Keniscayaan Manusia dalam Fiksi Gaya “Posmo”

oleh Andesta Herli, Singgalang

Pernahkah kita membayangkan sebuah potret, hasil bidikan seorang fotografer handal, di mana dengan cara yang tak terduga, di dalamnya kita serasa melihat gedung-gedung meliuk-merosot, papan iklan menjelma penari balet yang sesekali mengedip, dan horison mengepak-ngepak seperti sayap burung gagak. Pernahkah? Itulah yang saya rasakan ketika membaca novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan yang terbit pada Mei 2014 lalu. Sungguh sebuah fiksi yang apik, melenakan. Kita bisa merasa marah, sedih, tergugah di depannya, meski tahu itu hanya sebuah fiksi. Juga karya yang cerdas, di mana peristiwa-peristiwa sederhana mampu menebar renungan filosofis menyangkut kehidupan manusia.

Berkisah tentang perjalanan hidup tokoh Ajo Kawir, bocah yang kemaluannya tak pernah bisa berdiri. Ajo Kawir yang tergolong berandalan, jarang pulang ke rumah orangtuanya, melainkan lebih betah tinggal di rumah sahabat dekatnya, Si Tokek. Semuanya bermula saat satu malam, dua orang polisi memaksa Ajo Kawir menyetubuhi seorang perempuan gila. Saat itu ia melihat, kemaluannya tiba-tiba tak bisa berdiri sebagaimana seharusnya. Seperti itulah, sesederhana itulah ia bermula. Bertahun-tahun setelah itu, permasalah kelamin menjadi sumber segala narasi.

Ajo Kawir menikah dengan gadis bernama Iteung, yang mengaku mau menerima segala kekurangannya. Namun tetaplah, pada kenyataannya kemudian, Iteung tak mampu bertahan. Ia mencari kepuasan yang utuh pada lelaki lain. Dan Ajo Kawir pun melata.
Masa-masa selanjutnya, Ajo Kawir menjalani hidup dengan menjadi supir truk lintas Jawa-Sumatera. Dan kiranya, siapa sangka, dengan jalan inilah keajaiban terjadi pada diri Ajo Kawir. Bertahun-tahun lamanya setelah terakhir kali bisa mengacung, ia mendapatkan kemaluannya kini bisa berdiri kembali, begitu gagah, saat suatu malam ia menyetir truk ditemani seorang perempuan bernama Jelita. Kebahagiaan itu membawanya pulang ke rumahnya semula, menemukan orangtuanya dan anak Si Iteung (dari kekasih gelapnya) yang dititipkan pada orangtua Ajo Kawir. Sementara Si Iteung yang saat itu baru saja bebas dari penjara malah masuk kembali, sebab membunuh dua orang polisi yang ia yakini sebagai sebab malapetaka yang menimpa kemaluan Ajo Kawir.

Hal yang menarik dari novel ini adalah, realitas yang dipilih Eka Kurniawan, sebuah realitas yang bisa kita temukan dengan mudah dalam sehari-hari. Kehidupan perkampungan yang tergolong semerawut. Pengarang mengajak kita melihat potret itu dengan cara yang lebih manusiawi, di mana tokoh-tokohnya dihadirkan secara apa adanya. Lagi, karakter dan penokohan para tokohnya pun sangat tidak biasa. Sepanjang cerita, narasi, deskripsi, dan dialog, senantiasa membawa kita untuk kagum pada seorang tokoh, namun pada bagian lain kita malah merasa terkecoh, sebab narasi tiba-tiba menghancurkan kesan hebat pada diri sang tokoh.

Sebagai contoh, lihat Ajo Kawir. Sebagai pemuda yang berani membunuh preman yang paling disegani orang, Si Macan, tentulah gambaran dalam kepala kita mengenai Ajo Kawir ini mengacu pada sesosok petarung tangguh. Namun ternyata narasi selanjutnya menceritakan bahwa Si Macan adalah preman yang telah tobat dan kakinya telah pincang! Selain itu, juga bisa ditemukan pada bagian ketika Ajo kawir ditanyai oleh temannya: bagaimana cara mengalahkan lawan yang tangguh dan badannya lebih sangat besar? Ajo kawir bahkan hanya menjawab: tusuk saja matanya dengan dua jari bila ada kesempatan!” Sungguh sebuah taktik yang bahkan hanya mungkin ada dalam kepala anak-anak.

