Sepak Bola Sebagai Drama

Di sebuah rumah di tengah Kota Amsterdam, saat makan malam, tuan rumah tiba-tiba bertanya, ”Kamu penggemar sepak bola?” Ketika saya mengangguk dan menyebut Euro 2016 dengan antusias, raut mukanya menjadi kelabu. Dia bergumam nyaris tak terdengar, ”Sayang sekali kami tak menjadi bagian perayaan ini sekarang.”

Yang dimaksudnya adalah ketidakhadiran Belanda di kejuaraan sepak bola antarnegara Eropa tersebut. Enam tahun lalu, saat saya mengambil kelas bahasa Belanda di The Erasmus Huis Jakarta, keadaan sangat sebaliknya. Nyaris semua orang Belanda bicara sepak bola.

Di partai final Piala Dunia 2010, ada harapan membuncah tentang kejayaan sepak bola mereka, hingga nonton bareng di kedutaan meluber, meski akhirnya itu menjadi antiklimaks ketika mereka dikalahkan Spanyol.

Kini mereka menjadi bagian dari warga dunia kebanyakan: sebagai penonton. Bisakah mereka tetap antusias menonton kejuaraan itu (barangkali sekalian menonton Copa America 2016) meskipun tak terlibat sebagai peserta di sana? Tentu saja bisa. Setidaknya kita bisa mengajari mereka antusiasme sebagai penonton. Sebab, kita jauh lebih berpengalaman soal itu.

Sepak bola modern memang pada akhirnya bukan semata tentang 22 orang riang mempermainkan bola di satu lapangan, tapi juga sebuah tontonan. Sebuah kejadian yang tak hanya melibatkan mereka yang berada di lapangan, tapi juga di tribun dan depan layar televisi. Peraturan, jadwal, bahkan desain jersey tak hanya dibuat demi olahraga itu sendiri, tapi juga untuk tontonan.

Terutama kalau boleh jujur, sebagai tontonan televisi. Tentu saja akan selalu ada orang yang datang ke stadion-stadion di Prancis, negara tuan rumah, untuk kejuaraan tersebut. Tapi, jutaan lainnya bersiap di depan televisi. Suka tidak suka atau butuh tidak butuh, mereka akan mendengar komentator yang comel, analisis yang sok tahu, statistik pemain maupun pertandingan, dan tak mungkin terlewatkan: iklan.

Belum lama ini novelis sekaliber Mario Vargas Llosa sempat mengeluhkan budaya menonton itu dalam buku esainya, Notes on the Death of Culture. Dia terutama mengeluhkan kematian kebudayan dalam tradisi Eropa. Ketika erotisme telah berganti menjadi pornografi, dan jika kita mencoba melihatnya dalam sepak bola modern, olahraga menjadi sejenis drama.

Di layar televisi, yang kita lihat memang drama. Sebab, itulah yang kita cari. Kita tak hanya menemukan drama dalam sinetron di jam-jam siaran utama, tapi di berbagai format acara, dari politik hingga sekadar gosip artis. Dari lomba menyanyi hingga lomba memasak. Dari adu tinju hingga balap motor. Pun sepak bola. Ketika ia hadir di layar televisi, kita ingin melihat drama dipertunjukkan di sana.

Membayangkan sepak bola hanya sebagai siapa membuat gol dan bagaimana mereka melakukannya seperti berharap menonton video porno tanpa hawa nafsu.

Itulah mengapa pendukung Belanda yang menemani saya makan malam itu bisa bersedih, seperti banyak penonton sedih saat melihat gadis yatim disiksa ibu tirinya di sinetron. Berbeda dengan nada pesimistis Vargas Llosa yang melihat ini sebagai kematian budaya, menurut saya, apa yang terjadi di zaman sekarang hanyalah runtuhnya otoritas elite untuk menafsir kebudayaan. Termasuk bagaimana sepak bola harus dinikmati.

Dalam sepak bola sebagai drama, sepak bola menjelma wajah masyarakat dalam berbagai tingkatannya. Wajah individu, wajah kelompok, maupun wajah masyarakat secara luas.

Sebagaimana jika kita membaca novel, mendengarkan musik, atau menonton opera, sebagai individu kita mencari pijakan emosi dalam pertandingan sepak bola. Kita ikut merasakan apa arti kemenangan, apa arti kekalahan, bahkan tanpa harus berlari-lari di lapangan dengan kostum tim. Di titik inilah, meskipun tampak banal, di televisi kita perlu melihat bagaimana seorang pemain berteriak kesal, mendorong pemain lain, meringis berguling-guling, atau tersenyum semringah.

Sepak bola pada saat yang sama juga memberi kita identitas kelompok atau kelas. Kesedihan pendukung Belanda bisa dipahami dalam konteks ini. Juga bisa dipahami ketika akhirnya mereka berpikir untuk mendukung Belgia, misalnya. Bahkan, kejuaraan itu pun pada dasarnya secara sadar sedang merayakan identitas pan-Eropa, yang bahkan jauh lebih berhasil daripada apa yang bisa diusahakan oleh Uni Eropa.

Dan, kelompok tentu saja tak melulu mengenai identitas nasional. Orang Indonesia bisa mendukung Prancis dan orang Argentina mungkin mendukung Spanyol hanya karena mereka menyukai pemain-pemain Barcelona atau Real Madrid.

Lebih dari itu, dalam sepak bola (tapi tentu tak terbatas hanya dalam sepak bola), manusia memimpikan tatanannya. Kita ingin melihat pertandingan yang adil dan sportif. Kita ingin melihat semua gol diciptakan dengan cara yang patut, indah, dan hasil kerja sama semua pemain. Kita mencerca setiap kelicikan dan bersepakat bahwa yang melanggar aturan harus dihukum. Kita bertepuk tangan untuk keterampilan individu.

Sepak bola juga mengkhotbahkan moralitas sebagaimana para filsuf, bukan?

Semua itu bisa diperoleh melalui drama sepak bola. Di stadion maupun depan layar televisi. Otoritas elite yang menganggap semua itu hanya ada di karya-karya kanon telah runtuh. Kita tak lagi hanya bicara tentang kemarahan, keculasan, rasa bersalah, atau cinta kasih melalui drama Shakespeare. Sebab, kita bisa melakukannya melalui sepak bola. Di Euro 2016 kita akan melihat bagaimana umat sepak bola menafsir dan menciptakan kanon-kanon kebudayaan mereka sendiri.

Diterbitkan di Jawa Pos sebagai catatan mengiringi Piala Eropa 2016, 10 Juni 2016.

Hantu dan Strategi Literer untuk Sang Liyan

Dalam novel Woman in Black (karya Susan Hill), jelas sosok si perempuan berpakaian serba hitam merupakan sosok hantu yang menakutkan. Tak hanya sosok itu yang dihindari oleh penduduk desa, tapi bahkan rumah besar tempat sosok itu berkeliaran juga dijauhi.

Di novel genre horor lainnya, katakanlah yang lebih klasik dan populer, Dracula karya Bram Stoker, sosok si vampir kurang lebih sama: menakutkan dan dihindari. Tak hanya itu, cerita kedua novel juga mengasumsikan bahwa kedua hantu itu harus dikalahkan. Dibinasakan.

Monster di Frankestein lebih jauh lagi. Ia tak hanya menjadi sosok seram dan buruk rupa, tapi bahkan diburu. Setelah diciptakan, setelah keberadaannya tak lagi dianggap sesuai dengan dunia di sekitarnya, ia tak lagi dikehendaki oleh penciptanya.

Ada tiga kesamaan dalam ketiga sosok “hantu” tersebut. Baik si perempuan berbaju hitam (yang merupakan roh gentayangan), vampir, maupun si monster (sosok gabungan beberapa potongan mayat yang dihidupkan kembali), bisa dibaca secara metaforik sebagai “sang liyan”. Sesuatu yang dianggap berbeda dari manusia. Jika manusia dianggap kenormalan, sosok-sosok hantu ini dianggap sebagai “di luar normal”.

Hantu sebagai sang liyan dilihat sebagai ancaman, diposisikan sebagai si jahat, si buruk, dan pada akhirnya tak hanya harus dihindari, tapi juga jika mungkin dihilangkan. Di dunia yang “normal” dan dihuni manusia, tak ada tempat untuk hantu.

Metafora ini bisa dipakai untuk melihat problem dalam kehidupan nyata. Segala yang dianggap sebagai “sang liyan” diperlakukan persis seperti hantu di dalam novel-novel horor semacam itu. Dengan mudah kita bisa menemukan sekelompok orang diusir dari kampungnya karena agama yang berbeda. Atau masih satu agama, tapi pemahaman dan tafsir atas ajaran agama tersebut yang berbeda.

Diskusi dengan isu komunisme atau ideologi kiri dibubarkan (seperti terjadi pada Festival Belok Kiri belum lama ini di Taman Ismail Marzuki, Jakarta), karena komunisme adalah hantu bagi ideologi lain. Ideologi komunis merupakan si jahat dan si buruk. Mengancam dan berbahaya.
Kecenderungan seksual LGBT dianggap di luar normal, sementara hetero dianggap normal. Yang di luar normal merupakan hantu: harus dilenyapkan dengan cara dibuat hetero.

Tentu masih banyak kasus lain, termasuk diskriminasi karena ras, suku, bahkan gender. Kisah hantu di novel-novel horor, yang menakutkan, mengancam dan harus dibasmi, merupakan metafor yang jitu mengenai dunia yang intoleran. Mengenai watak yang melihat dunia dengan cara dikotomis: sebagai kita dan di luar kita.

Dalam hal ini, ada satu perkembangan menarik yang muncul dalam kisah hantu-hantu ini dalam khasanan novel kontemporer, di mana kita barangkali bisa belajar banyak untuk menghadapi wabah intoleransi ini.

Di novel populer seperti Twilight karya Stephanie Meyer, vampir (dan manusia serigala) hadir dengan cara yang sangat berbeda dengan kisah vampir di Dracula atau dongeng-dongeng masa lalu perilah manusia serigala. Di novel ini, vampir hadir berdampingan, beririsan, dengan manusia. Mereka memiliki masalah sendiri di lingkungan mereka (demikian pula manusia).

Lebih jauh, konflik utama tak lagi tentang manusia menghadapi vampir yang jahat, tapi tentang manusia yang jatuh cinta kepada vampir (dan sebaliknya), dibumbui oleh kisah cemburu, persaingan, dan dendam. Tiba-tiba vampir tak lagi muncul sebagai “yang liyan”, melainkan sesederhana makhluk yang berbagi tempat di dunia yang sama, bahkan sekolah di tempat yang sama. Masalah si manusia dan vampir, menjadi tak jauh berbeda dengan masalah Romeo dan Juliet yang sekadar dibedakan oleh klan.

Tengok pula novel Let the Right One In karya John Ajvide Lindqvist. Di novel ini, seperti umumnya vampir, si bocah vampir tentu minum darah dan takut cahaya matahari. Tapi di luar itu, hadir secara alamiah sebagai tetangga (yang bertukar pesan morse melalui dinding dengan anak kecil di rumah sebelah), dan pada saat yang sama menjadi korban pedofil orang yang memeliharanya.

Hal yang sama juga terjadi di novel berikutnya dari penulis yang sama, Handling the Undead, tentang kota di mana mayat-mayat hidup kembali. Bukannya menciptakan teror khas film-film zombie, yang ada adalah drama: perempuan tua yang baru saja ditinggal mati suaminya menyambut si suami. Kakek yang kehilangan cucu bahkan nekat menggali kuburan si cucu.

Hantu yang pada awalnya direpresentasikan sebagai “yang liyan” yang mengancam dan harus dimusnahkan, perlahan memperoleh tempat sebagai sesama penghuni ruang, sesederhana oleh satu strategi literer yang menempatkan mereka (manusia dan hantu) tidak dalam konflik berhadapan, biner, antara kita dan bukan kita (siapa pun itu “kita” dan “bukan kita”). “Hantu”, dengan strategi literer ini, ada sebagai bagian dari kita, sekaligus hidup dengan konflik-konflik alamiah yang juga bisa terjadi pada manusia umumnya (jatuh cinta, cemburu, dendam).

