Estetika Kritik Populer

Oleh Surli Tania
Cantik itu Luka
Gramedia Pustaka Utama, 2002, 2004, 2006, 2012, 2015

Sinopsis

Novel Cantik Itu Luka berlatar pada masa pendudukan Belanda di Indonesia hingga masa setelah kemerdekaan. Novel ini bercerita tentang seorang gadis Indo-Belanda bernama Dewi Ayu. Dewi Ayu adalah seorang anak yang cerdas, memiliki rambut hitam panjang, kulit putih, dan mata biru. Saat desanya, Halimunda, dikuasai tentara Jepang, Dewi Ayu dipaksa menjadi pelacur karena kecantikannya, dan pekerjaanya sebagai pelacur berlanjut hingga akhir hayatnya.

Dari pekerjaannya tersebut, Dewi Ayu dikaruniai 3 anak perempuan yang mewarisi kecantikan ibunya yang kesemuanya tidak diketahui siapa bapaknya. Dewi Ayu beserta ketiga anaknya kerap menemui tragedi dalam kehidupan mereka yang diakibatkan kecantikan yang mereka miliki. Dikarenakan hal tersebut, pada kehamilannya yang keempat, Dewi Ayu berharap anak bungsunya terlahir buruk rupa agar tidak mengalami tragedi yang sama seperti yang dialami ibu dan kakak-kakaknya, dan doa tersebut dikabulkan Tuhan; anak bungsunya terlahir buruk rupa dan ia beri nama Cantik.Walaupun terlahir buruk rupa, kehidupan Cantik tetap dipenuhi tragedi seperti yang dialami ibu dan ketiga kakaknya. Bagi Dewi Ayu dan anak-anaknya, cantik bukanlah anugerah tapi cantik itu luka.

Latar Belakang

Novel yang dipilih penulis sebagai tugas akhir mata kuliah Estetika berupa kritik sastra adalah Cantik Itu Luka yang ditulis tahun 2004 oleh Eka Kurniawan. Jenis kritik sastra yang akan digunakan adalah kritik sastra populer yang ditinjau dari alur cerita yang terdapat dari novel tersebut. Penulis memilih alur cerita novel Cantik Itu Luka dikarenakan alur cerita yang unik; setiap bab menceritakan kisah dari tokoh yang berbeda dan akan dilanjutkan di beberapa bab kemudian. Novel ini memiliki lebih dari satu tokoh sentral karena tiap bab memiliki tokoh sentral yang berbeda.

Analisis Novel

Novel Cantik Itu Luka terdiri dari 18 bab yang menceritakan masa lalu Dewi Ayu beserta masa lalu anak-anak dan cucunya. Pada bab 1, alur cerita yang disajikan penulis adalah alur maju mundur. Pada bab ini, diceritakan kebangkitan Dewi Ayu dari kubur yang wafat selama 21 tahun. Hal pertama yang ia ingat sekembalinya dari alam baka adalah anak bungsunya, Cantik, kemudian ia kembali ke rumah yang dulu ia tempati untuk bertemu dengan Cantik. Pada perjalanan Dewi Ayu pulang ke rumah, penulis menceritakan saat-saat menjelang kematian Dewi Ayu; melahirkan Cantik. Kemudian sesampainya Dewi Ayu di rumahnya, alur cerita kembali menceritakan hal yang terjadi pada Dewi Ayu saat ini, yaitu tiba di rumahnya dan menemukan Cantik yang hamil tanpa bapak.

Alur cerita pada bab 2-4 merupakan alur mundur yang menceritakan siapakah Dewi Ayu. Dewi Ayu adalah seorang gadis cantik keturunan Indo-Belanda yang dipaksa menjadi pelacur saat kampungnya, Halimunda, diduduki oleh tentara Jepang. Pada bab tersebut juga diceritakan tentang kehamilan-kehamilan Dewi Ayu dan pertemuannya dengan seorang preman bernama Maman Gendeng. Peran Dewi Ayu sebagai tokoh sentral terhenti pada bab 4 karena bab-bab selanjutnya ditokohi oleh orang-orang di sekitar Dewi Ayu.

