Membaca Pose

Di pembukaan film Tropical Maladies Apichatpong Weerasethakul, ada adegan beberapa prajurit membunuh seseorang di padang rumput. Sambil mengerumuni mayat tersebut, para prajurit itu kemudian berpose, dan seseorang mengambil gambar mereka dengan kamera. Yang menarik dari pose mereka adalah, para prajurit itu tak memperlihatkan ekspresi teror apa pun setelah membunuh dan menghadapi mayat. Mereka bahkan terkesan sedang memamerkan suvenir yang diperoleh dari satu perjalanan. Dan itu terekam melalui pose mereka. Dengan kata lain, kita membaca apa yang ingin dikatakan orang di selembar foto, terutama melalui posenya di foto tersebut.

Satu hari, di linimasa twitter, saya melihat foto seorang gadis remaja dengan posisi lidah sedikit terjulur dan mulut sengaja dibikin cemberut, dan wajah mendongak ke atas. Segera saja saya sadar, pose semacam itu banyak bertebaran dimana-mana: di album foto facebook, di blog, bahkan di halaman majalah remaja. Kita tak tahu siapa yang memulai gaya seperti itu, barangkali hanya dalam waktu singkat, semua remaja melakukannya.

“Masa depan milik kerumunan,” kata Don DeLillo dalam novel Mao II. Saya pikir ini ada benarnya. Bahkan dalam kesendirian seseorang berpose di selembar foto, ia barangkali telah menjadi bagian dari sebuah kerumunan yang besar. Kerumunan orang-orang yang berpose sama. Continue reading Membaca Pose



Tetralogi Buru dan Novel ‘Modern’

Tetralogi Buru bisa dibilang merupakan satu upaya Pramoedya Ananta Toer untuk menjawab apa itu menjadi Indonesia. Di akhir tahun 50an, ketika perkara menjadi Indonesia sedang hangat, jika tak bisa dikatakan panas, ia mulai memikirkan satu seri novel yang bisa mencari dan melacak jejak-jejak nasionalisme Indonesia.

Jawaban Pramoedya adalah kembali ke akhir abad 19 hingga awal abad 20. Itulah memang masa subur benih-benih nasionalisme Indonesia mulai disemai dan bertunas. Dalam hal ini, Pramoedya berhasil menemukan tokoh ideal anak kandung semangat ini: Tirto Adhi Soerjo. Bukan politikus yang kelak menjadi presiden pertama semacam Soekarno, atau aktivis kiri yang bergerak tanpa batas geografis semacam Tan Malaka, tapi seorang wartawan sekaligus penulis roman.
Continue reading Tetralogi Buru dan Novel ‘Modern’



Asrul Sani: Puisi Gigantis dan Cerpen Rumah

Melalui kajian puisi dan cerpen Asrul Sani yang nisbiah jarang jumlahnya dibandingkan dengan esainya, terlihat bahwa cerpen-cerpen Asrul adalah cerpen ide, puisi-puisinya sarat dengan beban ide.

Dalam sepucuk esainya mengenai puisi Angkatan 45, atau dengan ungkapannya disebut sebagai generasi saya sendiri, Asrul Sani menulis: “Kita harus sampai pada puisi ’gigantis’ yang menyeluruh—sebagai imbangan dari robekan-robekan sepintas lalu yang diberikan emosi—yang mempunyai sumber pada serba manusia, serba hidup yang tak terbatas pada dunia. Dalam puisi ini emosi hanya pendorong ’perasaan’ yang dialami penyair untuk dirasakan penikmat.”
Continue reading Asrul Sani: Puisi Gigantis dan Cerpen Rumah



Sejarah dalam Cerita Silat Kho Ping Hoo

“Raja yang memerintah di kerajaan Pajajaran (Pasundan) yang beribukota di Pakuan adalah Sri Baduga Maharaja yang disebut juga Ratu Dewata. Ratu Dewata memunyai seorang puteri yang terkenal sekali karena kecantikannya. Puteri ini bernama Diah Pitaloka Citraresmi …” Begitulah gaya khas Asmaraman S Kho Ping Hoo memberi latar sejarah dalam kisah fiksinya, Satria Gunung Kidul.

