Dongeng Manusia dan Monyet

Novel keempat Eka Kurniawan ini dikemas setengah fabel. Karena tokoh-tokohnya terdiri dari hewan dan manusia, bahkan benda-benda mati. Mereka hidup di dunianya masing-masing tapi saling bersinggungan. Secara cerdik pengarang berhasil menghubungkan secara selaras alur dunia hewan dan alur dunia manusia. Kedua alur ini serupa cermin bagi satu sama lain.

Memasuki novel terbaru pengarang yang masuk daftar The Man Booker International Prize 2016 ini kita laksana memasuki dunia yang riuh rendah oleh suara berbagai mahluk hidup. Suara manusia berbaur dengan suara kerabat-kerabatnya sesama mahluk hidup dari dunia hewan dan mahluk tak kasat mata. Mereka bersinggungan dan berinteraksi satu sama lain yang kadang bersilangan namun membentuk harmoni sekaligus kekacauan atau kekacauan dalam harmoni.

Dalam pusaran berbagai suara itu, kita seperti dibawa ke alam dongeng fabel untuk anak-anak yang agak nglantur, sepele, namun penuh petualangan berkelok-kelok, seru dan mengasyikkan. Suara manusia hanya bagian dari berbagai-bagai suara dari dunia monyet, burung kakak tua, anjing, tikus, pistol revolvers, bahkan bekas kaleng sarden. Dengan menghadirkan begitu banyak tokoh dari berbagai mahluk hidup seperti monyet yang bercakap-cakap dengan anjing dan tikus serta jenis hewan lainnya, Eka terkesan bermain-main.

Namun dalam bermain-mainnya, dalam kenglanturannya, secara sengaja atau tidak, Eka agaknya sedang menyodorkan semacam alegori ihwal mendasar tentang mahluk hidup; bahwa hidup adalah sesederhana atau serumit perkara siapa memakan siapa. Sebuah alegori yang terumuskan dalam teori homo homini lupus yang dicetuskan filsuf Yunani yang hidup 195 Sebelum Masehi.

Dari kerangka ihwal kejadian mahluk hidup dan bagaimana mereka mempertahankan hidupnya novel ini berpijak dan menggelindingkan banyak alur dengan karakter-karakter yang berasal berbagai mahluk hidup dan peran mereka semua penting bagi alur utama novel. Mereka berpendar dengan kisah dan dunianya masing-masing namun bermuara kepada satu bangunan kisah utama yang penuh kejutan.

Seluruh mahluk hidup di bumi berasal dari ikan. Teori ini dilontarkan O, seekor monyet betina yang ingin menjelma jadi manusia. Dan, suatu ketika monyet akan menjelma jadi manusia. Inilah yang diyakini O, sekaligus menjadi premis novel “O”, karya mutakhir pengarang yang masuk daftar The Man Booker International Prize.

Klaim sepihak
Novel ini secara bermain-main seperti hendak meledek manusia yang secara sepihak mengklaim sebagai mahluk utama dan paling mulia di muka bumi. Pada kenyatannya, manusia justru gemar berperang, saling memangsa, untuk mempertahankan hidupnya; sedangkan di dalam dunia hewan mereka justru hidup rukun, saling menyayangi, dan menasihati dalam kebaikan. Bagi para pemburu pesan, inilah barangkali yang dapat dipetik. Tapi kita tahu Eka bukan jenis penulis yang gemar menyampaikan pesan melalui karyanya.

Kisah O dan Entang Kosasih dalam dunia monyet serupa cermin dari drama kehidupan seorang gadis O yang bekerja sebagai penjual jasa phone seks dan Kaisar Dangdut Entang Kosasih di dunia manusia. Dua kisah dari dua pasang mahluk hidup yang berbeda spesies ini bersilangan lalu bersinggungan dalam jalinan peristiwa yang melibatkan drama dan tragedi yang mengharukan sekaligus kocak.
O, demi mimpinya menjadi manusia supaya dapat bertemu dengan Entang Kosasih, kekasihnya, yang dia yakini telah menjelma jadi manusia dan berprofesi sebagai kaisar dangdut , rela menjalani apa saja sekalipun nyawa taruhannya.