Jika umat manusia melalui fantasi bisa menerima keberadaan hantu tanpa rasa takut, tanpa merasa sebagai sosok yang berbeda, saya yakin hal sama bisa terjadi di kehidupan nyata. Kita bisa belajar menerima dalam hidup segala yang berbeda: ras, agama, ideologi, orientasi seksual, sehingga tak ada lagi “sang liyan”. Sebab kita bisa melihat yang liyan dalam diri kita, dan melihat diri kita di diri yang liyan. Pada akhirnya kita hanya sesederhana berbagi ruang yang sama di dunia ini.

Perang melawan intoleransi jelas bukan pekerjaan gampang. Itu pekerjaan lama yang membutuhkan tak hanya keberanian, tapi juga ketabahan, dan sejenis strategi literer jelas dibutuhkan. Perkembangan kecenderungan novel horor beserta hantu-hantu mereka setidaknya bisa mengajari kita satu hal yang bisa dilakukan.

Esai ini diterbitkan di Jawa Pos, 13 Maret 2016.

Umberto Eco (1932-2016): “Saya Takut Mati Kehilangan Rasa Humor”

Dua penulis favoritnya merupakan penulis-penulis yang gemar “bermain-main”: James Joyce dan Jorge Luis Borges. Jika yang pertama bermain-main dengan elemen penting dalam kesusastraan, yakni bahasa; yang kedua bermain-main dengan elemen yang tak kalah pentingnya juga, yakni gagasan. Umberto Eco melangkah lebih jauh dari keduanya, bermain-main dengan bentuk (atau nama) lain dari bahasa dan gagasan: simbol.

Novel pertamanya, The Name of the Rose, merupakan misteri Abad Pertengahan. Novel bergaya detektif di mana untuk memecahkan teka-tekinya, mempergunakan perangkat analisis semiotik simbol-simbol, pengetahuan kitab suci, dan bahkan teori sastra. Tak ada pembahasan mengenai “mawar” di novel tersebut, dan untuk itu, sekali lagi, Eco bermain-main dengan simbol.
Aslinya, ia memang seorang filsuf. Profesor semiotik di Universitas Bologna (juga beberapa universitas lain). Sebelum terkenal sebagai novelis, ia menulis begitu banyak naskah akademik, juga esai-esai kritik sastra, serta spekulasi-spekulasi filsafat.

Meskipun dalam naskah-naskah akademiknya ia terbiasa mempergunakan cara naratif, Eco baru benar-benar menulis novel ketika berumur empat puluh delapan tahun. Bahkan sampai akhir khayatnya (19 Februari 2016), ia masih menganggap menulis novel sebagai “kerja sampingan”, yang hanya dilakukannya di akhir pekan dan terutama di musim panas (ketika libur mengajar).

Umberto Eco lahir 5 Januari 1932 di kota Alessandria, Italia. Kota yang sebagaimana kata-katanya, kembali merujuk kepada sesuatu yang simbolis, “Terkenal karena topi Borsalino-nya.” Seperti sebagian besar penulis, semuanya berawal dari kegemarannya membaca. Ketika ia kecil, ia sering disuruh mengambil sesuatu ke loteng rumah, dan ketika ia menemukan peti penuh buku peninggalan kakeknya, ia menjadi lebih sering pergi ke loteng tanpa diminta, menghabiskan waktu dengan membaca.

Membaca novel-novelnya, bahkan mungkin tanpa perlu membaca kajian-kajian akademisnya mengenai semiotika, kita akan merasakan betapa kuatnya pengaruh simbol-simbol dalam kehidupan manusia. Manusia adalah makhluk yang hidup dengan simbol-simbol. Dengan simbol, mereka tak hanya mencoba mengekalkan peristiwa atau ingatan, tapi juga, seperti pernah diungkapkan Eco dalam satu wawancara, membuat manusia berbohong.

Kita menyaksikannya dalam kehidupan sehari-hari. Agama tampil dalam bentuk simbol. Masyarakat ribut karena menemukan terompet tahun baru terbuat dari kertas bekas sampul Al-Quran, juga ribut menemukan motif alas sepatu yang menyerupai lafal Allah. Pada saat yang bersamaan, orang berkomunikasi tak lagi mempergunakan kalimat lengkap yang bisa dimengerti dengan mudah, tapi berbentuk stiker atau emoticon, juga dengan peluang untuk diinterpretasi.

Segala hasil kebudayaan manusia pada dasarnya bisa disederhanakan sebagai sekumpulan simbol-simbol yang bisa dibaca oleh siapa pun, baik dari lingkungan kebudayaan tersebut berasal maupun bukan, atau dari generasi simbol-simbol itu diciptakan, atau jauh setelahnya. Di sinilah benturan-benturan bisa terjadi: ada yang membaca simbol-simbol sebagaimana apa adanya, tapi juga ada yang menginterpretasikannya sesuai dengan keadaan yang berbeda-beda.

Dalam salah satu novelnya, The Mysterious Flame of Queen Loana, kita bisa melihat bahwa artefak budaya (dalam hal ini komik, majalah, buku, rekaman, dan koran), meskipun itu memiliki sifat sosial dan dalam tingkat tertentu menggambarkan suatu generasi, pada saat yang sama juga bersifat personal. Apa pun, ketika “dibaca”, pada akhirnya menjadi sesuatu yang subyektif.

Bisa dibilang novel tersebut memperlihatkan “main-main” Eco yang paling nakal mengenai simbol dan kebudayaan. Bercerita tentang lelaki tua yang terkena stroke dan kehilangan sebagian ingatannya (tepatnya: ingatan episodik, kenangan-kenangan peristiwa yang bersifat personal). Untuk menyembuhkan ingatannya, ia kembali ke masa kecilnya melalui komik yang pernah dibacanya, rekaman yang pernah didengarnya, majalah dan koran yang pernah dilihatnya. Dalam rangka itulah, si tokoh utama kembali harus menjelajahi dunia pembacaan.

“Dalam rangka memahami pesan misterius yang terdapat di dalam buku, kita perlu mencari ilham di luar apa yang dikatakan manusia,” kata si tokoh. Dan dalam hal ini, sudah jelas bagaimana dia membaca karya-karya itu di masa lalu, telah berbeda dengan saat ia membacanya bertahun-tahun kemudian, bahkan meskipun benda yang dihadapinya (artefak kebudayaan, simbol) merupakan benda yang sama.

Kita bersitegang tentang bagaimana hidup ini harus dijalani, dan bersitegang mengenai tafsir apa yang akan terjadi setelah kita mati. Semuanya berawal dari simbol-simbol yang diciptakan, baik simbol-simbol agama, ras, seksualitas, maupun lainnya.

“Satu-satunya yang saya takuti jika mati adalah, takut kehilangan rasa humor,” kata Eco dalam satu wawancara. Dunia yang tegang ini barangkali telah kehilangan rasa humor, tapi setidaknya Umberto Eco meninggalkan dunia ini dengan warisan-warisan karya yang, jika kita mau terbuka melihatnya, sangat jenaka.

Obituari ini diterbitkan di Jawa Pos, edisi Selasa, 23 Februari 2016.

Buku dan Kesusastraan Bukan Kartu Pos

Catatan dari London Book Fair, 2015

Banyak orang masih sering berpikir buku, khususnya kesusastraan, sebagaimana mereka berpikir mengenai kartu pos, terutama dalam hubungannya dengan orang/negeri asing. Lama saya juga sering terjebak dalam pikiran semacam itu. Seperti kita tahu, kartu pos sering berfungsi sebagai sejenis memento. Kita berada di satu tempat, lalu mengirimkan kartu pos yang berhubungan dengan tempat itu kepada seseorang yang kita anggap penting. Pesannya jelas: saya pernah ada di sini, kamu bisa mengenali tempat (suasana) yang saya alami, dengan melihat kartu pos yang saya kirim.

Dengan kacamata seperti itu, buku ditempatkan sebagai sejenis memento yang sama: jika ingin mengetahui Indonesia, bacalah buku (atau kesusastraan) Indonesia. Para penulis buku atau siapa pun yang terlibat dalam penerbitan buku, juga melihat dengan cara serupa: saya ingin memperkenalkan negeri saya, Indonesia, melalui buku ini. Lihatlah, ini orang-orang Indonesia, ini kebudayaan kami, ini sejarah kami. Disampaikan dalam bentuk novel atau puisi. Bacalah, dengan cara seperti itu, Anda akan mengenali kami.

Hal ini diperkuat dengan stereotif yang telah lama berlaku, seperti “buku merupakan jendela dunia”, yang bukankah sama persis dengan fungsi kartu pos? Atau bahkan prangko? Bahkan dengan bentuknya yang persegi, kartu pos jauh lebih mirip “jendela dunia” tersebut. Atau lihat kutipan semacam “Dunia ini buku, yang tak pernah berpergian hanya membaca satu halaman buku” (dari Augustine Hippo), yang pengertiannya juga bisa dibalik.

Tahun ini Indonesia akan menjadi tamu kehormatan di ajang Frankfurt Book Fair, Oktober 2015 (dan diawali dengan keiikutsertaan di pameran buku Leipzig, Bologna dan London yang baru saja usai). Mengambil tema “17.000 Islands of Imagination”, kita ingin memperkenalkan 17.000 pulau Indonesia, dengan beragam kebudayaan, etnik, ras, kekayaan alam (dan lain sebagainya, termasuk khayalan-khayalannya). Kita akan datang ke sana untuk “memperkenalkan” Indonesia, melalui buku.

Apakah ada yang salah dengan hal itu? Sebenarnya tidak bisa dibilang salah, sebagaimana kita memang bisa memperlakukan buku dengan cara seperti itu. Tapi kunjungan saya ke London Book Fair, 14-16 April yang lalu memberi saya sudut pandang yang berbeda, dan menyadarkan saya tentang hal penting yang seharusnya saya sadari secara alamiah. Tentang kenapa buku ditulis, kenapa para penulis memutuskan menulis buku, dan tentu saja tentang bagaimana pada akhirnya buku-buku dibaca.

Di pameran buku yang sering disebut Olimpiade-nya buku (terbesar kedua setelah Frankfurt), saya berkesempatan bertemu dengan orang-orang perbukuan dari beberapa negara. Bahkan ikut pesta kecil yang dipenuhi penulis, penerjemah, editor, agensi dari berbagai negara. Tentu saya tak mungkin berkenalan dengan semua orang, tapi satu-dua teman baru bisa membawa percakapan yang lebih panjang dan serius.

Salah satu teman berbincang saya adalah seorang penerjemah Korea-Inggris, sekaligus seorang editor dari satu penerbit di London, yang banyak menerbitkan karya-karya sastra dari wilayah Asia. Awalnya perbincangan kami dimulai dengan memperbandingkan keadaan kesusastraan Indonesia dan Korea (maksudnya Korea Selatan), di mana kami sepakat, dengan begitu banyak potensi, sejarah panjang, keunikan masing-masing, kedua negara itu praktis tak terlihat dalam peta kesusastraan dunia.

Bahkan khusus untuk Korea, keadaan itu semakin mencolok jika dibandingkan fenomena musik pop (siapa yang tak kenal Super Junior atau Girls’ Generation?) dan film mereka (siapa tak kenal Park Chan Wook atau Kim Ki-duk?), yang tak hanya merajai pasar lokal, tapi juga diakui di dunia.

“Pemerintah Korea menggelontorkan banyak uang untuk memperkenalkan kesusastraannya. Subsidi diberikan untuk penerjemahan maupun penerbitan di luar negeri. Bahkan penulis-penulis asing diundang untuk residensi di Korea,” kata teman berbincang saya (saya mampir ke stand Korea Selatan, dan memang mereka mempromosikan kesusastraannya dengan penuh semangat), “Meskipun begitu, kadang saya merasa pemerintah Korea tidak mengerti kesusastraan mereka sendiri.” Ia kemudian memandang saya agak lama, seperti menunggu saya berkomentar. Tapi karena saya tak mengatakan apa pun, ia sendiri yang menambahkan, “Mungkin itu pula yang terjadi dengan pemerintah Indonesia. Siapa pun yang memegang kebijakan, mungkin tak mengerti kesusastraan secara umum, atau kesusastraan Indonesia secara khusus.”

Saya tak bisa menebak apa yang ada di pikiran pemegang kebijakan di Indonesia, tapi mungkin ia benar.

