“Bercinta dengan Barbie” dalam Kacamata Feminis

oleh Melissa, kritikfeminis2005.blogdrive.com
Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya
Gramedia Pustaka Utama, 2005

Cerpen “Bercinta dengan Barbie” adalah sebuah karya dari penulis bernama Eka Kurniawan yang terdapat dalam buku berjudul Gelak Sedih yang merupakan kumpulan hasil karyanya.

Judulnya yang begitu menarik, yaitu “Bercinta dengan Barbie”, begitu menggugah rasa ingin tahu ceritanya. Dari ceritanya yang sama menariknya dengan judulnya, kita bisa menemukan beberapa faktor yang mencolok mengenai hubungan antara suami dengan istri, laki-laki dan perempuan, pria dan wanita. Meskipun ide utama cerita ini kemungkinan tidak khusus mengarah pada masalah gender, tapi kita masih bisa mendapatkan gambaran tentang keresahan seorang istri, perempuan, wanita, dalam menghadapi suami, atau laki-laki dan pria, dalam melakukan hubungan sosial dengan mereka. Melalui beberapa unsur yang terdapat dalam cerpen “Bercinta dengan Barbie” ini, saya akan mencoba menganalisanya melalui sudut pandang para feminis.

Unsur pertama yang paling mencolok dalam cerpen “Bercinta dengan Barbie” ini sudah jelas adalah tokoh “Barbie” itu sendiri. Barbie, seperti yang kita ketahui, adalah sosok boneka perempuan yang berwujud—baik di mata kaum Adam ataupun Hawa—sangat sempurna. Mulai dari rambut sampai ke ujung kaki Barbie merupakan sosok dambaan semua lelaki dan terkadang membuat iri kaum perempuan.

Dalam cerita pendek ini Barbie tersebut disihir oleh seorang pria agar menjadi seorang manusia biasa, dengan alasan si pria sudah sangat putus asa dengan sosok istrinya yang—untuk ukuran kebanyakan laki-laki—sangat tidak memuaskan. Kejadian ini banyak ditemukan dalam kehidupan nyata, dimana seorang perempuan diharuskan untuk memiliki tubuh sesensual boneka Barbie dan wajah seayu wajah boneka tersebut, baru mereka bisa memenuhi syarat untuk bisa memuaskan setiap laki-laki. Apabila mereka tidak memenuhi persyaratan itu, maka mereka kemungkinan besar akan ditinggalkan oleh para laki-laki yang—menurut cerita dalam cerpen ini—akan mencari perempuan lain dengan penampilan serba sempurna seperti Barbie.

Akan tetapi, jika kita melihatnya dari sisi kaum perempuan sendiri, yang ada hanyalah penderitaan untuk memenuhi persyaratan “hidup” seperti itu, bagaimana kaum perempuan haruslah selalu menjadi sosok “dewi yang sempurna” untuk suami atau laki-laki yang mereka cintai. Seperti yang kita tahu, untuk memiliki kesempurnaan Barbie adalah sesuatu yang mustahil, karena si Barbie sendiri tidak akan pernah bertambah tua dan tak akan pernah berubah perawakannya menjadi keriput atau bergelambir. Jika melihat dari sudut pandang kaum feminis, hal ini akan menyebabkan kaum perempuan merasa terasing dari tubuh mereka sendiri, dimana seseorang seharusnya merasa bebas dengan keadaan dirinya, dengan usaha dari dirinya untuk dirinya sendiri, bukan orang lain.

Hubungan antara si pria yang menjadi tokoh utama dalam cerita dan boneka Barbie-nya merupakan unsur penting berikut dalam cerpen “Bercinta dengan Barbie”. Si pria yang merubah Barbie menjadi seorang manusia pada akhirnya tidak hanya “menggunakan” si boneka untuk kepuasan dirinya sendiri. Pria itu mulai mencari keuntungan dengan membuka rumah pelacuran yang diberi nama “Bercinta dengan Barbie”, darimana judul cerpen itu diambil.

