Novel “Cantik itu Luka” – Eka Kurniawan

oleh Wannofri Samry, Riau Pos
Cantik itu Luka
Gramedia Pustaka Utama, 2002, 2004, 2006, 2012, 2015

Novel Cantik Itu Luka (2004) karya Eka Kurniawan bercerita mengenai keluarga besar Ted Stamler, seorang Belanda yang malang-melintang bekerja sebagai pejabat di akhir masa kolonial Belanda di Halimunda. Tempat itu adalah sebuah kota yang dilukiskan pengarang sebagai tempat menarik, penuh mitos dan begitu penting di ujung masa kolonial.

Tokoh sentral dalam novel ini adalah Dewi Ayu, anak Aneu Stamler atau cucu Ted Stamler. Dewi Ayu adalah anak perkawinan luar nikah dari dua bersaudara lain ibu. Namun kedua orang tua Dewi Ayu, Henri Stamler dan Anue Stamler meninggalkan Dewi Ayu begitu saja di depan pintu rumahnya dan mereka pergi angkat kaki ke negeri Belanda. Inilah awal kisahnya.

Di zaman Jepang sebagian besar penduduk ditangkapi oleh Jepang, terutama yang dianggap pro Belanda, termasuk Dewi Ayu. Ia diasingkan ke sebuah pulau kecil yang seram dan terpencil. Pulau ini, Bloedenkamp, adalah sebuah tempat yang mengerikan dan menjijikkan. Selain dkenal angker, di sana juga tak ada makanan disediakan . Karena itu para tawanan umumnya memakan apa yang ada di sekitar mereka termasuk cacing, ular ataupun tikus. Kekejaman dan kehausan seksual Jepang di Bloedenkamp telah memanggil nurani Dewi Ayu untuk memberikan dirinya kepada seorang tentara Jepang untuk disetubuhi.

Dewi Ayu sendiri, sebagaimana kenyataan di ujung Pemerintahan Kolonial Belanda, berada dalam kesulitan sosial dan ekonomi. Setelah mengalami kegetiran bersama penduduk di Bloedenkamp, Dewi Ayu bersama gadis-gadis lainnya dibawa diam-diam oleh Jepang ke tempat pelacuran Mama Kalong di Halimunda. Mereka dipaksa menjadi pelacur. Mama Kalong adalah germo yang paling terkenal dan profesional di sana. Namun pada masa berikutnya rumah pelacuran Mama Kalong menjadi terkenal dan identik dengan Dewi Ayu, ia menjadi selebriti di kota tersebut. Ketenarannya menyamai nama-nama penguasa di kota tersebut. Bahkan Halimunda sendiri menjadi identik dengan kecantikan pelacur Dewi Ayu.

Dewi Ayu melahirkan empat anak yang tidak dikehendakinya, tiga di antaranya sangat cantik dan diminati banyak lelaki di kota Halimunda. Ketiga putrinya yang cantik itu adalah Alamanda, Adinda dan Maya Dewi. Kecantikan tiga putri itu juga menjadi malapetaka bagi keluarganya sendiri. Karena itu, saat ia hamil pada keempat kalinya, ia berdoa agar anaknya dialahirkan buruk rupa. Sebab kecantikan akan membawa mereka ke dalam petaka. Anaknya yang keempat ini benar lahir dengan menjijikkan namun punya keajaiban, ia diberi nama Cantik. Namun si buruk rupa akhirnya juga terjebak dalam perselingkuhan dengan sepupunya, Krisan.

Alamanda dikawini paksa oleh seorang komandan tentara, Shodanco, setelah diperkosa. Perkwinan itu sungguh tidak dengan rasa cinta, melainkan kebencian yang begitu bergelora. Karena itu 5 tahun perkawinan mereka tak melahirkan anak sebab Alamanda selalu memakai celana besi dan azimat. Dari perkawinan mereka melahirkan anak Nuraini. Adinda menikah dengan Kamerad Kliwon, seorang pemuda genteng, tokoh politik dan terkenal di kota itu. Kamerad Kliwon adalah mantan pacar sejati Alamanda. Perkawinan mereka melahirkan anak Krisan. Maya Dewi menikah dengan seorang tokoh preman dan penguasa terminal, namanya Maman Gendeng. Mereka menikah saat Maya Dewi berumur dua belas tahun tetapi baru disetubuhi saat umur 17 tahun. Kemudian mereka dikaruniai anak, Rengganis Si Cantik.