Sudah menjadi kecenderungan novel silat untuk mendasari kisahnya pada kurun peristiwa sejarah tertentu. Nagasasra Sabuk Inten SH Mintaraja dan Senopati Pamungkas Arswendo Atmowiloto mengambil latar Mataram. Tutur Tinular S Tidjah berbayang puncak kejayaan Singasari.
Continue reading Sejarah dalam Cerita Silat Kho Ping Hoo



Melankoli Marquez

Sepuluh tahun lalu, dalam cerita pendek berjudul “Sleeping Beauty and the Airplane”, Gabriel Garcia Marquez membayangkan naratornya sebagai seorang feodal Jepang yang keranjingan melihat perempuan cantik sedang tidur. Seketika saya menyadari rujukan yang dimaksudnya adalah tokoh-tokoh dalam kebanyakan novel Yasunari Kawabata. Dan melihat gaya lirisisme di cerita pendek itu, serta cara pandang atas tubuh perempuan, saya juga mulai merasa ia terobsesi kepada gaya neosensualisme penulis besar Jepang tersebut. Puncak obsesinya, saya pikir bisa dilihat di novel terbarunya, Memories of My Melancholy Whores.

Obsesi itu mungkin sudah terasa sejak Love in the Time of Cholera, meski di sana ia masih memperlihatkan kecenderungan dari masa sebelumnya.
Continue reading Melankoli Marquez



Obituari (Proses Kreatif)

Tempat Kejadian Perkara

Lanskap pertama yang menarik perhatian saya, dan tak dipungkiri berangkali generasi pembaca seperti saya, adalah kota imajiner Macondo dalam One Hundred Years of Solitude Gabriel Garcia Marquez. Kota itu juga muncul di dua novela sebelumnya, Leaf Storm dan In the Evil Hours. Sebuah kota yang bisa segera dikenal dengan kebun pisangnya, gereja tempat tujuh anak Aureliano Buendia diberi tanda dari abu di kening mereka, dan rumah-rumah yang bercat putih serupa merpati.

Saya belajar mengenali Macondo lebih dulu daripada apapun yang ada di novel itu. Macondo boleh jadi merupakan tipikal kota kecil di Kolombia, modelnya mungkin Aracataca, tempat kelahiran Marquez. Tapi sejarah Macondo, bagi saya bukan semata-mata sejarah mengenai Kolombia, tetap juga sejarah sastra. Membaca Macondo akan membawa kita ke kota lain: Yoknapatawpha Coutry, Mississipi, Amerika bagian selatan. Penting untuk disebutkan: selatan, sebab
Yoknapatawpha County merupakan lanskap yang membedakan dirinya dengan kota-kota di bagian utara.

Yoknapatawpha adalah kota dengan perkebunan kapas yang terbengkalai, negro-negro, veteran perang saudara. Yoknapatawpha County merupakan kota imajiner dalam kebanyakan novel William Faulkner. Sejak saat itu saya selalu membaca banyak kota di banyak karya, imajiner maupun tidak. Ulysses James Joyce tak hanya merupakan kisah mengenai Bloom, tapi juga Dublin. The Hunchback of Notredame tak hanya tentang Si Bongkok, namun juga tentang Paris di masanya.

Saya membaca Praha di pertengahan abad lalu dalam novel-novel Milan Kundera, mencoba mengenalinya, dan coba membayangkan apa yang terjadi di sana dan memengaruhi hidup orang-orang yang mendiaminya. Saya mulai melihat bagaimana Yoknapatawpha dan Macondo melahirkan Gaoma County dalam novel Mo Yan Red Sorghum. Kita juga menemukan Cristantia (Sekarang Oslo, Norwegia) dalam Knut Hamsun, Hunger.

Saya bisa membuat daftar lumayan panjang. Dalam sastra kita, juga ditemukan Blora dalam Cerita dari Blora atau Perburuan Pramoedya Ananta Toer, sebagaiamana Surabaya di awal abad kedua puluh, dalam novelnya yang lain Bumi Manusia.

Sejak saat itu, saya menyadari bagi penulis-penulis agung ini, tempat dalam karya mereka jelas bukan sesuatu yang tidak penting. Tempat adalah dasar bagi mengapa peristiwa-peristiwa di dalamnya terjadi, dan alas bagi mengapa tokoh-tokoh di dalamnya bertindak. Dengan kata lain, kota berbeda akan memaparkan peristiwa yang lain dan menghasilkan tindakan berbeda dari para penghuninya.

