Cinta Tak Ada Mati dan Gelak Sedih

oleh Sjaiful Masri, Sriti.com

Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya
Gramedia Pustaka Utama, 2005

Ibarat buah manggis, saya mengenal Eka Kurniawan berdasarkan cerita-cerita banyak orang. Jadi, kini saatnya saya ingin menebaknya… Maman S. Mahayana ‘mengundang’ saya untuk masuk dalam pertaruhan novel Cantik itu Luka. Saya ingin merasai bagaimana rasanya ‘air bah’ yang dimaksudnya itu… Yang saya temui adalah sebuah solmisasi, tangga nada yang harmonisnya bisa dirinci. Atau tepatnya tarot yang terkocok acak yang kemudian menyimpan risalah panjang yang asyik untuk dimainkan… Saya berbeda selera dengan Maman. Tebakan saya meleset. Air bah itu hanya berpusar pada ruang kepalanya, bukan Tsunami semesta.


Masuk kepertaruhan kedua, saya bermain-main dengan Lelaki Harimau, yang menata gaya psikologis, setingkat lebih mapan dari sejumlah karya-karya Bagus Takwin. Jika Takwin bermain dalam efek emprik dunia psiko-dramatis, Eka menyempurnakannya dengan kesadaran empirik. Dunia psikologis menyublim dalam rationale. Siapa yang bilang ini realis-magis?

Pimpinan kami, Editor website ini menjerit-jerit, “Bahas ini. Spektakuler! Masa depan cerpenis kita!! Saatnya cerpenis tua pamit panggung…..!!” Bla bla bla bla…. Mengapa begitu banyak orang salah tangkap, tegang sendirian, over-acting, berharap meluap-luap dengan sebuah karya. Bukankah penulis itu punya dedikasinya sendiri?

Kali ini Seno Gumira Ajidarma menuntaskan ‘tebak-tebak buah manggis’ saya pada Eka. Dalam Cinta tak ada Mati, Seno membubuhi komentar “Cerita-cerita ini ditulis dengan suatu bakat dan semangat pencanggihan yang tinggi…Kita pantas meletakkan harapan atas masa depan sastra Indonesia kepada para penulis muda seperti Eka Kurniawan…” Saya tidak membaca nada kecemasan Seno dibalik pujian itu. Efek yang tersisa adalah, bila saja kenyataan yang menganga kemudian akan melahirkan masa depan yang sunyi… Jika dibandingkan cerpenis seangkatannya, dalam amatan kecil kami di Sriti.com, dalam kurun enam bulan terakhir, Eka termasuk cerpenis yang ‘malas’. Saya tidak mau lagi main tebak-tebakan.

***

Dua buku karya Eka Kurniawan berbarengan muncul di pasaran. Seakan idiom lawas dunia dagang buku kalau ‘dua buku muncul berbarengan itu akan saling ‘membunuh’ dalam pasaran’. Setahun silam, ketika Cantik itu Luka edisi re-print dan Lelaki Harimau muncul berbarengan, dan kini terulang Gelak Sedih serta Cinta tak ada Mati bak bayi kembar brojol dalam rak toko buku; barangkali Eka bukan lagi masa depan sastra Indonesia, mungkin, ia juga telah menjadi pembukti dunia dagang buku mutakhir. Betapa kuatnya penetrasi pasar dunia dagang buku sastra kita saat ini….

Membaca Gelak Sedih, saya justru melihat kalau Eka adalah pengarang yang sangat realistis. Ia dengan sadar melihat dunia kepengarangannya harus ditopang mekanisme yang mumpuni. Ia memilih penerbit besar seperti Gramedia Pustaka Utama bukan tanpa alasan. Gelak Sedih membuktikan keampuhan itu. Gelak Sedih adalah edisi re-package dari kumpulan cerpen terdahulunya, Corat-coret di Toilet yang kemudian ditambahkan sembilan cerpen baru. Hemat saya, inilah proyek yang sesungguhnya, Cinta tak ada Mati segar karena 13 cerpen yang baru dirampaikan dalam bentuk buku.

Kehadiran dua buku kumpulan Eka Kurniawan ini seperti ingin menyemangati dunia cerpen koran kita yang riuh dengan kritik. Membaca Eka adalah membaca gaya sebuah cerpen. Eka membuat segala bentuk penyajian itu menjadi cair. Eksplorasi tak sebatas bagaimana menghadirkan realis-magis made in Indonesia- yang mesti diakui, ia melonggarkan diri dari segala jenis pengaruh sastra dunia. (Saya kecolongan komentar ini, karena toh, Agus Noor sudah membubuhi duluan dalam sampul belakang Gelak Sedih. Bla bla bla bla…Saya tidak akan menambah jumlah gunung pujian yang ditulis Oka Rusmini, Agus Noor, Seno, dan juga Djenar Maesa Ayu… saya punya yang lain tentang dia…)

Dua buku ini sangat dianjurkan untuk dimiliki, bukan hanya karena sosok Eka Kurniawan yang masuk sebagai cikal masa depan sastra kita. Dua buku ini menyajikan kompilasi lengkap Eka Kurniawan sebagai cerpenis. Perjalanan awal yang didudu secara lengkap. Dan yang terunik adalah ‘gaya’ dia menyajikan cerpen koran ke dalam bentuk buku perlu digarisbawahi.

Ia bertindak sebagai kreator.

Dalam kedua buku ini tidak terdapat detail sumber sejarah penerbitan cerpen. Sebagai buku, referensi ini juga bisa menimbulkan efek jualan. Tapi, Eka memilih sikap praktis. Ia kelihatan ingin melahirkan cerpen-cerpen koran-nya sebagai karya ‘baru’.

Eka mengolah lagi proses editingnya, mengganti judul, ‘menambal’ sejumlah kebocoran yang sempat terjadi saat cerpen tersebut dimuat di media massa, menimbulkan mood baru dengan sejumlah garnish, dan keberanian untuk menunjukan sikap. Jika dalam versi cetak cerpen Pengakoean Seorang Pemadat Indis yang pernah dimuat di Media Indonesia (6 Februari 2005) itu tercetak dengan ejaan familiar (EYD?), maka ketika cerpen tadi tampil dalam kumpulan Cinta tak ada Mati, Eka menampilkan teks-nya dalam ejaan zaman baheula. Saya suka caranya menyiasati prosedural sastra koran kita.

Saya tidak sedang ‘main tebak-tebakan buah manggis’. Saya sedang mencoba mengingat-ingat seorang Eka Kurniawan.

2 thoughts on “Cinta Tak Ada Mati dan Gelak Sedih”

Comments are closed.