Si Cantik, anak Dewi Ayu keempat, si bungsu buruk rupa, hidup bersama pembantu yang bisu, Rosina. Ia bercinta-buta dengan Krisan setelah kematian Rengganis Si Cantik. Cantik dan Krisan melahirkan seorang anak yang meninggal sebelum diberi nama. Sebelumnya Krisan juga bercinta buta dengan anak tantenya, Rengganis Si Cantik. Rengganis Si Cantik melahirkan juga seorang anak tak bernama, kemudian diserahkan pada ajak-ajak liar. Krisan membunuh Rengganis Si Cantik di tengah laut untuk menutupi perbuatan zinanya itu. Kinkin adalah anak penggali kuburan yang bisa berhubungan dengan roh orang mati dengan permainan jelangkung. Ia satu kelas dengan Rengganis Si Cantik. Walaupun penampilannya kumal dan pendiam namun diam-diam ia mencintai Rengganis Si Cantik. Ketika Rengganis Si Cantik diketahui hamil dengan isu bahwa seekor anjing telah memperkosanya, ia sangat kecewa.

Kinkin tetap tak percaya bahwa Anjing telah memperkosa Rengganis Si Cantik. Namun ia mau menjadi bapak anak yang dikandung Rengganis tetapi tidak kesampaian. Setelah kematian Rengganis Si Cantik, Kinkin selalu mencari siapa pembunuh orang yang dicintainya itu. Roh Rengganis pun tidak mau mengatakan pembunuh dirinya, sebab ia sangat mencintai orang yang membunuhnya. Akhirnya, lewat susah-payah ia menemukan juga pembunuh Rengganis dari roh yang tidak dikenal. Pembunuhnya adalah Krisan, sepupunya, sekaligus kekasih yang sangat dicintai Rengganis. Setelah itu Kinkin mencari Krisan, dan membunuhnya di rumah Cantik si buruk rupa.

***

Paragraf pembuka novel ini sungguh menakjubkan, kalimatnya lancar dan puitik. Ada jalinan keindahan logika yang teratur. Pengarang memulai cerita dengan sesuatu yang menyentak, membuat pembaca tertarik. Kalimat-kalimat awal membawa pembaca mulai bertyanya-tanya tentang peristiwa apa yang akan terjadi berikutnya. Novel yang terkesan mendekonstruksi dunia sosial-budaya dan pikiran ini sengaja diantarkan oleh pengarang dengan kekacauan suasana pada awal cerita. Kebangkitan Dewi Ayu, seorang pelacur terkenal di Halimunda, membuat orang kampung heboh; orang-orang dan benda-benda tunggang-langgang ketakutan dan takjub. Dewi Ayu meninggal 21 tahun lalu, setelah 12 hari klelahiran Cantik si buruk rupa. Dewi Ayu sendiri mati dengan keanehan; ia sendiri tahu jam kematiannya, sehingga ia memandikan badannya sendiri serta mengkafani dengan kain putih.

Sebagaimana tergambar dalam awal cerita, buku ini ditulis dengan “menunggang-langgangkan” cara berpikir pembaca, mengedepankan dekonstruksi bentuk dan ide. Lembaran pertama dari buku ini sesungguhnya lembaran kehidupan baru, cerita hari ini. Kemudian, halaman 3-10 adalah episode terakhir dari kehidupan Dewi Ayu. Namun lompatan dari “kini” dan masa “lampau” tidak begitu susah bagi pengarang, ia hadir bagai angin menelusup ke jeruji-jeruji besi, atau mengibas ke dalam pakaian dalam kita. Tak terasa, menyegarkan, sehingga pembaca menginginkan bersamanya lebih lama. Pembaca tergoda untuk menelusuri kisahnya. Pengarang tampaknya meniru model penulisan sejarah kritis, mulai dari akibat (masa kini) terus mencari ke sebab dengan menerangkan struktur-struktur sosial-budaya yang ada di dalamnya. Novel ini berada dalam bingkai diakronik, atau prosesual sejarah. Unsur waktu dalam novel ini bergerak dari zaman akhir kolonial, zaman Jepang, pergolakan politik tahun 1960-an dan sesudahnya. Dewi Ayu sendiri adalah keturunan “nyai” zaman kolonial. Putri-putrinya walaupun tidak menjadi pelacur tetapi mengalami tragedi-tragedi seksual dan keperempuanan. Keturunan Dewi Ayu, sebagaimana Dewi Ayu tidak mengalami cinta sebagaimana dikehendaki, cinta mereka penuh hambatan, tantangan dan siksaan. Tragedi cinta itulah yang diolah oleh pengarang, dengan memberinya latar sosio-politik dan kultural yang kuat.

