Publishers Weekly Review: Beauty Is a Wound

At the beginning of this English-language debut from Indonesian author Kurniawan, Dewi Ayu, who was once the most respected prostitute in the fictional coastal town of Halimunda, rises from her grave after being dead for two decades. She’s returned to pay a visit to her fourth daughter, Beauty, who is famously ugly. What follows is an unforgettable, all-encompassing epic of Indonesian history, magic, and murder, jumping back to Dewi Ayu’s birth before World War II, in the last days of Dutch rule, and continuing through the Japanese occupation and the mass killings following the attempted coup by the Indonesian Communist Party in the mid-1960s. Kurniawan centers his story on Dewi Ayu and her four daughters and their families. Readers witness Dewi Ayu’s imprisonment in the jungle during the war, a pig turning into a person, a young Communist named Comrade Kliwon engaging in guerrilla warfare, and a boy cheating in school by asking ghosts for help. Indeed, the combination of magic, lore, and pivotal events reverberating through generations will prompt readers to draw parallels between Kurniawan’s Halimunda and García Márquez’s Macondo. But Kurniawan’s characters are all destined for despair and sorrow, and the result is a darker and more challenging read than One Hundred Years of Solitude. There is much physical and sexual violence, but none of it feels gratuitous—every detail seems essential to depicting Indonesia’s tragic past. Upon finishing the book, the reader will have the sense of encountering not just the history of Indonesia but its soul and spirit. This is an astounding, momentous book. (Sept.)

From Publishers Weekly, 8 June 2015.


Psikoanalisis dalam “Cantik Itu Luka”

Cantik itu Luka
Gramedia Pustaka Utama, 2002, 2004, 2006, 2012, 2015

Psikoanalisis Cil

Ini merupakan artikel karya Yeni Yulianti, alumni Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma. Tulisan ini diterbitkan di Sintesis Vol. 5 No. 2, Oktober 2007.

Artikel juga bisa didownload di Scribd saya, atau di situs Universitas Sanata Dharma.



Ketika Kecantikan Terluka

Oleh Bagus Purwoadi, Aksaraloka
Cantik itu Luka
Gramedia Pustaka Utama, 2002, 2004, 2006, 2012, 2015

Bermula dari komentar di sampul belakang novel: “It is nice that, after half a century, Pramoedya Ananta Toer has found a successor…..”-Benedict R. O’G Anderson, New Left Review, saya mulai membaca novel Eka Kurniawan: Cantik itu Luka. Ya, Pramoedya, sepertinya, memang sering dijadikan sebagai patokan untuk menilai seberapa bagusnya sebuah karya sastra lokal—dan menurut saya itu pantas. Sekarang bagaimana dengan Cantik itu Luka-nya Eka Kurniawan?

Bagian pertama, saya dikejutkan oleh kisah seorang pelacur yang bangkit dari kubur! Wah! Apa-apaan ini! Mistisisme? Takhayul? Pada mulanya saya kira ini adalah novel sejarah. Bagaimanapun, Pram dan sejarah itu tidak bisa dipisahkan, sedang Pram dan takhayul itu, sebaliknya, tidak bisa disatukan, bagaikan minyak dan air! Saya kira penulis review di atas ngawur! Tapi tunggu! Eka Kurniawan menuturkan kebangkitan sang pelacur dari kematian seperti ia bercerita tentang kambing tetangga sebelah yang beranak cempe berkepala dua. Aneh, ajaib, tak wajar, tapi ada, dan tak perlu jadi takhayul, tak perlu dituturkan secara berlebihan, dan menjadi sassus yang menyesatkan, anggap saja itu sebagai sirkulasi menyimpang dari kehidupan, agar tak jenuh. Dan semakin lama, gaya tuturnya semakin membuat saya terpaku.

