O, Monyet Kepincut Penyanyi Dangdut Terkenal

“Novel O, tentang seekor monyet yang ingin menikah dengan seorang kaisar dangdut.” Begitu tagline yang tertulis pada sampul belakang novel yang ditulis Eka Kurniawan ini. Dari tagline tersebut pembaca sudah langsung disodorkan imajinasi yang liar. Bayangkan, seekor hewan tak hanya ingin menjadi manusia bahkan ingin menikahi manusia. Bukan sekadar manusia biasa, tapi seorang penyanyi dangdut paling terkenal di dunia.

O adalah nama seekor monyet betina. Ia merasa yakin bahwa kaisar dangdut Entang Kosasih yang tersohor itu adalah kekasihnya di masa lalu. Ia juga yakin bahwa monyet bisa menjadi manusia sebagaimana pernah terjadi pada pendahulunya di Rawa Kalong. Dengan keyakinan itu O menempuh jalan ikut sirkus topeng monyet bersama Betalumur sebagai majikannya. “Ternyata tidak mudah menjadi manusia,” ujar O.

Monyet menjadi manusia mengingatkan kita pada teori evolusi Darwin. Darwin menyatakan bahwa manusia berasal dari kera. Inilah yang disebut realisme magis dalam karya sastra. Sesuatu yang pada kenyataan bisa saja terjadi namun tampak begitu ajaib saat diceritakan. Dalam konteks ini, jika mengacu pada teori Darwin, cerita O menjadi manusia dapat dibenarkan. Itu yang disebut realisme. Tapi, secara bersamaan terasa sangat ajaib dan di luar akal manusia. Itulah yang disebut magis. Eka Kurniawan memang dikenal sebagai pengarang Indonesia yang sering mengangkat realisme magis khas Indonesia. Realisme magis dalam karya sastra sendiri pada mulanya dipopulerkan oleh pengarang-pengarang Amerika Latin.

Kisah O dicerita secara tuntas. Semua yang berhubungan dengan O dan jalan cerita mendapat porsi yang sama besarnya. Nyaris seakan tak ada tokoh utama dalam novel ini. Kisah hidup masing-masing tokoh yang muncul diceritakan oleh pengarang dengan tuntas. Bahkan kaleng sarden, sepucuk revolver, burung kakaktua pun diceritakan premis mereka masing-masing. Diceritakan kisah hidup mereka masing-masing hingga akhirnya bersentuhan dengan kehidupan O.

Gaya tersebut dinilai menyulitkan bagi pembaca yang bermasalah dengan kemampuan fokus. Cerita dapat beralih kapan saja pada karakter (tokoh) yang lain. Untungnya Eka Kurniawan menggunakan teknik cerita dengan penggalan-penggalan yang relatif pendek. Ini membuat proses pembacaan menjadi lebih ringan untuk novel setebal 496 halaman. Gaya seperti ini cocok untuk zaman sekarang yang serba sibuk. Waktu membaca buku pun kian sempit. Novel O dapat memenuhi kebutuhan orang-orang seperti itu. Orang-orang hanya dapat membaca beberapa paragraf di sela-sela kesibukannya.

Teknik ini pernah dilakukan oleh Eka Kurniawan pada novel sebelumnya Seperti Dendam, Rindu harus Dibayar Tuntas (2014). Dengan munculnya banyak tokoh yang semua sama kuatnya, ini mengingatkan kita pada novel pertamanya Cantik itu Luka (2002). Jadi, dapat dikatakan teknik bercerita O merupakan gabungan gaya bercerita Cantik itu Luka dan Seperti Dendam, Rindu harus Dibayar Tuntas.

Dalam cerita rakyat Nusantara sering ditemui kisah-kisah tentang hewan yang menjadi manusia maupun manusia yang menjadi hewan. Novel O mengisahkan tema tersebut dengan latar zaman sekarang, kehidupan modern.

Di lain hal, novel ini juga mengingatkan pada novel Animal Farm-George Orwell yang memanusiakan hewan dan menghewankan manusia. Dengan lelucon-lelucon satir khas Eka Kurniawan, akan menohok kemanusiaan kita. Manusia bahkan bisa lebih kacau dan kejam dibanding hewan predator sekalipun.

Dengan dimunculkan tokoh-tokoh dengan porsi yang sama membuat novel O berkisah menghakimi dan menggurui, sebab setiap tokoh punya alasan dan kebenarannya masing-masing sesuai dengan nilai yang diyakininya. Maka, siapa sebenarnya manusia?

O yang ingin menjadi manusia akhirnya pasra karena sejauh ini usahanya sia-sia belaka. Menariknya, Betalumur, majikan topeng monyet O, memiliki keinginan menjadi hewan. Semua adalah karena cinta. O ingin menjadi manusia karena cinta. Betalumur ingin menjadi manusia karena perempuan yang ia cintai bilang “belajarlah pada binatang”. Betalumur pun memutuskan untuk menjalankan sirkus topeng monyet agar bisa belajar dari binatang. Tapi, ia tak mendapatkan pelajaran apapun. Kemudian ia mencoba menjadi babi ngepet.

Barangkali itu adalah bagian dari evolusi manusia. Puncak evolusi manusia diproyeksikan membangun peradaban yang beradab secara ideal. Hal tersebut tak serta-merta berarti bergerak secara garis lurus dengan nilai kemanusiaan. Evolusi manusia secara total harusnya termasuk pada sifat material, dan spiritual. Oleh sebab itu teori evolusi meyakini bahwa evolusi tertinggi manusia adalah menjadi hewan berbudaya. Artinya adalah secara bersamaan manusia harus melepaskan naluri-naluri kehewanannya.

Tak selamanya teori evolusi tersebut linear. Salah satu penyimpangan itu adalah seperti yang digambarkan dalam novel O. Manusia berasal dari hewan yang berevolusi, kemudian menusia berevolusi kembali menjadi hewan. Sebagaimana yang dipelajari O, manusia tampaknya harus saling membunuh untuk menunjukkan bahwa dirinya manusia. Inilah masanya ketika hewan ingin menjadi manusia, manusia malah ingin menjadi hewan. Sebab, memang tak mudah menjadi manusia.

Oleh Rio Fitra SY, Harian Haluan, 4 September 2016.

Memahami Hidup dalam Kisah Binatang Menjadi “Manusia”

Pengambilan tokoh sentral bernama O yang berwujud monyet jelas memiliki makna tersendiri yang hendak disampaikan novel ini. Biasanya cinta monyet diartikan sebagai abal-abal, tidak serius, dan sekadar main-main. Dalam buku ini cinta monyet bernama O kepada kaisar dangdut, Entang Kosasih, justru membawa dampak besar berupa evolusi makhluk hidup.

Novel ini menyuguhkan kisah dengan nada sindiran, akan potret sebuah kehidupan pinggiran Jakarta di tengah derasnya laju kehidupan urban yang tak terperikan. Mereka yang tinggal di pinggiran kota, terperangkap antara rural dan urban seperti O yang berwadag monyet, namun berperilaku seperti manusia.

Terdapat dongeng bahwa di Rawa Kalong, nonyet bisa berubah menjadi manusia. Demikian juga dulu ikan dapat berubah menjadi monyet. Kini monyet pun bisa alih wujud menjadi manusia. Armo Gundul berhasil keluar dari Rawa Kalong dan melangkah ke dunia manusia memakai nama Entang Kosasih. Dia meniru tindakan manusia. Di antaranya, membunuh Joni Simbolon dengan revolver, berempati layaknya manusia kepada bocah yang hendak dilahap sanca. Yang paling menegangkan Entang Kosasih mampu berpikir secerdas manusia. Padahal manusia lebih menakutkan dari hantu (hal 37).

O dan Entang Kosasih akan menikah, namun batal karena Entang Kosasih menjadi manusia. O ingin menjadi manusia dengan ikut sebagai topeng monyet. Hanya melalui topeng, si monyet bisa meninggalkan dirinya, meletakkan diri-monyetnya di belakang dan menjadi manusia yang bisa dipahami manusia (hal 48).