Keelokan si Barbie yang “dijual” oleh pria itu menunjukkan pula bagaimana proses Kapitalisme sejalan dengan sistem Patriarki. Sekalipun para perempuan dalam cerpen ini, terutama istri si pria, membenci si Barbie, tetapi Barbie-Barbie yang “dijual” oleh si pria tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena bukan kesalahan mereka kalau mereka begitu elok. Justru dari cerpen ini kita bisa melihat bagaimana Barbie-Barbie itu hanya menjadi pion si pria dalam usahanya mencari keuntungan, selain keuntungan itu juga dapat dia nikmati sendiri.

Sitem Patriarki, yang selalu dapat dihubungkan dengan kaum laki-laki, disimbolkan oleh sosok si pria “penyihir” dalam cerpen ini. Sementara itu, seperti yang sudah diketahui, Barbie dalam kehidupan nyata sendiri merupakan salah satu dari sekian banyak sistem Kapitalisme yang ada. Sosok Barbie yang begitu sempurna sebagai boneka dijual ke khalayak banyak, dan mereka yang yang menjualnya mendapatkan begitu banyak keuntungan dari orang-orang yang merasa terbius oleh keindahan boneka tersebut. Yang paling tidak mengenakkan dari boneka Barbie itu sendiri, bagi kaum perempuan, sudah tentu bentuknya yang begitu menawan. Setiap perempuan yang membandingkan dirinya dengan si boneka Barbie yang menjadi impian setiap laki-laki akan terus merasa tersisih.

Cerpen ini menunjukkan bagaimana boneka-bobeka Barbie yang disihir menjadi manusia untuk “dijual” itu menjadi sumber kekacauan rumah tangga dan hubungan-hubungan antara manusia. Istri-istri yang ditinggal suaminya untuk bercinta dengan Barbie, dalam cerita ini, dikatakan menjadi kalap dan membunuhi Barbie-Barbie itu, karena suami-suami mereka sama sekali tidak mau menyentuh mereka lagi. Ini menunjukkan bagaimana standar diri untuk perempuan untuk para lelaki sangatlah tinggi, sementara saat mereka mati-matian berusaha di rumah untuk menarik perhatian para lelaki itu lagi, dengan enaknya suami-suami itu tetap mengunjungi rumah pelacuran Barbie.

Sungguh terlihat ketidakadilan hubungan laki-laki dan perempuan dan cerita ini. Meskipun dalam cerpen tokoh si pria digambarkan bukan sebagai orang yang “rakus” dan bersedia menerima istrinya asalkan tubuhnya seindah dulu, tetap saja menunjukkan bahwa laki-laki menentukan segalanya, tidak peduli sesusah apapun para wanita mereka berusaha memenuhi standar mereka. Namun pada akhirnya, usaha mereka tetap saja tidak mendapat perhatian para suami itu kembali, karena mereka lebih tertarik pada sosok-sosok perempuan “Barbie”.

Si pria sebagai simbol Patriarki dan si Barbie sebagai simbol Kapitalisme. Si pria tidak peduli seberapa banyak keluarga dan hubungan yang hancur karena pelacuran Barbie-nya selama dia mendapat untung, sekaligus sebagai penentu bagaimana seorang wanita seharusnya. Hal-hal seperti ini termasuk ke dalam persoalan yang ditentang oleh para feminis. Sosok indah perempuan dijual oleh mereka yang selalu mencari keuntungan, sementara mereka yang tidak termasuk kedalam kategori perempuan bersosok indah tersebut harus berusaha mati-matian untuk menetukan standar agar diakui oleh kaum pria.

Yang menjadi sorotan terakhir dalam penganalisaan cerpen “Bercinta dengan Barbie” ini adalah tokoh sang istri dari si pria, atau juga yang mewakili semua perempuan dalam cerita. Diceritakan bahwa sang istri dan istri-istri yang suaminya berselingkuh dengan Barbie di tempat pelacuran itu membunuhi Barbie-Barbie yang menjelma menjadi manusia karena terbakar oleh rasa cemburu dan putus asa dengan usaha mereka untuk menjadi langsing atau cantik seperti sediakala. Namun begitu si pria mengalah dengan memberikan para wanita itu boneka Ken yang dirubah menjadi manusia, mereka menjadi puas.

