bentuk estetika yang diusung.

Tak pelak, ketika saya selesai membaca novel yang tebal itu seperti digagahi aneka macam dan melimpah ruahnya model estetika yang ditampilkan secara bersamaan. Ia seperti sengaja hendak tampil dengan inovasi baru. Ada warna surealis yang coba ditampilkan dengan berbagai absurditas yang sungguh membuat logika kita dipermainkan. Seperti halnya dalam pembukaan novel itu, yang ditampilkan Eka dengan kisah kebangkitan Dewi Ayu setelah 21 tahun meninggal dunia. Di sisi lain, kadang pengarang kelahiran Tasikmalaya ini cukup realis dengan menyisipkan fakta sejarah, meski acapkali ia tak peduli sama sekali dengan kebenaran sejarah (apa yang sebenarnya terjadi)-bisa jadi, mungkin ia berkeyakinan yang ditulis sungguhlah sebuah fiksi.

Kendati demikian, harus diakui kalau alur cerita yang dikembangkan ternyata punya bobot. Konflik batin dengan desir psikologis tokoh-tokohnya dan makna filosofis yang ingin disampaikan tampak jelas kalau tersirat dari judulnya. Setidaknya, lewat novel ini, ia seperti hendak bertanya; apa sih cantik itu? Lebih dari itu, satire atas berbagai peristiwa yang terjadi di negeri ini juga dikemas dengan olok-olokan yang halus namun cukup mengena. Sehingga, membaca novel ini, kita seperti melongok sejarah negeri kita di masa lalu dan masa kini dengan kebobrokan moral yang cukup akut, seperti soal kejamnya sebuah kekuasaan (rezim), keculasan politik, ekonomi serta masalah pelecehan seksual terhadap kaum hawa.

Rangkaian Cerita

Tersebutlah Dewi Ayu, sebagai seorang keturunan Belanda di zaman kolonial jadi wanita yang harus melayani nafsu seks tentara-tentara Jepang, karena ia kebetulan berwajah ayu. Namun kecantikan wajahnya, ternyata tak berpihak padanya untuk hidup bahagia sebanding dengan anugrah wajah ayu yang dimiliki. Justru, ia bernasib tragis. Seperti nasi telah jadi bubur, selepas merdeka, ia tetap jadi pelacur meski ia diakui sebagai pelacur idola di sebuah kota yang bernama Halimunda. Kehidupan itu dijalaninya hingga ia memiliki tiga anak perempuan, yang semuanya cantik.

Namun, Dewi Ayu adalah sosok yang dikutuk Ma Gedik, seorang lelaki yang telah dipaksa mengawininya dan akhirnya memilih mati karena cinta sejatinya hanya pada Ma Iyang. Kutukan itu juga tak lepas dari sejarah kelam kakek Dewi Ayu yang telah menjadikan Ma Iyang sebagai gundiknya. Padahal, Ma Iyang telah berikrar sehidup-semati dengan Ma Gedik. Itulah yang membuat Ma Gedik akhirnya dendam pada Dewi Ayu sampai anak turunannya. Alkisah, akibat kutukan itu keluarga Dewi Ayu berantakan. Ketiga anaknya hidup tak bahagia, karena ketiga suaminya mati mengenaskan dan mereka jadi janda. Bahkan kutukan Ma Gedik juga menimpa cucu-cucu Dewi Ayu, Si Rengganis, Nurul Aini dan Krisan.

Untuk itu, ketika Dewi Ayu mengandung anaknya yang keempat, ia berniat untuk menggugurkannya. Namun, aborsi yang dilakukannya selalu gagal. Akhirnya, ia hanya bisa berdoa kalau anaknya akan lahir berwajah buruk. Dan itulah kenyataan yang terjadi -meski secara ironik setelah anak keempat itu lahir ia menamainya dengan nama si Cantik. Tapi, wajah si Cantik yang mirip moster itu tak lebih suatu kutukan paling kejam. Si Cantik terpaksa harus menjalani hidup di kamar, tak bergaul dengan teman sebayanya dan tak ada sekolah mana pun yang mau menerimanya.