Usaha O menyaru manusia dengan menjadi topeng monyet bukanlah mudah. Menyeberang dari dunia monyet ke dunia manusia merupakan sesuatu yang besar (hal 101). Belum lagi rintangan O saat bertemu dengan aneka makhluk dan manusia dengan persoalan masing-masing dalam perjalanan.

Manusia dan monyet berdiri dalam posisi sepadan. Monyet dan aneka makluk lain, ular, anjing, kakatua, bahkan revolver dan kaleng sarden bertindak serta berkata seperti manusia. Sedangkan manusia dalam novel ini tampil tak ubahnya hewan, saling makan, hidup dengan kelindan persoalan.

Kondisi ini mengingatkan pembaca pada teori filsuf Belanda, Baruch Spinoza (1632-1677) bahwa sejatinya manusia adalah binatang sosial. Pada tahap tertentu manusia akan menampakkan sisi kebinatangannya. Dalam novel O perenungan bahwa manusia bisa sangat mengerikan yang dikepung aneka persoalan hingga gelap mata. Ini membenarkan ungkapan Thomas Hobbes (1588-1679) bahwa Homo Homini Lupus, manusia merupakan serigala bagi manusia lain.

Novel menyuguhkan kritik tajam terhadap pola interaksi manusia modern sekarang. Dalam takaran tertentu manusia tidak ubahnya binatang. Batas antara manusia dan binatang setipis tirai.

Oleh Khoimatun Nikmah, Koran Jakarta, 20 Juli 2016.

Antitesis Cinta Monyet

Istilah ”cinta monyet” sering digunakan untuk melabeli kisah cinta sepasang remaja yang belum mengenal cinta sejati. Istilah cinta monyet konon dipakai karena melihat tingkah para monyet yang malu-malu jika sedang bersama pasangannya, persis pasangan muda-mudi yang baru mengenal cinta.

Eka Kurniawan dalam novel keempatnya berjudul O justru mendobrak istilah itu. Seperti tak rela monyet selalu jadi bulan-bulanan kandasnya hubungan cinta, Eka merangkai novel tentang kisah cinta sepasang monyet yang bertahan hingga akhir hayat, bahkan hingga keduanya (mungkin) mengalami reinkarnasi menjadi manusia.

Judul novel ini diambil dari nama monyet yang kasmaran. O dan Entang Kosasih saling mencintai dan hidup bergelantungan di sebuah tempat bernama Rawa Kalong. Dongeng tentang Armo Gundul yang bisa menjadi manusia diceritakan secara turun-temurun di Rawa Kalong. Armo Gundul dianggap sebagai pahlawan karena mengiringi manusia membangun peradaban, lantas mati, dan terlahir kembali menjadi manusia. Entang Kosasih berniat mengikuti jejak Armo Gundul, bahkan mempertaruhkan janjinya untuk menikahi O di bulan kesepuluh.

Kisah pun berlanjut tentang O yang kehilangan Entang Kosasih dan mencarinya di kehidupan manusia. Ia percaya, dengan bergabung bersama sirkus topeng monyet, ia akan dapat menemukan sang kekasih, yang ia percaya telah bereinkarnasi menjadi manusia. Hingga suatu ketika ia menemukan sebuah poster seorang kaisar dangdut dan begitu yakin bahwa kaisar dangdut itulah titisan kekasihnya, Entang Kosasih sang monyet, yang berjanji menikahinya di bulan kesepuluh. Ini yang kemudian dirangkum dan ditulis dalam sampul belakang buku, tentang seekor monyet yang ingin menikah dengan kaisar dangdut.

Cinta dan derita
Jika biasanya sampul belakang buku digunakan penulis atau penerbit untuk menarik perhatian pembaca dengan memberikan sedikit bocoran kisah dan menutupnya dengan pertanyaan yang menggugah pembaca mencari jawabannya di dalam buku, dalam novel ini sinopsis tersebut justru begitu irit. Hanya berisi sebuah kalimat, dan konon ini keinginan penulisnya sendiri. Dan saya bisa mengatakan strategi ini berhasil, setidaknya untuk saya yang berhasil dibuat penasaran.

Hampir semua tokoh dalam novel ini menjalani kisah cinta yang menghanyutkan sekaligus tragis. Tetapi, mereka sama-sama setia, bertahan dalam kesakitan, bahkan berjuang untuk cinta-nya, seperti kutipan pada pembuka bab 10. ”Cinta tak ada hubungannya dengan kebahagiaan, meskipun cinta bisa memberimu hal itu,” kata si pembaca tanda-tanda. ”Aku menderita karena cinta. Dan aku terus menderita, karena aku terus mencintai ia yang membuatku menderita.”

Pembaca akan menemui banyak tokoh dengan latar belakang kehidupan masing-masing. Alur novel ini dibangun dari karakter-karakternya. Tak ada sosok yang nyaris sia-sia, dan nyaris tak ada sosok tanpa kepribadian, begitu kata Eka yang saya kutip dalam jurnalnya soal karakter minor, yang ia pelajari dari karya-karya William Shakespeare.Baginya, setiap karakter, sekecil apa pun, ada di sana karena ia memang penting berada di sana. Dan karena penting, sekecil apa pun sebuah karakter, ia tetaplah karakter yang memiliki kepribadian, masa lalu, masa depan, kepentingan, dan lain sebagainya.

Saya pun menikmati ketika cerita melompat-lompat seperti monyet untuk sementara mengisahkan kisah tokoh yang lain agar pembaca mengerti hubungan tokoh satu dengan yang lain, juga hubungan langsung ataupun tidak langsung dengan O, sang monyet.

Demikian pula umpatan-umpatan kasar hingga petikan ayat suci Al Quran yang diselipkan ke dalam novel ini, semuanya sesuai dengan porsinya dan memang penting berada di sana untuk memperkuat karakter tokoh yang sedang diceritakan.

Selipan satire
Dalam beragam kisah cinta yang diceritakan melalui plot multilayer , Eka lihai menyelipkan satire. ”Hidup adalah perkara makan atau dimakan,” kata Kirik kepada O lagi. ”Kau harus memakan yang lain, sebab jika tidak, kau akan dimakan.” Kirik adalah seekor anjing kecil penuh borok yang menjadi sahabat O. Hal itu dikatakan Kirik saat belatung mengerumuni boroknya. Di bab lain, seekor sanca siap melahap seorang anak manusia yang disangkanya hendak mengambil telur-telur yang sedang dijaganya.

Ada pula kisah tentang burung kakaktua yang fasih melantunkan ayat suci dari seorang syekh. Burung itu bertemu dengan syekh karena mencari jawaban dari pertanyaan yang diajukan kekasihnya. Apa tujuan seekor kakaktua di dunia, selain makan, terbang, dan sesekali menemukan pasangan untuk bercinta? Jalan hidup mempertemukan kakaktua itu dengan seorang syekh dan ia diajari untuk menghafal ayat suci dan mengucapkan ayat tersebut sebagaimana kakaktua selalu menirukan ucapan manusia. Sebelumnya ia sering diejek oleh burung-burung lain sebagai peniru. Setelah bertemu syekh, burung itu berpikir, burung-burung itu hanya membanggakan suara sendiri, tanpa mengerti apa pun di luar tempurung kepala mereka.

Demikian pula saat Kirik berpendapat soal keteguhan O mencari Entang Kosasih. ”Lupakan keinginanmu untuk menikah dengan kaisar dangdut,” kata Kirik kepadanya. ”Pakai otakmu, O. Kau seekor monyet. Sekali menjadi monyet, selamanya monyet. Kau tak perlu memercayai omong kosong bahwa seekor monyet bisa menjadi manusia.”

Saya seperti melihat adegan sinetron saat seseorang berkata, ”Pakai otakmu. Kau seorang yang miskin. Sekali miskin, selamanya miskin. Kau tak perlu memercayai omong kosong bahwa seorang miskin akan menikah dengan orang kaya. ” Tentu saja dialog ini bisa diganti dengan apa saja yang menunjukkan bahwa terkadang keyakinan seseorang bisa dipatahkan oleh orang lain yang dengan mudah memustahilkan apa saja.