Apa yang dimaksudnya dengan “tidak mengerti” adalah: kadang-kadang mereka (pemegang kebijakan) berpikir menjual buku atau kesusastraan seperti menjual potensi pariwisata. Itu seperti kita membaca sastra Jepang dan yang kita peroleh melulu tentang kimono, teh, samurai, bunga sakura di musim semi. Itu hal yang sama terjadi di Korea, katanya. “Dan bagaimana dengan Indonesia?” tanya saya. Ia menjawab, “Sebagai pembaca sastra, saya tak ingin membaca apa pun tentang batik, keris, wayang, Borobudur, atau Bali. Atau komodo. Saya sudah tahu soal itu, kalau mau lebih tahu, saya akan baca buku lain.”

Percakapan itu sedikit banyak menampar saya. Batik, keris, wayang, Borobudur, Bali (dan bisa ditambahkan banyak hal lainnya), merupakan hal-hal yang sangat dibanggakan orang Indonesia. Dan kita sering berpikir, jika kita ingin menjual Indonesia, menjual kesusastraan Indonesia, kita bisa menjual hal-hal itu. Kita tak pernah sadar hal itu bisa menjerumuskan kita ke dalam stereotif tentang Indonesia.

“Tidak. Buku dan kesusastraan bukan kartu pos.”

Saya harus pergi jauh ke London, berbincang dengan orang asing, untuk memperoleh tonjokan keras semacam itu. Untuk kembali ke kesadaran bahwa buku pada dasarnya adalah mengenai gagasan, mengenai dialog. Mengenai “menciptakan Borobudur” yang lain. Borobudur merupakan sumbangan Indonesia untuk dunia. Para penulis Indonesia, jika dunia ingin kembali “membaca” Indonesia, sudah seharusnya memberikan sumbangan yang lain. Lebih agung dari Borobudur, melebihi apa yang sudah diciptakan nenek moyang kita.

Tentu saja pameran buku pada akhirnya memang pameran dagang. Ia berbeda dengan festival sastra, misalnya. Di sana siapa pun mencoba berjualan, atau membeli.

Meskipun begitu, jika memang tujuan utamanya memperkenalkan Indonesia, kebudayaannya, kekayaan alamnya, khayalan-khayalannya … dan pada akhirnya berharap orang berkunjung kemari, pameran pariwisata di tangan Departemen Pariwisata barangkali akan jauh lebih cocok dan lebih efektif. Di pameran buku, kita menjual dan membeli buku, dan artinya, kita menjual dan membeli gagasan. Kita berdialog.

Bagi saya, menawarkan konsep “puisi sebagai mantra” dari Sutardji Calzoum Bachri (semoga ia selalu diberi kesehatan yang baik), dalam konteks dadaisme atau pascamodern, misalnya, jauh lebih menarik sebagai jualan dalam dialog kesusastraan/perbukuan semacam ini, ketimbang memperkenalkan sejarah literasi Indonesia secara umum sejak zaman prasasti dituliskan hingga penulis paling kontemporer. Terlepas gagasan itu masih laku atau tidak. Atau apa gagasan para penulis dan intelektual kita mengenai problem dunia seperti terorisme dan fundamentalisme (problem yang juga kita hadapi)?

Sekali lagi, bisa saja memang buku dilihat dan diperlakukan seperti kartu pos. Jika seseorang membaca buku atau kesusastraan Indonesia dengan harapan mengenal Indonesia (dalam banyak aspeknya), pemerintah mungkin akan senang. Tapi para penulis, saya yakin setidaknya kebanyakan penulis, akan lebih senang jika karyanya dibaca sesederhana karena buku itu menarik, karena gagasannya diperlukan si pembaca. Sebagaimana kita membaca Moby Dick dan tak ambil pusing Herman Melville itu orang Amerika.

Menjual buku dan kesusastraan di pameran buku luar negeri tanpa membawa-bawa nama “Indonesia” mungkin sesuatu yang tak bisa dibayangkan, terutama oleh para pemegang kebijakan. Apalagi uang yang dipergunakan merupakan uang negara yang berasal dari pajak. Dan mungkin karena itu, kita masih jauh dan jalan masih panjang, mengharapkan dunia membaca karya anak bangsa ini semata-mata karena karya itu hebat, tanpa embel-embel “karena ditulis oleh penulis Indonesia”. Apalagi dibaca hanya karena ingin mengetahui tentang Indonesia, seolah-olah karya sastra sejenis buku panduan semacam Lonely Planet.

Saya barangkali termasuk penulis yang masih berpikir tentang kartu pos, dan perlu terus-menerus disadarkan, bahwa buku dan kesusastraan lebih dari sekadar itu.

Esai ini diterbitkan pertama kali di Jawa Pos, 31 Mei 2015

Novel dan Khotbah

Seperti pertunjukan yang buruk, khotbah yang tak menarik (baik cara menyampaikan maupun isinya), sudah pasti membuat orang mengantuk. Tak cuma itu, kadang-kadang bisa bikin geram dan memunculkan keinginan untuk menyumpal mulut pengkhotbahnya dengan daun seledri, seperti dilakukan orang-orang Galia kepada Assurancetaurix di komik Asterix.

Itu juga berlaku dengan khotbah, tentang apa pun di novel-novel yang kita baca. Apa boleh buat. Sebagian besar penulis novel ditakdirkan untuk berkhotbah. Mereka menulis karena merasa ada yang ingin disampaikannya kepada khalayak ramai. Beberapa bahkan merasa ingin menyelamatkan dunia, setidaknya berharap mengubah dunia. Beberapa ingin sesama manusia terbebas dari jurang neraka, yang lain berharap umat manusia hidup lebih bahagia.

Di novel-novel religius, tentu akan bertebaran khotbah tentang pentingnya mencintai Tuhan, mengikuti perintahNya, dan bahwa berbuat dosa itu hanya bikin kamu celaka. Di novel-novel politik, kita diajak untuk menghujat pemerintah dan penguasa yang lalim, dan didorong untuk membela orang-orang lemah. Penulis konon menjadi suara bagi yang tidak bersuara, sedikit terjangkit wabah heroisme ala Batman dari kota Gotham. Penulis-penulis yang sekaligus aktivis, barangkali akan menulis novel-novel penuh khotbah dengan tema-tema yang bisa ditemukan di proposal-proposal Lembaga Swadaya Masyarakat. Kita bisa menemukan banyak khotbah bertebaran di beragam genre novel.

Bahkan di novel seperti Moby Dick, yang dianggap sebagai novel terbesar yang pernah dihasilkan Amerika, jika bukan salah satu yang terbaik di dunia, ada satu bab berjudul “The Sermon”. Ya, seperti judul babnya, tentu saja isinya juga khotbah yang diberikan oleh seorang pendeta kepada segerombolan pelaut pemburu paus. Untungnya khotbah Father Mapple (begitulah nama tokoh pendeta tersebut), bicara tentang Jonah yang dimakan hidup-hidup oleh paus raksasa dan apa makna peristiwa tersebut. Bab khotbah itu jadi semacam jendela kecil untuk melihat kisah novel ini secara keseluruhan.

Dalam kesusastraan Indonesia, saya rasa mengenai hal ini kita tak akan pernah melupakan novel Sutan Takdir Alisjahbana, Grotta Azzura. Kurang-lebih isinya penuh dengan khotbah gagasan mengenai politik, kebudayaan, bahkan seks, yang diutarakan melalui percakapan tokoh-tokohnya. A Teeuw bahkan merasa perlu berkomentar mengenai novel ini sebagai, “Terlalu dikuasai perfilsafatan kebudayaan.” Saya rasa bukan sifat kebanyakan orang untuk senang dikhotbahi, meskipun tampaknya banyak yang gemar berkhotbah. Senang memberi kuliah, tak gemar dikuliahi.

Saya punya contoh lain yang menarik: novel-novel silat Asmaraman S. Kho Ping Hoo. Siapa pun penggemar cerita-cerita silat gubahannya, dalam benak kita pasti terbentuk dua hal yang selalu muncul dalam karya-karyanya. Yang pertama, tentu kisah-kisah petualangan para pendekar dengan selipan bumbu romantis yang mengasyikkan. Yang kedua, saya sering tak tahan dan sering melewatkannya, bagian petatah-petitih penuh nasihat tentang moral, tentang kebaikan melawan kejahatan. Ya, itu bagian khotbahnya, yang bisa berhalaman-halaman, diselipkan kadang-kadang di antara pertarungan dua pendekar yang seru. Bahkan penulis cerita silat seperti Kho Ping Hoo pun seperti tak bisa menahan diri untuk tidak berkhotbah secara blak-blakan.

Apakah salah berkhotbah melalui novel? Tentu saja tak ada yang melarangnya, sebagaimana tak ada yang merumuskan bahwa itu salah atau benar. Kenyataannya, sekali lagi, penulis menuliskan sesuatu tentu dengan asumsi ada yang ingin disampaikan kepada orang lain. Setiap penulis memiliki pendapat tentang apa yang sebaiknya dan apa yang tidak sebaiknya. Langsung atau tak langsung, novel merupakan sarana untuk berkhotbah. Bisa juga kita sebut sebagai propaganda.

Mengenai persoalan ini, George Orwell dalam esai “Why I Write” pernah menulis mengenai empat motif utama kenapa seseorang menulis, salah satunya motif “tujuan politis”. “Hasrat untuk mendorong dunia menuju satu tujuan tertentu, untuk mengubah gagasan orang lain mengenai jenis masyarakat yang seharusnya mereka perjuangkan,” tulisnya. Orwell yakin tak ada satu pun buku yang benar-benar bebas dari bias politis. Gagasan bahwa seni seharusnya terpisah dari politik merupakan sikap politis sendiri. Dengan kata lain, tak ada buku yang tidak bersifat khotbah/propaganda. Bahkan mencoba untuk tidak berkhotbah/berpropaganda merupakan strategi berkhotbah dan berpropaganda tersendiri.

Pokok soalnya, bagaimana membuat khotbah ini tak menggiring orang untuk malah menguap dan tertidur, tentu saja. Membuat orang ingin menyumpalkan seledri ke mulut pengkhotbah (atau ke mulut penulis) barangkali jauh lebih baik daripada membuatnya tertidur, sebab kemarahan seperti itu paling tidak membuktikan bahwa ia mendengar khotbahnya dan mungkin terganggu.

Jika saya tak salah, penulis revolusioner Tiongkok, Lu Hsun bilang bahwa propaganda yang baik adalah propaganda yang tak terlihat seperti propaganda. Berkhotbah tanpa orang sadar sedang dikhotbahi. Dan mengenai propaganda dalam sastra, menurutnya sastra menjadi alat propaganda yang paling baik justru ketika ia tampil sebagai sastra.

Dengan asumsi seperti itu, tentu saja karya-karya yang hebat (maupun yang tidak hebat), selalu tengah berkhotbah kepada kita. Beberapa di antaranya barangkali sukses merasuki kepala kita tanpa disadari. Saya ingat pernah keluar dari sekolah (dan kemudian dikeluarkan), selain karena rasa bosan kepada sekolah, juga karena terpengaruh novel seperti Balada Si Roy dan novel-novel Dr. Karl May. Dalam hal ini, bukankah mereka berhasil mengkhotbahkan kepada saya tentang hebatnya menjadi petualang, tentang hidup mengembara, dan kebebasan, tanpa harus penuh petatah-petitih nasihat dan provokasi?

Knut Hamsun lebih hebat lagi. Ia menulis novel tentang penulis yang gagal, dan ketika membacanya, saya malah ingin menjadi penulis, dan mati-matian menjadi penulis sampai hari ini. Atau bisa jadi dia gagal total. Mungkin melalui novel itu, Lapar, ia ingin memengaruhi kita agar, “Sebaiknya kalian tak usah menjadi penulis. Sudah susah, juga bisa kelaparan.” Nyatanya malah bikin orang ingin menjadi penulis.

Sekali lagi khotbah atau propaganda tidak melulu menyangkut aspek moral atau politik secara langsung. Hidup terlalu luas jika kita menyempitkannya hanya pada hal-hal semacam itu. Lihat misalnya, novel-novel Jane Austin barangkali jauh lebih berhasil membentuk pikiran umat manusia tentang bagaimana membangun hubungan lelaki-perempuan dibandingkan khotbah para penasihat pernikahan. Juga novel-novel Stephen King atau Anne Rice barangkali membuat orang takut pada hal gaib dan menjadi lebih relijius daripada yang bisa dilakukan para guru mengaji. Siapa tahu?