Lain pula dengan Iteung, yang meskipun seorang pesilat hebat, namun tak berdaya jika berhadapan dengan masalah perasaan, terutama menyangkut perasaannya kepada Ajo Kawir. Atau mengenai Si Tokek, seorang sahabat yang selalu menasehati Ajo Kawir, sementara ia sendiri tidaklah tahu banyak tentang yang dikatakan. Begitu tokoh-tokoh dihadirkan dalam karakter-karakter yang paradoks.

Secara keseluruhan, tokoh-tokoh dalam novel ini adalah representasi dari keniscayaan yang membayangi setiap manusia. Seolah ingin mengatakan bahwa, selalu ada yang tak sempurna, selalu ada cacat dalam diri manusia, meski tak pernah kita duga-duga sebelumnya. Bahwa manusia bukanlah dewa atau malaikat, adalah sebuah kenyataan. Pengarang dengan gaya bicara yang sederhana, berhasil memperlihatkan bagian hakiki dalam diri manusia itu, lewat tokoh-tokoh sederhana yang dibangunnya. Meski pun paradoks, selalu ada yang tak sia-sia dalam diri manusia. Begitupun, cinta yang tulus membuat Ajo Kawir mampu bertahan menjalani hidupnya dengan waras. Sebuah kehidupan yang terus berjalan dengan segala masalah, sebuah pikiran dan wawasan yang terus berkembang dan berubah, begitulah yang kita temukan dalam novel ini. Kita tahu Ajo kawir pun akhirnya menjelma seorang lelaki matang yang tenang, setelah bertahun-tahun panik sebab penyakit kemaluannya tak mau mengacung. Dan ketika kemaluannya sembuh, Si Iteung istrinya, “pemilik” kemaluan itu, malah masuk kembali ke penjara.

Mengemukakan hal ini, saya membayangkan wacana postmodern yang hari ini menyelimuti dunia. Tentu saja Eka Kurniawan juga banyak menyerap gairah postmodern ini. Sebuah semangat yang menolak modernitas dengan segala citra, pakem, keuniversalan, dan kebekuannya. Eka Kurniawan menolak itu semua dengan memperlihatkan secara gamblang dalam karyanya. Misal, dari pemilihan alur cerita yang tak biasa (tak seperti dalam pakem modern yang hanya mengenal maju-mundur). Alur Eka malah bisa disebut sebagai sesuatu yang lebih sengkarut dari sehelai kain tak disetrika. Kadang seperti lingkaran, kadang serasa petak, kadang serasa segiempat memanjang, kadang serasa seperti ranting pohon.

Begitupun dari sisi ketokohan yang ia bangun. Jika modernitas membawa karya sastra kepada kebersahajaan, di mana tokoh dihadirkan secara konsisten dan terkesan sempurna. Di mana manusia dibedakan antara yang baik dan jahat, yang lemah yang kuat, atau yang hebat dan pecundang. Maka lagi-lagi Eka kurniawan menolak itu semua. Ia membangun tokoh tokoh yang paradoks, yang tak bisa dibagi ke dalam hanya dua kategori: hitam-putih. Di sini tokoh-tokoh dilepaskan dari paham lama, untuk kemudian diberi kesempatan untuk dinilai, ditafsirkan dengan cara beragam, dan tidak ada yang mutlak. Ini artinya setiap tokoh memiliki “yang baik” dan “yang jahat” dalam dirinya, “yang kuat” dan “yang lemah” begitu saja digabungkan. Konsekwensinya, tokoh tiba-tiba menjadi benar-benar hidup. Dan kita merasa tidak saja membaca sebuah karya fiksi, bahkan lebih dari itu, kita serasa sedang berhadapan dengan realitas yang kita kenali namun tak pernah kita tuliskan.

Maka tidaklah berlebihan rasanya, jika novel terbitan Gramedia ini masuk sebagai salah satu dari lima buku berkualitas, yang maju dalam pengkurasian dalam sayembara sastra bergengsi Indonesia, Khatulistiwa Literary Award (KLA), pada penguhujung tahun lalu.

(Padang, 20 Januari 2015)

Ulasan ini dimuat di halaman Estetika Koran Singgalang, Minggu, 08 Februari 2015