Antitesis Cinta Monyet

Istilah ”cinta monyet” sering digunakan untuk melabeli kisah cinta sepasang remaja yang belum mengenal cinta sejati. Istilah cinta monyet konon dipakai karena melihat tingkah para monyet yang malu-malu jika sedang bersama pasangannya, persis pasangan muda-mudi yang baru mengenal cinta.

Eka Kurniawan dalam novel keempatnya berjudul O justru mendobrak istilah itu. Seperti tak rela monyet selalu jadi bulan-bulanan kandasnya hubungan cinta, Eka merangkai novel tentang kisah cinta sepasang monyet yang bertahan hingga akhir hayat, bahkan hingga keduanya (mungkin) mengalami reinkarnasi menjadi manusia.

Judul novel ini diambil dari nama monyet yang kasmaran. O dan Entang Kosasih saling mencintai dan hidup bergelantungan di sebuah tempat bernama Rawa Kalong. Dongeng tentang Armo Gundul yang bisa menjadi manusia diceritakan secara turun-temurun di Rawa Kalong. Armo Gundul dianggap sebagai pahlawan karena mengiringi manusia membangun peradaban, lantas mati, dan terlahir kembali menjadi manusia. Entang Kosasih berniat mengikuti jejak Armo Gundul, bahkan mempertaruhkan janjinya untuk menikahi O di bulan kesepuluh.

Kisah pun berlanjut tentang O yang kehilangan Entang Kosasih dan mencarinya di kehidupan manusia. Ia percaya, dengan bergabung bersama sirkus topeng monyet, ia akan dapat menemukan sang kekasih, yang ia percaya telah bereinkarnasi menjadi manusia. Hingga suatu ketika ia menemukan sebuah poster seorang kaisar dangdut dan begitu yakin bahwa kaisar dangdut itulah titisan kekasihnya, Entang Kosasih sang monyet, yang berjanji menikahinya di bulan kesepuluh. Ini yang kemudian dirangkum dan ditulis dalam sampul belakang buku, tentang seekor monyet yang ingin menikah dengan kaisar dangdut.

Cinta dan derita
Jika biasanya sampul belakang buku digunakan penulis atau penerbit untuk menarik perhatian pembaca dengan memberikan sedikit bocoran kisah dan menutupnya dengan pertanyaan yang menggugah pembaca mencari jawabannya di dalam buku, dalam novel ini sinopsis tersebut justru begitu irit. Hanya berisi sebuah kalimat, dan konon ini keinginan penulisnya sendiri. Dan saya bisa mengatakan strategi ini berhasil, setidaknya untuk saya yang berhasil dibuat penasaran.

Hampir semua tokoh dalam novel ini menjalani kisah cinta yang menghanyutkan sekaligus tragis. Tetapi, mereka sama-sama setia, bertahan dalam kesakitan, bahkan berjuang untuk cinta-nya, seperti kutipan pada pembuka bab 10. ”Cinta tak ada hubungannya dengan kebahagiaan, meskipun cinta bisa memberimu hal itu,” kata si pembaca tanda-tanda. ”Aku menderita karena cinta. Dan aku terus menderita, karena aku terus mencintai ia yang membuatku menderita.”

Pembaca akan menemui banyak tokoh dengan latar belakang kehidupan masing-masing. Alur novel ini dibangun dari karakter-karakternya. Tak ada sosok yang nyaris sia-sia, dan nyaris tak ada sosok tanpa kepribadian, begitu kata Eka yang saya kutip dalam jurnalnya soal karakter minor, yang ia pelajari dari karya-karya William Shakespeare.Baginya, setiap karakter, sekecil apa pun, ada di sana karena ia memang penting berada di sana. Dan karena penting, sekecil apa pun sebuah karakter, ia tetaplah karakter yang memiliki kepribadian, masa lalu, masa depan, kepentingan, dan lain sebagainya.