Membaca novel, pada akhirnya sama seperti masuk ke ruangan dan siap mendengarkan khotbah. Ada yang menarik dan ada yang bikin kita lelap. Menulis novel, ujung-ujungnya sama seperti kita naik ke mimbar dan bersiap menyampaikan khotbah, hanya saja mediumnya berbeda. Menulis novel, sebagaimana berkhotbah, tak melulu soal apa yang ingin kita sampaikan, apakah gagasan kita besar atau kecil. Di luar itu, kita juga berhadapan dengan persoalan apakah gagasan kita bisa tersampaikan dengan baik. Setelah itu, persoalan berikutnya, apakah gagasan kita bisa diterima atau tidak.

Saya memikirkan hal ini tak lama setelah menonton film Senyap (dan jauh sebelumnya film Jagal) karya Joshua Oppenheimer. Di negeri yang selama puluhan tahun hidup dalam gempuran propaganda pemerintah mengenai banyak hal dan terus berlangsung, seni (sebagaimana film dan novel), bisa melakukan hal ini: mempertanyakan apa yang lama kita anggap benar. Melakukan kontra-propaganda. Diam-diam maupun terang-terangan. Senyap maupun riuh.

Novel (juga seni secara umum) dan khotbah, saya rasa membuktikan bahwa peradaban kita masih berjalan baik. Bahwa kita, manusia, masih terus berbagi gagasan satu sama lain. Bahwa suara umum dan mayoritas tak selalu benar dan kita membutuhkan suara-suara kecil yang lain dan berbeda. Tak peduli kadang-kadang itu membuat kita menguap dan lain kali membuat kita ingin menyumpalkan seledri ke mulut pengkhotbahnya.

Pertama kali diterbitkan oleh Jawa Pos, 11 Januari 2015

Patrick Modiano, Lebih Jauh dari Terlupakan

“Suasana dan keadaan tidaklah penting. Suatu hari perasaan kosong dan sesal menenggelamkanmu,” tulis peraih Nobel Kesusastraan 2014, Patrick Modiano dalam salah satu novelnya, Honeymoon.

Ketika Modiano pertama kali muncul dalam kesusastraan Prancis, 1968, Paris sedang bergejolak. Para mahasiswa turun ke jalan. Nilai-nilai tradisional mulai goyah, gerakan kesusastraan baru sedang menggeliat. Nama-nama yang diidentikkan sebagai masa lalu mulai kehilangan legitimasinya, bahkan Sartre pun hanya menjadi olok-olok mahasiswa. Novel pertama Modiano memperoleh sambutan yang hangat dari generasi ini, meskipun ada yang aneh. Berbeda dengan kecenderungan generasinya yang tengah mencoba memandang jauh ke masa depan, Modiano melalui novel pertamanya (dan novel-novel berikutnya), justru lebih banyak berpaling ke masa lalu.

Salah satu aspek yang menonjol dari karya-karyanya (setidaknya melalui beberapa novelnya yang tersedia dalam bahasa Inggris) adalah sisi lain dari kegaduhan dan hiruk-pikuk perang: kesunyian dan pelarian. Senyap yang mengungkung tak hanya di jalan-jalan, dalam hal ini jalanan Paris misalnya, ruang-ruang café, hotel, atau bar yang ditinggal manusia-manusia yang menghidupi mereka, tapi terutama jauh di dalam diri manusia-manusia ini sendiri.

Lahir tahun 1947, Modiano tentu saja tak mengalami langsung salah satu masa paling gelap dalam sejarah Eropa: Perang Dunia Kedua, yang menjadi lanskap jauh maupun dekat karya-karyanya. Perang telah usai dan ia masih terlalu kecil. Meskipun begitu, melalui novel-novelnya ia mampu menembus jantung kekelaman perang, lengkap dengan tragedi dan komedi gelapnya. Pendekatannya pada tragedi dan kekonyolan manusia sangat kental berbau Shakespearean, di mana bahkan manusia tak pernah mampu menjadi tuan atas dirinya sendiri, boro-boro menentukan nasibnya.

Dalam novelnya yang getir namun sekaligus menggelikan, Night Rounds, kita menemukan sejenis puncak komedi gelap ini. Diterbitkan pertama kali tahun 1969, membaca novel ini awalnya terasa membingungkan. Kita seolah-olah diceburkan ke sebuah ruangan (café? rumah?) dengan begitu banyak orang yang bicara satu-sama lain, tapi sesekali mereka bicara kepada seseorang yang hanya dipanggil “boy” atau “son”, yang tentu saja ada di antara mereka. Bocah ini, yang mereka panggil “boy” atau “son”, tak pernah menyahut, dan tak pernah ada penjelasan apa pun yang dilakukannya di ruangan tersebut. Nama-nama bermunculan, awalnya tanpa menjelaskan siapa mereka, seperti apa karakteristik mereka, dan apa hubungan mereka, kecuali nama si “boy” atau “son” ini.

Meskipun begitu, kita tak bisa tidak menangkap suasana dan keadaannya: di puncak masa perang, di antara sekelompok “bandit” yang mencari keuntungan di tengah kekacauan. Si bocah bagian dari kelompok ini.

Kelompok tersebut awalnya, sebelum perang, hanyalah sebuah biro detektif milik seorang polisi. Si bocah direkrut untuk memata-matai, mengumpulkan informasi, dan terutama untuk memeras. Dengan cara itulah biro detektif ini mencari uang. Ketika perang pecah, kelompok ini berkembang menjadi pemasok informasi untuk penguasa perang, sekaligus pemasok pasar gelap dan pencoleng barang-barang berharga dari rumah-rumah penduduk yang ditinggalkan penghuninya.

Di bagian tengah novel, kita menemukan kecemerlangan penulis ini. Jika awalnya kita bertanya-tanya siapa bocah yang terus dirujuk sebagai “boy” atau “son” ini, kita menemukannya bicara secara langsung, kepada pembaca. Sejak awal sebenarnya novel ini ditulis dengan sudut pandang pertama, si bocah, tapi tersamar. Hanya di bagian tengah kita menemukannya dengan lebih jelas, ketika akhirnya si bocah menceritakan dirinya dan siapa-siapa orang di sekitarnya.

Di masa perang itu, dari seorang pemeras untuk biro deketktif, si bocah dikirim untuk masuk ke gerakan perlawanan bawah tanah. Kini sebagai agen. Karena tampangnya yang polos, ia diterima di gerakan perlawanan, dan sialnya mereka merekrutnya untuk memata-matai sebuah kantor komersial yang dicurigai berhubungan dengan penguasa perang dan perbanditan. Memata-matai tuannya sendiri. Si bocah menemukan dirinya menjadi agen ganda.

Seperti dikutip di bagian awal, suasana dan keadaan tidaklah penting. Yang terpenting adalah, bagaimana perang telah mencerabut segala hal dari bocah ini. Ia tak hanya kehilangan Paris yang dicintainya, Mamanya yang mengungsi, teman-temannya yang menghilang, tapi juga seluruh orang yang dekat dengannya. Bahkan kini ia harus mengkhianati siapa pun yang memercayainya. Ia bukan penjahat, tapi juga bukan pahlawan. Ia sesederhana pengkhianat yang terjebak oleh sejarah. Ia tak memiliki masa lalu, lebih tepatnya lari dari masa lalu yang entah, dan tak ada masa depan membentang. Tak ada nasib yang lebih tragis daripada itu, bukan?

Membaca novelnya yang lain, Out of the Dark (judul Prancisnya lebih indah, Du plus loin de l’oubli, kira-kira “yang lebih jauh dari terlupakan”), kita kembali menemukan tema yang berulang ini: pelarian dan dunia yang senyap. Berbeda dengan novelnya yang lain, novel ini tak bercerita tentang perang, dan terjadi jauh setelah itu, bahkan hingga tahun 1990an. Tapi bukan tanpa singgungan sama sekali tentu saja: si tokoh lahir di tahun 1945, dan tokoh yang lain Peter Rachman merupakan seorang penyintas dari masa perang.

Novel ini bisa dibilang sebagai kisah cinta yang lucu di antara si tokoh aku dengan seorang perempuan bernama Jacqueline. Tokohnya tipikal: 20an, masa lalu yang tak jelas dan hendak dilupakan, masa depan yang juga tak jelas. Ia bertemu dengan Jacqueline yang saat itu bersama “pacarnya”, Van Bever. Ini sama persis dengan tokoh aku di Honeymoon yang satu ketika bertemu dengan pasangan Ingrid dan Rigaud, dan kemudian hidup bersama mereka.

Jika di Honeymoon, bertahun-tahun kemudian si narator mencoba melacak masa lalu Ingrid dan Rigaud yang terhapus oleh kenangan (bahkan meskipun mereka sempat bersama, masa lalu masing-masing tetaplah gelap), di Out of the Dark, si narator terjebak dalam perebutan cinta untuk memperoleh Jacqueline. Tak hanya dengan Van Bever, tapi dengan banyak lelaki yang diam-diam menginginkan gadis itu. Yang tak diketahui para lelaki ini, Jacqueline tak hanya menyembunyikan masa lalunya, tapi juga menyembunyikan apa yang hendak dilakukannya di masa depan, meskipun ia berkali-kali menyebut kota Majorca.

Barangkali di sinilah uniknya Modiano dan karya-karyanya. Karir sastranya lahir di tengah keriuhan revolusioner Paris tahun 1968, meskipun sekilas tampak menyimpang dari kecenderungan generasinya, ia sejatinya memperlihatkan paradoks zamannya. Dua puluh tahun lebih setelah perang usai, Paris dan Eropa secara umum belum juga berhasil keluar dari kutukan masa kelam perang. Kaum revolusioner menghendaki mereka menyongsong masa depan dengan segera, tapi masa lalu tak pernah benar-benar membebaskan mereka dari cengkeraman.

Tokoh-tokohnya menjadi sejenis gambaran psikologi Eropa selepas perang. Ada masa yang tak begitu jauh, yang ingin dilupakan. Tapi semakin tokoh-tokoh itu mencoba melupakan masa lalu, semakin ia sering hadir dalam mimpi, dalam kenangan kelam, dalam gambaran yang kelabu tentang jalan-jalan dan ruangan yang gersang dari manusia. Di sisi lain, jika mereka mencoba mengingatnya, segala hal yang ingin dikenang menjadi hilang.

Jika benar bahwa seorang penulis pada dasarnya hanya menulis satu novel dengan berbagai cara seumur hidupnya, maka saya kira novelnya yang terbit tahun 1996 menjelaskan novel tunggalnya: sebuah usaha untuk mencapai titik terjauh dari upaya melupakan. “Di atas segalanya, adalah kebutuhan untuk melarikan diri,” tulis Modiano di Honeymoon.

Dari apa? Dari kekonyolan perang yang telah mempermalukan Eropa.

Pertama kali diterbitkan oleh Jawa Pos, 7 Desember 2014

Nobel Sastra dan Kutukan Tiga Persen

Nobel Kesusastraan 2014 dianugerahkan kepada penulis Prancis Patrick Modiano. Kabar itu ditanggapi banyak pembaca, tak hanya di Indonesia, tapi juga di mana-mana (tentu saja kecuali di Prancis dan negara-negara berbahasa itu), dengan gumaman, “Siapa dia?”

Kasus yang sama terjadi pada 2009 ketika Herta Muller, penulis Rumania berbahasa Jerman, memperoleh penghargaan tersebut. Juga tahun 2008 untuk J.M.G. Le Clezio (Prancis) dan 2004 untuk Elfriede Jelinek (Austria).

Apakah mereka sedemikian “aneh”-nya sehingga tak banyak yang mengetahui? Tidak juga. Perhatikan, empat penulis itu menulis dalam bahasa yang bisa dibilang “salah dua” yang terbesar dalam tradisi kesusastraan: Prancis dan Jerman. Dan bisa dibilang mereka sangat popular di teritori berbahasa Prancis dan Jerman, bahkan bisa dibilang populer juga di negara-negara Eropa berbahasa lain. Problemnya, mereka tak populer di negara-negara berbahasa Inggris (anglophone) dan akibatnya, mereka seolah-olah menjadi tidak populer juga “di dunia”.