Bagi O, untuk menjelma jadi manusia, seekor monyet harus menjalani latihan meniru semua tingkah laku manusia sebagaimana dikatakan Entang Kosasih yang tewas ditembak seorang polisi. Sobar, polisi yang menembak Entang Kosasih, melampiaskan dendam atas kematian kawannya di tangan Entang Kosasih sebelum monyet bergajulan itu hilang dan diyakini O menjelma jadi manusia.

Dan tak ada cara lain untuk mencapai itu selain menjadi sirkus topeng monyet. O mengorbankan kebebasannya ke tangan seorang pawang sirkus topeng monyet bernama Betalumur yang kadang memperlakukannya dengan kejam. Ketika si pawang menghilang dibunuh kawanan preman, O berusaha keras mencari tuannya yang tentu saja tidak pernah ketemu. O kemudian mengabdi kepada sepasang pemulung, dan berakhir dengan seorang banci pengamen bernama Mimi Jamilah. Mimi berjanji kepada O mempertemukannya dengan Kaisar Dangdut Entang Kosasih.

Eka barangkali terlalu serius bermain-main atau bermain-mainnya kelewat serius, sehingga agak terkesan kurang sinkron dalam meletakkan setting waktu pada cerita yang disusunnya. O dalam dunia monyet hidup di Jakarta pascakerusuhan Mei 1998. Bersama sang pawang dan sepasang pemulung, O tinggal di sebuah gedung bekas terbakar yang tak terpakai akibat peristiwa kerusuhan Mei 1998. Ini tidak ada masalah.

Sementara O dan Entang Kosasih di dunia manusia juga hidup di Jakarta, sekitar masa sesudah reformasi. Sejak awal kemunculan Entang Kosasih Si Kaisar Dangdut ingatan kita akan langsung digiring kepada Raja Dangdut yang kita kenal di dunia nyata, Rhoma Irama. Penutur menjelaskan karakter Entang Kosasih, sebagai… Meskipun ia menciptakan dan memainkan lagu berirama dangdut, kocokan gitarnya banyak terpengaruh oleh music hard rock klasik. Ia mendengarkan Deep Purple, Led Zeppelin, juga Pink Floyd. Kocokan gitarnya lebih terdengar seperti hard rock, tapi mereka tetap mengenali irama dangdut di sana. (hal 335).

Raja Dangdut Rhoma Irama sebagai identifikasi Kaisar Dangdut Entang Kosasih juga dijelaskan dalam keterangan bahwa Entang Kosasih gemar berdakwah melalui syair-syair lagunya. Suatu hari
Entang Kosasih membuat kekacauan di sebuah pub di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, ketika dia tampil menyanyi. Dia meloncat dari meja ke meja, dan berseru “Tidakkah kalian tahu mabuk merupakan kelakukan setan? Dan berdepe-dempetan dengan pasagan yang bukan istri atau suami, apalagi di ruangna remang-remang seperti ini, merupakan perbuatan nista?” (hal 336).
Pada masa sesudah reformasi, Raja Dangdut Rhoma Irama sebagai identifikasi Entang Kosasih, tidak lagi lajang dan sudah melewati karir puncaknya sebagai Raja Dangdut.

Tetapi tentu saja ini hanya sebuah tafsiran saya sebagai pembaca, sekalipun berdasarkan petunjuk penutur sendiri. Namun ketidaksinkronan setting waktu tokoh Entang Kosasih ini tentu saja tidak terlalu berpengaruh bagi kenikmatan membaca novel yang kaya dengan ihwal filsafat tentang manusia ini. Karena bagaimana pun toh ini fiksi.

Oleh Aris Kurniawan, Jawa Pos, 10 April 2016.