Memang para wanita itu dikatakan puas dengan memiliki Ken sebagai pengganti suami mereka yang berselingkuh dan juga tidak menarik bagi mereka, tapi ini tidak melepaskan mereka dari sistem Kapitalis yang diterapkan pada mereka. Dengan membayar Ken-Ken ciptaan si pria untuk dibawa ke ranjang, mereka tetap harus membayar untuk kepuasan semacam itu. Bisa jadi ini semacam pemberontakan terhadap kaum lelaki yang tetap tidak mempedulikan mereka, namun dalam cerpen diceritakan apabila para boneka Ken tersebut mulai berselingkuh dengn para boneka Barbie milik suami mereka. Pada akhirnya jadilah para wanita itu tetap mengeluh dan merasa kalau saja mereka bisa menjadi secantik Barbie, maka para Ken “bayaran” itu tidak akan berselingkuh dengan para Barbie.

Kejadian dalam cerita ini jelas memperlihatkan bahwa apapun usaha yang dilakukan oleh para wanita itu, baik membunuh para Barbie, berusaha keras mengembalikan bentuk tubuh mereka, yang ada hanyalah kekosongan yang kembali mereka rasakan setelah kehilangan Ken-Ken mereka. Pada akhir cerita ini dikatakan apabila si pria mengembalikan semua boneka itu ke wujud asalnya, meskipun dia masih menyimpan Barbie untuk dirinya sendiri. Namun saat anaknya menangis mencari Barbie-nya yang hilang, dengan kejam dia mengganti istrinya ke wujud boneka dan memberikannya pada anaknya, yang langsung membuang muka melihat keburukan boneka baru tersebut. Si pria akhirnya membuang boneka si istri ke tempat sampah dan pergi bersama Barbie-nya.

Cerita ini menunjukkan bagaimana dalam kehidupan nyata seorang istri yang sudah tidak bisa memuaskan suaminya bisa dibuang begitu saja dan diganti dengan perempuan yang baru. Sungguh tidak adil, karena si istri sama sekali tidak diberi kesempatan untuk melakukan pembelaan terhadap dirinya dan hanya menerima saja ketika dirinya dibuang, persis seperti sesosok boneka yang tidak bisa berkata apa-apa ataupun memprotes saat dirinya dilempar ke tempat sampah, dibuang karena sudah tidak sempurna.

Dari semua unsur yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa cerpen “Bercinta dengan Barbie” ini samar-samar menunjukkan perjuangan kaum Hawa untuk mendapat penghargaan di mata para lelaki. Meski di pertengahan sebagian dari kaum perempuan sempat melawan ketika diperlakukan semena-mena, pada akhirnya mereka dibuang juga dalam bungkam seperti sebuah boneka usang.

Sebagian dari kaum perempuan itu, dalam kasus ini adalah Barbie yang diubah menjadi manusia, juga menemukan pemberontakkan diri mereka saat diperjual-belikan kepada para lelaki yang berpenampilan sama tidak memuaskannya seperti istri mereka, dan mereka berselingkuh dengan para Ken yang sempurna. Namun pada akhirnya mereka semua dikembalikan menjadi boneka yang tidak bisa memprotes, dan hanya satu yang masih bisa menjadi manusia, yaitu Barbie milik si pria. Dengan kata lain, kalau saja Barbie itu bukanlah “milik” si pria, maka kemungkinan dia tidak akan pernah menjadi “manusia”, dimana makin kuat pendapat mengenai si pria sebagai simbol Patriarki yang mengatur segalanya dalam kehidupan kaum perempuan.

3 thoughts on ““Bercinta dengan Barbie” dalam Kacamata Feminis”

  1. Well well … sebagai seorang feminis, cerita ini tentu sangat menarik bagiku. Btw, jadi ingat film THE STEPFORD WIVES dimana seorang perempuan menjadikan banyak perempuan lain sebagai robot, agar selalu bisa memuaskan para kaum pria … :)

Comments are closed.