Harus diakui, dewasa ini bahasa Inggris merupakan lingua franca, tak hanya dalam kehidupan sehari-hari, politik, media, tapi juga ke bidang-bidang spesifik seperti kesusastraan. Ada semacam rumus, jika ingin mendunia, sebuah karya harus dialihbahasakan ke Inggris. Dalam hal ini tentu akan lebih spesifik lagi, yakni diterbitkan penerbit di dua negara yang menjadi kiblat bahasa tersebut: Inggris dan Amerika. (Secara umum, dengan sistem sublisensi maupun karena penerbitnya menancapkan kaki di kedua negara, termasuk di negara-negara persemakmuran, jika diterbitkan di Amerika, sebuah karya sangat mungkin juga akan terbit di Inggris dan demikian pula sebaliknya).

Di sinilah terletak problemnya, jika kita tak bisa menyebutnya sebagai paradox menyedihkan. Dengan posisinya sebagai lingua franca, tradisi perbukuan berbahasa Inggris bisa dibilang sangat pelit dalam tradisi pengalihbahasaan karya-karya sastra asing ke bahasa Inggris. Bahasa Inggris bisa dibilang “kiblat” dalam referensi kesusastraan dunia, tapi sialnya, juga bisa dibilang tertinggal, jika tak disebut terbelakang.

Separah apakah masalah langkanya penerjemahan dari bahasa lain ke inggris ini sebenarnya? Riset yang dilakukan Universitas Rochester, yang kemudian merilis proyek bernama Three Percent pada 2007, menunjukkan bahwa dalam dunia perbukuan berbahasa Inggris, karya terjemahan hanya mencakup 3 persen. Harap dicatat, angka tersebut berlaku untuk semua jenis buku. Jika kita membatasi diri hanya pada karya-karya sastra (novel, puisi, drama, dan kritik sastra), angka itu hanya sekitar 0,7 persen. Angka yang tentu saja tak bisa diandalkan untuk menjadikan bahasa Inggris sebagai rujukan kesusastraan dunia.

Penelitian terbaru yang dilakukan Literature Across Frontiers (meskipun hanya membatasai pada penerbitan di Inggris dan Irlandia) pada 2012 menunjukkan sedikit perubahan ke angka 4,5 persen. Tetap saja angka itu masih jauh dari memadai.

Perkara tersebut tentu menimbulkan keprihatinan banyak pihak, dan tak terelakkan, juga ejekan. Pada 2008 Horace Engdahl, sekretaris permanen Akademi Swedia, berkomentar tentang kecilnya kemungkinan penulis Amerika memperoleh Nobel Kesusastraan dengan mengatakan, “Amerika terlalu terisolasi, terlalu picik. Mereka tak cukup banyak menerjemahkan dan tidak sungguh-sungguh ikut serta dalam dialog besar kesusastraan. Ketidakpedulian ini memenjarakan.”

Komentarnya dengan cepat menuai tanggapan dan kemarahan publik sastra Amerika. Kenyataannya, sejak Toni Morrison memperoleh Nobel Kesusastraan 1993, tak ada satu pun penulis Amerika yang meraih penghargaan tersebut. Meskipun begitu, tahun lalu penulis Kanada Alice Munro memperolehnya.

Tahun ini Engdahl kembali menyampaikan komentar pedas yang kurang lebih masih di urusan yang sama, sebelum pengumuman Nobel Kesusastraan beberapa minggu lalu. Dia bilang kursus menulis kreatif telah membunuh kesusastraan Barat. Meskipun secara umum dia mengatakan “kesusastraan Barat”, serangan tampaknya kembali ke kesusastraan Amerika (dan Inggris), di mana kursus penulisan kreatif menjamur.

Perkara penerjemahan yang minim dan kursus penulisan kreatif sekilas tak tampak berhubungan, tapi sebenarnya itu membentuk kondisi penerbitan di sana. Kursus penulisan kreatif dicurigai sebagai salah satu biang (konyolnya) ketiadaan penulisan kreatif: menulis menjadi perkara kurikulum. Karya-karya yang dilahirkan menjadi terformula dan formula penulisan menghasilkan keseragaman selera. Keseragaman selera menciptakan efek buruk: keengganan atau kesulitan mencerna kesusastraan liyan. Akibat dari rangkaian ini kembali ke permasalahan sedikitnya karya asing yang diterjemahkan (karena tak banyak yang membaca), dan karena tak banyak karya diterjemahkan, selera pembaca juga tak berkembang. Ini menciptakan lingkaran setan, tentu saja.

Banyak pihak tidak tinggal diam dengan kutukan 3 persen ini. Banyak penerbit independen dan garis keras konsisten dan terus-menerus mempromosikan karya-karya terjemahan di dunia anglophone. Di Amerika ada penerbit semacam New Directions, NYRB, dan Open Letter. Di Inggris ada penerbit semacam Pushkin Press, Pen American Center dan World Literature Today juga merupakan pendukung gerakan mengatasi kutukan 3 persen itu.

Tunggu, bukankah ini problem Amerika (dan Inggris)? Kenapa harus menjadi problem kita atau problem dunia? Saya tak punya catatan statistik berapa persen karya terjemahan dalam penerbitan karya sastra di Indonesia, tapi saya yakin angkanya lebih baik dari Inggris. Bukan karena kita banyak menerjemahkan karya asing tapi karena jumlah karya lokal kita jauh lebih sedikit. Meskipun begitu, secara langsung kita terimbas oleh masalah ini. Jika menilik iklim perbukuan dan kesusastraan Indonesia, kita tak bisa menutup mata bahwa kita sangat bergantung kepada karya sastra dalam bahasa Inggris (asli maupun terjemahan) untuk mengakses kesusastraan dunia. Hanya segelintir orang yang membaca sastra dalam bahasa Prancis, Jerman, Arab, atau lainnya.

Banyak karya sastra yang harus diterjemahkan melalui bahasa Inggris (meskipun aslinya tidak). Dengan kata lain, pembaca Indonesia pun bisa dibilang menerima kutukan 3 persen ini (atau lebih buruk). Wajar ketika Patrick Modiano memperoleh Nobel Kesusastraan, serupa pembaca sastra di New York, pembaca paling kutu buku di Jakarta pun akan menggumamkan hal yang sama, “Siapa dia?”

Selain usaha-usaha menanggulangi kutukan 3 persen, demi terciptanya dialog besar tradisi kesusastraan dunia, saya rasa kesusastraan Indonesia harus mengatasi masalah ini dengan caranya sendiri. Beberapa waktu lalu saya bertemu seorang editor dari penerbit Italia yang mengkhususkan diri pada karya-karya sastra dari Asia. Komentarnya sangat mengejutkan saya. “Sementara kami terus menerbitkan karya-karya sastra Asia, saya jarang melihat penerbit-penerbit Asia saling menerjemahkan karya dari sesame negara Asia.”

Plak! Itu benar. Tak usah bicara tentang sastra Afrika atau negara-negara Eropa, kita bahkan tak tahu apa-apa tentang sastra Malaysia, sastra Filipina, Vietnam, atau Thailand; dan kita juga tak dikenal di sana. Jika penulis berbahasa Prancis saja menimbulkan reaksi “siapa dia?” publik dunia pasti akan jauh lebih melongo jika mendengar nama Danarto atau Joko Pinurbo: “siapa mereka?”

Seperti dunia bisnis mulai gerah karena semua transaksi melulu mempergunakan dolar Amerika, dunia kesusastraan saya rasa sebaiknya juga mulai gerah jika bacaan dan referensi kesusastraan melulu melalui penerbitan dalam bahasa Inggris. Tiga persen sangatlah tidak memadai. Mungkin sudah waktunya penerbit Indonesia menerjemahkan karya sastra dari, katakanlah, bahasa Sawali? Setidaknya cobalah menerjemahkan karya penulis muda Korea yang sedang naik daun, Han Yujoo, langsung dari bahasa aslinya. Menerjemahkan, karya dari mana pun, tanpa menunggu mereka dikenal dulu di dunia anglophone.

Pertama kali diterbitkan oleh Jawa Pos, 26 Oktober 2014

Tragedi 1965 dalam Novel “Ronggeng Dukuh Paruk”

Ronggeng Dukuh Paruk1 karya Ahmad Tohari dibuka dengan lanskap tatapan burung (dalam arti sebenarnya, yakni sepasang burung bangau yang terbang di atas dukuh), untuk memaparkan latar “sejarah” yang akan terjadi di sana. Ruang: Dukuh Paruk yang dikelilingi ribuan hektar sawah kerontang. Waktu: dibuka di satu musim kemarau panjang, sebelas tahun setelah 1946. Juga ditekankan bahwa penduduk dusun tersebut, yang tinggal di dua puluh tiga rumah, berasal dari keturunan yang sama. Mereka terikat persaudaraan darah dan daging. Ini penting untuk melihat, bagaimana peristiwa-peristiwa yang terjadi, mencoba mencerai-beraikan ikatan persaudaraan ini.

1 Yang dimaksud dengan Ronggeng Dukuh Paruk adalah keseluruhan novel karya Ahmad Tohari dalam trilogi ini: Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jentera Bianglala. Saya mempergunakan edisi yang telah digabung, Gramedia Pustaka Utama, cetakan kedelapan, Desember 2011.

Kedua tokoh utama segera diperkenalkan. Rasus, saat itu masih bocah berumur tiga belas tahun. Ia digambarkan sebagai pemimpin di antara teman-temannya, paling tidak digambarkan sebagai bocah paling cerdas. Ketika mereka kesusahan untuk mencabut pohon singkong disebabkan tanah yang kering, sementara tak ada air untuk melunakkan tanah, ia muncul dengan gagasan untuk mengencingi pangkal batang singkong tersebut, dan berhasil mencabutnya.

Tokoh kedua, si gadis kecil Srintil. Ia masih berumur sebelas tahun ketika pertama kali diperkenalkan. Tak seorang pun pernah mengajarinya berdendang atau menari ronggeng, tapi ia bisa melakukannya nyaris sempurna. Itu membuat orang percaya bahwa roh indang telah merasuk tubuhnya. Indang merupakan semacam wangsit di dunia ronggeng, dimana orang yang dirasukinya, dipercaya akan terpilih menjadi ronggeng. Rasus dan Srintil bersahabat sejak kecil. Lebih dari itu, Rasus tampak mulai “cemburu” ketika Srintil terpilih menjadi ronggeng, yang artinya Srintil telah menjadi milik semua orang.

Meskipun cerita banyak berputar di sekitar kedua tokoh ini, terutama hubungan asmara mereka yang tarik-ulur, tentu saja Ronggeng Dukuh Paruk memaparkan dunia yang lebih luas dari itu. Hal paling penting, yang akan kita tengok ke depan, tentu saja bagaimana novel ini menyikapi tragedi paling berdarah dalam sejarah Indonesia: peristiwa penghancuran Partai Komunis Indonesia, dan pembantaian simpatisan mereka yang terjadi kemudian.

Terlebih menyangkut kedua tokoh utama ini, keduanya harus terpisah oleh sebuah peristiwa sejarah ini. Rasus, kelak akan diperkenalkan dengan identitasnya yang baru sebagai tentara. Sangat menarik bagaimana seorang prajurit (dalam hal ini Rasus), melihat dan terlibat dalam kasus tragedi 1965 ini. Sementara di sisi lain, juga akan muncul Srintil dengan identitasnya yang juga baru, sebagai penari ronggeng untuk propaganda kaum merah (Partai Komunis), dan bagaimana ia melihat dirinya di situasi itu.

Dari Ronggeng Dukuh Paruk ke Ronggeng Rakyat

Hal-ihwal menyangkut Partai Komunis dan kegiatan mereka, baru muncul di novel kedua, Lintang Kemukus Dini Hari. Judulnya mungkin menyiratkan mengenai kemunculan Partai Komunis di masa itu.2 Terbit dengan sangat benderang, meninggalkan ekor yang sangat panjang dan memudar. “Lintang” dalam Bahasa Jawa berarti bintang, sementara “kemukus” berarti berasap/berekor. Bintang berekor yang dimaksud adalah komet Ikeya-Seki, yang memang muncul di sekitar masa itu.  Pemilihan judul tersebut besar kemungkinan untuk memperlihatkan kecenderungan novel ini menghubungkan segala peristiwa besar dengan fenomena alam yang juga besar atau unik.

2 Ada dua komet dengan nama Ikeya-Seki. Yang ini, lengkapnya Ikeya-Seki: C/1965 S1. Pertama kali teramati pada 18 September 1965. Komet ini masih terlihat hingga awal 1966. Lebih lanjut mengenai komet ini, bisa dilihat di laman Wikipedia.