Continue reading Ketika Kecantikan Terluka



Perjuangan Terbelenggu, Kecemasan Alamanda

Perjuangan Terbelenngu Kecemasan Alamanda

Makalah ini judul aslinya adalah “Sebuah Analisis Psikologi Sastra: Perjuangan Terbelenggu, Kecemasan Alamanda dalam Cerpen Dongeng Sebelum Bercinta Karya Eka Kurniawan“. Ditulis oleh Avesina Wisda Burhana, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta. Makalah ditulis pada 2 Januari 2012.

Makahal bisa juga diunduh di arsip Scribd saya.



Estetika Kritik Populer

Oleh Surli Tania
Cantik itu Luka
Gramedia Pustaka Utama, 2002, 2004, 2006, 2012, 2015

Sinopsis

Novel Cantik Itu Luka berlatar pada masa pendudukan Belanda di Indonesia hingga masa setelah kemerdekaan. Novel ini bercerita tentang seorang gadis Indo-Belanda bernama Dewi Ayu. Dewi Ayu adalah seorang anak yang cerdas, memiliki rambut hitam panjang, kulit putih, dan mata biru. Saat desanya, Halimunda, dikuasai tentara Jepang, Dewi Ayu dipaksa menjadi pelacur karena kecantikannya, dan pekerjaanya sebagai pelacur berlanjut hingga akhir hayatnya.

Dari pekerjaannya tersebut, Dewi Ayu dikaruniai 3 anak perempuan yang mewarisi kecantikan ibunya yang kesemuanya tidak diketahui siapa bapaknya. Dewi Ayu beserta ketiga anaknya kerap menemui tragedi dalam kehidupan mereka yang diakibatkan kecantikan yang mereka miliki. Dikarenakan hal tersebut, pada kehamilannya yang keempat, Dewi Ayu berharap anak bungsunya terlahir buruk rupa agar tidak mengalami tragedi yang sama seperti yang dialami ibu dan kakak-kakaknya, dan doa tersebut dikabulkan Tuhan; anak bungsunya terlahir buruk rupa dan ia beri nama Cantik.Walaupun terlahir buruk rupa, kehidupan Cantik tetap dipenuhi tragedi seperti yang dialami ibu dan ketiga kakaknya. Bagi Dewi Ayu dan anak-anaknya, cantik bukanlah anugerah tapi cantik itu luka.
Continue reading Estetika Kritik Populer



Skripsi Wiwik Hidayati Tentang “Cantik itu Luka”

Cantik itu Luka
Gramedia Pustaka Utama, 2002, 2004, 2006, 2012, 2015

Skripsi “Cantik itu Luka” karya Wiwik Hidayati (Undip)

Judul lengkap skripsi ini adalah “Pengaruh Dominasi Penjajah atas Subaltern dalam Novel ‘Cantik itu Luka’ Karya Eka Kurniawan: Analisis Berdasarkan Pendekatan Poskolonialisme”. Ditulis oleh Wiwik Hidayati, untuk S1 Ilmu Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Diponegoro, 2008.

Skripsi ini bisa didownload di sini.



Yang Melukai Halimunda, Kerabat Macondo Itu

oleh Berto Tukan, Kecoa Merah
Cantik itu Luka
Gramedia Pustaka Utama, 2002, 2004, 2006, 2012, 2015

Tentu judul di atas akan mengingatkan anda pada dua novel tebal yang sempat menarik perhatian para penikmat sastra dan buku itu. Ya benar! Macondo adalah sebuah kota imajiner dalam Seratus Tahun Kesunyian (STK) karya Gabriel Garcia Marquez dan Cantik Itu Luka bold (CIL) karya Eka Kurniawan berkisah di Halimunda. Tentu sudah sering kedua tempat ini dan kedua karya ini dibahas dalam berbagai kaca mata pembacaan. Karya sastra memang tak pernah bisa habis untuk dibahas.