Pada bab 5, peran Dewi Ayu sebagai tokoh sentral terhenti dan digantikan oleh Maman Gendeng. Alur cerita pada bab ini lagi-lagi merupakan alur maju mundur karena bab ini menceritakan masa lalu Maman Gendeng yang menggunakan alur mundur, dan pada pertengahan bab cerita berlanjut pada pertemuan Maman Gendeng dengan Dewi Ayu serta perkelahian antara Maman Gendeng dan Sang Shodancho yang memperebutkan Dewi Ayu yang menggunakan alur maju dan lanjutan dari bab 4. Maman Gendeng muncul lagi sebagai pemeran sentral pada bab 17, dan pada bab ini diceritakan masa lalu Maman Gendeng sebelum putrinya, Rengganis si Cantik lahir.

Pada bab 6, tokoh sentral berubah menjadi Sang Shodancho. Bab ini menyajikan alur maju, yaitu pertemuan Sang Shodancho dengan anak pertama Dewi Ayu, Alamanda.

Pada bab 8-14, alur cerita yang disajikan berubah menjadi alur maju dengan tokoh sentral yang tetap berbeda-beda di tiap babnya. Mulai dari bab 7, tokoh sentral berubah menjadi anak-anak, menantu dan cucu-cucu Dewi Ayu.

Anak pertama Dewi Ayu, Alamanda yang menikah dengan Sang Shodancho, muncul sebagai tokoh sentral pada bab 8, 9 dan 11. Kliwon, bekas pacar Alamanda, yang menikah dengan anak kedua Dewi Ayu, Adinda, berperan sebagai tokoh sentral pada bab 7, 12 dan 14. Peran sentral Maman Gendeng yang menikahi anak ketiga Dewi Ayu, Maya Dewi, terdapat pada bab 10 dan 13 yang merupakan kelanjutan dari bab 5.

Alur cerita pada bab 15-18 kembali menjadi alur maju mundur. Bab 15 yang dimulai dengan kelahiran anak Maya Dewi dan Maman Gendeng dari anak mereka, Rengganis si Cantik. Dipertengahan bab, alur cerita berubah menjadi alur mundur saat Rengganis si Cantik menceritakan penyebab kehamilannya yang misterius; diperkosa oleh seekor anjing. Setelah cerita kehamilan misterius Rengganis si Cantik selesai, alur cerita kembali berubah menjadi alur maju, yaitu saat-saat sebelum pernikahan Rengganis si Cantik.

Pada bab 16, Nurul Aini (Ai) yang merupakan anak dari Alamanda dan Sang Shodancho tiba-tiba dikisahkan telah meninggal dunia. Kuburan Ai dibongkar oleh seseorang yang ternyata orang tersebut adalah sepupunya sendiri, Krisan, yang jatuh cinta pada Ai. Pada bab ini, alur cerita kembali menjadi alur maju-mundur. Alur maju muncul pada awal bab dimana Krisan membongkar kuburan Ai, kemudian alur mundur muncul dipertengahan bab yang menceritakan penyebab Krisan jatuh cinta pada Ai.

Alur cerita pada bab terakhir adalah alur maju mundur. Alur maju terdapat pada pertemuan kembali anak-anak Dewi Ayu dengan ibunya, sedangkan alur mundur muncul saat misteri kehamilan si Cantik terkuak dan kisah pembunuhan Rengganis si Cantik yang dilakukan oleh Krisan.

Kesimpulan

Alur cerita yang disajikan Eka Kurniawan sangatlah unik dan menantang. Pembaca diajak untuk mengingat alur cerita yang maju-mundur di tiap babnya. Selain itu, novel ini membuat pembaca kecanduan membaca karena pembaca bertanya-tanya akan lanjutan dari tiap kisah yang akan muncul entah di bab berapa. Walaupun demikian, akan sulit mengikuti alur cerita jika pembaca melanjutkan membaca novel ini setelah berhenti membaca dalam kurun waktu yang cukup lama karena pembaca akan kesulitan melacak di bab berapakah kisah yang dialami oleh seorang tokoh telah muncul.

One thought on “Estetika Kritik Populer”

Comments are closed.