Namun, O adalah pencinta yang teguh. Dengan kesetiaan, ia mematahkan istilah cinta monyet yang telanjur viral. ”Itulah kenapa aku mencintainya, ” kata O. ”Ia seekor monyet yang percaya kepada isi kepalanya, dan mau melakukannya. Dan ia membuktikan bisa pergi dari pohon gundul itu melewati punggung buaya. Bahkan meskipun apa yang diyakininya itu terbukti, jika di tengah jalan seekor buaya berbalik dan menghajar kami, aku tetap mencintainya. Sesederhana karena ia memiliki nyali untuk memiliki mimpi.”

Setelah membaca novel ini, saya merenungkan kembali penggunaan istilah cinta monyet untuk menyebut cinta sesaat, cinta main-main, yang tidak sejati. Seperti halnya ”buaya ” yang menjadi istilah bagi lelaki yang tidak setia, padahal buaya adalah hewan yang paling setia kepada pasangannya. Setelah menamatkan novel ini, saya tahu, novel O tidak sesederhana kisah seekor monyet yang ingin menikah dengan kaisar dangdut.

Oleh Tenni Purwanti, Kompas, 2 Juli 2016.

Sepak Bola Sebagai Drama

Di sebuah rumah di tengah Kota Amsterdam, saat makan malam, tuan rumah tiba-tiba bertanya, ”Kamu penggemar sepak bola?” Ketika saya mengangguk dan menyebut Euro 2016 dengan antusias, raut mukanya menjadi kelabu. Dia bergumam nyaris tak terdengar, ”Sayang sekali kami tak menjadi bagian perayaan ini sekarang.”

Yang dimaksudnya adalah ketidakhadiran Belanda di kejuaraan sepak bola antarnegara Eropa tersebut. Enam tahun lalu, saat saya mengambil kelas bahasa Belanda di The Erasmus Huis Jakarta, keadaan sangat sebaliknya. Nyaris semua orang Belanda bicara sepak bola.

Di partai final Piala Dunia 2010, ada harapan membuncah tentang kejayaan sepak bola mereka, hingga nonton bareng di kedutaan meluber, meski akhirnya itu menjadi antiklimaks ketika mereka dikalahkan Spanyol.

Kini mereka menjadi bagian dari warga dunia kebanyakan: sebagai penonton. Bisakah mereka tetap antusias menonton kejuaraan itu (barangkali sekalian menonton Copa America 2016) meskipun tak terlibat sebagai peserta di sana? Tentu saja bisa. Setidaknya kita bisa mengajari mereka antusiasme sebagai penonton. Sebab, kita jauh lebih berpengalaman soal itu.

Sepak bola modern memang pada akhirnya bukan semata tentang 22 orang riang mempermainkan bola di satu lapangan, tapi juga sebuah tontonan. Sebuah kejadian yang tak hanya melibatkan mereka yang berada di lapangan, tapi juga di tribun dan depan layar televisi. Peraturan, jadwal, bahkan desain jersey tak hanya dibuat demi olahraga itu sendiri, tapi juga untuk tontonan.

Terutama kalau boleh jujur, sebagai tontonan televisi. Tentu saja akan selalu ada orang yang datang ke stadion-stadion di Prancis, negara tuan rumah, untuk kejuaraan tersebut. Tapi, jutaan lainnya bersiap di depan televisi. Suka tidak suka atau butuh tidak butuh, mereka akan mendengar komentator yang comel, analisis yang sok tahu, statistik pemain maupun pertandingan, dan tak mungkin terlewatkan: iklan.

Belum lama ini novelis sekaliber Mario Vargas Llosa sempat mengeluhkan budaya menonton itu dalam buku esainya, Notes on the Death of Culture. Dia terutama mengeluhkan kematian kebudayan dalam tradisi Eropa. Ketika erotisme telah berganti menjadi pornografi, dan jika kita mencoba melihatnya dalam sepak bola modern, olahraga menjadi sejenis drama.

Di layar televisi, yang kita lihat memang drama. Sebab, itulah yang kita cari. Kita tak hanya menemukan drama dalam sinetron di jam-jam siaran utama, tapi di berbagai format acara, dari politik hingga sekadar gosip artis. Dari lomba menyanyi hingga lomba memasak. Dari adu tinju hingga balap motor. Pun sepak bola. Ketika ia hadir di layar televisi, kita ingin melihat drama dipertunjukkan di sana.

Membayangkan sepak bola hanya sebagai siapa membuat gol dan bagaimana mereka melakukannya seperti berharap menonton video porno tanpa hawa nafsu.

Itulah mengapa pendukung Belanda yang menemani saya makan malam itu bisa bersedih, seperti banyak penonton sedih saat melihat gadis yatim disiksa ibu tirinya di sinetron. Berbeda dengan nada pesimistis Vargas Llosa yang melihat ini sebagai kematian budaya, menurut saya, apa yang terjadi di zaman sekarang hanyalah runtuhnya otoritas elite untuk menafsir kebudayaan. Termasuk bagaimana sepak bola harus dinikmati.

Dalam sepak bola sebagai drama, sepak bola menjelma wajah masyarakat dalam berbagai tingkatannya. Wajah individu, wajah kelompok, maupun wajah masyarakat secara luas.

Sebagaimana jika kita membaca novel, mendengarkan musik, atau menonton opera, sebagai individu kita mencari pijakan emosi dalam pertandingan sepak bola. Kita ikut merasakan apa arti kemenangan, apa arti kekalahan, bahkan tanpa harus berlari-lari di lapangan dengan kostum tim. Di titik inilah, meskipun tampak banal, di televisi kita perlu melihat bagaimana seorang pemain berteriak kesal, mendorong pemain lain, meringis berguling-guling, atau tersenyum semringah.

Sepak bola pada saat yang sama juga memberi kita identitas kelompok atau kelas. Kesedihan pendukung Belanda bisa dipahami dalam konteks ini. Juga bisa dipahami ketika akhirnya mereka berpikir untuk mendukung Belgia, misalnya. Bahkan, kejuaraan itu pun pada dasarnya secara sadar sedang merayakan identitas pan-Eropa, yang bahkan jauh lebih berhasil daripada apa yang bisa diusahakan oleh Uni Eropa.

Dan, kelompok tentu saja tak melulu mengenai identitas nasional. Orang Indonesia bisa mendukung Prancis dan orang Argentina mungkin mendukung Spanyol hanya karena mereka menyukai pemain-pemain Barcelona atau Real Madrid.

Lebih dari itu, dalam sepak bola (tapi tentu tak terbatas hanya dalam sepak bola), manusia memimpikan tatanannya. Kita ingin melihat pertandingan yang adil dan sportif. Kita ingin melihat semua gol diciptakan dengan cara yang patut, indah, dan hasil kerja sama semua pemain. Kita mencerca setiap kelicikan dan bersepakat bahwa yang melanggar aturan harus dihukum. Kita bertepuk tangan untuk keterampilan individu.

Sepak bola juga mengkhotbahkan moralitas sebagaimana para filsuf, bukan?

Semua itu bisa diperoleh melalui drama sepak bola. Di stadion maupun depan layar televisi. Otoritas elite yang menganggap semua itu hanya ada di karya-karya kanon telah runtuh. Kita tak lagi hanya bicara tentang kemarahan, keculasan, rasa bersalah, atau cinta kasih melalui drama Shakespeare. Sebab, kita bisa melakukannya melalui sepak bola. Di Euro 2016 kita akan melihat bagaimana umat sepak bola menafsir dan menciptakan kanon-kanon kebudayaan mereka sendiri.

Diterbitkan di Jawa Pos sebagai catatan mengiringi Piala Eropa 2016, 10 Juni 2016.

Dongeng Manusia dan Monyet

Novel keempat Eka Kurniawan ini dikemas setengah fabel. Karena tokoh-tokohnya terdiri dari hewan dan manusia, bahkan benda-benda mati. Mereka hidup di dunianya masing-masing tapi saling bersinggungan. Secara cerdik pengarang berhasil menghubungkan secara selaras alur dunia hewan dan alur dunia manusia. Kedua alur ini serupa cermin bagi satu sama lain.