Saya mulai berpikir, novel yang baik selalu perpaduan yang khas antara wadah dan isinya. Antara tempat dan para penghuninya.

Demikianlah saya mulai berpikir tentang tempat bagi tokoh-tokoh saya. Sebuah tempat dengan anatomi tertentu, dengan riwayat hidupnya sendiri, luka-lukanya, karnaval-karnavalnya. Sebuah tempat yang layak dan patut bagi peristiwa-peristiwa yang saya kisahkan bakal terjadi. Seperti Kyoto dalam novel The Old Capital Yasunari Kawabata.

Tersangka Pelaku

Don Quixote, bagi saya, tampak serupa pembunuh sejati. Siapa hari-hari ini yang masih mengenal Miguel de Carvantes Saavedra? barangkali hanya satu dari sembilan ribu orang yang mengenal Don Quixote mengenal Carvantes.

Penulis ideal, bagi saya, adalah yang mampu menciptakan pembunuh bagi dirinya sendiri. Lebih jauh, mengapa saya tertarik dengan tokoh serupa Don Quixote, sebab ia merupakan model bagi sastra modern secara umum: olok-olok mengenai yang nyata dan tidak, mengenai pengalaman dan ide, fakta dan fiksi. Dalam sastra modern, dialah yang berhasil mengocok semua itu dalam dirinya. Saya tak bisa membayangkan sosok yang lebih ideal itu.

Tapi selalu lebih rumit daripada yang dibayangkan para penulis. Setiap masa dan tempat memberikan karakter tertentu untuk tokoh-tokohnya. Kita bisa membayangkan awal modernitas melalui Don Quixote, tapi kita juga bisa mengenali absurditas hidup di jaman modern melalui tokoh-tokoh di novel Franz Kafka, yuppi, yang selalu diidentikkan dengan penulisnya. Barangkali karena tokoh-tokoh itu, yang saya maksud adalah karakter di The Trial dan The Castle yang memiliki inisial Josef K. dan K. Tapi jarang sekali kita mendengar Don Quixote disebuat sebagai orang Spanyol, atau K sebagai penduduk Praha, meskipun kenyataannya demikian.

Barangkali karena mereka melampaui tempat kaki-kakinya berpijak. Mereka terlalu bersar untuk wilayah-wilayah terpencil serupa itu, dan ini membuat saya kadang merindukan seseorang yang benar-benar berbaring di rumput, orang-orang yang tampak sepele.

Saya melihatnya antara lain di novel-novel Yasunawi kawabata. Lelaki Jepang yang pergi ke daerah salju untuk menamui seseorang geisha, seorang gadis Kyoto yang mendatangi perayaan musim semi dengan kimono, atau seorang penari dari Izu. Mereka adalah orang kebayakan, dengan nama-nama kebanyakan (Dan saya paling benci nama-nama tokoh di novel yang tak make sense). Akhir-akhir in saya juga menyukai mereka yang hadir di novel-novel Cina yang ditulis Mo Yan atau Su Tong. Saya membayangkan petani-petani sederhana, sosok biasa yang sama sekali tak istimewa, dalam The Garlic Ballads atau Rice.

Kesederhanaan mereka, dengan pakaian dan makanan, serta mungkin malah merupakan bagian-bagiana yang membuat kita mengubur hidup-hidup para penulis yang menciptakannya.

Di antara semuanya, Thomas Sutpen merupakan sosok yang tak pernah bisa saya lupakan. Ia muncul di Abslom, Absalom! William Faulkner. Sakit jiwanya merupakan gerusan sebuah masa yang busuk. Kesehariannya merupakan gambaran yang buruk, namun saya selalu akan mengenangnya sebagai memang begitulah, pembenci Yankee dari Selatan, tuan tanah dengan kejayaan yang mulai ambruk.