Lihatlah Layar Terkembang, Romeo dan Juliet, atau Madame Bovary. Apakah ketiganya sudah bosan diperbincangkan? Menurut hemat saya tidak. Kreatifitas pengarang bisa dipandang sebagai kerja tanpa sadar untuk mengungkapkan sesuatu yang tidak disadari pula. Jadi, karya sastra mengungkapkan sesuatu yang tak disadari dalam keadaan yang tak sadar (Kutha Ratna, 2008). Di sinilah peran pembacaan atas karya sastra nampak; mencari yang tak disadari sebagai hasil kerja yang tanpa sadar pula.
Continue reading Yang Melukai Halimunda, Kerabat Macondo Itu



Bi wa Kizu and the Image of Cultural Globalization in Contemporary Japan

A Case Study of an Indonesian Novel Translation

by Indah S. Pratidina, ispdina.blogspot.com

Japan’s role in globalizing Asia has been widely recognized. Ever since the 1990’s, Japan has been exporting waves of it’s cultural products such as anime or animated films, television dramas, music, manga or comics, novels, and so on. These spreads of cultural products across the borders of Asia have sprung new hope for Japan’s relationship with other Asian countries. Through the consumption of Japan’s cultural products, it can promote cultural dialogue, and hopefully Japan can overcome its unfortunate history with the rest of Asia, especially regarding to the World War II.
 
However, globalization not only demands an integration of cultural diversity in the global community. It also reflects peoples’ (nations’) needs to develop a strong self or cultural identity (ies). In this light, one can see that Japan is not only an exporter of media. Rather, Japan has also been receiving various media from other Asian countries; such as Korea with its television dramas.
Continue reading Bi wa Kizu and the Image of Cultural Globalization in Contemporary Japan



Cantik Itu Luka Sebuah Terobosan Literer

oleh Titon Rahmawan, langitkubiru.blogspot.com
Cantik itu Luka
Gramedia Pustaka Utama, 2002, 2004, 2006, 2012, 2015

Bagi saya, “Cantik Itu Luka” karya Eka Kurniawan adalah merupakan sebuah terobosan literer di dalam khazanah sastra Indonesia. Cukup lama saya merasa tak mendapatkan kepuasan optimum setiap kali selesai membaca sejumlah novel-novel karya penulis asli Indonesia, yaitu semenjak terakhir kali saya membaca “Olenka” karya Budi Darma. Dan baru kali ini saya memperoleh kembali kenikmatan itu, setelah saya menyelesaikan pembacaan saya yang kedua kalinya atas “Cantik Itu Luka.”

Menarik untuk dicermati, bahwa “Cantik Itu Luka” adalah sebuah novel yang menawarkan begitu banyak alternatif kemungkinan pembacaan, dan oleh karena itu ia jauh dari kata membosankan. Ia tidak saja menawarkan sebuah fiksi dengan latar sejarah yang digarap dengan pendekatan yang cukup komprehensif, namun juga didukung oleh resensi dan riset penulisan yang cukup lengkap.
Continue reading Cantik Itu Luka Sebuah Terobosan Literer



Novel “Cantik itu Luka” – Eka Kurniawan

oleh Wannofri Samry, Riau Pos
Cantik itu Luka
Gramedia Pustaka Utama, 2002, 2004, 2006, 2012, 2015

Novel Cantik Itu Luka (2004) karya Eka Kurniawan bercerita mengenai keluarga besar Ted Stamler, seorang Belanda yang malang-melintang bekerja sebagai pejabat di akhir masa kolonial Belanda di Halimunda. Tempat itu adalah sebuah kota yang dilukiskan pengarang sebagai tempat menarik, penuh mitos dan begitu penting di ujung masa kolonial.

Tokoh sentral dalam novel ini adalah Dewi Ayu, anak Aneu Stamler atau cucu Ted Stamler. Dewi Ayu adalah anak perkawinan luar nikah dari dua bersaudara lain ibu. Namun kedua orang tua Dewi Ayu, Henri Stamler dan Anue Stamler meninggalkan Dewi Ayu begitu saja di depan pintu rumahnya dan mereka pergi angkat kaki ke negeri Belanda. Inilah awal kisahnya.
Continue reading Novel “Cantik itu Luka” – Eka Kurniawan