Memasuki novel terbaru pengarang yang masuk daftar The Man Booker International Prize 2016 ini kita laksana memasuki dunia yang riuh rendah oleh suara berbagai mahluk hidup. Suara manusia berbaur dengan suara kerabat-kerabatnya sesama mahluk hidup dari dunia hewan dan mahluk tak kasat mata. Mereka bersinggungan dan berinteraksi satu sama lain yang kadang bersilangan namun membentuk harmoni sekaligus kekacauan atau kekacauan dalam harmoni.

Dalam pusaran berbagai suara itu, kita seperti dibawa ke alam dongeng fabel untuk anak-anak yang agak nglantur, sepele, namun penuh petualangan berkelok-kelok, seru dan mengasyikkan. Suara manusia hanya bagian dari berbagai-bagai suara dari dunia monyet, burung kakak tua, anjing, tikus, pistol revolvers, bahkan bekas kaleng sarden. Dengan menghadirkan begitu banyak tokoh dari berbagai mahluk hidup seperti monyet yang bercakap-cakap dengan anjing dan tikus serta jenis hewan lainnya, Eka terkesan bermain-main.

Namun dalam bermain-mainnya, dalam kenglanturannya, secara sengaja atau tidak, Eka agaknya sedang menyodorkan semacam alegori ihwal mendasar tentang mahluk hidup; bahwa hidup adalah sesederhana atau serumit perkara siapa memakan siapa. Sebuah alegori yang terumuskan dalam teori homo homini lupus yang dicetuskan filsuf Yunani yang hidup 195 Sebelum Masehi.

Dari kerangka ihwal kejadian mahluk hidup dan bagaimana mereka mempertahankan hidupnya novel ini berpijak dan menggelindingkan banyak alur dengan karakter-karakter yang berasal berbagai mahluk hidup dan peran mereka semua penting bagi alur utama novel. Mereka berpendar dengan kisah dan dunianya masing-masing namun bermuara kepada satu bangunan kisah utama yang penuh kejutan.

Seluruh mahluk hidup di bumi berasal dari ikan. Teori ini dilontarkan O, seekor monyet betina yang ingin menjelma jadi manusia. Dan, suatu ketika monyet akan menjelma jadi manusia. Inilah yang diyakini O, sekaligus menjadi premis novel “O”, karya mutakhir pengarang yang masuk daftar The Man Booker International Prize.

Klaim sepihak
Novel ini secara bermain-main seperti hendak meledek manusia yang secara sepihak mengklaim sebagai mahluk utama dan paling mulia di muka bumi. Pada kenyatannya, manusia justru gemar berperang, saling memangsa, untuk mempertahankan hidupnya; sedangkan di dalam dunia hewan mereka justru hidup rukun, saling menyayangi, dan menasihati dalam kebaikan. Bagi para pemburu pesan, inilah barangkali yang dapat dipetik. Tapi kita tahu Eka bukan jenis penulis yang gemar menyampaikan pesan melalui karyanya.

Kisah O dan Entang Kosasih dalam dunia monyet serupa cermin dari drama kehidupan seorang gadis O yang bekerja sebagai penjual jasa phone seks dan Kaisar Dangdut Entang Kosasih di dunia manusia. Dua kisah dari dua pasang mahluk hidup yang berbeda spesies ini bersilangan lalu bersinggungan dalam jalinan peristiwa yang melibatkan drama dan tragedi yang mengharukan sekaligus kocak.
O, demi mimpinya menjadi manusia supaya dapat bertemu dengan Entang Kosasih, kekasihnya, yang dia yakini telah menjelma jadi manusia dan berprofesi sebagai kaisar dangdut , rela menjalani apa saja sekalipun nyawa taruhannya.

Bagi O, untuk menjelma jadi manusia, seekor monyet harus menjalani latihan meniru semua tingkah laku manusia sebagaimana dikatakan Entang Kosasih yang tewas ditembak seorang polisi. Sobar, polisi yang menembak Entang Kosasih, melampiaskan dendam atas kematian kawannya di tangan Entang Kosasih sebelum monyet bergajulan itu hilang dan diyakini O menjelma jadi manusia.

Dan tak ada cara lain untuk mencapai itu selain menjadi sirkus topeng monyet. O mengorbankan kebebasannya ke tangan seorang pawang sirkus topeng monyet bernama Betalumur yang kadang memperlakukannya dengan kejam. Ketika si pawang menghilang dibunuh kawanan preman, O berusaha keras mencari tuannya yang tentu saja tidak pernah ketemu. O kemudian mengabdi kepada sepasang pemulung, dan berakhir dengan seorang banci pengamen bernama Mimi Jamilah. Mimi berjanji kepada O mempertemukannya dengan Kaisar Dangdut Entang Kosasih.

Eka barangkali terlalu serius bermain-main atau bermain-mainnya kelewat serius, sehingga agak terkesan kurang sinkron dalam meletakkan setting waktu pada cerita yang disusunnya. O dalam dunia monyet hidup di Jakarta pascakerusuhan Mei 1998. Bersama sang pawang dan sepasang pemulung, O tinggal di sebuah gedung bekas terbakar yang tak terpakai akibat peristiwa kerusuhan Mei 1998. Ini tidak ada masalah.

Sementara O dan Entang Kosasih di dunia manusia juga hidup di Jakarta, sekitar masa sesudah reformasi. Sejak awal kemunculan Entang Kosasih Si Kaisar Dangdut ingatan kita akan langsung digiring kepada Raja Dangdut yang kita kenal di dunia nyata, Rhoma Irama. Penutur menjelaskan karakter Entang Kosasih, sebagai… Meskipun ia menciptakan dan memainkan lagu berirama dangdut, kocokan gitarnya banyak terpengaruh oleh music hard rock klasik. Ia mendengarkan Deep Purple, Led Zeppelin, juga Pink Floyd. Kocokan gitarnya lebih terdengar seperti hard rock, tapi mereka tetap mengenali irama dangdut di sana. (hal 335).

Raja Dangdut Rhoma Irama sebagai identifikasi Kaisar Dangdut Entang Kosasih juga dijelaskan dalam keterangan bahwa Entang Kosasih gemar berdakwah melalui syair-syair lagunya. Suatu hari
Entang Kosasih membuat kekacauan di sebuah pub di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, ketika dia tampil menyanyi. Dia meloncat dari meja ke meja, dan berseru “Tidakkah kalian tahu mabuk merupakan kelakukan setan? Dan berdepe-dempetan dengan pasagan yang bukan istri atau suami, apalagi di ruangna remang-remang seperti ini, merupakan perbuatan nista?” (hal 336).
Pada masa sesudah reformasi, Raja Dangdut Rhoma Irama sebagai identifikasi Entang Kosasih, tidak lagi lajang dan sudah melewati karir puncaknya sebagai Raja Dangdut.

Tetapi tentu saja ini hanya sebuah tafsiran saya sebagai pembaca, sekalipun berdasarkan petunjuk penutur sendiri. Namun ketidaksinkronan setting waktu tokoh Entang Kosasih ini tentu saja tidak terlalu berpengaruh bagi kenikmatan membaca novel yang kaya dengan ihwal filsafat tentang manusia ini. Karena bagaimana pun toh ini fiksi.

Oleh Aris Kurniawan, Jawa Pos, 10 April 2016.

Hantu dan Strategi Literer untuk Sang Liyan

Dalam novel Woman in Black (karya Susan Hill), jelas sosok si perempuan berpakaian serba hitam merupakan sosok hantu yang menakutkan. Tak hanya sosok itu yang dihindari oleh penduduk desa, tapi bahkan rumah besar tempat sosok itu berkeliaran juga dijauhi.

Di novel genre horor lainnya, katakanlah yang lebih klasik dan populer, Dracula karya Bram Stoker, sosok si vampir kurang lebih sama: menakutkan dan dihindari. Tak hanya itu, cerita kedua novel juga mengasumsikan bahwa kedua hantu itu harus dikalahkan. Dibinasakan.