Dalam dirinya kita bisa membaca sebuah dunia secara lengkap. Dunia dalam dirinya dan dunia di luar dirinya. Sejenis karakter ideal yang barangkali dibayangkan Iwan Simatupang sebagai Tokoh Kita dalam novel-novelnya (tapi tak pernah berhasil) sebagai tokoh yang bisa mewakili seluruh umat dan ras manusia. Yang kita butuhkan adalah sosok serupa Sutpen, yang di wajahnya kita bisa membaca semesta.

Demikianlah, jika saya ingin menulis novel, saya ingin menghadirkan sosok-sosok dengan kepala yang menerawang, kaki yang melangkah di tanah, dan dada yang bergemuruh.

Metode

Seseorang mengatakan bahwa sebuah cerita adalah sebuah cerita. Cerita yang bagus, akan tetap bagus dengan cara apapun. Barangkali itu benar. Seperti sebuah rumah, dibikin seperti apapun, asal ia tetap memenuhi persyaratan sebuah rumah sebagai tempat berteduh dan berlindung, tetap sebuah rumah. Tapi saya pecinta arsitektur, sebuah seni yang tak memungkinkan sebuah rumah dibuat begitu saja. Seorang arsitek tak akan datang tiba-tiba dengan semen, pasir dan batu lalu membuat rumah. Mungkin ada yang begitu, tapi bagi saya tak menarik. Kalaupun menarik, barangkali rumahnya yang pertama. Rumah selanjutnya, berdasarkan pengalaman, jadi terasa membosankan.

Demikianlah saya tak tertarik menenteng alat tulis lalu tiba-tiba menulis sebuah kisah. Banyak penulis melakukannya, tapi saya tetap tak tertarik. Jack Keroac melakukannya, tapi hanya On the Road yang menarik perhatian saya. Sebab saya menyukai pekerjaan arsitektur, duduk berlam-lama memikirkan alasan-alasan mengapa sebuah jendela harus berdaun ganda, mengapa pilarnya dibuat dari kayu dan bukan beton, mengapa dapurnya dekat pintu depan. Sebab juru masak yang paling baik juga menggunakan resep.

Tentu saja saya tak akan melarang, dan tatap menaruh hormat, untuk juru masak yang akan memasukan bumbu mereka ke wajan, jika merka suka. Tapi sekali lagi, saya lebih tertarik memikirkan alasan mengapa harus memasukkan garam dan bukan merica, sebelum memasak.

Ulysses James Joyce barangkali merupakan arsitektur yang paling istimewa di abad kedua puluh yang baru lalu. Tapi kemegahannya, bagi saya, seringkali membuat tersesat di lorong-lorongnya. Yang bisa dilakukan hanyalah, masuk ke salah satu ruangan dan menikmati ruangan tersebut. Di hari lain kita duduk di sudutnya yang lain, dan hidup di sana. Untuk hidup serentak di seluruh ruangan, paling tidak bagi saya, menjadi sesuatu yang nyaris mustahil.

Demikianlah mengapa saya lebih menyukai ruangan kecil yang diciptakan oleh Jorge Luis Borges. Meskipun kisah-kisahnya relatif pendek, hanya beberapa yang panjang, membacanya segera kita tahu itu dibangun dalam sebuah sistem cara berpikir. Setiap bagian-bagiannya diletakkan dengan maksud tertentu, demi sebuah bangunan cerita dan ide. Dalam kisah “The Plot”, ia hanya menjejer dua paragraf. Yang pertama mengenai pembunuhan Julius Cesar oleh Brutus. Yang kedua kisah pembunuhan gaucho oleh seorang kepercayaannya.

Sebuah kisah adalah sebuah pola. Sebuah ide. Cerita “The Plot” mungkin sangat biasa, atau orang sudah mengetahui kisah tersebut. Tapi meletakkan dua kisah berdampingan, tentu itu pekerjaan seorang pemikir. Sebuah ide, sebuah seni bercerita sesungguhnya.

Novel-novel yang saya kagumi, sepengatahun saya, jelas bukan merupakan karya-karya kebetulan. Penciptaannya merupakan pekerjaan orang-orang metodis. Dalam novel- novel Gabriel Garcia Marquez, kita melihat bab-bab yang relatif sama satu sama lain. Dalam novel-novel Milan Kundera, kita menemukan pengulangan angka tujuh. Tujuh bab misalnya. Ia juga seorang yang sadar mengambil arsitektur musik dalam novelnya. Mengerti bagaimana membuat intro yang baik, memahami bagaimana irama yang menentukan kualitas ceritanya, dan tahu harus menutup novelnya dengan sejenis coda.