Tapi anehnya, Krisan, keponakannya sendiri yang patah hati setelah ditinggal mati Nurul Aini, kemudian mencintai si Cantik dan mau bercinta dengannya. Tak salah, jika si Cantik tak habis pikir, heran dan ingin tahu. Sehingga ia bertanya pada Krisan, “kenapa kau menginginkan aku?” Dengan satu jawaban, akhirnya Krisan mau mengakui, “sebab cantik itu luka.” Jawaban itu tak lebih sebagai satire pengarang untuk sebuah pikiran filosofis akan makna kecantikan di balik wajah seorang perempuan!

Cantik yang Menyisakan Luka

Sekalipun novel Cantik Itu Luka ini berkisah tentang kehidupan Dewi Ayu yang bernasib tragis karena jadi pelacur yang dikutuk, alur cerita yang dikemas di dalamnya penuh dengan beragam peristiwa dan kejadian sejarah negeri ini yang diracik pengarang dengan bahasa yang enak dan cukup renyah. Selain itu, cukup cerdas juga pengarang menyelipkan peristiwa sejarah zaman kolonialisme Jepang, era kemerdekaan sampai tragedi pemberontakan komunis 1965. Tak salah, jika di sana ada cermin sejarah yang memang pernah terjadi di negeri ini. Tampaknya, itulah suatu gaya yang ditiru dari Pramoedya oleh pengarang novel ini, yang lulus dari Fakultas Filsafat UGM, dengan skripsi Realisme Sosialis Pramoedya Ananta Toer (Suatu Tinjauan Filsafat Seni).

Meski novel Cantik Itu Luka ini bisa dikata cukup cantik, tetap tak lepas dari luka. Jika ada luka, hal itu tak lain soal estetika yang diusung. Pengarang tampaknya sama sekali tak perduli pada pakem dan tetap bersikeras untuk membuat inovasi baru. Hanya sayangnya, ia kurang cermat. Tak salah kalau dalam novel ini kita akan menjumpai fakta sejarah yang tak sepenuhnya lurus, logika yang dipermainkan dan absurditas yang tak masuk akal karena novel ini tak lepas dari nuansa horor.

Kendati demikian, sebagai sebuah novel, bisa dikata Cantik Itu Luka telah mencatat tonggak sejarah untuk prestasi yang diraih pengarang. Novel ini terbit dengan tebal 517 halaman yang membuat kita berdecak kagum. Karena dalam perjalanan novel Indonesia, Cantik itu Luka telah mencatat rekor baru sebagai novel paling tebal yang ditulis novelis pemula untuk kategori novel perdana.

Tulisan ini pernah diterbitkan di Suara Pembaruan, 9/11/2003.


5 thoughts on “Novel Cantik, Namun Menyisakan Luka”

  1. hemmm…

    sebenarnya manusia selalu akan dipojokkan dengan yang namanya presepsi…entah itu prsepsi luka lah …patah hti lah…dll

    hemmm…

    sebenrnya manusia mempunyai potensi untuk menghilngkan presepsi-presepsi tersebut hingga menjdi manusia merdeka.

    he..he..he..by..by..by

  2. ceritanya sangat bagus dan cukup mengesankan sekali,saya suka novel yang anda buat.oh ya..saya juga suka menulis novel,cerpen,dan puisi.tapi saya tidak tahu bagaimana cara mengirimkannya.

    1. @clara:
      maksudnya enggak tahu mengirimkannya? kalau mau mengirim cerpen ke surat-kabar atau majalah, tinggal kirim saja ke email redaksi. begitu juga novel, tinggal kirim ke email penerbit. alamat2 email itu biasanya ada di halaman suratkabar atau buku terbitan penerbit tertentu, kok.

  3. novel yang bagus. saya suka menulis cerpen, dan saking gemarnya membaca cerpen&novel2 anda, tanpa disadari gaya tulisan saya mirip dengan gaya tulisan Eka Kurniawan.. :-p

Comments are closed.