Saya pun menikmati ketika cerita melompat-lompat seperti monyet untuk sementara mengisahkan kisah tokoh yang lain agar pembaca mengerti hubungan tokoh satu dengan yang lain, juga hubungan langsung ataupun tidak langsung dengan O, sang monyet.

Demikian pula umpatan-umpatan kasar hingga petikan ayat suci Al Quran yang diselipkan ke dalam novel ini, semuanya sesuai dengan porsinya dan memang penting berada di sana untuk memperkuat karakter tokoh yang sedang diceritakan.

Selipan satire
Dalam beragam kisah cinta yang diceritakan melalui plot multilayer , Eka lihai menyelipkan satire. ”Hidup adalah perkara makan atau dimakan,” kata Kirik kepada O lagi. ”Kau harus memakan yang lain, sebab jika tidak, kau akan dimakan.” Kirik adalah seekor anjing kecil penuh borok yang menjadi sahabat O. Hal itu dikatakan Kirik saat belatung mengerumuni boroknya. Di bab lain, seekor sanca siap melahap seorang anak manusia yang disangkanya hendak mengambil telur-telur yang sedang dijaganya.

Ada pula kisah tentang burung kakaktua yang fasih melantunkan ayat suci dari seorang syekh. Burung itu bertemu dengan syekh karena mencari jawaban dari pertanyaan yang diajukan kekasihnya. Apa tujuan seekor kakaktua di dunia, selain makan, terbang, dan sesekali menemukan pasangan untuk bercinta? Jalan hidup mempertemukan kakaktua itu dengan seorang syekh dan ia diajari untuk menghafal ayat suci dan mengucapkan ayat tersebut sebagaimana kakaktua selalu menirukan ucapan manusia. Sebelumnya ia sering diejek oleh burung-burung lain sebagai peniru. Setelah bertemu syekh, burung itu berpikir, burung-burung itu hanya membanggakan suara sendiri, tanpa mengerti apa pun di luar tempurung kepala mereka.

Demikian pula saat Kirik berpendapat soal keteguhan O mencari Entang Kosasih. ”Lupakan keinginanmu untuk menikah dengan kaisar dangdut,” kata Kirik kepadanya. ”Pakai otakmu, O. Kau seekor monyet. Sekali menjadi monyet, selamanya monyet. Kau tak perlu memercayai omong kosong bahwa seekor monyet bisa menjadi manusia.”

Saya seperti melihat adegan sinetron saat seseorang berkata, ”Pakai otakmu. Kau seorang yang miskin. Sekali miskin, selamanya miskin. Kau tak perlu memercayai omong kosong bahwa seorang miskin akan menikah dengan orang kaya. ” Tentu saja dialog ini bisa diganti dengan apa saja yang menunjukkan bahwa terkadang keyakinan seseorang bisa dipatahkan oleh orang lain yang dengan mudah memustahilkan apa saja.

Namun, O adalah pencinta yang teguh. Dengan kesetiaan, ia mematahkan istilah cinta monyet yang telanjur viral. ”Itulah kenapa aku mencintainya, ” kata O. ”Ia seekor monyet yang percaya kepada isi kepalanya, dan mau melakukannya. Dan ia membuktikan bisa pergi dari pohon gundul itu melewati punggung buaya. Bahkan meskipun apa yang diyakininya itu terbukti, jika di tengah jalan seekor buaya berbalik dan menghajar kami, aku tetap mencintainya. Sesederhana karena ia memiliki nyali untuk memiliki mimpi.”

Setelah membaca novel ini, saya merenungkan kembali penggunaan istilah cinta monyet untuk menyebut cinta sesaat, cinta main-main, yang tidak sejati. Seperti halnya ”buaya ” yang menjadi istilah bagi lelaki yang tidak setia, padahal buaya adalah hewan yang paling setia kepada pasangannya. Setelah menamatkan novel ini, saya tahu, novel O tidak sesederhana kisah seekor monyet yang ingin menikah dengan kaisar dangdut.

Oleh Tenni Purwanti, Kompas, 2 Juli 2016.