Monster di Frankestein lebih jauh lagi. Ia tak hanya menjadi sosok seram dan buruk rupa, tapi bahkan diburu. Setelah diciptakan, setelah keberadaannya tak lagi dianggap sesuai dengan dunia di sekitarnya, ia tak lagi dikehendaki oleh penciptanya.

Ada tiga kesamaan dalam ketiga sosok “hantu” tersebut. Baik si perempuan berbaju hitam (yang merupakan roh gentayangan), vampir, maupun si monster (sosok gabungan beberapa potongan mayat yang dihidupkan kembali), bisa dibaca secara metaforik sebagai “sang liyan”. Sesuatu yang dianggap berbeda dari manusia. Jika manusia dianggap kenormalan, sosok-sosok hantu ini dianggap sebagai “di luar normal”.

Hantu sebagai sang liyan dilihat sebagai ancaman, diposisikan sebagai si jahat, si buruk, dan pada akhirnya tak hanya harus dihindari, tapi juga jika mungkin dihilangkan. Di dunia yang “normal” dan dihuni manusia, tak ada tempat untuk hantu.

Metafora ini bisa dipakai untuk melihat problem dalam kehidupan nyata. Segala yang dianggap sebagai “sang liyan” diperlakukan persis seperti hantu di dalam novel-novel horor semacam itu. Dengan mudah kita bisa menemukan sekelompok orang diusir dari kampungnya karena agama yang berbeda. Atau masih satu agama, tapi pemahaman dan tafsir atas ajaran agama tersebut yang berbeda.

Diskusi dengan isu komunisme atau ideologi kiri dibubarkan (seperti terjadi pada Festival Belok Kiri belum lama ini di Taman Ismail Marzuki, Jakarta), karena komunisme adalah hantu bagi ideologi lain. Ideologi komunis merupakan si jahat dan si buruk. Mengancam dan berbahaya.
Kecenderungan seksual LGBT dianggap di luar normal, sementara hetero dianggap normal. Yang di luar normal merupakan hantu: harus dilenyapkan dengan cara dibuat hetero.

Tentu masih banyak kasus lain, termasuk diskriminasi karena ras, suku, bahkan gender. Kisah hantu di novel-novel horor, yang menakutkan, mengancam dan harus dibasmi, merupakan metafor yang jitu mengenai dunia yang intoleran. Mengenai watak yang melihat dunia dengan cara dikotomis: sebagai kita dan di luar kita.

Dalam hal ini, ada satu perkembangan menarik yang muncul dalam kisah hantu-hantu ini dalam khasanan novel kontemporer, di mana kita barangkali bisa belajar banyak untuk menghadapi wabah intoleransi ini.

Di novel populer seperti Twilight karya Stephanie Meyer, vampir (dan manusia serigala) hadir dengan cara yang sangat berbeda dengan kisah vampir di Dracula atau dongeng-dongeng masa lalu perilah manusia serigala. Di novel ini, vampir hadir berdampingan, beririsan, dengan manusia. Mereka memiliki masalah sendiri di lingkungan mereka (demikian pula manusia).

Lebih jauh, konflik utama tak lagi tentang manusia menghadapi vampir yang jahat, tapi tentang manusia yang jatuh cinta kepada vampir (dan sebaliknya), dibumbui oleh kisah cemburu, persaingan, dan dendam. Tiba-tiba vampir tak lagi muncul sebagai “yang liyan”, melainkan sesederhana makhluk yang berbagi tempat di dunia yang sama, bahkan sekolah di tempat yang sama. Masalah si manusia dan vampir, menjadi tak jauh berbeda dengan masalah Romeo dan Juliet yang sekadar dibedakan oleh klan.

Tengok pula novel Let the Right One In karya John Ajvide Lindqvist. Di novel ini, seperti umumnya vampir, si bocah vampir tentu minum darah dan takut cahaya matahari. Tapi di luar itu, hadir secara alamiah sebagai tetangga (yang bertukar pesan morse melalui dinding dengan anak kecil di rumah sebelah), dan pada saat yang sama menjadi korban pedofil orang yang memeliharanya.

Hal yang sama juga terjadi di novel berikutnya dari penulis yang sama, Handling the Undead, tentang kota di mana mayat-mayat hidup kembali. Bukannya menciptakan teror khas film-film zombie, yang ada adalah drama: perempuan tua yang baru saja ditinggal mati suaminya menyambut si suami. Kakek yang kehilangan cucu bahkan nekat menggali kuburan si cucu.

Hantu yang pada awalnya direpresentasikan sebagai “yang liyan” yang mengancam dan harus dimusnahkan, perlahan memperoleh tempat sebagai sesama penghuni ruang, sesederhana oleh satu strategi literer yang menempatkan mereka (manusia dan hantu) tidak dalam konflik berhadapan, biner, antara kita dan bukan kita (siapa pun itu “kita” dan “bukan kita”). “Hantu”, dengan strategi literer ini, ada sebagai bagian dari kita, sekaligus hidup dengan konflik-konflik alamiah yang juga bisa terjadi pada manusia umumnya (jatuh cinta, cemburu, dendam).

Jika umat manusia melalui fantasi bisa menerima keberadaan hantu tanpa rasa takut, tanpa merasa sebagai sosok yang berbeda, saya yakin hal sama bisa terjadi di kehidupan nyata. Kita bisa belajar menerima dalam hidup segala yang berbeda: ras, agama, ideologi, orientasi seksual, sehingga tak ada lagi “sang liyan”. Sebab kita bisa melihat yang liyan dalam diri kita, dan melihat diri kita di diri yang liyan. Pada akhirnya kita hanya sesederhana berbagi ruang yang sama di dunia ini.

Perang melawan intoleransi jelas bukan pekerjaan gampang. Itu pekerjaan lama yang membutuhkan tak hanya keberanian, tapi juga ketabahan, dan sejenis strategi literer jelas dibutuhkan. Perkembangan kecenderungan novel horor beserta hantu-hantu mereka setidaknya bisa mengajari kita satu hal yang bisa dilakukan.

Esai ini diterbitkan di Jawa Pos, 13 Maret 2016.

Umberto Eco (1932-2016): “Saya Takut Mati Kehilangan Rasa Humor”

Dua penulis favoritnya merupakan penulis-penulis yang gemar “bermain-main”: James Joyce dan Jorge Luis Borges. Jika yang pertama bermain-main dengan elemen penting dalam kesusastraan, yakni bahasa; yang kedua bermain-main dengan elemen yang tak kalah pentingnya juga, yakni gagasan. Umberto Eco melangkah lebih jauh dari keduanya, bermain-main dengan bentuk (atau nama) lain dari bahasa dan gagasan: simbol.

Novel pertamanya, The Name of the Rose, merupakan misteri Abad Pertengahan. Novel bergaya detektif di mana untuk memecahkan teka-tekinya, mempergunakan perangkat analisis semiotik simbol-simbol, pengetahuan kitab suci, dan bahkan teori sastra. Tak ada pembahasan mengenai “mawar” di novel tersebut, dan untuk itu, sekali lagi, Eco bermain-main dengan simbol.
Aslinya, ia memang seorang filsuf. Profesor semiotik di Universitas Bologna (juga beberapa universitas lain). Sebelum terkenal sebagai novelis, ia menulis begitu banyak naskah akademik, juga esai-esai kritik sastra, serta spekulasi-spekulasi filsafat.

Meskipun dalam naskah-naskah akademiknya ia terbiasa mempergunakan cara naratif, Eco baru benar-benar menulis novel ketika berumur empat puluh delapan tahun. Bahkan sampai akhir khayatnya (19 Februari 2016), ia masih menganggap menulis novel sebagai “kerja sampingan”, yang hanya dilakukannya di akhir pekan dan terutama di musim panas (ketika libur mengajar).