Kisah kemunculan komet ini dan hubungannya dengan tragedi Partai Komunis tak hanya (tampaknya) hidup di benak masyarakat, tapi pada tingkat tertentu telah diromantisir di dalam karya sastra. Selain di novel ini, si lintang kemukus (misalnya) juga hadir di novel Blues Merbabu karya Gitanyali 3, sebuah novel yang kurang-lebih juga berlatar peristiwa 1965: “Begitu pun Ayah, yang seingatku menatap bintang itu dengan bibir komat-kamit. Banyak yang bilang, lintang kemukus pada dini hari menjadi pertanda akan hadirnya bencana besar, huru-hara, zaman penuh malapetaka (hal. 40).”

3 Gitanyali, 2011, Blues Merbabu, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta.

Ke dunia Dukuh Paruk, perihal Partai Komunis (atau apa pun yang berhubungan dengannya) dibawa pertama kali oleh Pak Ranu, seorang penggawa kantor kecamatan. Kedatangan Ranu ke Dukuh Paruk adalah untuk mengundang Srintil dan kelompok ronggengnya, agar pentas di perayaan Agustusan. Meskipun awalnya Srintil tak berminat memenuhi undangan tersebut, tapi akhirnya ia menerimanya juga. Dan terbukti perayaan Agustusan tersebut tak semata-mata perayaan Hari Kemerdekaan, tapi telah menjelma menjadi arena propaganda politik. Seseorang, bahkan menyodorkan secarik kertas berisi daftar dan lirik lagu. Tembang-tembang itu sudah mereka kenal sebelumnya, hanya saja di beberapa tempat lagu-lagu tersebut diselipi kata “rakyat” dan “revolusi”.

“Agitasi, propaganda, serta slogan kutukan membakar seluruh lapangan dalam kepalan ribuan tangan serta riuhnya bunyi tambur (hal. 180).” Apakah Pak Ranu (atau Pak Camat yang mengutusnya) merupakan kaki-tangan orang-orang komunis? Apakah upacara Agustusan tersebut merupakan ajang kampanye politik Partai Komunis? Memang tidak secara jelas disebutkan, tapi di bagian lain, merujuk ke upacara yang sama, diperlihatkan tanda-tanda melalui dialog (Sakum yang buta dan anaknya) semacam berikut ini: “‘Wah! Merah, merah, Pak. Bapak tidak melihat, ya?’/‘Apa yang merah?’/‘Semua, banyak sekali. Orang-orang bertopi kain merah. Bendera-bendera merah. Tulisan-tulisan merah.’” (hal. 181). Meskipun merah tidak dimonopoli oleh Partai Komunis Indonesia, tapi warna itu memang identik dengan partai tersebut.

Tentu saja ini diperkuat dengan hubungan Srintil dan Dukuh Paruk, dengan orang-orang dan rapat-rapat besar di kemudian hari, yang jelas mewakili partai berlambang palu dan arit ini.

Dalam pentas Agustus itu pula, rombongan ronggeng Srintil yang awalnya hanya dikenal sebagai Ronggeng (dari) Dukuh Paruk, tiba-tiba disebut, “… seniman-seniman rakyat! Rakyat yang perkasa, rakyat yang demikian tangguh, sehingga mereka masih tetap menyanyi dan menari meskipun telah berabad-abad hidup tertindas (hal. 187).” Tanpa mereka ketahui atau mereka kehendaki, Ronggeng Dukuh Paruk telah mengawali langkah kecil mereka yang tak terelakkan untuk mendekat ke kelompok merah, kelompok pembela rakyat tertindas, kelompok orang-orang Komunis, yang kelak akan sangat menentukan nasib mereka.

Keterlibatan Srintil dan kelompok ronggengnya dengan orang-orang Komunis semakin mendalam dengan kehadiran Bakar, meskipun sebagaimana kasus keterlibatan mereka di upacara Agustusan, juga bukan atas kehendak yang mereka rencanakan.

Dalam hal ini, orang-orang Komunis digambarkan tidak dengan cara simpatik. Mereka merekrut kader baru (dalam hal ini Srintil dan kelompok orang-orang Dukuh Paruk), meskipun awalnya tampak dengan cara halus tetapi pada dasarnya juga memasang jebakan. Jika hal demikian dianggap gagal, mereka bahkan bisa melakukan tindakan yang memaksa. Kita bisa mulai dari apa yang dilakukan Pak Ranu (jika kita sepakat bahwa ia merupakan kader Partai Komunis). Ketika Srintil menolak untuk menari di acara Agustusan (yang kemudian berubah jadi arena kampanye membela rakyat tertindas), Ranu langsung mengancam: “Pikirkanlah baik-baik, wong Dukuh Paruk. Kami tidak rugi bila sampean menampik permintaan ini. Sebaliknya, sampean bisa menghadapi kesulitan karena telah mengecewakan pihak kecamatan (hal. 162).”

Bakar melakukannya dengan lebih pintar daripada Ranu.

Bakar diperkenalkan sebagai “orang yang selalu berpidato berapi-api” (hal. 228). Ia muncul ke Dukuh Paruk dengan sikap yang ramah dan kebapakan. Tak hanya Srintil yang menganggapnya ayah, tapi seluruh penduduk “yang bersahaja serta-merta menerima Bakar sebagai orang bijak yang bisa memimpin dan melindunginya” (hal. 228). Ia juga selalu membayar Srintil dengan upah tinggi, sekaligus sikapnya dingin terhadap tujuan-tujuan erotik. Tak hanya itu, kepada rombongan ronggeng tersebut, Bakar memberi seperangkat alat pengeras suara, dan penduduk Dukuh Paruk sangat membanggakan peralatan elektronik yang pertama kali masuk ke dukuh mereka tersebut.

Dengan semua kebaikannya tersebut, Bakar diterima di Dukuh Paruk bagaikan seorang kamitua. Mereka menuruti kata-kata dan pengaturannya, hingga ia bisa meminta mereka memasang lambang partai di gerbang masuk ke dukuh, serta papan nama di depan rumah Kartareja, si dukun ronggeng.

Bakar tidak mempergunakan kepandaiannya “berpidato berapi-api” di dusun itu. Ia hanya menginginkan Srintil dan rombongannya sebagai alat penarik massa. Dan untuk tujuan tersebut, tentu saja Bakar telah berhasil mempergunakan Srintil dan teman-temannya. “Pokoknya massa amat banyak telah berkumpul dan dia berkesempatan mengolah emosi mereka. Hanya emosi, karena seorang dengan kepala penuh teori seperti Bakar pasti tahu bahwa lebih dari itu, tentang kesadaran ideologi misalnya, sulit dimengerti oleh orang-orang dusun (hal. 231).”

Semua itu diperoleh Bakar dengan segala kebaikan yang diberikannya kepada Srintil dan orang-orang dukuh. Srintil sendiri, menghadapi semua kebaikan Bakar, menjadi tak kuasa berkata “tidak” setiap kali utusan Bakar datang untuk memintanya ambil bagian dalam acara mereka. Hingga di tahun 1964 itu, kelompok Srintil praktis telah menjadi bagian dari “kelompok Bakar”. Bahkan nama Srintil dan Ronggeng Dukuh Paruk, telah memperoleh nama baru di masa tersebut: Ronggeng Rakyat.

Tentu saja perubahan nama dan suasana ketergantungan tersebut dengan segera membuat gelisah Srintil dan teman-temannya. Mereka hanya orang-orang dusun yang ingin meronggeng, bukan berpolitik. Kegelisahan tersebut semakin menjadi-jadi ketika setiap kali seusai rapat di mana mereka mengisi acara kesenian, menjadi awal bagi aksi merojeng padi. Itu tindakan massa yang mengamuk merampok padi yang menguning, hingga terjadi kerusuhan antara perampok padi dan pemilik sawah.

Bakar memiliki alasan untuk tindakan seperti itu: “Yang sedang terjadi adalah sebuah aksi massa, sebuah gerakan kaum miskin yang sekian lama mengalami ketidakadilan. Mereka berkeringat mengerjakan sawah para pemilik tanah. Tetapi mereka tak pernah ikut memetik hasilnya kecuali sekadar untuk hidup, bahkan kurang dari itu. Kini saatnya menuntut hak (hal. 233).”

Di titik ini, Srintil dan orang-orang dukuh memutuskan untuk mengundurkan diri. Untuk tidak lagi tergabung dengan kelompok Bakar ataupun kegiatan politik lainnya. Dan apa yang mereka peroleh untuk penolakan ini? Suatu hari, mereka menemukan cungkup makam Ki Secamenggala, nenek moyang dan pusat kehidupan batin serta spiritual mereka, poranda dirobohkan orang. Dengan segera mereka mengambil kesimpulan, semua itu ulah Bakar, karena mereka tak lagi mau mengikuti kemauannya.

Kemarahan itu mereda ketika tak lama kemudian mereka menemukan caping bercat hijau. Pertama, penduduk dukuh tak memiliki caping seperti itu, maka boleh jadi itu caping si perusak cungkup makam. Kedua, kelompok Bakar tak memakai warna hijau. Mereka memakai warna merah. Merah dan merah di mana-mana. Ketiga, ada kelompok dan partai lain yang mempergunakan warna hijau. Kita tahu, meskipun tak secara jelas diungkapkan di novel ini, partai-partai Islam memakai warna hijau untuk identitas mereka. Di masa itu, sangat besar kemungkinan ini merujuk ke Partai Nahdlatul Ulama 4. Demikian juga kita bisa mengerti kenapa orang-orang Islam tak akan menyukai makam Ki Secamenggala yang dikeramatkan dan bahkan disembah. Novel ini hanya menuliskan secara tersamar “pada tahun 1965 itu siapa pun tahu kelompok petani mana yang suka berpawai atau berkumpul dalam rapat dengan tutup kepala seperti itu (hal 236).”

4 Persaingan NU dan PKI di Jawa sangat kencang. Pada Pemilu terakhir, 1955 misalnya, mereka memperoleh peringkat tiga dan empat di bawah PNI dan Masyumi. Sila lihat misalnya Herbert Feith, 1999, Pemilihan Umum 1955 di Indonesia, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta.

Persoalannya, kelompok “hijau”, Islam, ataupun Partai NU tak pernah muncul sebelumnya di dalam persoalan Dukuh Paruk, seolah-olah urusan dunia mereka hanya mengenai ronggeng dan kemudian orang-orang komunis. Dalam hal ini, bisa jadi “caping hijau” tak lebih merupakan jebakan Bakar dan teman-temannya. Kita bisa memahami ini dengan melihat bagaimana akibat dari peristiwa tersebut. Karena mereka tak tahu siapa orangnya yang melakukan itu, “Akhirnya orang Dukuh Paruk menemukan jalan buat melampiaskan murka. Bukan dengan jalan mengayun parang atau meninju kepala orang-orang bercaping hijau, melainkan dengan cara menerima ajakan Bakar untuk meramaikan kembali rapat-rapat propaganda.”

Bakar, dengan perilaku yang kebapakan, dengan tangan bersih tanpa noda, akhirnya tergambarkan sebagai sosok serigala berbulu domba. Licik dan bengis di belakang. Dengan caranya, Bakar menjerat Srintil dan teman-temannya ke dalam perangkap sejarah. Ia tak hanya menjadikan mereka “ronggeng rakyat”, tapi juga melibatkan mereka dalam gejolak zaman yang barangkali terlampau besar untuk ukuran orang-orang Dukuh Paruk. Apa pun, itulah yang kemudian terjadi. Srintil dan orang-orang Dukuh Paruk pada akhirnya menjadi bagian tragedi nasional tersebut, ketika rumah-rumah mereka dibakar dan Srintil ditangkap tentara.

Bencana Sebagai Kelalaian Membaca Perlambang

Sebelum membicarakan tragedi di sekitar 1965 yang ditandai dengan ratusan ribu (ada yang bilang lebih dari satu juta) orang menjadi korban pembantaian (sebagian besar simpatisan Partai Komunis Indonesia), ada baiknya kita melihat bagaimana cara pandang novel ini atas bencana. Sejak awal, novel ini telah memperkenalkan kepada kita nama Ki Secamenggala. Diriwayatkan sebagai nenek moyang Dukuh Paruk, penduduk dukuh memujanya. Kehidupan mereka berputar di sekitar kuburan Ki Secamenggala. “Gumpalan abu kemenyan pada nisan kubur Ki Secamenggala membuktikan polah tingkah kebatinan orang Dukuh Paruk berpusat di sana.” (hal. 10).