Di antara yang lainnya, Jose Samarago jelas merupakan yang paling keranjingan. Saya tak bisa membayangkan seandainya novel-novelnya ditulis dengan cara lain, akan menjadi seindah yang saya baca sekarang.

Barangkali begitulah sudut pandang saya mengenai bentuk dan isi. Mengenai kisah dan bagiamana kisah disampaikan. Saya tak akan pernah berani menyatakan kisah lebih penting daripada cara menyampaikannya, demikian pula sebaliknya.

Saya bukan seorang pembunuh yang peduli menghilangkan nyawa seseorang, tapi juga harus menyadari pembunuhannya. Seorang penulis, bagi saya, bukan seseorang yang membunuh karena terpaksa atau kebetulan. Ia mesti seorang yang memang dilahirkan untuk menikmati seni membunuh. Sorang penulis harus maniak. Ia mesti mencintai cara kerjanya, untuk menghasilkan akhir yang paling gemilang.

Bukti-bukti

Saya paling benci membaca kalimat serupa ini: ia lari ke sebuah lorong jalan yang di kiri-kanannya dipenuhi pepohonan. Saya selalu bertanya jalan apa? Pohon apa? Sama bencinya dengan membaca kalimat, bangun tidur ayam jantun berkokok. Apakah pengalaman semua orang di dunia bangun pagi selalu sama? Tak adakah yang bisa mengambarkan bangun tidur yang lebih personal? Detail tidak menuntut orang untuk bertele-tele dengan hal remeh. Novel sendiri, jelas merupakan novel yang buruk. Tapi sebuah kalimat yang mengatakan: ia berbelok ke Jalan Merdeka dan bersembunyi di bawah pohon-pohon mahoni, jelas memberi nilai kepercayaan lebih daripada sekadar lorong jalan dan pepohonan, tanpa harus membuatnya jadi larut dalam detail tak perlu.

Dalam Song of Solomon, Toni Morrison tidak asal memberi nama sebuah jalan sebabagi Not Doctor Street. Kisahnya berawal dari sebuah ruas jalan dimana seorang dokter negro tinggal di sana. Komunitas orang-orang negro di sekitar jalan itu kemudian menamai jalan tersebut sebagai Doctor Street, untuk mengingat si dokter, meski jalan tersebut sesungguhnya memiliki nama sendiri.

Masalah kemudian muncul ketika mulai banyak orang tinggal di sana dan menyebut Doctor Street sebagai alamat korespondensi mereka, yang ternyata membuat bingung pihak kantor pos. Pemerintah kota, yang didominiasi orang putih tentu saja, tak menyukai keadaan tersebut. Ia melarang orang menyebut jalan tersebut sebagai Doctor Street dan menempelkan pengumuman panjang di sepanjang loromg jalan bahwa This Is Not Doctor Street. Demikialah, komunitas orang negro, patuh pada perintah walikota sekaligus ngeyel, mulai menyebut jalan tersebut sebagai Not Doctor Street.

Sebuah detail kecil, tapi bisa memberikan sebuah wajah manusia-manusia. Ah, jangan berharap bisa menemukannya di novel-novel buruk yan ditulis penulis-penulis amatir (seperti saya ini, barangkali).

Sebuah fiksi adalah sebuah fiksi, kita mengetahui kebohongannya. Tapi dusta dalam fiksi, segila apapun, harus menyentuh kepercayaan pembaca. Sebab hanya dengan cara itu seseorang akan terus membaca dan terlibat secara emosional. Jika ada sebuah kalimat lima ratus ekor gajah melintas di Jalan Thamrin, barangkali tak seorang pun percaya dengan begitu mudahnya. Bandingkan dengan kalimat in: seratus dua puluh empat ekor gajah melintas di Jalan Thamrin. Separuh pembaca mungkin memercayainya, hanya karena angka yang tak terlalu genap cenderung lebih dipercaya untuk kasus serupa itu. Tapi perhatikan kalimat ini: seratus dua puluh empat ekor gajah melintas di Thamrin, Presiden SBY membuka sendiri acara karnaval bersama perwakilan dari WWF untuk Indonesia, saya yakin seluruh pembaca akan percaya, tak peduli peristiwa itu sungguh terjadi atau tidak.