Umberto Eco lahir 5 Januari 1932 di kota Alessandria, Italia. Kota yang sebagaimana kata-katanya, kembali merujuk kepada sesuatu yang simbolis, “Terkenal karena topi Borsalino-nya.” Seperti sebagian besar penulis, semuanya berawal dari kegemarannya membaca. Ketika ia kecil, ia sering disuruh mengambil sesuatu ke loteng rumah, dan ketika ia menemukan peti penuh buku peninggalan kakeknya, ia menjadi lebih sering pergi ke loteng tanpa diminta, menghabiskan waktu dengan membaca.

Membaca novel-novelnya, bahkan mungkin tanpa perlu membaca kajian-kajian akademisnya mengenai semiotika, kita akan merasakan betapa kuatnya pengaruh simbol-simbol dalam kehidupan manusia. Manusia adalah makhluk yang hidup dengan simbol-simbol. Dengan simbol, mereka tak hanya mencoba mengekalkan peristiwa atau ingatan, tapi juga, seperti pernah diungkapkan Eco dalam satu wawancara, membuat manusia berbohong.

Kita menyaksikannya dalam kehidupan sehari-hari. Agama tampil dalam bentuk simbol. Masyarakat ribut karena menemukan terompet tahun baru terbuat dari kertas bekas sampul Al-Quran, juga ribut menemukan motif alas sepatu yang menyerupai lafal Allah. Pada saat yang bersamaan, orang berkomunikasi tak lagi mempergunakan kalimat lengkap yang bisa dimengerti dengan mudah, tapi berbentuk stiker atau emoticon, juga dengan peluang untuk diinterpretasi.

Segala hasil kebudayaan manusia pada dasarnya bisa disederhanakan sebagai sekumpulan simbol-simbol yang bisa dibaca oleh siapa pun, baik dari lingkungan kebudayaan tersebut berasal maupun bukan, atau dari generasi simbol-simbol itu diciptakan, atau jauh setelahnya. Di sinilah benturan-benturan bisa terjadi: ada yang membaca simbol-simbol sebagaimana apa adanya, tapi juga ada yang menginterpretasikannya sesuai dengan keadaan yang berbeda-beda.

Dalam salah satu novelnya, The Mysterious Flame of Queen Loana, kita bisa melihat bahwa artefak budaya (dalam hal ini komik, majalah, buku, rekaman, dan koran), meskipun itu memiliki sifat sosial dan dalam tingkat tertentu menggambarkan suatu generasi, pada saat yang sama juga bersifat personal. Apa pun, ketika “dibaca”, pada akhirnya menjadi sesuatu yang subyektif.

Bisa dibilang novel tersebut memperlihatkan “main-main” Eco yang paling nakal mengenai simbol dan kebudayaan. Bercerita tentang lelaki tua yang terkena stroke dan kehilangan sebagian ingatannya (tepatnya: ingatan episodik, kenangan-kenangan peristiwa yang bersifat personal). Untuk menyembuhkan ingatannya, ia kembali ke masa kecilnya melalui komik yang pernah dibacanya, rekaman yang pernah didengarnya, majalah dan koran yang pernah dilihatnya. Dalam rangka itulah, si tokoh utama kembali harus menjelajahi dunia pembacaan.

“Dalam rangka memahami pesan misterius yang terdapat di dalam buku, kita perlu mencari ilham di luar apa yang dikatakan manusia,” kata si tokoh. Dan dalam hal ini, sudah jelas bagaimana dia membaca karya-karya itu di masa lalu, telah berbeda dengan saat ia membacanya bertahun-tahun kemudian, bahkan meskipun benda yang dihadapinya (artefak kebudayaan, simbol) merupakan benda yang sama.

Kita bersitegang tentang bagaimana hidup ini harus dijalani, dan bersitegang mengenai tafsir apa yang akan terjadi setelah kita mati. Semuanya berawal dari simbol-simbol yang diciptakan, baik simbol-simbol agama, ras, seksualitas, maupun lainnya.

“Satu-satunya yang saya takuti jika mati adalah, takut kehilangan rasa humor,” kata Eco dalam satu wawancara. Dunia yang tegang ini barangkali telah kehilangan rasa humor, tapi setidaknya Umberto Eco meninggalkan dunia ini dengan warisan-warisan karya yang, jika kita mau terbuka melihatnya, sangat jenaka.

Obituari ini diterbitkan di Jawa Pos, edisi Selasa, 23 Februari 2016.

Publishers Weekly Review: Beauty Is a Wound

At the beginning of this English-language debut from Indonesian author Kurniawan, Dewi Ayu, who was once the most respected prostitute in the fictional coastal town of Halimunda, rises from her grave after being dead for two decades. She’s returned to pay a visit to her fourth daughter, Beauty, who is famously ugly. What follows is an unforgettable, all-encompassing epic of Indonesian history, magic, and murder, jumping back to Dewi Ayu’s birth before World War II, in the last days of Dutch rule, and continuing through the Japanese occupation and the mass killings following the attempted coup by the Indonesian Communist Party in the mid-1960s. Kurniawan centers his story on Dewi Ayu and her four daughters and their families. Readers witness Dewi Ayu’s imprisonment in the jungle during the war, a pig turning into a person, a young Communist named Comrade Kliwon engaging in guerrilla warfare, and a boy cheating in school by asking ghosts for help. Indeed, the combination of magic, lore, and pivotal events reverberating through generations will prompt readers to draw parallels between Kurniawan’s Halimunda and García Márquez’s Macondo. But Kurniawan’s characters are all destined for despair and sorrow, and the result is a darker and more challenging read than One Hundred Years of Solitude. There is much physical and sexual violence, but none of it feels gratuitous—every detail seems essential to depicting Indonesia’s tragic past. Upon finishing the book, the reader will have the sense of encountering not just the history of Indonesia but its soul and spirit. This is an astounding, momentous book. (Sept.)

From Publishers Weekly, 8 June 2015.

Buku dan Kesusastraan Bukan Kartu Pos

Catatan dari London Book Fair, 2015

Banyak orang masih sering berpikir buku, khususnya kesusastraan, sebagaimana mereka berpikir mengenai kartu pos, terutama dalam hubungannya dengan orang/negeri asing. Lama saya juga sering terjebak dalam pikiran semacam itu. Seperti kita tahu, kartu pos sering berfungsi sebagai sejenis memento. Kita berada di satu tempat, lalu mengirimkan kartu pos yang berhubungan dengan tempat itu kepada seseorang yang kita anggap penting. Pesannya jelas: saya pernah ada di sini, kamu bisa mengenali tempat (suasana) yang saya alami, dengan melihat kartu pos yang saya kirim.

Dengan kacamata seperti itu, buku ditempatkan sebagai sejenis memento yang sama: jika ingin mengetahui Indonesia, bacalah buku (atau kesusastraan) Indonesia. Para penulis buku atau siapa pun yang terlibat dalam penerbitan buku, juga melihat dengan cara serupa: saya ingin memperkenalkan negeri saya, Indonesia, melalui buku ini. Lihatlah, ini orang-orang Indonesia, ini kebudayaan kami, ini sejarah kami. Disampaikan dalam bentuk novel atau puisi. Bacalah, dengan cara seperti itu, Anda akan mengenali kami.

Hal ini diperkuat dengan stereotif yang telah lama berlaku, seperti “buku merupakan jendela dunia”, yang bukankah sama persis dengan fungsi kartu pos? Atau bahkan prangko? Bahkan dengan bentuknya yang persegi, kartu pos jauh lebih mirip “jendela dunia” tersebut. Atau lihat kutipan semacam “Dunia ini buku, yang tak pernah berpergian hanya membaca satu halaman buku” (dari Augustine Hippo), yang pengertiannya juga bisa dibalik.

Tahun ini Indonesia akan menjadi tamu kehormatan di ajang Frankfurt Book Fair, Oktober 2015 (dan diawali dengan keiikutsertaan di pameran buku Leipzig, Bologna dan London yang baru saja usai). Mengambil tema “17.000 Islands of Imagination”, kita ingin memperkenalkan 17.000 pulau Indonesia, dengan beragam kebudayaan, etnik, ras, kekayaan alam (dan lain sebagainya, termasuk khayalan-khayalannya). Kita akan datang ke sana untuk “memperkenalkan” Indonesia, melalui buku.