Pengarang tampaknya begitu menguasai alur sejarah Indonesia dari alkhir zaman kolonial sampai pasca tahun 1960-an. Secara baik novel ini bisa memberikan suasana perubahan sejarah politik dari Kolonial Belanda ke Kolonial Jepang, Indonesia merdeka sampai suasana mencekam tahun 1960-an. Pengarang begitu lincah memasuki roh sejarah, suasana pergantian antar rezim itu begitu mengena. Penamaan yang sering didengar zaman Jepang seperti Kempetai, Hinomaru, karaben, senapan steyer, dan istilah struktur dalam ketentaraan Jepang terungkap dalam novel ini secara tepat. Suasana tahun 1960-an terasa menggeliat dengan uraian pengarang tentang gerombolan rakyat bawah seperti nelayan. Kemudian dikemukakan bacaan-bacaan yang tidak asing masa itu seperti, marx, Engles, Lenin, Trotsky, Mao, dan Tan Malaka. Hal-hal yang akrab di telinga tahun 1960-an terbongkar seperti lagu komunis internationale, manifesto sebagai kitab suci, bahan bacaan komunis Harian Rakyat dan Bintang Timur, serta berbagai istilah yang berhubungan dengan revolusi kerakyatan. Pembongkaran dan penguraian suasana kesejarahan itu tentu melalui studi serius, yang telah membawa pengarangnya pada pencapaian wawasan yang begitu luas. Unik dan kelayakan novel ini sungguh bukan karena keberanian pengarang untuk menelanjangi tokoh-tokohnya secara seksual atau dengan mengemukakan seksualitas. Hal yang lebih menarik adalah, boleh dikatakan keseluruhan tokoh memainkan peran yang spesifik dan punya karakter yang kuat. Keberhasilan dan nafas panjang seperti dalam novel ini tentu jarang diraih oleh pengarang-pengarang Indonesia kontemporer, apa lagi generasi setelah 1980-an.

Cantik Itu Luka telah mengalami dua kali cetak dari penerbit yang berbeda. Penerbit pertama adalah AKYPress Yogyakarta sebelum diterbitkan kembali oleh Gramedia Pustaka Utama tahun lalu. Inilah novel pertama Eka Kurniawan sebelum dia menulis Lelaki Harimau.

Tulisan ini pernah dimuat di Riau Pos, 27/03/2005.

15 thoughts on “Novel “Cantik itu Luka” – Eka Kurniawan”

  1. bener bgt…ni novel emg keren!!!ceritanya kompleks tp dibingkai dgn sangat indah..karakter tiap tokoh dapet banget..salut buat bang eka kurniawan..tp gue blm baca Lelaki Harimau,keren gak y novelnya??

  2. nie novel mang kerent, tapi sayang kata2 nya banyak yang kurang “layak”.
    tapi secara keseluruhan nie novel bagus koq.

  3. udah baca novel ini…ada beberapa bagian yang bikin merinding bulu kuduk (love it!). Sebenernya novel ini dibuat th berapa ya? coz udah dari akhir th 1990an denger novel ini, tp baru baca beberapa th kmd.
    Cerdas!!!

  4. Ini berdasarkan kisah nyata gak ya? Dewi Ayu ini tokoh beneran ya seperti mbah Mardiyem ( Momoye) ??
    Kisahnya mengharukan, namun ini juga mengingatkan kita untuk bersyukur karena tidak mengalami penderitaan batin seperti mereka ini..

  5. yap! ini baru yg namanya novel. keureen beud :D
    meskipun alurnya maju-mundur, tapi ga bikin pusing. enak banget buat dibaca. haha. ya walaupun banyak ‘kata-kata’ yg sulit dibayangin pake akal sehat. sekali lagi; novelnya keren! :D

  6. setelah membaca cantik itu luka, perlu bernafas panjang karena puas namatin novel ini.
    Tapi saya agak kecewa dengan cover cantik itu luka edisi terbaru (yang lebih mirip cover2 bukunya Djenar), dan saya penasaran, kalo boleh tau, kenapa yaa covernya yang edisi terjemahan Jepang menjadikan novel ini lebih mirip novel2 hantu.?
    Ini cuma rasa penasaran saya saja, krn perubahan cover juga bisa masuk dalam kajian sejarah sastra, krn saya yakin, cover juga pasti punya interpretasi. .

  7. saya menikmati novel ini.. saya beli dan membacanya 3 bulan kemudian (stelah dpt tugas dosen disuruh baca novel ini, hihi..)
    salah satu ciri khas novel sastra indonesia seperti itu biasanya: masing-masing tokoh akan diceritakan secara detail pada bab-bab tertentu. jadi pembaca dapat menangkap kondisi kejiwaan masing-masing tokoh.
    dan lagi, kalau mau menganggap novel ini berbahasa kotor atau tidak “layak”, sebaiknya jgn baca novel ini, karena novel ini termasuk novel beraliran naturalisme. kalau gak suka yang jorok, baca aja buku dongeng atau hikayat. salam. :)

Comments are closed.