Merayakan Pembacaan

”Aku menemukanmu dalam pelarian,” tulis Intan Paramaditha dalam pembukaan cerita pendek “Mak Ipah dan Bunga-Bunga”, (Sihir Perempuan, Kata Kita, 2005).

Perhatikan dengan saksama kalimat pembuka itu. Siapa yang sedang dalam pelarian? Aku atau kamu, atau keduanya? Kalimat yang tak memberi kepastian apa pun seperti itu dengan mudah kita temukan dalam hampir setiap buku kumpulan cerpen atau novel yang datang dari para penulis generasi paling mutakhir.

Perhatikan pula satu cuplikan kalimat dari cerpen “Cakra Punarbhawa” Wayan Sunarta (Cakra Punarbhawa, Gramedia Pustaka Utama, 2005) ini: ”Suka bercengkerama dengan ikan, ombak, rasi biduk dan perahu.” Siapa yang suka bercengkerama dengan ikan, ombak, rasi biduk dan perahu? Guru bahasa kita yang baik di sekolah pasti akan mencoret kalimat seperti itu, sebagaimana mungkin akan dilakukan oleh editor-editor terbaik kita. Kalimat tanpa subyek dianggap bukan kalimat yang baik. Tapi, benarkah kalimat-kalimat tak lengkap seperti itu tak termaafkan sama sekali?
Continue reading Merayakan Pembacaan



Sikap Lirik

Sikap lirik dari aku narator barangkali lazim dalam satu pembacaan puisi, dan jarang dilakukan dalam pembacaan prosa. Tapi saya ingin melakukannya untuk pembacaan atas tiga kumpulan cerpen Puthut EA, Sebuah Kitab yang Tak Suci (2001), Dua Tangisan pada Satu Malam (2003), dan Sarapan Pagi Penuh Dusta (2004). Tentu bukan lantaran cerpen-cerpen ini gagal sebagai “cerita”, namun lebih didorong oleh asumsi, yang semoga tidak sembrono, bahwa setiap prosa mestinya juga suatu puisi yang menggantikan kata-kata dengan deretan peristiwa-peristiwa. Begitu seringnya penulis ini mempergunakan protagonis orang pertama semakin menyiratkan bahwa cerpen-cerpen ini serupa puisi yang menemukan bentuknya dalam “sejenis” prosa cerita pendek.

Istilah itu sendiri saya pinjam dari bagian postscript novel Life is Elsewhere Milan Kundera. “Sikap lirik,” tulisnya, “merupakan sikap terpendam manusia. Puisi lirik sebagai sebuah genre sastra telah hidup lama, sebab selama itu pula manusia telah mampu bersikap lirik. Penyair merupakan personifikasi dari sikap lirik itu sendiri.” Jika sikap lirik bisa ditemukan dalam puisi, mestinya dapat pula ditemukan dalam prosa. Sikap lirik itu barangkali sejenis pelampahan dalam Cervantes, keriuhan dalam Dostoevsky, sistem kebingungan dalam Borges, atau kegelandangan dalam Iwan Simatupang, untuk menyebut seorang penulis lokal.
Continue reading Sikap Lirik



Katak dalam Matryoshka

“Sesungguhnya, setiap di antara kita para katak menciptakan tempurungnya sendiri.”

Bahkan seandainya kita para katak terbebas dari dunia tempurung, bukankah kita akan menemukan diri di tempurung yang lain, semisal batok kelapa lain, atau sesuatu yang lebih besar yang menjadi tempurung bagi katak dan batok kelapa?

Demikianlah saya bertanya-tanya apakah sejarah sastra nasional merupakan tempurung bagi para katak yang bersibuk menyebut diri pekerja sastra nasional? Apakah jika seseorang terbebas dari tempurung bernama puncak-puncak pencapaian Idrus, Pramoedya Ananta Toer, dan Iwan Simatupang serta mencoba ‘keluar batas’ lantas terbebas pula dari tempurung lain? Tempurung itu barangkali el-boom Amerika Latin: Octavio Paz, Jorge Luis Borges, Gabriel Garcia Marquez, Julio Cortazar? Tempurung itu barangkali suara baru Asia: Mo Yan, Haruki Murakami, Arundhati Roy? Atau sastra klasik Rusia: Gogol, Tolstoy, Dostoevsky? Bahkan tempurung itu bisa jadi sebuah wadah yang mengurung mereka semua dan bernama ‘sastra dunia’?
Continue reading Katak dalam Matryoshka



Hidup untuk Berkisah

Ibu memintaku pergi bersamanya untuk menjual rumah. Ia datang pagi itu dari sebuah kota di mana keluarga kami tinggal, dan tak tahu bagaimana menemukanku. Ia bertanya pada beberapa kenalan dan diberitahu untuk mencariku ke Libreria Mundo, atau di kafe-kafe sekitar, tempat aku ke sana dua kali sehari untuk ngobrol dengan teman-teman penulis. Seseorang yang memberitahunya mewanti-wanti: “Hati-hati, sebab mereka semua tak punya otak.” Ia datang tepat pukul dua belas. Dengan langkah ringannya ia berjalan di antara meja tempat buku dipajang, berhenti di depanku memandang ke mataku dengan senyum nakal masa-masa bahagianya, dan sebelum aku bisa menanggapi ia berkata:

“Aku ibumu.”

Continue reading Hidup untuk Berkisah