Apakah ada yang salah dengan hal itu? Sebenarnya tidak bisa dibilang salah, sebagaimana kita memang bisa memperlakukan buku dengan cara seperti itu. Tapi kunjungan saya ke London Book Fair, 14-16 April yang lalu memberi saya sudut pandang yang berbeda, dan menyadarkan saya tentang hal penting yang seharusnya saya sadari secara alamiah. Tentang kenapa buku ditulis, kenapa para penulis memutuskan menulis buku, dan tentu saja tentang bagaimana pada akhirnya buku-buku dibaca.

Di pameran buku yang sering disebut Olimpiade-nya buku (terbesar kedua setelah Frankfurt), saya berkesempatan bertemu dengan orang-orang perbukuan dari beberapa negara. Bahkan ikut pesta kecil yang dipenuhi penulis, penerjemah, editor, agensi dari berbagai negara. Tentu saya tak mungkin berkenalan dengan semua orang, tapi satu-dua teman baru bisa membawa percakapan yang lebih panjang dan serius.

Salah satu teman berbincang saya adalah seorang penerjemah Korea-Inggris, sekaligus seorang editor dari satu penerbit di London, yang banyak menerbitkan karya-karya sastra dari wilayah Asia. Awalnya perbincangan kami dimulai dengan memperbandingkan keadaan kesusastraan Indonesia dan Korea (maksudnya Korea Selatan), di mana kami sepakat, dengan begitu banyak potensi, sejarah panjang, keunikan masing-masing, kedua negara itu praktis tak terlihat dalam peta kesusastraan dunia.

Bahkan khusus untuk Korea, keadaan itu semakin mencolok jika dibandingkan fenomena musik pop (siapa yang tak kenal Super Junior atau Girls’ Generation?) dan film mereka (siapa tak kenal Park Chan Wook atau Kim Ki-duk?), yang tak hanya merajai pasar lokal, tapi juga diakui di dunia.

“Pemerintah Korea menggelontorkan banyak uang untuk memperkenalkan kesusastraannya. Subsidi diberikan untuk penerjemahan maupun penerbitan di luar negeri. Bahkan penulis-penulis asing diundang untuk residensi di Korea,” kata teman berbincang saya (saya mampir ke stand Korea Selatan, dan memang mereka mempromosikan kesusastraannya dengan penuh semangat), “Meskipun begitu, kadang saya merasa pemerintah Korea tidak mengerti kesusastraan mereka sendiri.” Ia kemudian memandang saya agak lama, seperti menunggu saya berkomentar. Tapi karena saya tak mengatakan apa pun, ia sendiri yang menambahkan, “Mungkin itu pula yang terjadi dengan pemerintah Indonesia. Siapa pun yang memegang kebijakan, mungkin tak mengerti kesusastraan secara umum, atau kesusastraan Indonesia secara khusus.”

Saya tak bisa menebak apa yang ada di pikiran pemegang kebijakan di Indonesia, tapi mungkin ia benar.

Apa yang dimaksudnya dengan “tidak mengerti” adalah: kadang-kadang mereka (pemegang kebijakan) berpikir menjual buku atau kesusastraan seperti menjual potensi pariwisata. Itu seperti kita membaca sastra Jepang dan yang kita peroleh melulu tentang kimono, teh, samurai, bunga sakura di musim semi. Itu hal yang sama terjadi di Korea, katanya. “Dan bagaimana dengan Indonesia?” tanya saya. Ia menjawab, “Sebagai pembaca sastra, saya tak ingin membaca apa pun tentang batik, keris, wayang, Borobudur, atau Bali. Atau komodo. Saya sudah tahu soal itu, kalau mau lebih tahu, saya akan baca buku lain.”

Percakapan itu sedikit banyak menampar saya. Batik, keris, wayang, Borobudur, Bali (dan bisa ditambahkan banyak hal lainnya), merupakan hal-hal yang sangat dibanggakan orang Indonesia. Dan kita sering berpikir, jika kita ingin menjual Indonesia, menjual kesusastraan Indonesia, kita bisa menjual hal-hal itu. Kita tak pernah sadar hal itu bisa menjerumuskan kita ke dalam stereotif tentang Indonesia.

“Tidak. Buku dan kesusastraan bukan kartu pos.”

Saya harus pergi jauh ke London, berbincang dengan orang asing, untuk memperoleh tonjokan keras semacam itu. Untuk kembali ke kesadaran bahwa buku pada dasarnya adalah mengenai gagasan, mengenai dialog. Mengenai “menciptakan Borobudur” yang lain. Borobudur merupakan sumbangan Indonesia untuk dunia. Para penulis Indonesia, jika dunia ingin kembali “membaca” Indonesia, sudah seharusnya memberikan sumbangan yang lain. Lebih agung dari Borobudur, melebihi apa yang sudah diciptakan nenek moyang kita.

Tentu saja pameran buku pada akhirnya memang pameran dagang. Ia berbeda dengan festival sastra, misalnya. Di sana siapa pun mencoba berjualan, atau membeli.

Meskipun begitu, jika memang tujuan utamanya memperkenalkan Indonesia, kebudayaannya, kekayaan alamnya, khayalan-khayalannya … dan pada akhirnya berharap orang berkunjung kemari, pameran pariwisata di tangan Departemen Pariwisata barangkali akan jauh lebih cocok dan lebih efektif. Di pameran buku, kita menjual dan membeli buku, dan artinya, kita menjual dan membeli gagasan. Kita berdialog.

Bagi saya, menawarkan konsep “puisi sebagai mantra” dari Sutardji Calzoum Bachri (semoga ia selalu diberi kesehatan yang baik), dalam konteks dadaisme atau pascamodern, misalnya, jauh lebih menarik sebagai jualan dalam dialog kesusastraan/perbukuan semacam ini, ketimbang memperkenalkan sejarah literasi Indonesia secara umum sejak zaman prasasti dituliskan hingga penulis paling kontemporer. Terlepas gagasan itu masih laku atau tidak. Atau apa gagasan para penulis dan intelektual kita mengenai problem dunia seperti terorisme dan fundamentalisme (problem yang juga kita hadapi)?

Sekali lagi, bisa saja memang buku dilihat dan diperlakukan seperti kartu pos. Jika seseorang membaca buku atau kesusastraan Indonesia dengan harapan mengenal Indonesia (dalam banyak aspeknya), pemerintah mungkin akan senang. Tapi para penulis, saya yakin setidaknya kebanyakan penulis, akan lebih senang jika karyanya dibaca sesederhana karena buku itu menarik, karena gagasannya diperlukan si pembaca. Sebagaimana kita membaca Moby Dick dan tak ambil pusing Herman Melville itu orang Amerika.

Menjual buku dan kesusastraan di pameran buku luar negeri tanpa membawa-bawa nama “Indonesia” mungkin sesuatu yang tak bisa dibayangkan, terutama oleh para pemegang kebijakan. Apalagi uang yang dipergunakan merupakan uang negara yang berasal dari pajak. Dan mungkin karena itu, kita masih jauh dan jalan masih panjang, mengharapkan dunia membaca karya anak bangsa ini semata-mata karena karya itu hebat, tanpa embel-embel “karena ditulis oleh penulis Indonesia”. Apalagi dibaca hanya karena ingin mengetahui tentang Indonesia, seolah-olah karya sastra sejenis buku panduan semacam Lonely Planet.

Saya barangkali termasuk penulis yang masih berpikir tentang kartu pos, dan perlu terus-menerus disadarkan, bahwa buku dan kesusastraan lebih dari sekadar itu.

Esai ini diterbitkan pertama kali di Jawa Pos, 31 Mei 2015

Keniscayaan Manusia dalam Fiksi Gaya “Posmo”

oleh Andesta Herli, Singgalang

Pernahkah kita membayangkan sebuah potret, hasil bidikan seorang fotografer handal, di mana dengan cara yang tak terduga, di dalamnya kita serasa melihat gedung-gedung meliuk-merosot, papan iklan menjelma penari balet yang sesekali mengedip, dan horison mengepak-ngepak seperti sayap burung gagak. Pernahkah? Itulah yang saya rasakan ketika membaca novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan yang terbit pada Mei 2014 lalu. Sungguh sebuah fiksi yang apik, melenakan. Kita bisa merasa marah, sedih, tergugah di depannya, meski tahu itu hanya sebuah fiksi. Juga karya yang cerdas, di mana peristiwa-peristiwa sederhana mampu menebar renungan filosofis menyangkut kehidupan manusia.