Ki Secamenggala merupakan roh menjaga dukuh. Jika ada malapetaka, mereka percaya, roh ini sedang tidak senang.

Seolah sebagai pembuka untuk meramalkan bencana yang lebih besar, kita diajak untuk menengok masa lalu Srintil (si gadis perawan calon ronggeng), di sekitar peristiwa keracunan tempe bongkrek. Peristiwa itu melibatkan ayah dan ibu Srintil, pembuat tempe bongkrek, yang di satu pagi tanpa mereka sadari telah membuat tempe bongkrek beracun. Dalam peristiwa itu, sembilan orang dewasa dan sebelas anak-anak meninggal. Itu termasuk ayah dan ibu Srintil, yang ikut memakan tempe bongkrek buatan mereka untuk membuktikan makanan tersebut tak beracun.

Pada dasarnya penyebab kematian-kematian tersebut disebutkan dengan jelas: keracunan (meskipun tak disebutkan racun jenis apa, mungkin memang berlebihan untuk alam pikiran orang-orang dusun, hanya disebutkan: “barangkali engkau merambang bungkil dengan bokor tembaga”, hal. 26). Para penduduk memercayai itu. Juga dibuktikan oleh kematian si pembuat yang memakan tempe bongkrek buatannya sendiri. “Kebodohan memang pusaka khas Dukuh Paruk. Namun setidaknya orang-orang di sana bisa berpikir mencari sebab malapetaka hari itu.” (hal. 24-25). Dengan kata lain, sebodoh-bodohnya mereka, orang-orang ini bisa berpikir rasional. Lihat pula apa yang dikatakan salah satu penduduk: “Santayib. Engkau anjing! Asu buntung. Lihat, bokor ini biru karena beracun. Asu buntung. Engkau telah membunuh semua orang. Engkau, engkau aaasssu ….” (hal. 26)

Hanya Santayib yang berpikir dengan cara berbeda: “Tidak bisa! Siapa tahu kejadian ini adalah pageblug. Siapa tahu kejadian ini karena kutuk roh Ki Secamenggala yang telah lama tidak diberi sesaji. Siapa tahu!” (hal. 26)

Santayib menyebut-nyebut roh pelindung desa mereka, yang kemungkinan besar marah karena lama tidak diberi sesaji (situasi dukuh saat itu tengah menghadapi kemarau panjang, sehingga bahkan penduduk mulai makan nasi gaplek, atau terpaksa menumbuk padi yang rencananya untuk benih). Santayib menghubungkan malapetaka kematian warga dukuh kepada sesuatu yang supranatural: kemarahan Ki Secamenggala.

Dalam pertentangan dua alam pikiran orang-orang dukuh ini, justru menarik apa yang dikisahkan oleh sang narator.

Diceritakan mengenai kedatangan cahaya kemerahan yang datang dari langit menuju Dukuh Paruk. Di atas dukuh, cahaya itu menyebar ke segala arah. Narator mengatakan, seandainya ada manusia Dukuh Paruk yang melihatnya, dia akan berteriak sekeras-kerasnya, “Antu tawa. Antu tawa. Awas, ada antu tawa! Tutup semua tempayan! Tutup semua makanan!” (hal. 22)

Narator menyebut “seandainya”, sebab kenyataannya tak seorang pun melihatnya. Semua orang tidur nyenyak. Tak seorang pun di Dukuh Paruk tahu. Dengan kata lain, hanya narator dan pembaca yang mengetahui hal itu. Dengan kata lain pula, narator ingin menyelipkan pengertian ini kepada pembaca, bahwa penyebab malapetaka kematian orang-orang yang makan tempe bongkrek adalah kedatangan antu tawa, justru bertentangan dengan kepercayaan penduduk yang melihat bencana itu disebabkan oleh “merambang bungkil dengan bokor tembaga”. Seolah ingin menegaskan hal ini, ditulis pula, “Cahaya alami yang dipercaya sebagai pembawa petaka datang tanpa seorang pun melawannya dengan tolak bala.” (hal. 22)

Bencana itu datang karena tak ada orang yang tahu, dan tak ada yang mempersiapkan tolak bala. Tak ada yang melihat perlambang.

Perlambang merupakan petunjuk penting dalam dunia meramal orang Jawa. Dengan cara pandang terhadap waktu yang tak melulu linear, dan peristiwa merupakan kesinambungan sebab-akibat yang pasti, kemampuan membaca perlambang merupakan suatu keharusan. Persoalan waktu dalam kosmologi Dukuh Paruk ini bisa kita lihat dari wejangan Sukarya, kakek Srintil, kepada orang-orang dukuh, “… kehidupan tidak maju ke depan dalam lintasan lurus, melainkan maju sambil mengayun ke kiri dan ke kanan dengan jarak yang sama jauhnya (hal. 321).” Untuk orang Dukuh Paruk, pengetahuan semacam itu bulanlah ilmu, melainkan ngelmu. Dan mengenai ‘ngelmu’, kita bisa merujuk soal ini ke telaah Denys Lombard, misalnya, di Nusa Jawa: Silang Budaya, “… ilmu yang sejati, ngelmu, terdiri atas kepandaian untuk ‘membaca’. Karena waktu terkandung dalam benda, dan masa depan dalam masa kini, ‘bacaan’ yang baik memungkinkan peramalan kejadian-kejadian yang akan datang (hal. 104).”5

5 Denys Lombard, 2008, Nusa Jawa: Silang Budaya 3, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Di dunia Jawa orang-orang Dukuh Paruk, bencana atau malapetaka bisa dilihat sebagai ketidakmampuan untuk membaca perlambang tersebut. Jika bencana kemudian terjadi, mereka bahkan bisa “menciptakan” perlambang-perlambang di mana mereka menempatkan diri seolah-olah telah abai terhadap perlambang-terlambang tersebut.

Perihal peristiwa keracunan tempe bongkrek di novel ini misalnya, bertahun-tahun setelah peristiwa itu, orang (melalui Nenek Rasus) mulai berkisah mengenai fenomena di kuburan Dukuh Paruk di malam kejadian. Banyak obor terlihat di atas kerimbunan pohon beringin di atas makam Ki Secamenggala. Juga terdengar tangis bersahutan. Bahkan Ki Secamenggala keluar dan mendatangi setiap mayat. Dan Sakarya (kakek Srintil) mengatakan, ia mendengar Ki Secamenggala mengaku, kematian orang-orang itu sebagai kehendaknya. Ia berutang nyawa sebanyak itu, dan harus dibayar oleh keturunannya.

Bagian-bagian itu tak muncul di masa peristiwa itu terjadi (jadi diragukan apakah benar-benar terjadi atau tidak), dan hanya diceritakan beberapa tahun kemudian.

Dengan merujuk (atau bahkan menciptakannya di kemudian hari) ke perlambang, maka pada dasarnya orang-orang Dukuh Paruk menempatkan semua bencana kembali ke keseimbangan kosmos mereka. Bencana datang karena kelalaian mereka “membaca” pertanda (melihat fenomena alam), atau kelalaian mereka melakukan laku yang benar (tidak memberi sesaji kepada Ki Secamenggala). Dengan kata lain, bencana bisa dilihat sebagai hukuman atas kebodohan (tak mampu atau abai “membaca”) atau kejahatan (tak melakukan laku yang benar).

Bahkan ditekankan di novel ini, “Orang Dukuh Paruk, siapa pun dia, menganggap wangsit sebagai bagian dari hukum yang pantang dilanggar (hal. 40).” Perlambang bisa berupa fenomena alam yang ganjil, bisa pula berupa mimpi yang membawa pesan, yang disebut wangsit.

Akan tetapi, bencana sesungguhnya Dukuh Paruk, yang terbesar, bisa dikatakan adalah kehancuran Srintil. Dan jika menilik latar-belakang kehancurannya, kita bisa menemukan jejak-jejaknya sejak awal bahwa proses Srintil menjadi ronggeng, telah menyimpang dari laku yang seharusnya. Srintil telah dikutuk sejak pertama ia menjadi dongeng.

Meskipun ia sudah dipercaya telah dirasuki indang, Srintil baru berhak menyebut dirinya ronggeng jika ia telah melewati dua tahapan adat lagi. Yang pertama adalah upacara permandian yang secara turun-temurun dilakukan di depan cangkup makam leluhur mereka, Ki Secamenggala. Di depan makam, Srintil bahkan menari dan Kartareja kemudian kerasukan roh Ki Secamenggala, pertanda upacara tersebut diterima oleh sang leluhur.

Syarat kedua yang harus dijalaninya adalah upacara bukak-klambu. Ini merupakan sayembara, terbuka untuk laki-laki mana pun, untuk memperoleh keperawanan Srintil. Untuk memperolehnya, peserta harus bisa memenuhi syarat tertentu (biasanya sejumpah uang) yang ditentukan oleh dukun ronggeng. Jika ada lebih dari satu yang bisa memenuhi syarat tersebut, dipilih siapa yang bisa membayar lebih tinggi sampai waktu yang ditentukan telah habis.

Di sinilah, pada dasarnya Srintil gagal melewati upacara tersebut. Seperti kita tahu, di malam tersebut, Srintil menyerahkan keperawanannya kepada satu-satunya lelaki yang ia cintai, Rasus. Sementara dua peserta sayembara masih bertengkar mengenai siapa yang berhak memperoleh keperawanan Srintil, gadis itu bertemu Rasus di belakang rumah. Mereka hampir melakukannya pertama kali, tapi tak terjadi sebab saat itu mereka berada di makam Ki Secamenggala. Kini, tanpa ada satu halangan, diselimuti kegelapan, Srintil menyerahkan dirinya kepada Rasus. “Alam sendiri yang turun tangan mengguruiku dan Srintil. Boleh jadi Srintil merasakan sesuatu yang menyenangkan. Tetapi entahlah, karena aku hanya merasa telah memperoleh sebuah pengalaman yang aneh (hal. 76),” demikian catatan Rasus kemudian.

Malam itu, Srintil telah melanggar “laku yang benar” sebagai calon ronggeng. Kutukan untuknya segera berawal, ia tak bisa melupakan Rasus. Ia jatuh cinta kepada Rasus. Memang tak ada salahnya seorang ronggeng jatuh cinta kepada seorang lelaki, tapi masalahnya tak hanya berhenti di sana. Ia tak hanya jatuh cinta, ia ingin menikahi Rasus, dan ingin memiliki anak darinya. Itu bisa berarti akhir dari karirnya sebagai ronggeng. Hingga kemudian ia menyadari, Rasus menolaknya. Rasus tak menginginkannya menjadi istri. Dalam kata-kata Rasus, “Dengan menolak perkawinan yang ditawarkan Srintil, aku memberikan sesuatu yang paling berharga bagi Dukuh Paruk: ronggeng!” (hal. 107).

Srintil menjadi ronggeng dengan membawa sejenis kutukan yang membawanya ke bencana hidup. Bencana besar hidupnya (dan hidup orang-orang Dukuh Paruk) pun menunggu di belakang hari …

Tragedi 1965 Sebagai Bencana

Kita bisa menengok sebentar ke sebuah buku yang belum lama ini terbit, Memecah Kebisuan.6 Buku ini merupakan bunga rampai, tuturan para penyintas tragedi 1965-1966.

6 Putu Oka Sukanta (ed.), 2011, Memecah Kebisuan, Lembaga Kreativitas Kemanusiaan, Jakarta.

Kisah akan mengutip salah satu cerita mengenai I Ketut Sumarta, yang pada November 1965, “Saya ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara tanpa alasan penahanan yang sesuai hukum. Selama di dalam penjara, saya diperlakukan tanpa proses hukum yang jelas, melainkan semata-mata diinvestigasi berdasarkan skenario buatan setelah ditanyai nama dan umur. Meski pada akhirnya saya diberi surat pembebasan, sesudah dua tahun lebih ditahan karena tak ada indikasi jelas yang dapat membuktikan kebenaran tuduhan terhadap saya (hal. 47).”