Detail ini adalah pembuka menuju sebuah kepercayaan, dan kepercayaan akan menjadi kebenaran. Serupa itulah, dalam bayangan saya, bagaimana fiksi-fiksi yang baik selalu bekerja.

Kurban

Sekarang, izinkan saya mengisahkan diri sendiri. Saya dilahirkan dari banyak ibu, dan banyak ayah. Tapi satu orang yang pelu saya sebut pertama kali adalah penulis Norwegia, Knut Hamsun. Terima kasih kepadanya, yang telah memberi contoh untuk menjadi seorang tumbal dunia fiksi yang baik. Ketika pertama kali membaca Hunger, saya tahu saya akan menulis seolah tak ada hal lain yang saya ingin lakukan di dunia. Ia memberi pelajaran pertama pada saya untuk hidup: bernapas! Hunger merupakan napas saya. Saya selalu merasa sebagai seseorang yang tak bernama, berjalan di trotoar pelan-pelan Christania, memikirkan apa yang ingin saya tulis, dengan rasa lapar yang menyayat.

Pendidikan pertama saya adalah komik silat, yang saya baca diam-diam karena ayah saya dan sekolah melarang kami membacanya. Tokoh favorit saya adalah Pendekar Mabuk. Barangkali adaptasi novel dari Drunken Master. Saya membaca novel-novel silat dari Asmaraman S. Kho Ping Ho dan Bastian Tito. Saya juga, ya benar, penggemar novel-novel horor, yang ditulis Abdullah Harap. Tujuh Manusia Harimau (Motinggo Busye) saya baca di suatu masa yang sudah saya lupa, dan saya melihat filmnya di pertunjukan layar tancap, jika tak salah. Barangkali karena novel-novel semacam itu relatif mudah ditemukan di kota kecil serupa tempat saya tinggal.

Oh ya, saya menemukan Agatha Christie. Saya rasa sudah membaca seluruh edisi bukunya, dan percayalah tampaknya bisa membedakan bagaimana cara Mr Poirot dan Miss Marple dalam menyelesaikan kasus-kasus.

Menjelang umur dua puluhan, saya mulai belajar filsafat. Saya membaca Nietsche dan terkagum-kagum dengan gaya prosanya. Lihatlah cara ia menulis, selalu dalam bentuk aforisma-aforisma pendek yang indah. Saya belum pernah menemukan filsuf menulis dengan penuh gaya sepertinya. Tapi seperti kebanyakan borjuis kecil yang tak memperoleh kenyamanan hidup, saya mulai jatuh cinta dengan Hegel, dan setelah dari Hegel seseorang sangat mudah jatuh ke Marx dan Engels. Karena saya menyukai sastra, saya membaca George Lukacs. Dengan cara itulah saya dibesarkan.

Dan di bawah pengasuh-pengasuh seperti itulah saya menulis. Saya sendiri tak bisa membayangkan bagaimana akan jadinya seorang banyi yang diasuh Lukacs dan Kho Ping Ho, tapi saya membayangkan sesuatu telah terjadi pada diri saya.

Hingga datang waktu saya harus menyapih diri dari para pengasuh, bahkan dari para orang tua, dan mencari sendiri teman, kekasih, dan sekaligus musuh. Saya membaca buku apa pun yang bisa saya peroleh. Buku pengobatan maupun manual mengoperasikan telepon genggam. Lalu saya mulai menulis, dan dengan cara itulah, seoarang pengarang menemui ajalnya.

Solo-Jakarta, 2005-2006

Esai ini saya tulis untuk edisi proses kreatif jurnal On/Off, 2006. Terima kasih untuk Dedik Priyanto, yang meluangkan waktu mengetiknya ulang untuk blognya.


Realisme Pramoedya Ananta Toer

Sebagai salah seorang sastrawan Indonesia, menurut Umar Kayam, Pramoedya Ananta Toer merupakan seorang figur transisional. Umurnya di sekitar angka yang sama dengan kebanyakan sastrawan Angkatan 45, tetapi latar belakang pendidikan (di mana ia tidak termasuk yang bersekolah pada sekolah menengah Belanda) dan latar belakang budaya Jawa-nya yang begitu kuat, membuatnya berbeda dengan anggota lain kelompok tersebut.

