Air Bah dalam Novel “Cantik itu Luka”

oleh Maman S. Mahayana, Media Indonesia
Cantik itu Luka
Gramedia Pustaka Utama, 2002, 2004, 2006, 2012, 2015

Sebuah amplop tak terlalu besar, tergeletak di meja kerja. Kiriman buku. Antologi cerpen, Corat-Coret di Toilet (CCDT) (2000) karya Eka Kurniawan.

Nama itu jarang dijumpa di koran minggu. Satu-dua sempat kubaca. Cerpen-cerpennya tampak masih mencari bentuk. Ada napas surealis dan coba menyamarkan beberapa tokohnya. Kadang juga agak realis, meski ia acapkali lalai menyembunyikan suara dirinya sebagai dalang. Nada komedi-satirenya cukup kuat dalam CCDT. Cerdas juga usahanya mengangkat hal kecil yang remeh-temeh menjadi problem kemanusiaan. Di sana ada dendam mendalam pada penguasa. Beberapa catatan kutulis dalam buku itu. Kupikir, meski bahasanya lincah dengan narasi mengalir, ia tetap akan berada di garis belakang deretan nama Joni Ariadinata, Agus Noor, Dorothea Rosa Herliany, Indra Tranggono, dan komunitas cerpenis Yogya lainnya.
Continue reading Air Bah dalam Novel “Cantik itu Luka”



Katak dalam Matryoshka

“Sesungguhnya, setiap di antara kita para katak menciptakan tempurungnya sendiri.”

Bahkan seandainya kita para katak terbebas dari dunia tempurung, bukankah kita akan menemukan diri di tempurung yang lain, semisal batok kelapa lain, atau sesuatu yang lebih besar yang menjadi tempurung bagi katak dan batok kelapa?

Demikianlah saya bertanya-tanya apakah sejarah sastra nasional merupakan tempurung bagi para katak yang bersibuk menyebut diri pekerja sastra nasional? Apakah jika seseorang terbebas dari tempurung bernama puncak-puncak pencapaian Idrus, Pramoedya Ananta Toer, dan Iwan Simatupang serta mencoba ‘keluar batas’ lantas terbebas pula dari tempurung lain? Tempurung itu barangkali el-boom Amerika Latin: Octavio Paz, Jorge Luis Borges, Gabriel Garcia Marquez, Julio Cortazar? Tempurung itu barangkali suara baru Asia: Mo Yan, Haruki Murakami, Arundhati Roy? Atau sastra klasik Rusia: Gogol, Tolstoy, Dostoevsky? Bahkan tempurung itu bisa jadi sebuah wadah yang mengurung mereka semua dan bernama ‘sastra dunia’?
Continue reading Katak dalam Matryoshka



Hidup untuk Berkisah

Ibu memintaku pergi bersamanya untuk menjual rumah. Ia datang pagi itu dari sebuah kota di mana keluarga kami tinggal, dan tak tahu bagaimana menemukanku. Ia bertanya pada beberapa kenalan dan diberitahu untuk mencariku ke Libreria Mundo, atau di kafe-kafe sekitar, tempat aku ke sana dua kali sehari untuk ngobrol dengan teman-teman penulis. Seseorang yang memberitahunya mewanti-wanti: “Hati-hati, sebab mereka semua tak punya otak.” Ia datang tepat pukul dua belas. Dengan langkah ringannya ia berjalan di antara meja tempat buku dipajang, berhenti di depanku memandang ke mataku dengan senyum nakal masa-masa bahagianya, dan sebelum aku bisa menanggapi ia berkata:

“Aku ibumu.”

Continue reading Hidup untuk Berkisah



Realisme Sosialis a-la Pramoedya

oleh Nur Mursidi, guebisa.com
Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis
Gramedia Pustaka Utama, 1999, 2006

Siapa tak kenal dengan Pramoedya Ananta Toer? Seperti dikemukakan A Teeuw ia adalah sastrawan, penulis cerita dan pengarang prosa Indonesia nomer wahid dan tanpa saingan dalam abad ke-20. Selain itu, ia adalah satu-satunya sastrawan Indonesia yang pernah dicalonkan untuk mendapatkan hadiah Nobel di bidang sastra. Ungkapan A, Teeuw dan pencalonan terhadap dirinya itu, sebenarnya tidaklah berlebihan.

Karena karya-karya yang lahir dari pena sastrawan kelahiran Blora, 6 Februari 1925 itu memang mampu membuat pembaca terpukau dan berdecak kagum. Hampir setiap karyanya, setidaknya bisa kita dilihat adanya nuansa kemanusiaan yang cukup kental dan itu diusung Pramoedya dengan piawai sehingga pembaca bisa-bisa akan menangis tatkala membacanya.
Continue reading Realisme Sosialis a-la Pramoedya



Merayakan Kembali Kekuatan Dongeng

oleh Kurniawan, detik.com
Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya
Gramedia Pustaka Utama, 2005

Kekuatan dari sebuah cerita pendek (cerpen) adalah kemampuannya untuk melukiskan seringkas mungkin sebuah peristiwa secara padu dalam ruang sempit yang tersedia. Cerpen-cerpen Eka Kurniawan yang dikumpulkan dalam buku Corat-coret di Toilet ini nampak mampu memanfaatkan ruang yang terbatas tersebut. Meski, dalam beberapa cerpennya, Eka masih belum cukup hemat dalam menyusun kalimat dan membangun cerita.

Misalnya, dalam “Kisah dari Seorang Kawan” yang berbentuk cerita berbingkai. Bingkainya adalah kisah percakapan beberapa aktivis mahasiswa tentang orangtua masing-masing. Inti cerpen ini adalah kisah seorang mahasiswa tentang ayahnya yang pedagang beras kecil tapi dipenjara karena membunuh seorang pedagang besar yang berhasil menguasai pasar beras dan merebut pelanggan-pelanggan para pedagang kecil itu.
Continue reading Merayakan Kembali Kekuatan Dongeng



Ideologi Koran Sastra dan Pramoedya

oleh Mulyadi J. Amalik, Sriwijaya Post
Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis
Gramedia Pustaka Utama, 1999, 2006

Perdebatan ideologi antara kubu Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) dengan kubu Manifes Kebudayaan (Manikebu) tidak bisa dilepaskan dari peran koran atau majalah sastra. Dalam konteks ini, tentu saja koran/majalah pada masa itu (1960-an) yang bersifat partisan terhadap ideologi atau partai tertentu secara tegas.

Pramoedya Ananta Toer adalah pengelola halaman sastra koran Bintang Timur – rubrik Lentera – yang merupakan ujung panah kubu Lekra, di mana koran tersebut merupakan koran partisan PKI. Di rubrik Lekra itulah, Pram dan kawan-kawannya mempromosikan kredo sastra realisme sosialis. Kelompok Manifes yang diporoskan pada HB Jassin dan Wiratmo Soekito, mengelola majalah Sastra, menganut humanisme universal dan bersikap non-partisan terhadap partai-partai yang ada. Soal pratisan dan non-partisan inilah yang kemudian menjadi titik debat berikutnya berkaitan dengan pers dan sastra perlawanan. Intinya, kubu Lekra menuntut kejelasan ideologi yang memihak rakyat, sedangkan kubu Manifes menganggap, “Setiap sektor kebudayaan tidak lebih penting dari sektor yang lain, dan karenanya harus berjuang bersama-sama untuk kebudayaan itu sesuai dengan kodratnya.”
Continue reading Ideologi Koran Sastra dan Pramoedya