Sementara di sisi lain, kita akan mencoba melihat kisah seorang polisi bernama Beny, ditempatkan di SoE, sebuah kota kecil yang terletak sekitar 110 kilometer arah timur Kupang. Beny mengingat, di tahun itu di seluruh kabupaten tempatnya berdinas, ada sekitar 700 orang dibunuh. Perintah datang dari Jakarta untuk membunuh semua tahanan tanpa pemeriksaan terlebih dahulu. Tahanan dengan berbagai alasan penahanan, seperti pencurian, perkelahian, dan pembunuhan, semuanya dibersihkan. Ada atau tidak ada hubungannya dengan PKI. “Tentara yang datang dari Kupang memerintahkan untuk membunuh semua tahanan dalam penjara SoE tanpa keciali (hal. 31).” Pengalaman ini nyaris membuat Beny menjadi gila.

Kedua kisah tersebut bisa menjadi gambaran betapa apa yang terjadi pada September 1965 dan setelahnya merupakan suatu kekacau-balauan, kengerian, kekejaman, yang nyaris tak pandang bulu. Kebanyakan dari penyintas tak menyadari bahwa mereka akan menjadi korban. Petaka itu datang tiba-tiba. Jika tidak ditangkap atau dibunuh, mungkin menjadi pelaku yang menangkap dan membunuh. Ada hubungannya dengan PKI atau tidak.

Bahkan untuk seseorang yang dekat dengan kekuasaan PKI pun, apa yang terjadi pada saat itu tetap seperti sesuatu yang datang tiba-tiba, meskipun mungkin tak terelakkan. Kisah lain di buku itu, datang dari Sutarni. Ia adalah istri dari Nyoto, anggota parlemen dari PKI buah pemilihan umum tahun 1955, sekaligus Ketua II CCPKI.

Di penghujung bulan November itu, Nyoto sedang di rumah. Ia mengikuti rombongan Wakil Perdana Menteri I Soebandrio keliling Sumatera. Subuh memasuki tanggal 1 Oktober 1965 itu, Sutarni sedang berada di rumah adiknya, di Mampang Prapatan. Di rumah Tari tersebut, sedang ada acara keluarga. Saat itulah ia menerima telepon agar ia dan anak-anak segera pulang. Nyoto pulang menjelang tengah malam, dan segera membawa mereka ke rumah di Kebayoran Baru, tempat mereka biasanya menghabiskan hari liburan. Dari sana mereka membaca bagaimana rumah mereka dan isinya dijarah. Dan di mulailah episode pelarian dalam kehidupan mereka, sebelum tertangkap.

Semua kisah tersebut untuk memberi gambaran peristiwa di sekitar akhir tahun 1965, untuk memberi sedikit perbandingan mengenai apa yang terjadi pada Srintil dan orang-orang Dukuh Paruk. Apa yang terjadi atas mereka barangkali lebih buruk. Mereka tak mengerti baca-tulis, tak mengetahui apa-apa mengenai politik dan hingar-bingarnya. Yang mereka ketahui hanya menari ronggeng, lalu satu hari, hal itu menjadi cikal-bakal malapetaka yang menimpa mereka, tanpa mereka tahu kenapa hal itu terjadi.

Kita akan kembali dengan perkenalan anatara orang-orang Dukuh Paruk dengan Pak Ranu, satu babakan yang akan mengawali perjalanan orang-orang dukuh itu dengan dunia politik nasional. Bahkan mengawali perjumpaan tersebut, Sukarya kakek Srintil telah melihat peristiwa-peristiwa kecil yang bermakna. Perlambang. Pertama, ia melihat seekor burung tlimukan terbang menerobos rumah dan membentur cermin hingga mati seketika. Kedua, sehari sebelumnya melihat ayam hutan hinggap di pohon angsana, dan itu merupakan pertanda buruk. Ketiga, ia kejatuhan seekor cicak.

Ia segera pergi ke makam Ki Secamenggala untuk memasang sesaji dengan harapan menetralisir hal-hal buruk yang mungkin terjadi.

Tapi yang lebih merisaukan Sukarya adalah, ketika rombongan ronggeng Srintil menerima tawaran Ranu untuk tampil di pentas Agustusan, “Aku dilarang mereka membakar dupa, Kang. Juga syarat-syarat lainnya. Wah, hatiku sungguh tidak enak. Bisa terjadi apa-apa nanti (hal. 188).”

Untuk mereka, itu sesuatu yang menyimpang. Dan setiap penyimpangan, hanya akan membawa malapetaka.

Hingga penyimpangan itu terjadi lagi ketika mereka bertemu dengan Bakar. Tak hanya penggantian nama menjadi “Ronggeng Rakyat” serta segala tetek-bengek papan nama dan lambang partai, tapi terutama lagi-lagi, “Bagaimana kalau kita selalu dilarang memasang sesaji! Ini pelanggaran adat yang bukan main. Kartareja, aku amat takut menerima akibatnya.” (hal. 229).

Lalu terjadilah apa yang terjadi di akhir Oktober 1965 tersebut.  Suatu masa yang tak akan dimengerti oleh orang-orang Dukuh Paruk. Mereka hanya menyaksikan betapa kehidupan tiba-tiba menjadi gagu, dan pasarmalam tiba-tiba lenyap. Yang biasanya ramai, menjadi sepi. Maka ketika tragedi itu terjadi, bagi orang Dukuh Paruk, itu adalah bencana sebagai hukuman atas kelalaian mereka membaca sasmita alam. Pengabaian mereka atas kewajiban yang harus dilakukan (memberi sesaji sebelum pentas ronggeng, misalnya).

Ditandai dengan lintang kemukus yang berpijar dini hari, segerombolan orang-orang membakar rumah-rumah penduduk Dukuh Paruk. Kartareja dan Srintil (denyut nadi dukuh tersebut, sebab apalah artinya Dukuh Paruk tanpa seorang ronggeng?) ditangkap. Bahkan meskipun mereka tahu bahwa tragedia itu berskala besar, melibatkan orang-orang yang jauh drai merek (“Di Jakarta para tentara sedang saling bunuh.” hal. 237), mereka tetap melihat tragedi itu sebagai akibat kesalahan diri atau kelompok mereka.

“Inilah yang dulu kukatakan, dalam hidup segala hal mestilah dilakukan pada batas kewajaran,” kata Sukarya merenungi tragedi tersebut, dan karenanya, “Kita akan slametan. Mara bahaya yang mungkin menimpa kehidupan harus kita tumbal.” (hal. 238) Mereka hanya dituntut untuk sumarah kepada kersaning zaman.

Lebih jelas lagi apa yang dikatakan oleh Srintil. Baginya, semua orang tidak salah. “Akulah tempat segala kesalahan hidup. Jadi akulah yang harus tahu diri …” (hal. 288).

Sikap orang-orang Dukuh Paruk barangkali cermin sikap mayoritas orang, baik didorong ketakutan ataupun tidak. Dengan cara pandang seperti itu, pembinasaan manusia atas manusia lain bisa terjadi dengan cepat, dan mereka menerimanya seolah itu kersaning zaman. Kehendak waktu. Sesuatu yang tak terelakkan, akan terjadi dan memang terjadi. Mereka hanya menjalani pakem hidup, memerankan peran yang sudah ditimpakan kepada mereka oleh nasib.

Atau dengan kata-kata Srintil, semua kegetiran yang dialaminya merupakan bagian garis hidup yang harus dilaluinya. Ia harus pasrah dan nrimo. Dalam hidup, orang harus menerima jatah: jatah yang manis atau jatah yang getir.

Dan sebagaimana mereka melihat penyebab zaman dengan cara seperti itu, demikian pula cara mereka menyikapi apa yang harus dilakukan setelahnya. Seperti waktu yang mereka pikir selalu berayun ke kanan-ke kiri, maka ketika nasib mendorong mereka terlempar ke kiri, mereka harus mengembalikannya ke kanan.

Bagi Srintil, yang melihat nasib buruk dirinya (dan orang-orang kampungnya) berawal justru saat ia menjadi ronggeng, mengembalikan tatanan damai itu adalah dengan berhenti menjadi dongeng. Maka, betapa berbahagia dirinya ketika Sakum (yang buta) berkata, ia mendengar suara Srintil bukan lagi suara seorang ronggeng. Indang tak lagi bersemayan di dirinya. Srintil bukan lagi ronggeng, melainkan perempuan biasa.

Perubahan itu pun segera terlihat. “Ketika masih meronggeng Srintil selalu mandi telanjang dan tenang saja bila ada mata kali-laki mengintipnya, pura-pura tidak merasa sedang diintip atau bahkan sengaja demi mempermainkan jantung laki-laki. Itu dulu. Kini Srintil mandi dengan kain petelasan sehingga hanya dari dada ke atas yang terbuka.” (hal. 336).

Demikianlah bagaimana novel ini memandang tragedi 1965, dari kacamata orang-orang di Dukuh Paruk, utamanya Srintil. Jika harus diperbandingkan, apa yang terjadi di masa itu barangkali bisa disamakan dalam tatanan waktu sebagai “sandikala”. Ada sebuah adegan di mana, di tengah dorongan rasa marah, putus asa, Srintil menari diiringi sepasang pemusik kecapi, Wirsiter dan Ciplak. Demikian larutnya ia dalam tarian (dalam kemarahan dan keputusasaan), ia seolah tak peduli hari menjelang malam. Maka Wirsiter pun mengingatkan: hari sudah sandikala.

Itu waktu yang sangat peka. Senjakala, “Saat keseimbangan ekosistem alam bergoyang karena siang sedang beralih ke malam … ketika Bathara Kala turun mencari mangsa.” (hal. 133) Sandikala, barangkali bisa juga dipergunakan untuk menyebut keadaan alam yang berguncang, dari tatanan nilai lama menuju tatanan nilai baru. Dan seperti saat senjakala, di puncak perubahan zaman ini, Bathara Kala juga turun mencari mangsa. Manusia hanya harus menerima nasibnya, bahkan sekalipun ia menjadi korban. ***

Makalah ini dibawakan untuk acara diskusi “Tragedi 1965 dalam Novel Indonesia”, di Salihara, 12 September 2012.

Lelaki dan Rumah

Aibkah bagi seorang lelaki dewasa untuk terus tinggal di rumah orang tua? Bagi kebanyakan orang mungkin iya. Lelaki semacam itu bisa dianggap kurang macho. Tidak maskulin. Bahkan beberapa tradisi (Minang, misalnya), seperti mewajibkan lelaki untuk keluar rumah bahkan di usia yang sangat muda. Lelaki harus pergi dari rumah, hingga kelak boleh kembali untuk menguasai rumah. Dari manakah sebenarnya stereotif semacam itu berawal?

Pikiran tentang rumah, tentang pergi dari rumah dan kembali untuk menguasai rumah, barangkali sudah ada dalam pikiran asali manusia. Kisah jatuhnya Adam dari surga bisa juga dibayangkan sebagai simbol pergi dari rumah. Di rumah bernama surga itu, Adam tinggal bersama keluarga besarnya: Sang Pencipta, Iblis, Malaikat, benda-benda yang telah diberi nama, dan kemudian Hawa. Di usia yang disimbolkan sebagai dewasa, Adam diusir dari rumah, tapi tentu dengan sebuah janji: jika sudah tiba waktunya, jika misinya sudah berhasil, ia boleh kembali ke rumah. Kembali ke surga. Kembali ke pelukan keluarga.

Continue reading Lelaki dan Rumah

Membaca “Sekali Peristiwa di Banten Selatan”

Barangkali disebabkan kecenderungan politik dan ideologinya, serta plot yang cenderung didaktis, novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan sering dikesampingkan para pengamat karya Pramoedya Ananta Toer, jika tidak dianggap karyanya yang paling tidak berhasil.

A. Teeuw dalam Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer, hanya membahas novel ini dalam sub bab pendek dibandingkan bahasan atas karya Pramoedya yang lain. A. Teeuw, misalnya menulis: “Watak-watak semuanya digambar dengan warna hitam-putih, latarnya sangat konvensional.” Benar bahwa karakter di novel ini tidak penuh warna sebagaimana kita temukan dalam novel-novel puncak Pramoedya, tapi mengatakannya sebagai hitam-putih tentu penyederhanaan berlebihan. Tokoh Juragan Musa, sang antagonis, bisa menjadi contoh yang menarik. Continue reading Membaca “Sekali Peristiwa di Banten Selatan”