Berkisah tentang perjalanan hidup tokoh Ajo Kawir, bocah yang kemaluannya tak pernah bisa berdiri. Ajo Kawir yang tergolong berandalan, jarang pulang ke rumah orangtuanya, melainkan lebih betah tinggal di rumah sahabat dekatnya, Si Tokek. Semuanya bermula saat satu malam, dua orang polisi memaksa Ajo Kawir menyetubuhi seorang perempuan gila. Saat itu ia melihat, kemaluannya tiba-tiba tak bisa berdiri sebagaimana seharusnya. Seperti itulah, sesederhana itulah ia bermula. Bertahun-tahun setelah itu, permasalah kelamin menjadi sumber segala narasi.

Ajo Kawir menikah dengan gadis bernama Iteung, yang mengaku mau menerima segala kekurangannya. Namun tetaplah, pada kenyataannya kemudian, Iteung tak mampu bertahan. Ia mencari kepuasan yang utuh pada lelaki lain. Dan Ajo Kawir pun melata.
Masa-masa selanjutnya, Ajo Kawir menjalani hidup dengan menjadi supir truk lintas Jawa-Sumatera. Dan kiranya, siapa sangka, dengan jalan inilah keajaiban terjadi pada diri Ajo Kawir. Bertahun-tahun lamanya setelah terakhir kali bisa mengacung, ia mendapatkan kemaluannya kini bisa berdiri kembali, begitu gagah, saat suatu malam ia menyetir truk ditemani seorang perempuan bernama Jelita. Kebahagiaan itu membawanya pulang ke rumahnya semula, menemukan orangtuanya dan anak Si Iteung (dari kekasih gelapnya) yang dititipkan pada orangtua Ajo Kawir. Sementara Si Iteung yang saat itu baru saja bebas dari penjara malah masuk kembali, sebab membunuh dua orang polisi yang ia yakini sebagai sebab malapetaka yang menimpa kemaluan Ajo Kawir.

Hal yang menarik dari novel ini adalah, realitas yang dipilih Eka Kurniawan, sebuah realitas yang bisa kita temukan dengan mudah dalam sehari-hari. Kehidupan perkampungan yang tergolong semerawut. Pengarang mengajak kita melihat potret itu dengan cara yang lebih manusiawi, di mana tokoh-tokohnya dihadirkan secara apa adanya. Lagi, karakter dan penokohan para tokohnya pun sangat tidak biasa. Sepanjang cerita, narasi, deskripsi, dan dialog, senantiasa membawa kita untuk kagum pada seorang tokoh, namun pada bagian lain kita malah merasa terkecoh, sebab narasi tiba-tiba menghancurkan kesan hebat pada diri sang tokoh.

Sebagai contoh, lihat Ajo Kawir. Sebagai pemuda yang berani membunuh preman yang paling disegani orang, Si Macan, tentulah gambaran dalam kepala kita mengenai Ajo Kawir ini mengacu pada sesosok petarung tangguh. Namun ternyata narasi selanjutnya menceritakan bahwa Si Macan adalah preman yang telah tobat dan kakinya telah pincang! Selain itu, juga bisa ditemukan pada bagian ketika Ajo kawir ditanyai oleh temannya: bagaimana cara mengalahkan lawan yang tangguh dan badannya lebih sangat besar? Ajo kawir bahkan hanya menjawab: tusuk saja matanya dengan dua jari bila ada kesempatan!” Sungguh sebuah taktik yang bahkan hanya mungkin ada dalam kepala anak-anak.

Lain pula dengan Iteung, yang meskipun seorang pesilat hebat, namun tak berdaya jika berhadapan dengan masalah perasaan, terutama menyangkut perasaannya kepada Ajo Kawir. Atau mengenai Si Tokek, seorang sahabat yang selalu menasehati Ajo Kawir, sementara ia sendiri tidaklah tahu banyak tentang yang dikatakan. Begitu tokoh-tokoh dihadirkan dalam karakter-karakter yang paradoks.

Secara keseluruhan, tokoh-tokoh dalam novel ini adalah representasi dari keniscayaan yang membayangi setiap manusia. Seolah ingin mengatakan bahwa, selalu ada yang tak sempurna, selalu ada cacat dalam diri manusia, meski tak pernah kita duga-duga sebelumnya. Bahwa manusia bukanlah dewa atau malaikat, adalah sebuah kenyataan. Pengarang dengan gaya bicara yang sederhana, berhasil memperlihatkan bagian hakiki dalam diri manusia itu, lewat tokoh-tokoh sederhana yang dibangunnya. Meski pun paradoks, selalu ada yang tak sia-sia dalam diri manusia. Begitupun, cinta yang tulus membuat Ajo Kawir mampu bertahan menjalani hidupnya dengan waras. Sebuah kehidupan yang terus berjalan dengan segala masalah, sebuah pikiran dan wawasan yang terus berkembang dan berubah, begitulah yang kita temukan dalam novel ini. Kita tahu Ajo kawir pun akhirnya menjelma seorang lelaki matang yang tenang, setelah bertahun-tahun panik sebab penyakit kemaluannya tak mau mengacung. Dan ketika kemaluannya sembuh, Si Iteung istrinya, “pemilik” kemaluan itu, malah masuk kembali ke penjara.

Mengemukakan hal ini, saya membayangkan wacana postmodern yang hari ini menyelimuti dunia. Tentu saja Eka Kurniawan juga banyak menyerap gairah postmodern ini. Sebuah semangat yang menolak modernitas dengan segala citra, pakem, keuniversalan, dan kebekuannya. Eka Kurniawan menolak itu semua dengan memperlihatkan secara gamblang dalam karyanya. Misal, dari pemilihan alur cerita yang tak biasa (tak seperti dalam pakem modern yang hanya mengenal maju-mundur). Alur Eka malah bisa disebut sebagai sesuatu yang lebih sengkarut dari sehelai kain tak disetrika. Kadang seperti lingkaran, kadang serasa petak, kadang serasa segiempat memanjang, kadang serasa seperti ranting pohon.

Begitupun dari sisi ketokohan yang ia bangun. Jika modernitas membawa karya sastra kepada kebersahajaan, di mana tokoh dihadirkan secara konsisten dan terkesan sempurna. Di mana manusia dibedakan antara yang baik dan jahat, yang lemah yang kuat, atau yang hebat dan pecundang. Maka lagi-lagi Eka kurniawan menolak itu semua. Ia membangun tokoh tokoh yang paradoks, yang tak bisa dibagi ke dalam hanya dua kategori: hitam-putih. Di sini tokoh-tokoh dilepaskan dari paham lama, untuk kemudian diberi kesempatan untuk dinilai, ditafsirkan dengan cara beragam, dan tidak ada yang mutlak. Ini artinya setiap tokoh memiliki “yang baik” dan “yang jahat” dalam dirinya, “yang kuat” dan “yang lemah” begitu saja digabungkan. Konsekwensinya, tokoh tiba-tiba menjadi benar-benar hidup. Dan kita merasa tidak saja membaca sebuah karya fiksi, bahkan lebih dari itu, kita serasa sedang berhadapan dengan realitas yang kita kenali namun tak pernah kita tuliskan.

Maka tidaklah berlebihan rasanya, jika novel terbitan Gramedia ini masuk sebagai salah satu dari lima buku berkualitas, yang maju dalam pengkurasian dalam sayembara sastra bergengsi Indonesia, Khatulistiwa Literary Award (KLA), pada penguhujung tahun lalu.

(Padang, 20 Januari 2015)

Ulasan ini dimuat di halaman Estetika Koran Singgalang, Minggu, 08 Februari 2015