Cerita-cerita yang ia tulis tidak menampakkan tradisi jenaka dan sarkastik sebagaimana Idrus, Balfas, atau Asrul Sani, melainkan justru lurus, serius, dan dengan gaya naratif dramatis. Bahasanya pendek dan penuh sugesti, seperti narasi yang biasa dibawakan seorang dalang pada pertunjukan wayang.
Continue reading Realisme Pramoedya Ananta Toer



Datang Satu-Satu, Pergi Satu-Satu

“Mengapa orang-orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti pasarmalam.” Demikian tulis Pramoedya dalam novelnya yang paling mengesankan, Bukan Pasarmalam. Ada daya hidup dalam tekanan kalimat seperti itu, namun sekaligus rasa tak berdaya. Demikian pula kesan ketika mendengar namanya, terutama dua hari terakhir ketika stasiun televisi menayangkan sang Maestro berbaring di ranjang Rumah Sakit St. Carolus dalam keadaan koma.

Tapi paling tidak ia tak akan seperti sang ayah dalam novel tersebut yang, “Kasihan [..] waktu dia sehat, selalu kita cari-cari dia untuk melengkapi perjudian. Waktu dia sakit, tak seorang pun di antara kita datang menengok.” Tidak. Kerabat dan sahabatnya berjubel. Dan ketika tubuhnya kembali ke rumahkata (demikian Joko Pinurbo memberi nama dalam puisi yang ditulisnya sesaat setelah Pramoedya tutup usia), di tanah permakaman Karet, seluruh daya hidup yang ditinggal dalam anak-anak rohaninya akan tetap abadi. Apa yang tertulis, tetap tertulis, demikian bunyi satu ayat Alkitab. Kita tahu itu selalu benar, sebagaimana telah terjadi atas kebanyakan karyanya. Karya-karya itu, kita tahu, sekali waktu pernah dilahirkan, kemudian dibunuh dengan berbagai dalih, namun kita juga tahu, mereka senantiasa terus hidup.
Continue reading Datang Satu-Satu, Pergi Satu-Satu



Kosmologi Borges

Jorge Luis Borges

Bagian 1

“Bertahun lampau aku mencoba membebaskan diri darinya, serta melampah dari mite perkumuhan dan pinggiran kota ke permainan waktu dan ketakterhinggaan, namun permainan tersebut kini milik Borges, dan aku mesti merenungkan hal lainnya. Demikianlah hidupku merupakan suatu diri dan bayangan, sejenis fuga, serta sesuatu yang tertinggalkan – dan segalanya berakhir lenyap dariku, dan segalanya jadi terlupakan, atau hengkang ke genggaman si orang lain. Aku tak tahu siapa di antara kami tengah menulis halaman ini.”

Continue reading Kosmologi Borges



Novel dan Psikologi

Lelaki tua itu sudah genap delapan puluh empat hari tak memperoleh ikan. Kita tahu itu merupakan pembukaan kisah Lelaki Tua dan Laut Ernest Hemingway. Kita juga tahu lelaki tua itu kemudian membuktikan dirinya masih nelayan yang boleh diperhitungkan. Setelah berhari-hari melaut, ia akhirnya berhasil mengalahkan seekor ikan marlin besar.

Novel itu sering dirujuk sebagai novel eksistensialis paling berhasil. Pembuktian bahwa manusia mampu mengalahkan alam. Saya tak akan memperdebatkan hal itu. “Mereka mengalahkanku, Manolin,” kata lelaki tua itu. “Mereka benar-benar mengalahkanku.” Akhir dari kisah itu sesungguhnya tak hanya bahwa si lelaki mengalahkan marlin besar.

Marlin itu sepanjang jalan pulang digerogoti ikan-ikan hiu. Akhir cerita sesungguhnya adalah: nampak sebujur tulang punggung yang putih panjang dan besar yang berujung ekor yang lebar yang terangkat dan bergoyang oleh air pasang …
Continue reading Novel dan Psikologi